Read Takhta Awan by Sinta Yudisia Online

takhta-awan

”Jika Kaisar tewas...””Aku yakin dia masih hidup.””Mengapa kau begitu yakin?””Karena begitulah hatiku bicara.””Kau... masih memiliki perasaan terhadapnya...?” Tien Nien menyembunyikan senyum.Almamuchi membuang muka, jengah. Ini bukan waktunya membicarakan perasaan perempuan.***Takhta telah digenggam Takudar Khan, pangeran muslim keturunan Jenghiz Khan. Mongolia, Persia, Sa”Jika Kaisar tewas...””Aku yakin dia masih hidup.””Mengapa kau begitu yakin?””Karena begitulah hatiku bicara.””Kau... masih memiliki perasaan terhadapnya...?” Tien Nien menyembunyikan senyum.Almamuchi membuang muka, jengah. Ini bukan waktunya membicarakan perasaan perempuan.***Takhta telah digenggam Takudar Khan, pangeran muslim keturunan Jenghiz Khan. Mongolia, Persia, Samarkand-Bukhara, berjalan dalam orbit yang sempurna. Namun banyak orang beranggapan, Mongolia tak layak dipimpin kaisar yang lembut hati. Mongolia hanya pantas dipimpin mereka yang memiliki hati perpaduan serigala dan singa.Han Shiang, selir Albuqa Khan tak berhenti menghimpun kekuatannya kembali. Ia menyusun taktik, memecah belah Ulanbataar, dan mengembalikan Arghun Khan kembali ke singgasana. Untuk kesekian kali, Takudar menjadi pelarian. Para pendukungnya dilanda perpecahan. Syaikh Habiburrahman tetap berdiri di belakang Takudar. Sementara para syaikh yang lain berpendapat, kekuatan Islam tak seharusnya dipusatkan ke Mongolia. Lebih baik mendukung Bani Saljuq di Anatolia atau Bani Mamluk di Mesir.Karadiza dan Almamuchi, tetap yakin bahwa cinta mereka masing-masing adalah perasaan terkuat yang mampu menghidupkan hati lelah Takudar. Tetapi Sarangerel yang rupawan, salah satu perwira Kashik, ternyata juga menaruh hati pada kaisar pelarian.Akankah Takudar berhasil merebut kembali takhta Mongolia dari sang adik? Ataukah menyusun kekuatan baru, di daerah yang bukan tanah miliknya?...

Title : Takhta Awan
Author :
Rating :
ISBN : 9786028851398
Format Type : Paperback
Number of Pages : 576 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Takhta Awan Reviews

  • Bambang Yuno
    2019-03-08 03:35

    Membaca pada bab-bab awal, saya masih harus merangkai-rangkai imajinasi saya supaya sambung-menyambung menjadi satu karena memang di Novel ini penuturannya dilakukan scene per scene. Setelah melewati terbiasa dan melewati beberapa Bab, imajinasi saya telah sambung menyambung menjadi satu, itulah gaya bertutur mbak Sinta, hingga akhirnya bisa menikmati Novel menarik ini dan tak sabar menunggu sequel terakhir.Hanya satu yang msih menjadi tanda tanya buat saya, yaitu pada saat Takudar bertemu dengan sahabat2nya di perguruan Awan Putih, kapan Takudar berangkat ketempat itu?? karena scene terakhir adalah ketika Takudar berkunjung ke Rahib Namshen, dan disitu tidak dibilang bahwa Takudar akan ke perguruan Awan Putih, tapi hanya dilarang oleh Rahib Namshen untuk tidak tinggal ditempatnya. Tapi dari situ lah saya dapat menyambungkan cerita, bahwa dari situ kemungkinan Takudar langsung menuju ke perguruan Awan Putih.Sambil menunggu sequel berikutnya, di Novel ini juga diselipkan cuplikan dari sequel terakhir, dari situ saya membayangkan bagaimana akhir kisah ini? apakah Tkudar akan berhasil merebut takhtanya kembali? ataukah menherah dengan keadaan?, Siapakah selanjutnya pendukung2 Takudar? apakah bangsawan2 Persia atau bahkan orang2Mongol sendiri?, Siapakah pendamping hidup Takudar?, Bagaimana dengan nasib Almamuchi, Karadiza, Tommorbatar, Hsien Chou Mustofa atau bahakan Arghun Khan, selir Hua Shiang??Mari kita nantikan ...

  • Ira Book Lover
    2019-03-18 06:40

    (view spoiler)[Rasyidudin terbunuh, oh no. *nangis guling-guling* (hide spoiler)]Gara-gara campur tangan selir Han Shiang, Kaisar Takudar terpaksa jadi pelarian lagi. Argun kembali jadi kaisar, namun tampaknya dia berada di bawah bayang-bayang Han Shiang. Ho ho ho... menarik sekali saat Arghun berusaha menahan diri ketika ditekan Han Shiang. Saking sebalnya, Arghun sampai pengen nendang Han Shiang. Ada banyak yang bilang kalau Takudar tidak pantas memimpin Mongolia karena hatinya terlalu lembut. Keinginannya adalah mengubah Mongolia menjadi bangsa yang menyukai pena dan tinta daripada berpetualang dan berperang. Dan itu memang sulit.Sementara Arghun dianggap lebih pantas memimpin Mongolia karena pikirannya sejalan dengan bangsa Mongolia.Sementara itu, Almamuchi, seperti biasa, sangat tangguh. Sanggup bertahan dari segala cobaan. Bahkan yang berat sekalipun. Semoga akhir kisahnya bahagia untuk Almamuchi. Contoh yang patut dibanggakan sebagai seorang perempuan.Diakhir buku, ada cuplikan tentang buku ketiga dari trilogi The Road to The Empire ini. Malangnya, ada lagi sosok menyebalkan seperti selir Han Shiang dalam persi Persia. Kali ini Karadiza yang harus diuji kesabarannya. *ggrrr...bikin sebal aj*

  • Arifa Hilma
    2019-03-02 09:47

    Sama seperti novel sebelumnya, kekuatan Takhta Awan ada pada kekuatan karakter tokoh-tokohnya, dan keluwesan sang pencerita. Sejujurnya, saya belum membaca penulis Indonesia yang seluwes ini bercerita.Dimulai dari Takudar yang lembut hati, kaisar yang dicintai rakyatnya. Arghun, mantan kaisar yang berhati singa. Han Shiang si nenek sihir (haha, saking terpengaruhnya saya sama karakter ini), JuzJani yang belajar menjadi kuat seperti mendiang Putri Urghana, Rasyiduddin sahabat sekaligus saudara takudar yang luar biasa setia, Almamuchi yang tangguh, Karadiza yang pencemburu, hingga Sarangerel si tokoh baru yang diam diam juga menaruh hati pada Takudar. Semuanya -lagi-lagi- berhasil menyentuh nurani dan menguras emosi saya.yang kurang saya suka dari novel ini adalah, sinopsis di bagian belakang yang terlalu 'bocor'. kebocoran ini malah mengurangi ketegangan di dalam novel yang sebenarnya sudah sempurna.

  • Fauziyyah Arimi
    2019-03-03 05:51

    review, bisa dilihaat di http://faraziyya.multiply.com/reviews...atau http://www.facebook.com/notes/ziyy-al...

  • Dhia Citrahayi
    2019-03-23 02:52

    SpeechlessHanya itu yang bisa saya rasakan setelah selesai membaca buku ini. Semua rasa bercampur jadi satu, antara terpukau, terpesona, segan, dan juga kagum. Berbeda dari The Road to The Empire yang terkesan EPIK!, lanjutan novel tersebut justru berbanding terbalik dengan cerita sebelumnya. Antiklimaksnya tidak disangka-sangka dan membuat saya, sebagai pembaca, jadi trenyuh sekaligus sakit ati.Dalam buku Takhta Awan ini, mengisahkan tentang masa pemerintahan Takudar, tokoh utama dalam cerita. Takudar, seorang Kaisar yang berbeda dari kaisar-kaisar mongol sebelumnya. Orang yang sederhana, jujur, apa adanya, serta lembut hati. Tidak ada cela dalam dirinya sebagai manusia biasa. Namun, sebagai seorang pemimpin, Kelembutan hatinya merupakan cela yang sangat fatal.Banyak bangsawan yang tidak suka dengan kepemimpinan Takudar. Dia dianggap lemah, tak layak untuk menjadi pemimpin sehingga, dalam suatu kesempatan, mereka berkomplot untuk berbuat makar yaitu, dengan membunuh Takudar.Suasana intrik politik terasa sangat kental di dalam novel ini. Orang-orang yang sebetulnya tak terlibat dalam arus politik di UlaanBaatar, mau tidak mau, terpaksa ikut campur juga karena pengaruh dari orang yang tak disangka-sangka. Terlihat lemah tetapi ternyata mempunyai daya pikat serta kecerdasan yang membuat siapapun kagum saat berhadapan dengannya.Kata orang, dalam politik, tidak ada kawan yang abadi dan tidak ada musuh abadi juga. Semua terjadi atas dasar kepentingan pihak dan golongan tertentu. Namun dalam novel ini, saya mendapat suatu pelajaran yang sederhana tetapi sangat berarti yaitu, tentang kesetiaan.Nilai-nilai, idealisme, realitas, semuanya dicampur dengan ukuran yang pas sehingga tidak terkesan menggurui. Sebagai contoh, Khasik, prajurit pelindung Kaisar. Sekian tahun mereka tidak pernah digunakan, para perwira Khasik yang sederhana serta bergerak secara diam-diam ini tetap melakukan tugasnya untuk melindungi Takudar. Apalagi, saat Takudar diserang oleh sekelompok prajurit bayaran. Kesetiaan mereka bisa dikatakan aneh, tidak logis. Namun, bagi para kesatria yang telah mengucapkan sumpah setia serta janjinya pada Kaisar, nilai dari sebuah sumpah itu tidak ternilai dengan apapun juga. Sebagai manusia yang hidup di masa kini, saya tercenung, sekaligus heran.Seperti dalam novelnya yang lalu, Mbak Shinta menggunakan banyak tokoh di sini. Satu per satu tokoh diperkenalkan dengan detail dan yang sangat mengherankan, satu tokoh dengan tokoh lainnya, jiwa serta karakternya benar-benar terasa berbeda! Anda boleh mengatakan saya lebay, tapi, pada kenyataannya, tiap tokoh dalam The Road to the Empire ini memiliki karakter yang demikian unik dan beragam. Seperti misalnya Almamuchi, mantan pelayan Takudar, seorang wanita sederhana yang jago bermain pedang, berhati keras serta teguh seperti karang. Adalagi Kardiza, seorang bangsawan Persia yang manja, judes, pandai berpedang tetapi, bisa dikatakan orang baik. Inalchuk, seorang mongol yang tangguh, pendekar di padang rumput, tak suka berpolitik tetapi terpaksa ikut arus politik karena ditekan oleh penguasa lain di sana.Dengan karakter yang beragam, tempo cerita yang lambat hingga terasa agak membosankan di bagian awal, serta nilai-nilai yang tertanam di dalamnya, menghasilkan jalinan cerita yang kompleks tetapi tetap jelas dibaca pembaca. Ada karakter yang hitam, ada karakter yang putih, ada juga abu-abu tetapi, semua melebur dengan sangat baik di dalam penceritaan. Di buku kedua ini, saya juga merasakan, masing-masing tokoh mengalami pendewasaan diri yang sulit dijabarkan. Arghun, Kaisar bengis di masa lalunya, setelah terpenjara dalam Bayarkuu selama hampir satu tahun, mengalami suatu perubahan. Walau dirinya tetap bisa dipengaruhi, ternyata, dia mulai memantapkan pijakannya di pemerintahan kakaknya, Takudar.Terlepas dari kebenaran sejarah yang belum saya kroscek antara novel dengan sejarah aslinya, saya merasa novel ini patut dibaca untuk penggemar fiksi sejarah. Detail yang sangat rinci dalam menggambarkan keindahan alam mongol terkadang membuat saya agak nyesek karena, saking detailnya, saya jadi tidak bisa membayangkannya. Kemudian akhir buku ini juga tidak disangka-sangka, membuat saya makin nyesek lagi. Di bagian akhir, ada syair yang membuat saya termangu...Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,Dan melambung bersama malaikat;Dan bahkan setelah menjelma malaikataku harus mati lagi;segalanya kecuali Tuhan, akan lenyap sama sekali.Apabila telah kukorbankan jiwa malaikat ini,Aku akan menjelma sesuatu yang tak terpahami.O... biarlah diriku tak ada!sebab ketiadaan menyanyikan nada-nada suci,KepadaNya kita akan kembali.Sedih baca bagian ini. Di dalamnya, saya mempelajari satu cinta lagi, cinta yang bukan antar lawan jenis yaitu, persaudaraan dan persahabatan. Ketulusan mereka dalam membantu satu sama lain, membuat saya trenyuh. Rate 5 bintang untuk buku ini.

  • Monaria Yulius
    2019-03-26 02:55

    menemukan buku ini di IBF 2017. Alhamdulillah akhirnya ketemu.urutan buku1. sebuah janji2. the lost prince3. the road to the empire 4. takhta awan

  • Lelita P.
    2019-03-04 08:03

    -Review pindahan dari blog, tertanggal 16 Agustus 2011-Sinopsis dari belakang buku:Takhta telah digenggam Takudar Khan, pangeran muslim berhati lembut keturunan Jenghiz Khan. Mongolia, Persia, Samarkand-Bukhara, berjalan dalam orbit yang sempurna. Namun banyak orang beranggapan, Mongolia tak layak dipimpin kaisar yang lembut hati. Mongolia hanya pantas dipimpin mereka yang memiliki hati perpaduan serigala dan singa.Pemberontakan pun terjadi. Han Shiang, selir Albuqa Khan yang licik, menghimpun kekuatan dan menyusun taktik. Ia berhasil mengembalikan Arghun Khan, adik Takudar, ke singgasana. Untuk kesekian kali, Takudar menjadi pelarian.Para pendukung Takudar dilanda perpecahan. Beberapa muslim tetap berdiri di belakangnya, sementara yang lain berpendapat bahwa kekuatan Islam tak seharusnya dipusatkan ke Mongolia. Sementara, perempuan-perempuan di sekeliling Takudar menunjukkan dukungan dan kilau hati mereka dengan cara masing-masing.Akankah Takudar Khan berhasil merebut kembali takhta Mongolia dari Arghun Khan, seorang kaisar sekaligus adik kandungnya? Ataukah menyusun kekuatan baru, di daerah yang bukan tanah miliknya?Buku ini adalah buku kedua dari trilogi The Road to the Empire dan buku keempat dari pentalogi Takudar. Serial yang bikin saya jatuh cinta sejak pertama kali baca dan selalu berguling-guling (?) nunggu kelanjutannya terbit.Sebenernya saya udah lama belinya, dari awal Juli. Tapi baru sempet baca kemaren, sampe bergadang hahahay. Walaupun udah banyak tokoh dan tempat yang lupa (maklum, buku sebelum ini--The Road to the Empire--terbitnya tahun 2009), masih ada yang tersisa di kepala, jadi bacanya tetap asyik. Meski begitu, saya lebih menyarankan Anda baca dari buku pertama (Sebuah Janji) sampe yang ini secara berkesinambungan tanpa jeda bertahun-tahun. ^_^Seperti biasa, deskripsi Mbak Sinta selalu membuat saya merasa membaca sesuatu dari kaca. Saya harus memperlakukannya dengan hati-hati karena rangkaian katanya begitu indah. Mungkin hal ini dipengaruhi kenyataan bahwa kebanyakan buku Mbak Sinta yang saya baca adalah yang berkisah tentang kerajaan (serial ini; lalu Armanusa).Dua bab pertama buku ini ANGST BANGET. Nyeseeeeeeekkkk. (;_;) Penggambaran perasaan Almamuchi-nya tuh dapet banget, bikin saya makin simpati dan sedih untuknya. Hiks hiks Almamuchi, you're the best! (;_;)Perkembangan karakter adalah hal yang paling saya rasakan dalam buku ini. Semuanya tidak sama lagi setelah perang besar di Cekungan Turpan pada akhir buku sebelumnya, The Road to the Empire. Takudar, Almamuchi, Arghun, Karadiza, dan terutama Juzjani, adalah yang perkembangan karakternya paling saya rasakan. Selain itu, banyak karakter baru pula yang karakterisasinya nggak kalah kuat dari karakter-karakter lama.Bagian-bagian awal buku ini masih "pendinginan" dari nuansa kelam yang luar biasa di TRttE--mengisahkan kehidupan tokoh-tokoh setelah itu. Lalu tensi mulai meningkat dan akhirnya berujung pada klimaks yang cukup menggantung, membuat Anda bakal penasaran banget dengan kelanjutannya--berbeda dengan TRttE yang saya pikir udah tamat tanpa kelanjutan. Yah, Anda baca sendiri deh, saya nggak mau bocorin lebih banyak plotnya /coret/bilang aje males nulisnya #ditendang/coret/.Tapi saya memang lebih pengin berbagi kesan aja sih dalam review ini. Takhta Awan menyisakan sensasi yang lebih hebat daripada TRttE bagi saya. Mungkin karena saya membacanya waktu liburan senggang kayak sekarang, sedangkan TRttE saya habiskan saat sedang menghadiri sebuah acara keluarga. ---> parahYang jelas, saya merasa Takhta Awan sangat berisi, enak dan mudah diresapi, mengandung banyak substansi, serta lebih bisa dinikmati bagi orang yang pada dasarnya nggak terlalu menyukai angst kayak saya. Nuansanya mirip-mirip buku kedua, The Lost Prince. /coret/Tapi hubungan antara Takudar dan Almamuchi itu masih sangat nyesek, nggak berubah-berubah ohmaigod T__T/coret/Beberapa kelemahannya, menurut saya, yang paling kentara adalah masih adanya ejaan yang tidak sesuai EYD. Dasar mata saya aja sih yang emang nggak bisa lepas dari hal-hal begini. -_-;; Terus... saya rasa interaksi Takudar dan pasukan Kashik kurang begitu terjabarkan. Dan bagian ketika akhirnya mereka semua berkumpul lagi di Perguruan Awan Putih itu menurut saya agak terlalu "lompat", bikin saya cukup kaget--"Kok tahu-tahu mereka udah ketemu di sini?"Tapi overall, saya suka banget buku ini. Meneduhkan hati! Bacaan yang pas banget pada bulan Ramadhan. :)Yang bego, gara-gara saya banyak berteman dengan para fujoshi, secara tak sadar otak saya terkontaminasi meskipun saya bukan fujoshi. Interaksi antara Rasyiduddin dan Takudar itu sedikit banyak membuat otak saya kacau, astagfirullah. >////<Satu lagi: Han Shiang ngingetin saya sama Mi-shil di The Great Queen Seondeok, hehe. ^^Ahhhhh saya pengin lanjutan buku ini segera! Tapi tampaknya masih harus nunggu dua tahun orz orz orz.Sangat direkomendasikan! :)(tapi baca dulu buku-buku sebelumnya ya)

  • Fais al-Fatih
    2019-03-03 03:57

    Buku kedua dari trilogi The Road to Empire ini sungguh mengesankan dan mengagumkan. Sekali lagi saya ingin sampaikan, seperti komentar saya untuk buku yang pertama, yaitu saya masih belum bisa membayangkan referensi apa yang dijadikan sandaran oleh penulis dalam menghasilkan karya fenomenal ini, dan bagaimana penulis bisa menceritakan secara detail Mongolia pada zaman itu, dan membawa kita para pembaca seolah-olah menyaksikan secara langsung tiap episode-episode yang terjadi. Peran-peran yang "dimainkan" oleh tokoh-tokoh dalam novel ini begitu hidup dan diceritakan dengan begitu ciamik, epik, romantik dan heroik. Persahabatan dan percintaan antar dua insan, permusuhan untuk perebutan kekuasaan, perjalanan menembus rintangan, keindahan alam tanah Mongolia, ganasnya gurun gobi, digambarkan dengan begitu filmis dan realistis. Inginku belajar kepada ibunda Sinta Yudisia bagaimana bisa menelurkan karya fiksi sejarah yang begitu indah... Saya kan nantikan buku ketiga dari trilogi ini...

  • syhmn
    2019-02-28 05:53

    deskripsi-deskripsi yang detail akan setting novel ini, lagi-lagi membuat pembaca seperti dibawa ke mongolia. di bawah langit biru mongolia, terasa sekali kalau konflik yang tercipta (atau diciptakan) kali ini lebih kompleks dari buku pertama.ceritanya lebih sepi dari buku pertama, tanda bahwa sang penulis ingin menggali sisi psikologis tokohnya (terutama takudar) lebih dalam lagi. atau mungkin dikarenakan setting tiap tokohnya yang berjauhan ,sehingga ceritanya terasa begitu sepi dan mendetail.tapi tetap ★★★★★ lah :) suka!

  • Deasylawati Prasetya
    2019-03-16 04:41

    saya selalu terpesona dengan gaya tutur mbak Sinta Yudhisia... sederhana namun indah. Tak perlu belibet dengan pilihan diksi yg sulit2 ... yg penting enak dinikmati. Ibarat musik, karya2 mbak Sinta mnrt saya sprt musik klasik... ^^Takhta Awan dikemas dg sangat apik, dg latar yg sprt buku pertama, bnr2 berasa di mongol, dan alur yg ckp keren. Hanya saja mnjelang bab akhir kok mnrt saya sprt ada 'hole spot' ya....^^ atau mmg sengaja?

  • ayanapunya
    2019-03-25 01:47

    meskipun sepanjang menyelesaikan buku ini otak saya dipusingkan dengan mengingat sekian banyak karakter, namun tak bisa dipungkiri mba sinta berhasil mengolah buku ini dengan sangat baik. hanya saja untuk bagian2 akhir saya merasa terlalu melompat. semoga saja buku ketiganya bisa segera terbit

  • Rievinska Firsty
    2019-03-09 08:38

    Can't wait for the third book!

  • Sittati
    2019-03-04 03:58

    Baguus!! ;)

  • Adenin
    2019-03-11 02:58

    Mau saya beritahu menggigitnya kayak apa?Takudar turun takhta, Rasyiduddin Mati >:o huehehe \m/#edisi sakit hati

  • Nabila
    2019-03-22 04:42

    kereeeeen

  • Nurhayati Pujiastuti
    2019-03-14 03:54

    Penasaran.