Read Käse by Willem Elsschot Agnes Kalmann-Matter Gerd Busse Online

kse

Frans Laarmans ist bescheidener Büroangestellter auf einer Antwerpener Schiffswerft. Als er eines Tages zum Vertreter einer holländischen Käsehandelsgesellschaft ernannt wird, verantwortlich für die Gebiete Belgien und Großherzogtum Luxemburg, ist er überwältigt von seinem sozialen Aufstieg. Er lässt sich bei der Werft krankschreiben, richtet zu Hause ein Büro ein und bestFrans Laarmans ist bescheidener Büroangestellter auf einer Antwerpener Schiffswerft. Als er eines Tages zum Vertreter einer holländischen Käsehandelsgesellschaft ernannt wird, verantwortlich für die Gebiete Belgien und Großherzogtum Luxemburg, ist er überwältigt von seinem sozialen Aufstieg. Er lässt sich bei der Werft krankschreiben, richtet zu Hause ein Büro ein und bestellt zehntausend Edamer, vollfett.Doch das Leben als Geschäftsmann ist nicht so einfach, wie er es sich vorgestellt hat. Erst als die zwanzig Tonnen schwere Lieferung Käse im Lagerhaus liegt, Kiste über Kiste, dämmert es ihm. Und als sein Vorgesetzter, der brüske Herr Hornstra, seinen Besuch ankündigt, um die ersten Rechnungen zu begleichen, gerät Frans Laarmans in Panik....

Title : Käse
Author :
Rating :
ISBN : 9783293003316
Format Type : Hardcover
Number of Pages : 141 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Käse Reviews

  • Shovelmonkey1
    2019-01-16 07:55

    Mmmm cheese. What a totally delectable foodstuff. The cheese of choice within this literary morsel (and random surprise left-field 1001 books choice) is Edam. Personally I'm more of a Halloumi or Cave-Aged Gruyere person myself but I guess, much like the 1001 list, there is no accounting for taste. The novella itself is surprisingly Edam-y in outward appearance, a bright red waxy cover surrounding a slim creamy tranche of paper, however the content are to the contrary, quite un-cheesy. Willem Elsschot has written a slightly odd, but delightful parable of a man who bites off more cheese than he can chew. Frans Laarmans wants nothing more than to better himself and the lot of his family. And how does a lowly shipping clerk go about making his millions? In cheese of course, why it's practically soft yellow gold! Ok, it's not really but everyone has to start somewhere. Richard Branson started out with magazine publishing and Alan Sugar started his multi-million pound slush fund by selling Beetroot so perhaps cheese isn't that weird a product choice. However, unlike Sugar and Branson, Laarmans is clearly lacking in some fundamental elements of business acumen but that's not going to deter him! He's got the rest sussed though; powerful backer, good contacts, a nice line in office stationery and posh desk. In some ways it's a good thing that the book is mercifully short as Laarman's is a fairly likeable chap and I don't think I'd like to have read about his crumbling cheese empire if it was spread over many more pages . Ultimately a tale of "keeping up with the Joneses" (or Kardashians depending on which side of the Atlantic you're on) told through the medium of cheese.

  • Benny
    2019-01-02 08:53

    Kaaswinkel, kaasindustrie, kaashandelaar, kaasonderneming, kaassoort, kaasverkoop, kaasleider, kaasgeschiedenis, kaasstandaard, kaastraditie, kaasmakker, kaaslegende, kaasgebied, kaasboerin, kaasvracht, kaasopwelling, kaasramp.Kaas van Elsschot is de oerklassieker van de Antwerpse letteren. Het staat nog steeds op tal van schoollijstjes, waar het gretig gelezen wordt, niet in het minst omdat het vaak het dunste boekje van die lijst is. Recent werd het voor de tigste keer heruitgegeven.De nieuwe reeks bij uitgeverij Polis vormt een prima aanleiding om Elsschot nog eens te herlezen en eigenlijk zou iedereen dit om de zoveel jaar eens moeten doen. Om zijn spaarzame, maar rake frasen, zijn smakelijke ‘couleur locale’, zijn uitgekiende karakters…gewoon om te weten wat goede literatuur is.Hoe klein Kaas ook is, toch valt je telkens weer iets anders op. Deze keer waren het de slaapkamerscènes. In hoofdstuk 2 komt Laarmans licht aangeschoten thuis en probeert hij zich zo stil mogelijk uit te kleden, want de vrouw slaapt al en hij houdt niet van gezanik. Maar als hij op één been gaat staan om zijn eerste kous uit te trekken, valt Laarmans tegen de nachttafel en zijn vrouw schiet wakker. “Schaam je,” begint ze. Daarna gaat onverwacht de bel en van haar tirade komt niet veel meer in huis. Saved by the bell!Later in de novelle vormt het echtelijke bed het strijdtoneel voor nachtelijke besprekingen. Hoewel hij dat niet zou toegeven, is Laarmans’ vrouw best wel geslepen (zij snapt meer van het kaascontract dan Laarmans zelf) en Laarmans bespreekt zijn kaaszaken dan ook graag met haar in bed, maar dan wel in het donker.Het zijn dergelijke kleine dingen die opvallen, details van levenswijsheid en kleinmenselijkheid. Die maken het herlezen van Elsschot telkens weer de moeite waard. Laat het boek gerust op schoollijstjes staan, maar lees het vooral later terug.De ontdekking binnen deze nieuwe Elsschot-reeks blijft De Verlossing, maar wat deed het deugd om ook Elsschots kaasklassieker nog eens te herlezen.PS: Ik zwaaide al meermaals met lof voor de nieuwe Elsschot-reeks van Uitgeverij Polis. Helaas staat er uitgerekend op de kaft van Elsschots bekendste een dikke vette fout. Laarmans laat zich niet door "de gehaaide patser Boorman" overhalen om kaas te gaan verkopen, wel door Mijnheer Van Schoonbeke. Boorman treedt pas later in het verhaal op als adviseur van Laarmans. Toch wel zonde!

  • ijul (yuliyono)
    2019-01-14 05:43

    Demi keju, harapan keju, mimpi kejuSummary:Aku, Frans Laarmans, adalah seoarng kerani di sebuah perusahaan galangan kapal. Suatu malam, aku harus menemui kenyataan bahwa ibuku harus berpulang ke Surga. Dari prosesi pemakaman, aku dipertemukan dan mengenal Mijnheer van Schoonbeke, yang membukakan pintu usaha baru untukku, berdagang keju. Dengan dukungan istri dan kedua anakku, aku merintis usaha perkejuan itu. Aku membuka lowongan untuk siapa saja di seluruh Belgia dan Luxemburg untuk bekerja padaku sebagai agen keju Edam yang terkenal itu. Kutunggu lamaranmu segera!Cover-nya yang sederhana telah memikatku sejak mula. Namun, lagi-lagi, harus kutunda terus mencomot buku mungil ini setiap kali book shopping time. Dan, sebagai salah satu pengikut faham diskonisme, aku sangat bersyukur dapat menemukan buku ini di tumpukan buku obral (disc 50%) di toko buku Trimedia, Mal Ambasador. Yiiiihhaaaa...!!!Buku ini tipis saja. Separuhnya berhasil aku selesaikan ketika menikmati ajrut-ajrutan kereta Gajayana dalam perjalanan mudik Lebaranku tahun 2011 ini sebelum jatuh tertidur dan baru kuselesaikan paruh selanjutnya ketika sampai di rumah kampungku. Cerita dan alurnya sederhana. Sedikit tragis. Dan, hey, si Frans ini kok mirip-mirip aku, ya..., hahaha. Pria canggung. Pencemas yang selalu memperhatikan detail yang terkadang membuatnya lupa pada esensi utama dari usahanya. Frans juga adalah penggerundel ulung. Dia sering tak setuju pada banyak hal, terutama yang berhubungan dengan kakak sulungnya yang dokter itu, namun tak pernah satu kata pun sanggup terlontar dari mulutnya. Maka, protesnya selalu ia telan sendiri. Hal lain yang hampir mirip denganku adalah prinsipnya untuk setidaknya membeli sesuatu kalau sudah masuk ke dalam sebuah toko, hahaha, sekalipun yang dibelinya itu akhirnya tidak termanfaatkan (hlm: 93). Bener-bener guwe banget tuh, makanya kalau window shopping, aku hanya akan masuk ke toko yang menyediakan kebutuhanku atau kalau tidak ya... paling nggak beli tisu basah deh. Bumbu penyedap cerita buku ini akhirnya membuatku berpikir, “hmm, nggak hanya ada di Indonesia, kok, ternyata.” Apanya? Beberapa hal. Contohnya, di buku ini ada suatu ketika Frans yang lugu (sekaligus jujur) baru memahami bahwa seharusnya ia bisa saja mendapatkan keuntungan dari uang perjalanan dinasnya (SPPD?) di mana ia bisa memilih jenis tiket mahal tapi berangkat menggunakan tiket murah sehingga waktu reimburse dia dapat keuntungan atas selisihnya (hlm: 40), atau ketika ia mempermasalahkan secuil kiriman kejunya yang hilang di mana oleh petugas ekspedisi disebutkan sebagai sample waktu diperiksa pihak pabean (hlm: 85).Menyimak “ulah” Frans memang bikin gemas. Tak jarang aku kepengen ngejitak kepala Frans karena memutuskan/tidak memutuskan sesuatu yang kupikir tidak sepatutnya ia lakukan. Tak ayal, kesukaran-kesukaran yang dialaminya menenggelamkanku dalam sebuah pemahaman: “gak bakalan deh gue ngelakuin itu.” Thank you, Frans! Kau membukakan pikiranku.Oke, beberapa typo skala minor masih ada di buku ini. No problem, no biggie! Font-nya aku suka! My favorite: Georgia! Footnote-nya juga cukup bermanfaat. Formatnya yang mungil, mobile banget, jadi gampang dibawa ke sana kemari. Dan, ada tambahan catatan pengarang di belakang buku ini untuk lebih memahami maksud pengarangnya.Selamat membaca, kawan!

  • Peter
    2019-01-19 06:56

    What a delightful little book and an interesting addition to the 1001 list, in fact I would probably never have even heard of it otherwise. Elsscot true genius is to take such a banal, mundane subject matter as Edam cheese and turning it into something rather more interesting..Frans Laarmans is a bored shipping clerk who after the funeral of his mother enters into the world of business as a cheese magnate in an attempt to escape his humdrum life and impress his new friends whom he feels inferior to. However, Frans has no aptitude for business and is a dreamer, fritters away his time away outfitting his new office rather than actually trying to sell the product. He does not even like the cheese.It is a good job that this is a short book as I did not find Laarmans a particularily appealing character and am not sure how I would have felt if the story had dragged on for another 100 pages or so. In the end this short book is quirky rather than being funny, sad but never tragic, a parable of everyday life, the grass is not always greener on the other side or something about birds in hand and bushes.

  • Iwan
    2019-01-05 10:38

    Nooit eerder gelezen, nu als e-book in de bibliotheekapp (interface is niet zo strak als Google Play maar met dit korte boekje moet het lukken.

  • Laura (bbliophile)
    2019-01-08 07:58

    I really didn't like this.

  • htanzil
    2019-01-21 10:28

    Kaas (Keju) adalah roman klasik pendek dari penulis Belgia, Willem Elsschot. Walau kisahnya sederhana namun roman ini termasuk salah satu roman yang mendunia. Sejak diterbitkan tahun 1933 roman ini telah berpuluh-puluh kali dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pada tahun 2008 Kaas kembali mencuri perhatian pecinta buku setelah Dick Matena, seorang ilustrator Belanda, membuat 119 ilustrasi bedasarkan buku ini dan membuatnya menjadi sebuah roman bergambar atau kini dikenal sengan isitlah novel grafis.Lalu apa sih istimewanya novel ini? Jujur saja, saya pertama kali tertarik dengan novel ini karena covernya yang minimalis dan menarik. Berwarna kuning cerah, dengan ilustrasi lelaki bertopi membawa keju edam di kedua tangannya. Judulnya juga sangat simple “Kaas” (Keju).Kaas menceritakan penggalan kehidupan Frans Laarmans, seorang kerani (pegawai administrasi) General Marine and Shipbuliding Company di Antwerpen. Frans adalah seorang pegawai berusia 50 tahun yang setia terhadap pekerjaannya. Selama 30 tahun ia menjalani rutinitasnya sebagai pegawai rendahan yang cakap dan tekun terutama di bidang korespondensi dan pembukuan. Kehidupannya bersama istri dan kedua anaknyapun biasa-biasa saja dan iapun sepertinya menikmati kehidupan rutinitasnya itu.Keinginannya untuk merubah nasibnya baru muncul setelah ia mengenal Mijnheer Van Schoonbeke, orang kaya dan terpandang di Antwerp. Awalnya Schoonbe mengajaknya secara rutin untuk menghadiri pertemuan rutin dengan teman-temannya dari kalangan elite. Awalnya ia merasa minder dengan lingkungan barunya itu, ia berusaha menutupi statusnya sebagai pegawai rendahan. Untunglah tak lama kemudian datang tawaran dari kawan Schoonbeke dari perusahaan Honstra asal Amsterdam untuk menjadi pedagang keju.Tawaran tersebut disambutnya dengan antusias. Namun Frans cukup berhati-hati untuk memulainya. Ia tak mau cepat-cepat melepaskan pekerjaannya, sehingga saat hendak memulai usahanya ini ia mengajukan cuti dari pekerjaannya. Dengan alasan sakit syaraf Frans memperoleh izin cuti selama tiga bulan dari tempatnya bekerja.Awalnya ia bersemangat sekali dengan profesinya yang baru ini. Ia yakin bahwa dirinya akan menjadi pengusaha keju yang sukses. Apalagi keju adalah salah satu bahan makanan yang disuka semua orang, tua muda, besar kecil di kalangan orang Belanda.Namun ternyata berjualan keju tak semudah yang ia bayangkan, apalagi ia sama sekali tak memiliki pengalaman untuk menjadi seorang wirausaha. 10.000 ton keju yang dipercayakan padanya tak juga laku-laku. Ia mulai khawatir dan gelisah.Kegelisahannya semakin memuncak ketika ia mendapat kabar bahwa bos kejunya Mijnheer Hornsta akan datang untuk mengetahui perkembangan penjualannya. Frans menjadi panik, ia ketakutan setengah mati dan mencoba untuk bersembunyi ketika bos kejunya datang untuk menemuinya.Walau kisahnya sederhana dan tak ada konflik yang berbelit-belit ini namun di tangan Willem Elschoot konflik yang diangkat dari peristiwa sederhana ini menjadi menarik dimana drama kehidupan akan tersaji secara lucu, sinis, sekaligus getir. Di sini Elschhot mengeksplorasi karakter Frans Leehman dengan apik sehingga pembaca bisa ikut merasakan pergolakan emosi yang dialami oleh si penjual keju ini.Elschoot tampak pandai membangun karakter Frans secara sabar, mendetail namun tidak terkesan bertele-tele. Semua disajikan secara wajar dan tidak berlebihan. Pembaca diajak merasakan naik turunnya emosi Frans seiring dengan perkembangan usahanya. Ada kalanya pembaca dibuat optimis dengan sikap hidup Frans, namun pembaca juga dibuat gemas ketika bagaimana Frans terlalu memusingkan hal-hal kecil seperti mencari nama perusahaan, mempermasalahkan kop surat, furniture untuk kantor barunya, dan sebagainya.Tak hanya pergulatan batin Frans yang diketengahkan Elschoot dalam karyanya ini, namun situasi sosial masyarakat Eropa di tahun 30-an lengkap dengan intrik-intrik di dunia perdagangan juga akan terungkap di novel pendek ini.Singkat kata novel ini menarik untuk dibaca, melalui kisah Frans Leehman kita diajak mendalami perjuangan seorang tokoh sederhana untuk merubah nasibnya. Novel ini memang berakhir dengan getir namun bukan berarti membuat pembacanya pesimis. Inilah realita yang mungkin saja bisa terjadi pada siapapun. Dalam mencoba sesuatu yang baru guna meraih kehidupan yang lebih baik, kesuksesan maupun kegagalan memiliki peluang yang sama. Elschoot memilih memaparkan sisi kegagalan dari kisah yang dibangunnya ini sehingga pembaca bisa belajar dari kegagalan si penjual keju ini.Willem Elsschot merupakan nama samaran Alfons Jozef de Ridder (1882-1960). Pria kelahiran Antwerpen, Belgia ini sempat melakukan berbagai pekerjaan sebelum akhirnya mendirikan biro iklan sambil menulis. Pengalaman hidupnya yang berganti-ganti pekerjaan dan menjalani bisnis biro iklannya ini rupanya menjadi inspirasi karya-karyanya yang banyak mengambil tema bisnis dan kehidupan keluarga. Gaya menulisnya memiliki cirri deskripsi yang mendetail dan sedikit sinisme.Karya-karyanya yang paling terkenal adalah Lijmen (1924), Kaas (1933), Tjisp (1934), dan Het Been (1938). Willem Elscschot meninggal di Antwerpen, belgia pada 1960. Setelah kematiannya, ia menerima penggargaan sastra nasional Belgia.Novel Kaas bukanlah karya pertama Elschoot yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berpuluh tahun yang lampau Asrul Sani pernah menerjemahkan karya Esschot "Villa de Reoses" (1913) dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1977.Sedangkan untuk terjemahan novel Kaas sendiri merupakan proyek kerjasama antara penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan Erasmus Huis dan Erasmus Dutch Language Centre (Jakarta) dalam rangka 40 tahun berdirinya lembaga kebudayaan Belanda Erasmus Huis Jakarta.Seperti telah diungkapkan di atas, novel Kaas juga telah dibuat versi komiknya. Semoga Gramedia juga kelak akan menerjemahkan dan menerbitkan versi komiknya.@htanzilhttp://bukuygkubaca.blogspot.com/Untuk menikmati guratan Dick Mantena dalam mengadaptasi Kaas dalam bentuk novel grafissilahkan klik link dibawah ini :http://www.deburen.eu/en/events/detai...

  • Celine
    2019-01-04 10:29

    In high school I had no interest at all in Dutch literature.* It was English books I felt drawn towards - the amazing fantasy novels I discovered in my childhood and their spinoffs such as urban fantasy and paranormal romance. Even English classics were preferable to the literature of my country, as the stories of Austen and Dickens held their own kind of nostalgic magic. It's only now that I am moving to England, probably for at least three years, that I feel the urge to discover the books that have shaped the country I was born in. So far, my only experience with Dutch lit has been through the dreaded reading-list enforced upon reluctant teens. Even the most wonderful occupation can be made dreary by making it mandatory, and unsurprisingly, I didn't even read half of the books I was supposed to. A few days ago I found Kaas ("Cheese") by Willem Elsschot for a few euro in my favourite second-hand bookshop. The title intrigues: is this a book about cheese? How can cheese be interesting? Unlike my fellow countrypeoples who seem to inhale the yellow flubbetygoop like no tomorrow, I have quite a strong dislike for most cheeses. In my mind, Dutch lit is connected to pretentiousness and obscure writing, and this common object seemed to be antithetical to that.Kaas, against all my expectations, is perfectly readable. I even have something in common with the main character, who does not like cheese either. Yet, in order to become more important in the world than a lowly clerk, he becomes a merchant of cheese. Frans Laarmans is a proud man and no reliable narrator. Humor is created by the discrepancy between how Laarmans views himself and his situation and what the reader - reading between the lines - knows. It's witty, but at the expense of Laarmans. To my own surprise, I enjoyed this short tragedy of a person that is not likeable but ultimately still gives rise to sympathy (or pity, perhaps). I find it ironic that emigrating to a different country finally sparked an interest in my national literature. Though perhaps that does make sense. This way I can take a little bit of home with me when I move, even if I wanted nothing to do with these books when I grew up.--* Willem Elsschot is Belgian, and as such, Kaas might more properly be seen as Flemish literature. It has been part of the Dutch-language canon though, so I hope everyone will forgive me for calling it "Dutch literature".

  • Sweetdhee
    2018-12-23 06:33

    2011#1Wah, ga nyangka.. Buku pertama 2011 yg menggelitik keinginan yg lama terpendam..Hmmm..Frans Laarman hanya seorang kerani, staf administratifMerasa karirnya tidak berkembang, padahal kebutuhan keluarga mulai mendesak, maka tawaran tiba-tiba untuk memulai bisnis keju seakan memacu semangat Laarmans.Dia merasa sangat optimis dan ingin langsung terjun memulai bisnisnyaDan kekhawatiran istrinya menyebabkan dia mengajukan cuti sakit pada perusahaan tempat dia bekerja, hanya untuk berjaga-jaga..Tapi apakah Laarmans tahu cara menjalankan bisnis saat dia menyetujui 20 ton keju Edam untuk dia jualApakah Laarmans tahu apa yang harus dia lakukan ketika barang tiba di pelabuhan?Apakah Laarmans tahu cara memasarkan produknya?Apakah Laarmans tahu cara memilih jalur distribusi yang baik agar kejunya tetap dalam kondisi prima dan tersalurkan ke konsumen yang tepat?Hijau..Dan clueless..Satu-satunya yang bisa dia tanyakan tentang bisnis adalah para pengusaha pada pertemuan mingguan di rumah Mijnheer Van Schoonbeke (kenapa yang kebayang jadi si bule di kantor ya?)Tapi karena gengsi, Laarmans tidak mengajukan pertanyaan mengenai bisnis itu sekalipunDan 20 ton keju Edam itu, susah payah berusaha menjualnyaBerhasilkah?Hmmmmm... baca buku nya lebih lanjut aja yaaTipis kok..Bahasanya juga enak..Novel ini benar-benar mengajarkan pada saya, jika kita ingin keluar dari zona nyaman, harus dipersiapkan baik-baikJangan langsung terjun tanpa mengenal medanWalau begitu, cerita ini tidak menyurutkan tekad saya..Saya harus berani maju..Siaaaap, GRAKKK!!!

  • Uci
    2018-12-29 08:34

    Seandainya Laarsman bertemu dengan Yoris Sebastian, si creative junkie, pasti dia akan menjadi contoh gagal dari keberanian bertindak out of the box. Keluar dari zona nyaman memang menggairahkan tapi nyatanya tidak semua orang bisa hidup tenang dengan keluar dari zona nyamannya. Akhirnya, mensyukuri apa yang kita miliki menjadi mantera terbaik untuk menjalani hidup yang damai.

  • Katrina Tan
    2018-12-27 05:44

    Bureaucrat.Dead end job.Bored.Thinks he can do better.Fails miserably.What's new?Except that it was written in 1933, and it still resonates...

  • belisa
    2019-01-17 07:32

    eğlenceli bir kitaptıama asıl vurucu yer yazarın önsözündeydiyazma edimi hakkında böyle güzel yazabilmek de bir yetenek 3. yıldız önsöze...

  • Agus Isnaen
    2018-12-24 11:55

    sampulnya eye cacthing, ukurannya juga enak digenggam..ergonomis hahaha...pertama ngelihat langsung tertarik pengen beli, baca2 sedikit review di sampul belakangnya membuat saya makin penasaran dengan buku ini ditambah lagi buku ini termasuk karya klasik dari negeri kincir.kaas ceritanya berkisah seputar kehidupan seorang karyawan perkapalan biasa yang ingin mencoba merubah nasibnya karena merasa karirnya sudah mandek dan kesempatan itu pun datang ketika ada sesorang yang menawarinya untuk menjadi agen penjual keju...yap keju.sang karyawan akhirnya mengambil kesempatan ini, menjadi penjual keju tapi tanpa melepas statusnya sebagai karyawan di tempat dia bekerja sebelumnya. Mengambil cuti karena sakit menjadi satu2nya cara agar Ia dapat menjalankan bisnis barunya ini, kemudian buku ini akan membawa kita ke dalam kehidupan frans (tokoh utama) dengan segala keribetan yang dihadapinya, perkenalannya dengan orang2 dari berbagai asosiasi dan bagaimana dia memanfaatkan uang perjalanan dinasnya, mengambil sedikit keuntungan dari selisih pembelian tiket perjalanan dinasnya.singkat cerita penulis tampaknya ingin menyampaikan bahwa jika anda memiliki kesempatan maka ambillah tapi tetap dengan perencanaan yang matang serta lengkap dengan rencana cadangan karena tidak semua kesempatan yang kita ambil akan berakhir dengan kesuksesan.. ^^ pokoknya bagus ceritanya, ringan dan saya berharap ada filmnya hahaha 4 bintang...sy memang royal kalo ngasih bintangeh sudah ada filmnya, kaas (1999) http://www.imdb.com/title/tt0231846/?...

  • an
    2019-01-19 05:58

    ge perlu pengantar karena sudah ada sebuah pengantar dalam ripiu sebelah.langsung ke frans laarsman. orang yang mengerjakan satu pekerjaan selama hidup na dan tiba-tiba diberikan pilihan lain. tantangan kalau boleh dibilang. dan orang yang sudah berada dalam titik jenuh na ini, yang menganggap kerja na sebagai sesuatu yang biasa saja langsung mengambil na.di sisi lain, acungan jempol untuk frans yang mau mengambil tantangan ini. mari mencoba walaupun ga punya gaya. namun di sisi lain... bagaimana dengan kemampuan dan persiapan na. setelah semua na berjalan, dia masih saja bersiap sampai pada akhir na... dia merasa kewalahan dan menyerah.apakah menyerah itu b'arti kalah? di sini dia menyerah untuk menemukan kembali keistimewaan dalam kerja na selama ini. yang telah menjadi kebiasaan dan tak ada yang menarik lagi. akhir na dia menemukan na kembali setelah jeda. koma.kadang itu yang diperlukan dalam suatu perjalanan. melihat diri sendiri dan kemampuan na untuk semakin... interest dengan apa yang kita lakukan.untunglah dalam hal ini masih ada pertimbangan istri na yang membuat frans masih berada dalam zona aman walau dia mencoba keluar dari zona nyaman na :D-45-

  • Mila
    2019-01-23 08:35

    Frans Laarmans ist bescheidener Büroangestellter auf einer Antwerpener Schiffswerft. Als er eines Tages zum Vertreter einer holländischen Käsehandelsgesellschaft ernannt wird, verantwortlich für die Gebiete Belgien und Großherzogtum Luxemburg, ist er überwältigt von seinem sozialen Aufstieg. Er lässt sich bei der Werft krankschreiben, richtet zu Hause ein Büro ein und bestellt zehntausend Edamer, vollfett.Doch das Leben als Geschäftsmann ist nicht so einfach, wie er es sich vorgestellt hat. Erst als die zwanzig Tonnen schwere Lieferung Käse im Lagerhaus liegt, Kiste über Kiste, dämmert es ihm. Und als sein Vorgesetzter, der brüske Herr Hornstra, seinen Besuch ankündigt, um die ersten Rechnungen zu begleichen, gerät Frans Laarmans in Panik.Der Auftritt des Edamers in der Weltliteratur ist amüsant und herrlich absurd. Bester Lesestoff für kurzweilige Winterabende.

  • Steve
    2019-01-06 05:58

    A lightly absurd novella of a man temperamentally unsuited for business going into business, like a Magnus Mills story grounded in the anxieties of middle class realism. Also a masterful piece of understatement in which the humor and the dramatic stakes of events come through in what's not said directly, especially when the narrator's self-knowledge is awkwardly out of sync with the world. When I finished reading, I was disappointed Cheese wasn't longer but not because there was anything missing - I just wanted to keep enjoying it. And I don't know if Camus read Elsschot before writing The Stranger a decade later, but there are some fascinating - though probably coincidental - similarities between them.

  • Andrew
    2019-01-23 09:57

    I realize that creating a flawed character is part of good writing, but I found the protagonist to be just plain annoying. I try to stay away from annoying people in real life and don't feel the need to associate with them in literature either.Frans Laarmans is a clerk that suddenly finds himself as a businessman in the world of cheese. He is ploddingly inept to a point that is intended to be comical....people must have had a different perception of comedy in the 1930's.The presentation of the social strata of the period was interesting though.

  • Ken
    2019-01-02 06:49

    Buku tipis ini padet banget isinya. Tak ada kalimat yg sia-sia. Penulisnya jago banget memainkan emosi pembaca. Saya sampai gemes pada Larmaans, tokoh cerita ini, yg baik, naif, lugu, tapi bego. Saya jengkel pada kenaifannya, sekaligus kasihan banget pada nasib sialnya. Beginilah bila seorang kerani yg tahunya cuma ngetik surat mendadak terjebak pada mimpi jadi pengusaha (pedagang) keju. Dengan gaya humoris sekaligus sinis, buku ini resmi menjadi hiburan sekaligus renungan bagi kita yg pengin jadi pengusaha tp cuma membayangkan enaknya doang. Hayo kamu gitu nggak? Saya sih iya.

  • Kingfan30
    2019-01-07 08:48

    What a funny little book, all about one of my favorite foods. Had I not had to stop reading for work it would have been a one sitting read (damn work :) !), a very short and easy read, and a great storyline. I think we can all picture someone we know who is like this, it is a great insight into how not to run a business. I had to smile at the part about his mum buying all the cheeses had she sill been alive.

  • Brian
    2019-01-18 09:33

    A fun light read that helped whittle away a couple of hours on a plane, "Cheese" is more comedy than tragedy concerning a protagonist thrust head-long and ill prepared into the world of capitalism. After finishing the book and reading more about the author (whose family didn't even know he was a writer) it is still pretty impressive that he could pound out this entire story, edit it and have it ready for publication in 2 weeks.

  • Rainbow Hearttaker
    2019-01-10 06:40

    ringan dan asyik. 1 jam busa abis...

  • Aslı Can
    2019-01-06 09:37

    Sade bi anlatımı var, ben sevdim.

  • Mark Maliepaard
    2019-01-11 12:43

    Wonderfully weird, but a tad dry for my taste.

  • alessandra falca
    2019-01-17 11:31

    Piccolo libello, nè brutto nè bello, da leggere in viaggio pensando al formaggio.

  • Dani Noviandi
    2018-12-30 11:32

    1. Cover KEJU ini lezat. Tahu kan gambar keju-keju yang biasanya ada di kartun Tom & Jerry, kuning dengan lubang-lubang pada keju tersebut. Begitu pula latar belakang cover buku ini, yummy :92. Dimensi yang bisa dibilang sebagai “ukuran saku”, apalagi dengan jumlah halamannya yang “hanya” 176 halaman, membuat KEJU ini mudah dibawa, ringan dan juga mudah dibaca di mana pun berada.3. Sederhana. Itu penampilan cover KEJU ini, dengan gambar seseorang yang memegang dua buah piring berisi keju, judul dalam bahasa asli: “KAAS”, nama penulis: “Willem Elsschot”, dan judul terjemahan: “KEJU”. It’s so simple.4. Terbit pertama kali pada tahun 1933; 77 tahun kemudian KEJU ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Terima kasih kepada Erasmus Huis dan Erasmus Dutch Language Center atas dukungan finansialnya, sehingga KEJU ini dapat dialihbahasakan oleh Jugiarie Sugiarto.5. Erasmus Huis merupakan pusat kebudayaan Belanda yang ada di Jakarta. KEJU ini merupakan proyek ketika Erasmus Huis merayakan hari jadi yang ke-40 pada tahun 2010.6. KEJU ini memang berbahasa asli Belanda. Tapi untuk sekedar informasi, setting KEJU ini berada di Belgia, penulisnya pun berkebangsaan Belgia. Jadi seebenarnya agak mengherankan mengapa KEJU ini yang diangkat oleh Erasmus Huis untuk diterjemahkan.7. Si penulis berkebangsaan Belgia tersebut ialah Willem Elsschot. Ini adalah nama pena dari Alfons de Ridder. Beliau lahir di Antwerpen pada tahun 1882, dan wafat pada tahun 1960 di kota yang sama.8. KEJU ini karya kedua beliau. Sebelumnya pada tahun 1924 beliau menerbitkan Lijmen, dan setelah KEJU, dua buku beliau lain adalah Tsjip (1934) dan Het Been (1938). Tema utama yang sering digunakan beliau ialah bisnis dan kehidupan keluarga.9. KEJU ini dilengkapi oleh satu halaman yang memuat tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Selain itu, ada pula unsur-unsur terkait yang berada dalam KEJU ini, pada satu halaman pula. Hal ini cukup membantu untuk sekedar mengingat-ingat kembali tokoh-tokoh yang terlibat. Seperti yang telah diketahui, nama-nama Belanda / Belgia agak susah untuk diingat atau diucapkan.10. Sudut pandang pencerita pada KEJU ini yaitu oleh orang pertama. Orang pertama ini sekaligus si tokoh utama dalam KEJU ini. Namanya adalah Frans Laarmans.11. Frans Laarmans merupakan seorang kepala keluarga dengan dua orang anak. Beliau bekerja sebagai “kerani” di perusahaan perkapalan: General Marine and Shipbuilding Company.12. KEJU ini merupakan buku kedua dimana saya menemukan istilah kerani. Buku pertama yang menyebut-nyebut kerani ialah My Stupid Boss karangan Chaos @ Work. Mungkin banyak yang menyangka kerani ini sebagai bahasa melayu atau Malaysia, tetapi setelah saya cek KBBI, kerani merupakan bahasa baku dari sekretaris / juru tulis, atau lebih tepatnya pegawai yang mengurusi administrasi sederhana. Efek masuknya bahasa asing membuat istilah sekretaris lebih populer saat ini.13. Satu peristiwa penting yang nantinya akan merubah hidup Frans adalah kematian ibunya. Ini adalah inti cerita di bab pertama KEJU ini. Memang, ibu dari Laarmans ini sudah pikun dan sakit berat, pekerjaannya sehari-hari pun hanya mengurai wol dan kapuk.14. Kejadian yang mengubah hidup Frans ini dimulai ketika pemakaman ibu Laarmans. Frans, yang mempunyai seorang kakak yang juga seorang dokter berkenalan dengan pasien sang kakak, van Schoonbeke. van Schoonbeke ini lalu mengajak Frans untuk ke sebuah pertemuan yang rutin digelar di kediamannya. Pertemuan ini bisa dibilang pertemuan kelas atas, dimana pesertanya yang juga masih tetangga-tetangga Frans ialah rata-rata orang berada yang memiliki mobil dan kedudukan.15. ~Learn the Dutch~ sebelumnya, kita telah mengenal istilah Meneer untuk menyebut tuan di dalam bahasa Belanda. Ternyata, penulisan yang tepat untuk kata ini ialah Mijnheer, bukan Meneer.16. van Schoonbeke, yang juga termasuk orang berada inilah yang menawari Frans untuk berbisnis KEJU. Frans, yang merasa hidupnya biasa-biasa saja dan juga sering tersepelekan pada saat acara pertemuan di kediaman van Schoonbeke melihat peluang dalam penawaran yang diberikan oleh van Schoonbeke.17. Peluang apa yang Frans dapat dari KEJU? Well, KEJU ialah makanan utama di Eropa, jadi Frans meyakini, bahwa KEJU pasti akan selalu laku.18. Apalagi, dengan menjual KEJU, Frans berpeluang menjadi Pengusaha. Ini adalah cita-cita terpendamnya, ia merasa telah lelah hanya menjadi kerani.19. Peluang itu datang secara tiba-tiba dan mendadak, maka bersegeralah Frans ke Amsterdam menemui Hornstra. Hornstra inilah teman dari van Schoonbeke yang merupakan seorang juragan KEJU. Frans melakukan perjalanan ini dari kediamannya di Antwerp.20. Satu masalah baru, untuk menjadi seorang pengusaha, Frans berpendapat bahwa ia tak bisa hanya sekedar paruh-waktu saja, maka ia mencari jalan untuk membolos dari pekerjaan utamanya di perkapalan.21. Untung saja, Ida, istri dari Frans mempunyai ide brilian. Berbekal seorang kakak yang seorang dokter, maka Frans mengambil cuti sakit selama tiga bulan penuh dengan alasan sakit parah. Tak main-main, sakit yang dideritanya ialah penyakit saraf! Akhirnya, “mandor” dari Frans merestui “penyakit” Frans tersebut, dengan syarat selama sakit Frans tidak mendapatkan gaji.22. ~Learn the KAAS~ keju yang akan dijual oleh Frans ialah KEJU Edam. Gambaran dari Edam ini ada di cover depan, keju yang dibungkus dengan parafin dan lilin berwarna merah. Keju ini awal mulanya berasal dari kota Edam, sebuah kota di utara Belanda. Keju ini merupakan keju yang rendah lemak, dan cenderung memiliki rasa seperti kacang.23. Frans pun mendirikan perusahaan di rumahnya. Disulapnya salah satu bagian rumah menjadi kantor. Bisa dibilang Frans ini rempong, segala hal yang ada di kantor-kantor umum seperti mesin tik, telepon, hingga kop surat harus ada pula di perusahaannya, sungguh sangat membuat gemas pembaca.24. Belum lagi masalah nama perusahaan, beberapa nama sempat dicoba Frans untuk nama perusahaannya, mulai dari bahasa Belanda, Prancis, sampai bahasa Inggris dicobanya. Bagian ini juga membuat gemas pembaca.25. Ternyata, KEJU yang ia pikir awalnya selalu laku ini tidak sesuai ekspektasinya, ia kesulitan menjual keju-kejunya. Memang, kejunya enak, tetapi Frans belum mempunyai bakat dan celah dalam menjalani bisnis yang ia geluti.26. Di saat-saat sulit inilah, terkadang Frans teringat kepada ibunya. Bagian ini menjadi sebuah pelajaran dimana terkadang orangtua yang kita sayang baru terasa pengaruhnya ketika ia telah tiada.27. Pelajaran lain dari KEJU ini ialah: kebohongan (seperti yang dilakukan Frans terhadap perusahaannya) tidak akan membawa kebaikan apapun. Apalagi apabila kebohongan itu termasuk besar.28. Empat potong KEJU edam, cocok untuk dijadikan kastangel.29. Buku 1001? KEJU ini cukup layak.

  • bakanekonomama
    2018-12-23 05:34

    Apa makanan utama orang Barat?Roti.Dan ya...Tentu saja: KEJU.Jadi, udah pasti dong kalo bahan makanan yang satu ini nggak bakalan ada matinya (kecuali kiamat), karena tiap orang di Barat sono pasti butuh makanan yang satu ini. Yang berarti... Kalo jualan keju nggak mungkin lah ada kata RUGI.Setidaknya, itulah yang ada di kepala Frans Laarmans ketika memutuskan untuk banting setir dari seorang kerani (semacam pegawai admin gitu) di General Marine and Shipbuilding Compani, menjadi seorang penjual keju.Saya jadi ingat dengan seorang teman saya yang berniat untuk berwirausaha. Jadi, teman saya ini memang niat mau jadi pengusaha aja, nggak mau jadi orang kantoran selamanya. Sementara itu, suaminya memang sejak awal nggak ada niat buat kerja kantoran dan mulai usaha kecil-kecilan dari awal. Terus, suaminya itu pernah bilang, "Kalo mau jualan yang nggak bakalan rugi dan orang-orang butuh terus, ya jualan sembako aja."Yap, sembako memang selalu dibutuhkan oleh setiap orang. Beras, minyak, gula, dsb. adalah bahan kebutuhan sehari-hari bagi orang Indonesia sini. Sama lah perannya sama gandum, keju, dan ikan hering (eh.. ngaco xp) bagi orang Belgia, Belanda, dan sekitarnya itu. Makanya, kalo jualan barang-barang begituan, dijamin nggak bakalan rugi deh.Nah, dengan semangat baru si Laarmans ini pun memulai pekerjaan barunya itu. Padahal dia sebenarnya nggak ada pengalaman sedikit pun di bidang jual-jualan. Tapi mau gimana lagi, namanya juga udah teriming-imingi oleh kesuksesan dari ribuan ton keju yang harus dijualnya.Alasan lainnya, dia juga malu karena status sosialnya yang tidak bisa dibanggakan itu, setiap kali dia diundang pesta di rumah seorang bangsawan bernama Van Schoonbeke, yang merupakan teman kakaknya Frans Laarmans, yang sayangnya pekerjaannya jauh lebih oke dibanding dia..Pokoknya, si Frans ini bisa dibilang idupnya datar-datar aja deh. Dari segi penghasilan, karir, dan status sosial, semuanya datar. Makanya dia langsung terima begitu si Van Schoonbeke nawarin dia untuk menjadi agen penjualan keju dari seorang produsen keju di Amsterdam.Frans pun melakukan perjalanan ke Amsterdam dari Belgia. Ia menandatangani kontrak dan setuju untuk menjual 20 ton keju Edam tua dari PT Hornstra.Ternyata eh ternyata, selain nggak punya pengalaman jualan dan ternyata nggak punya bakat di sana juga, si Frans ini ternyata NGGAK DOYAN keju!! Alamaakk!! Baru tau saya kalo ada orang Eropa nggak doyan keju. Sama herannya dengan ketika saya mendengar ada orang Indonesia yang nggak doyan nasi. Huehueehuee..Udah gitu, si Frans ini tampaknya terlalu visioner dan ngerjain hal-hal lain yang nggak jelas terlebih dahulu. Misalnya, mikirin sampe botak perusahaan kejunya mau dikasih nama apa (padahal dia bukan produsen gituh.. cuman reseller aja). Nama udah dapet, eh dia rempong bikin kop surat... -______- #tepokjidad. Beli mesin tik juga (dan itu dia pake beli barang-barang yang ga diperluin, karena katanya nggak enak kalo masuk toko terus nggak beli apa-apaan.. =_______= #tepokjidad2) Hadehh..Nggak cuman itu aja. Dia juga pake masang iklan di surat kabar nawarin orang-orang untuk jadi distributornya kejunya dia! Pake orangnya disuruh dateng dan pake acara dia ketipu-ketipu segala lagi... x_____________x #tepokjidad3 Haddeeeuuhhh... Rempong banget dah tuh orang. Padahal masih jualan keju ece-ece aja lagaknya udah kayak distributor besar aja.Alhasil... keju yang dijual Frans pun NGGAK LAKU! Ya, nggak laku. Dari sekian peti keju yang dikirimkan ke Frans, hanya beberapa saja yang terjual. Sisanya menumpuk, teronggok, menunggu untuk dibeli orang. Frans pun kelimpungan. Apalagi setelah itu ia mendapat kabar kalau bosnya akan datang dan menanyakan kemajuan penjualan kejunya...Nah lhooo...Eng ing eng....Wiiuuu... wiiiiiuuuu....Nggeeeeeekkkk...Yak, selesai onomatope nggak pentingnya.Pokoknya, kalo Anda jadi Frans, pasti bingung juga dong. Udah ngebayang-bayangin dapat gaji besar setiap bulannya (soalnya jadi kerani itu gajinya kecil), ditambah lagi dengan status sosial yang terpandang, dsb. Tapi ternyata mencapai semuanya itu tuh sulit banget (Yaeyyalahh.. Siapa kate gampil ngurusin begonoan?).. Banyak hal harus dikorbankan.Satu hal yang saya pelajari, visi itu memang penting, tapi lebih penting lagi mengetahui medan dan pengetahuan tentang bidang yang akan dikecimpungi. Salahnya si Frans, dia terlalu visioner tapi nggak punya ilmu. Yah, itulah sebabnya kenapa orang yang berilmu itu derajatnya lebih tinggi ya..Jujur, saya rada-rada sebel sama si Frans ini. Gregetan gitu. Padahal kalo dari awal dia langsung secara serius memikirkan strategi pemasaran yang lebih rasional (seperti menyalurkannya ke toko bahan makanan atau seburuk-buruknya keliling jualan keju), pasti lebih banyak keju yang akan dia jual. Tapi ya, mungkin orang yang kayak Frans ini justru orang yang paling umum kita jumpai. Saya jadi inget bisnis MLM, dimana kebanyakan orang udah teriming-imingi sama bonus besar, dapet posisi puncak, dsb. tapi usahanya nggak maksimal buat mencapai itu. Ngimpi doang. Tapi bukan berarti Frans nggak ada bagus-bagusnya ya. Dia adalah seorang ayah dan suami yang baik. Sayang banget sama keluarganya. Selain prestise, sebenarnya itu juga salah satu alasan kenapa dia jadi jualan keju. Dan keputusan terakhirnya Frans cukup patut untuk diberi apresiasi menurut saya...Ini pertama kalinya saya baca kesusasteraan Belgia, yang negaranya pakai tiga bahasa itu. Cukup menarik, meskipun tampaknya jalur cerita yang agak datar memang sudah menjadi ciri khas kesusasteraan zaman-zaman itu. Siapa sangka juga kalau tema yang sederhana seperti ini bisa menimbulkan banyak konflik dan kejadian menarik? Mungkin saja nanti penulis Indonesia bisa terinspirasi untuk menulis kisah yang serupa, misalnya beras gitu. Atau mungkin gula?Yah.. Siapa tahu??

  • Nathan
    2019-01-22 08:48

    A funny book about a shipping clerk who inherits a cheese company and is tasked with selling 10,000 wheels of cheese. He knows nothing of sales and doesn't even care for cheese. Instead of focusing on sales, he instead focuses on keeping up appearances--his first two weeks are spent looking for the perfect desk and typewriter. And of course he can't leave his office in case someone tries to call him, so he attempts to find help to do the grunt work, with little success. In fact he gives away more cheese as samples than he actually sells.

  • Miss E
    2018-12-25 05:29

    A playful and light-hearted comedy about a budding but struggling entrepreneur. I enjoyed witnessing Frans self-realisation that he was content with his job at the General Marine all along but I feel that the ending was rushed and the aftermath of his failed cheese dream needed further exploration.

  • Joost
    2019-01-22 09:42

    Buiutengewoon geestig geschreven.

  • Laura Wondolleck
    2019-01-04 05:33

    Geweldig mooi geschreven. Nog steeds toegankelijk, ondanks dat het boek uit 1933 komt.