Read Samans missie by Ayu Utami Maya Sutedja-Liem Monique Soesman Online

samans-missie

De jonge priester Wisanggeni werkt in de binnenlanden van Zuid-Sumatra, in het dorp waar hij is opgegroeid. Als hij met armoede en onrecht in aanraking komt, ontwikkelt hij zich tot een mensenrechtenactivist. Hij verandert zijn naam in Saman, wordt persona non grata en moet vluchten naar New York.Samans verhaal is vervlochten met de levensverhalen van enkele jonge IndonesiDe jonge priester Wisanggeni werkt in de binnenlanden van Zuid-Sumatra, in het dorp waar hij is opgegroeid. Als hij met armoede en onrecht in aanraking komt, ontwikkelt hij zich tot een mensenrechtenactivist. Hij verandert zijn naam in Saman, wordt persona non grata en moet vluchten naar New York.Samans verhaal is vervlochten met de levensverhalen van enkele jonge Indonesische vrouwen. Zij spreken vrijelijk met elkaar over hun liefdeservaringen, hun geloof en hun gezinsleven....

Title : Samans missie
Author :
Rating :
ISBN : 9789052269535
Format Type : Hardcover
Number of Pages : 223 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Samans missie Reviews

  • Helvry Sinaga
    2018-12-01 04:33

    inilah buku Ayu Utami yang pertama kali saya baca. Tahun 2006 saya sudah membeli bukunya Larung, namun saya sendiri sampai sekarang belum membacanya. Saya termasuk terlambat membacanya, karena sudah 12 tahun berlalu dari pertama kali dicetak, barulah saya berkesempatan.Novel ini mendapat banyak pujian. sambutan tersebut dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia. Dari dunia akademis juga memberikan sumbangannya lewat karya ilmiah suatu penelitian mengenai novel Saman dan Larung. Beberapa judul karya akademis yang mengupas novel ini yaitu sebagai berikut.1. Skripsi: Perilaku Seksual dalam Novel Saman Karya Ayu Utami. Oktivita, Universitas Muhamadiyah Surakarta (2009).2. Skripsi: Pandangan Dunia Pengarang dalam Novel Saman karya Ayu Utami. Lina Puspita Yuniati, Universitas Negeri Semarang, 2005.3. Jurnal: Novel Saman dan Larung dalam Perspektif Feminin Radikal. Baban Banita S.S. M.Hum, Universitas Padjajaran, Bandung (tanpa tahun).4. Jurnal: Challenging Tradition: the Indonesian novel Saman. Rochayah Machali dan Ida Nurhayati, UNSW, Sydney (tanpa tahun).5. Jurnal: Sexuality, Morality, and the Female Role: Observation on recent Indonesian Women’s Literature. Monika Arnez and Cahyaningrum Dewoyati, Universitat Hamburg and Universitas Gajah Mada (tanpa tahun).6. Thesis: Narrating ideas of Religion, Power, and Sexuality, in Ayu Utami's novels: Saman, Larung, and Bilangan Fu. Widyasari Listyowulan, Ohio University, 2010.7. Thesis: No Woman is an Island: Reconceptualizing Feminine Identity in the Literary Work of Ayu Utami. Micaela Campbell, University of Victoria, 2001.8. Perlawanan perempuan terhadap hegemoni laki-laki dalam novel Saman dan Larung karya Ayu Utami (sebuah pendekatan feminisme). Agustina Fridomi, (tanpa tahun).Keberadaan Saman, tentunya tidak dapat dipisahkan dari kedua novel Ayu Utami lainnya, yakni Larung dan Bilangan Fu. Dari ketiga novel itu persoalan power, gender, dan sexuality diangkat oleh Listyowulan (2010) dalam thesisnya. Ia menyimpulkan bahwa Novel Ayu Utami 'menyuarakan' ketiga point tersebut dalam kehidupan manusia di Indonesia. Berikut petikan konklusi thesisnya.To recapitulate the discussion in this thesis: the three points offered in Utami’s novels Saman, Larung and Bilangan Fu are the contention between traditional and orthodox religions, the clash of power that occurs between state and individual, and the freedom of expressing women’s sexuality (Page 147).Saman adalah cerita tentang suatu hubungan persahabatan dan suatu tindakan besar untuk mengatasi masalah. Persahabatan itu antara empat wanita muda, Yasmin Moningka, seorang pengacara sukses yang bekerja di Law Firm ayahnya. Laila, seorang penulis dan fotografer. Shakuntala, seorang penari yang sedang menempuh studi master di New York. Terakhir, Cok, seorang wanita pengusaha. Dengan tokoh utama: Saman atau Wisanggeni, seorang Pastor yang beralih menjadi aktivis hak asasi manusia.Permulaan cerita ketika Laila bertemu dengan Sihar Situmorang, seorang sarjana pertambangan disuatu offshore di Prabumulih, Sumatera Selatan. Konflik dalam dunia kerja pertambangan yang didominasi oleh pria, menjadi tontonannya ketika ia ke lokasi tersebut. Ia ke sana untuk mengambil beberapa capture sebagai bahan iklan perusahaan minyak yang mengontrak agensinya. Ia kagum pada Sihar karena kekerasan hatinya untuk melawan atasannya (lebih tepat rekanan) yang memaksa Sihar agar pengeboran dilakukan. Ia menyaksikan bagaimana Sihar berargumentasi dan dengan risiko kehilangan pekerjaan. Alhasil, perhitungan yang tepat oleh insinyur tambang itu memang benar. Alat bor tidak bekerja semestinya, dan mengakibatkan gempa lokal dan salah seorang rekan Sihar terlempar ke laut dan tak berbekas raga.Laila mengenalkan Sihar pada Saman. Siapa Saman? Nama aslinya adalah Wisanggeni. Dia tadinya adalah seorang Pastor yang bertugas di Prabumulih. Apa yang menyebabkan ia bertugas di Prabumulih, tergambar dalam novel ini. Ia terikat dengan kenangan masa kecil. Masa kecil yang cukup mistis. Ibunya mengalami kejadian mistis ketika sedang mengandung adiknya, mengalami kejadian aneh, dan bayi dalam kandungan tersebut hilang begitu saja. Misa Requeim dilakukan. demikian hal tersebut terjadi kembali. Perut ibunya yang tadinya hamil, mendadak lenyap bersama suara-suara yang didengar Wisanggeni tiap malam. Ibunya meninggal, dan ia memutuskan masuk ke Seminari. Pengalaman mistik di Prabumulih membuat Wisanggeni ingin menyusuri kembali masa kecilnya di rumahnya dulu. Ia bertugas di satu gereja katolik kecil di sana.Dimanakah ada potret ketidakadilan? jangan lihat di lukisan atau di buku-buku filsafat, tapi lihatlah di sekeliling. Pemerintah masa lalu yang merajalela dengan mengatasnamakan demi keadilan, justru berlaku tidak adil di tanah Prabumulih. Dengan berdalih bahwa akan membangun suatu perkebunan sawit yang menyejahterakan masyarakat, aparat pemerintah daerah mendatangi tiap penduduk untuk menjual tanah miliknya. Siapa lagi yang berkepentingan kalau bukan pengusaha yang rakus dan menyuap para penguasa.Wisanggeni bersama dengan masyarakat setempat berusaha membangun kembali lahan yang tidak mau dikompromikan dengan cara menanam kembali pohon-pohon karet muda, diharapkan berproduksi lama dan tentu meningkatkan ekonomi mereka. Namun apa yang membuat Wis bertahan adalah kesedihan hatinya melihat Upi ketika ia kembali ke rumah masa kecilnya. Upi digambarkan adalah seorang gadis remaja yang memiliki gangguan jiwa sampai pada taraf mengganggu dan meresahkan. Masyarakat disana tidak tahu bagaimana merawat atau mendampingi Upi. Yang mereka lakukan adalah memasung dan memasukkan Upi ke sebuah ruangan yang dilihat Wis seperti kandang burung.Di bagian dunia yang lain, Shakun Tala meninggalkan Indonesia karena menerima beasiswa. Ia seorang penari. Dalam novel ini ia bercerita dari sudut pandangnya sebagai seorang anak dari ayah yang ia benci, seorang sahabat bagi tiga orang. Ia meninggalkan apa yang orang bilang itu norma. Baginya, hidup dengan pilihannya sekarang adalah hidup atas kebebasan, yang ia pertanggungjawabkan sendiri. Ia muak dengan segala kemapanan dan aturan yang mengatakan bahwa wanita harus menjaga diri sebelum menikah, dan sebagainya. Dan baginya adalah suatu hal aneh ketika menyaksikan temannya Laila begitu tergila-gilanya dengan Sihar yang telah beristri. Ia menyediakan tempat bagi ketiga sahabatnya untuk menemani Laila yang akan bertemu Sihar di New York, karena di Jakarta tidaklah bisa.Siapa Saman? itulah nama baru Wisanggeni. Ia menggunakan nama Saman untuk menghilangkan jejak dari kejaran aparat. Apa yang dilakukan di Prabumulih membuat gerah pengusaha dan aparat. Ia dicari dan pernah disekap oleh intelijen. Hal itu tidak membuatnya trauma, malah ia meminta kepada paroki agar ia "dibela" namun sepertinya gereja juga tidak mau mengikutkan dirinya pada pilihan Wis, dan Wis menempuh jalannya sendiri. Ia keluar dari kepastoran, dan menjadi aktivis hak asasi manusia. Ia beralih nama menjadi Saman, dan ia pun berkenalan dengan Yasmin Moningka. Wis pernah menjadi pembimbing rohani mereka berempat ketika mereka masih SMP. Apa yang terjadi diantara Saman dan Yasmin sesungguhnya adalah realita yang dibungkus dalam cerita novel. Ada banyak keraguan menenai konsep-konsep hidup. Misalnya, bagaimana persepsi Hawa ketika disalahkan karena menggoda Adam? Apa pandangan patriarki ketika melihat suatu "imajinasi" yang terlalu liar?Agar pemahaman topik ini bisa utuh, memang lebih baik dilanjutkan dengan novel ayu utami selanjutnya. jadi, saya harus baca lagih nih kelanjutannya. :)Sekilas tentang PenulisYustina Ayu Utami lahir di Bogor, Jawa Barat tahun 1968. Novel pertamanya ini merebut perhatian pembaca dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri yaitu pemenang pertama dalam sayembara oleh Dewan Kesenian Jakarta, 1998 serta penghargaan The Prince Claus Prize di tahun 2000 dari negeri Belanda. Apa yang menjadi warna baru dalam dunia sastra Indonesia oleh karya Ayu Utami ini mendobrak ketabuan dalam norma penulisan, salah satunya adalah kata-kata seperti orgasme, masturbasi, organ kelamin, dan kondom disebutkan berkali-kali.Utami menyelesaikan S1-nya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Anak bungsu dari 5 bersaudara ini memilih menjadi penulis. Ia juga sebelumnya berkarir di dunia jurnalistik (sampai sekarang?). Media tempat ia berkarir antara lain Majalah Forum Keadilan, MATRA, KALAM dan salah satu pendiri Aliansi Jurnalistik Independen (AJI). Mungkin karena terlibat dalam dunia jurnalistik, bobot fakta yang ia tampilkan dalam novelnya ini lebih terasa tidak fiksi, seolah mendekati keadaan sebenarnya. Dari latar belakang ini saya bisa menyimpulkan bahwa penulis yang juga sekaligus jurnalis, memasukkan fakta-fakta yang tidak tersembunyi yang mereka temukan kepada pembaca, sekaligus memberitahu ada sesuatu hal yang serius dengan fakta itu. Dan mereka punya pena untuk menuliskannya.Akhirnya, dengan kemampuan saya yang sangat terbatas, saya mengapresiasi karya ini, karena satu hal. Ayu Utami berani. berani menuliskan, terlepas dari apakah itu suatu bentuk ketidaksopanan dalam beretika menulis, saya rasa itu relatif jika dikaitkan dengan suatu cita-cita yang tidak munafik.@hws121010

  • John
    2018-12-16 11:12

    The story of an Indonesian activist told by a young female Javanese expat living in NYC and working for a human rights NGO. The writing is evocative, even sensual at times, and despite some rough edges it manages to paint a very convincing and fairly tragic picture of poor rural Indonesian communities being exploited and killed under the nose of a numb, corrupt state. Against this setting, Saman, a former priest, stands up for a small community being violently pressured to sign over their lands to a new palm oil plantation. He is then captured, imprisioned and tortured, and manages to escpae. Saman's moral, political and philosophical digressions make for engaging reading, as does his sexual "awakening" later on. Sex, actually, playes a larger role in this novel than I would have suspected, putting in pretty stark relief the intense sexual repression in Indonesian society, particularly the smaller and more rural ones.

  • Bronwyn Mauldin
    2018-12-07 11:36

    Saman is the story of how a Catholic priest in the world’s most populous Muslim country, Indonesia, becomes a human rights activist called "Saman." Author, journalist Ayu Utami, turns the familiar tale of the crusader for justice on its head by folding Saman's story into that of a group of young women who knew him when they were school girls and he a newly-ordained priest.Laila is the good girl who always falls for men she cannot have. Shakuntala the dancer who breaks her name in two for an American grant. Cok the bad girl exiled by her family. Yasmin the serious attorney trapped in a dull marriage. As these girls grow up and explore their sexual identities, the priest comes into his own, and with their help, is reborn.The story unfolds in layers, spanning the globe from one former Dutch colony (Indonesia) to another (New York), in only 180 pages. We read the story through several points of view, and through narrative, letters and emails. Watch for small details casually dropped along the way, as they add up to a powerful tale that is as much about the diversity of modern Indonesia as it is about any one person’s search for justice and freedom.

  • Nazmi Yaakub
    2018-12-13 08:34

    Saman melonjakkan nama Ayu Utami di mandala sastera Indonesia menjelang kejatuhan regim Suharto apabila novel itu dinobatkan sebagai pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1998.Novel mantan wartawan Matra ini pernah menggegarkan dunia sastera Indonesia kerana kontroversi unsur seksual, selain menghantar mesej berunsur politik secara tajam dan isu agama lewat karya penulis muda itu.Dua tahun selepas memenangi sayembara itu, Saman sekali lagi menarik perhatian dunia apabila dianugerah Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund yang beribu pejabat di Den Haag, Belanda.Novel ini dimulai dengan babak romantis, Laila menanti kedatangan teman lelakinya, Sihar, dan Ayu sudah mendedahkan unsur seksual novel ini sejak awal lewat puisi di halaman 3 (Kuinginkan mulut yang haus/ dari lelaki yang kehilangan masa remajanya / di antara pasir-pasir tempat ia menyisir arus).Novel ini bergerak dari insiden letupan tragik di pelantar minyak milik Texcoil Indonesia yang mengorbankan tiga jiwa, termasuk rakan Sihar, Hasyim Ali yang bekerja dengan Seismoclypse, akibat kedegilan dan keangkuhan Rosano.Tidak sukar menangkap kritikan politik seawal babak kedua apabila Sihar menjawab usul Laila yang mencadangkan kes itu dibawa ke muka pengadilan pada halaman 21: "Kamu fikir Rosano itu siapa?" Saat itulah ia menceritakan bahawa Rosano punya ayah seorang pejabat. "Texcoil punya uang lebih dari yang diperlukan untuk membungkam keluarga Hasyim dan polisi."Harus diingatkan novel ini muncul ketika isu KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) sedang asyik berlegar di sekitar pemerintahan Suharto.Demi memastikan kematian Hasyim tidak ditelan Laut China Selatan selama- lamanya, Laila mempertemukan Sihar dengan Saman dan Yasmin; mengimbas kembali sejarah hidup Saman atau nama sebenarnya Athanasius Wisanggeni (Wis).Babak imbas kembali Saman ini banyak mendedahkan unsur politik, seksual dan agama yang menjadi tabu di Indonesia, sekali gus menjentik simpati pembaca kepada kejahatan Anugrah Lahan Makmur, pihak yang merampas tanah Perabumulih.Adegan keghairahan gadis kurang siuman, Upi terhadap lelaki dan `kesengsaraan' Wis sebagai paderi bertempur dengan nafsunya apabila digoda Upi, antara unsur seksual dalam novel ini yang menimbulkan kekecohan dalam dunia sastera Indonesia.Bagaimanapun, Saman berjaya menimbulkan kebencian pembaca terhadap antagonis terutama apabila kejahatan itu tidak mampu ditentang Wis dan penduduk kampung Perabumulih seperti yang dinyatakan pada halaman 110: `Siapapun yang memulai, merekalah yang tetap dipersalahkan oleh hukum. Status mereka kini buron. Orang-orang yang membakar Upi, menggagahi istri Anson, merusak rumah kincir, mencabuti pohon-pohon karet muda, menjadi tidak relevan untuk dibicarakan hakim'.Saman boleh dianggap antara karya penulis muda yang menjadi rujukan latar belakang sejarah dan sosial yang berlaku pada akhir alaf lalu, terutama di Indonesia, dan diakui unsur seksualnya keterlaluan pasti mengganggu sesetengah pembaca.

  • Pulung
    2018-11-21 05:21

    Temanya OK aja, gayanya masih gak papa, tapi tetap menyisakan pertanyaan buat saya:Kenapa harus dengan cara seperti itu mengungkapkannya?Beberapa kawan yang banyak bilang cerita ini jorok, sayan bilang nggak. Vulgar iya. Nah ini... Kenapa harus vulgar?Kalau cuma untuk menunjukkan bahwa perempuan juga boleh bicara blak-blakan tentang kehidupan seksualnya, masih ada cara yang lebih santun dan manis, bukan?Menjadi santun bukan berarti takut bicara dan tidak tau apa-apa. Jelas sekali perbedaannya.Apapun, buku Saman untuk saya masih tetap lebih baik dari beberapa buku sejenisnya, yang juga di tulis perempuan, yang juga mencoba "berani" menuliskan seksualitas kaumnya.Lucu, ya... Alur cerita yang lain, yang barnuansa kehidupan sosial (barangkali politik) jadi ketutup sama hal-hal genitnya.Serta-merta kawan saya ada yang pernah bilang: Sama aja kayak baca stencilan.Ha ha ha...Menurutmu?-Ria-

  • Lasse
    2018-12-13 08:12

    The first book by an indonesian writer I have ever read.I have to admit that I'm still a bit puzzled about the meaning and the symbols in it, but as I kept thinking about it and read more about the reactions this book provoced, I realized that it's a very brave book. Sexuality, religious conflicts, the effects the Transmigrasi policy in the 70s, friendship, love, everything is brought up here. It is both, the story of the main characters of the book and their moving fates and a reflection about Indonesia. I'll definately read it again later in my life because it still captivates me somehow, even though I can't exactly say why. One thing is for sure: It is an interesting story and the discussions this book unleashed make it worth reading.

  • nia pranatio
    2018-11-23 07:23

    Feminism RocksPolitics SucksLove is something personal

  • Aya
    2018-11-20 03:12

    keren juga saya baca ini cuma semalaman hingga matahari terbit.Jadi, saya masih dalam minggu UAS dan saya lagi kram mata alias butuh . Saya lagi bosan sama bacaan-bacaan barat kontemporer yang mengulang formula gitu-gitu saja dan ini membuat saya dikucilkan dari komunitas buku di Instagram. Katanya saya kurang gaul, ketuaan, dan lainnya. Lalu, saya keingat saja sama pengarang favorit saya, Ayu Utami dan ada dua buku masterpiece-nya lagi duduk-duduk di rak buku, masih belum "diperkosa" juga. Oke, jibber-jabber sucks, let's get started.Overall, saya suka buku ini. Saman benar-benar merefleksikan Indonesia hingga ke akar-akarnya, nggak seperti buku-buku lokal yang hanya menceritakan wajah Indonesia saja. Buku ini seperti cambuk untuk anak-anak jaman sekarang yang terlelap akan kecanggihan, sindir sana-sini hanya gara-gara nggak dapat bensin... di jaman Reformasi, anak-anakku yang berwajah no filter ndasmu, kebebasan berpendapat hanyalah fiktif belaka. Nggak hanya masalah jaman reformasi yang aktivis dikejar-kejar hanya karena mengkritik sistem negara, masalah yang "tabu" di adat Indonesia juga dibicarakan (terutama seksualitas), dan menyinggung wajah maskulin negara. Tapi... Walaupun saya suka baca bacaan Ayu Utami dan bikin saya terlempar buat politik sendiri (ampun sama sistem ampun ampun kebanyakan sistem jadi mendem), ada satu hal yang bikin satu bintang rating mendem :1. Bahasa. Saya agak setuju sama Pramoedya Ananta Toer yang mengkritik bahasa Ayu punya integritas tinggi, terlalu "jurnalistik" lihat di sini. Kadang-kadang bahasa Ayu, bagi saya, terlalu tinggi sampai-sampai bicara sama orang seumuran pakai "saya", "kau". Sekarang, coba deh. SMS teman sebaya : "Kau pulang jam berapa nanti? Saya tak bisa tidur. Entah bagaimana tugas saya tak selesai-selesai..." dan sebagainya sampai-sampai jatah karakter SMS habis. Saya juga sering menemukan kata-kata yang terlalu ruwet, mbulet, terpatah-patah pun ada. Ya saya tahu ini sastra, kalau terlalu ruwet ya.. Mendem.Dan satu hal lagi yang bikin saya agak capek baca karya Ayu Utami : terlalu banyak seri. Yah, sudah itu saja. Lanjut baca Larung, deh. Sambil lanjut sindir-sindiran sistem negara di Twitter.

  • Penny Puspa
    2018-11-28 07:30

    Saman--> Salah satu novel yang membuat saya cukup tertegun karena isi novel ini begitu padat dan campur aduk seperti gado-gado. Setelah membaca novel ini, saya menyadari bahwa issue tentang gender dan seksualitas dalam masyarakat Indonesia masih sangat tebal batas-batasnya. Kebudayaan patriarki mungkin adalah penyebab bagaimana gender menjadi masalah yang sepertinya "dibesar-besar"kan. Ini hanya pandangan pribadi, tapi saya melihat fungsi kelamin manusia sebenarnya sama saja, sebagai bentuk casing dan alat untuk melakukan penitrasi. Esensi seorang manusia bukan terletak pada kelaminnya, tapi jiwa dan pikiran. Kita, sebagai manusia, rasanya perlu menempatkan diri pada persoalan yang lebih universal, karena baik laki-laki atau perempuan juga mempunyai status dan kemampuan melakukan pekerjaan yang sama. Dan jika kita mulai mengkotak-kotakan segala sesuatunya, maka hal itu menjadi sangat terbatas. Tapi toh bagi masyarakat kapitalis, seksualitas adalah bentuk aset yang benar-benar menjual.Dalam novel ini saya begitu menyukai karakter Shakuntala, pemikiran dan sikapnya yang androgini, ajaib serta eksperimental, tapi tetap concern terhadap teman-temannya, terutama Laila... ah Laila, satu-satunya karakter yang saya rasa menganggap cinta itu benar murni, sebuah devosi, pengorbanan tiada batas... andai Laila, kau korbankan cintamu untuk kemanusiaan, mungkin kau akan ejakulasi dalam kebahagiaan.

  • Rara Rizal
    2018-12-17 08:16

    Read this as part of my book club assignment. I don't like the book enough to write a serious review. Some notes though:1 - Some story lines raised my eyebrows, as in "what is it doing there? what does it contribute to the entire plot?" like the pseudo-mystic piece on Wis' mother. 2 - The book centered around sex. Or the lack thereof. Sex life of a bordering-frigid virgin straight woman. Great. I don't like it. I think it's supposed to be 'sexually liberating' but personally it ended up being too vulgar in a bad and tacky way for me. Bleh.3 - The redeeming quality of this book is the character Shakuntala. Witty ones always save the day. Even then I felt she was out of place. 4 - The dichotomy of good versus evil was too steep in a very non-entertaining way. A turn off.5 - Final part of the book felt rushed. Transition felt too sudden. I think it was meant to be a thrilling twist. Frankly it's just confusing. Bottomline, I should thank this book for making me think "Holy Shit. There have got to be Indonesian works of literature that are better than this" thus begins my quest to redeem Indonesian literature. Someone please show me the way.

  • Olin
    2018-12-16 11:13

    Saya tidak tahu, kenapa banyak orang tidak suka sama Ayu Utami dan gaya penulisannya. Saya pikir tulisan Ayu bagus dan sangat memuaskan keingintahuan kita akan suatu gaya penulisan lain yang tidak standard (non mainstream), tetapi juga membuka mata. Kadang isu seksualitas dan posisi perempuan di masyarakat memang selalu menjadi hal yang sangat menimbulkan debat kusir. Tapi kenapa kita harus munafik? Di dunia ini seks memang selalu dianggap tabu, tetapi selalu dinanti dan membuat banyak orang berdebar( termasuk orang2 yang merasa dirinya harus menegakkan nilai-nilai moral). Saya tidak mau membenarkan kebebasan berekspresi sebagai alasan utama. Tetapi saya pikir novel Ayu adalah satu try out atau uji coba untuk kita semua (termasuk para pembesar) untuk melihat kembali nilai seksualitas masyarakat kita. Jangan berpikir bahwa perempuan tidak bisa bicara dan tidak bisa mengekspresikan seksualitasnya dalam masyarakat. Kalau laki-laki boleh, kenapa perempuan tidak?

  • Qunny
    2018-12-04 10:24

    Banyak pertanyaan yang belum terjawab, dan dua bintang untuk buku ini bukan berarti buku ini jelek. Saya malah terkejut karena tahu-tahu buku ini sudah selesai.Saya menyukai gaya bahasa yang dibawakan dan hal-hal yang dibahas dalam buku ini, tapi sayang sekali plot yang di dalam buku ini nggak terlalu berhubungan. Tidak mempunyai konflik utama yang menghubungkan keseluruhan karakter. Yang saya tangkap hanya A dan B, B dan E, E dan C, dst.Akan melanjutkan ke novel Larung.

  • mahatma anto
    2018-11-29 05:13

    dulu bacanya minjem temen. itu pun cuma dibuka-buka doang.lalu, jadi beli karena ada obralan di pameran buku di yogya.lagi-lagi, dibaca cuma sambil lalu.entah ya,aku ndak begitu suka... saya merasakan bahwa penulisnya seperti ingin berani bertindak saru.akhirnya, buku-buku lainnya setelah ini [larung?:] pun ndak pengen baca...

  • Ita
    2018-12-01 03:24

    Salah satu buku favorit gue..kalau ibarat kue semua rasa ada di buku ini.. Unsur romantis, kekerasan, kekejaman, ketakutan kental terasa untuk gue saat baca buku ini..Ada beberapa saat gue sampai ngeri untuk membalik halamannya..(lebih ngeri lagi ketika baca larung terusan Saman red). Ceritanya juga gak umum.. dan buat gue sangat berani menyentil pihak-pihak di luar sana. Salut untuk Ayu Utami

  • Pravitasari
    2018-11-18 11:16

    kalau ditanya pendapat saya tentang novel ini, saya hanya bisa jawab dengan kalimat yang ada dalam halaman awal novel ini, "...Adakah keindahan perlu dinamai?"

  • Nisa Rahmah
    2018-12-12 03:09

    Empat perempuan bersahabat sejak kecil. Shakuntala si pemberontak. Cok si binal. Yasmin si “jaim”. Dan Laila, si lugu yang sedang bimbang untuk menyerahkan keperawanannya pada lelaki beristri.Tapi diam-diam dua di antara sahabat itu menyimpan rasa kagum pada seorang pemuda dari masa silam: Saman, seorang aktivis yang menjadi buron dalam masa rezim militer Orde Baru. Kepada Yasmin, atau Lailakah, Saman akhirnya jatuh cinta?***Pada cover belakangnya, terselip informasi bahwa novel ini bercerita tentang persahabatan empat perempuan. Namun yang akan didapati ketika membaca Saman pada mulanya adalah kisah tentang Laila dan kisah cintanya dengan seorang pria berirstri bernama Sihar. Pertemuan keduanya bermula ketika Laila pergi ke Laut Cina Selatan untuk meliput aktivitas pertambangan di Texcoil tempat Sihar bekerja. Namun saat dirinya berada di sana, sebuah peristiwa tidak menyenangkan terjadi, sebuah kecelakaan kerja akibat kesalahan SOP yang dilakukan oleh rekan kerja Sihar mengakibatkan teman Sihar yang lainnya meninggal dunia.Rupanya itu adalah peristiwa awal mula yang membuat hubungan keduanya menjadi dekat. Laila meredakan amarah Sihar dengan memberikan solusi tentang dampak kejadian itu. Laila memperkenalkan Sihar dengan seseorang bernama Saman yang merupakan aktivis lingkungan serta Yasmin, sahabatnya sejak kecil. Setelahnya, hubungan terlarang kedua insan itu terajut, meskipun hubungan ini tidak melibatkan kontak fisik. Fakta bahwa Laila adalah seorang gadis lugu yang terjebak dalam cinta yang salah, membuat Sihar tidak tega untuk merenggut kesuciannya, selain juga bahwa dia tidak ingin berkhianat di belakang istrinya.Sahabat-sahabatnya merasa prihatin dengan kisah percintaan Laila karena selalu bertemu dan jatuh cinta dengan orang yang salah. Dulu Laila pernah jatuh cinta dengan seorang pria yang memutuskan hidupnya sebagai seorang pastor, dan orang itu adalah Saman. Nama asli Saman adalah Athanius Wisanggeni. Saman memutuskan untuk menjadi seorang pastor dan mengabdi ke Perabumulih. Ada magnet tersendiri yang membuat Wisanggeni penasaran dengan tempat ini, sesuau yang berhubungan dengan ibunya dan kisah misterius tentang meninggalnya adik Saman sewaktu kecil. Dari tempat itulah kemudian ia berkenalan dengan seorang anak perempuan yang memiliki keterbelakangan mental bernama Upi. Atas dasar rasa kasihan dengan nasib gadis itulah yang menumbuhkan kepedulian lelaki itu terhadap keadaan masyarakat di sana. Prahara timbul ketika pemerintah memaksa warga di Perabumulih untuk mengubah mata pencaharian warga yang semula berkebun karet menjadi kelapa sawit. Perlawanan warga membuat beberapa yang dicurigai sebagai otak di balik peristiwa itu ditahan, termasuk Wisanggeni. Saat ada kesempatan untuk melarikan diri, membuat Wisanggeni menjadi buronan yang paling dicari. Tuduhan demi tuduhan ditimpakan kepadanya, termasuk disangka pelaku kristenisasi memberatkan posisinya, hingga akhirnya dia harus mengubah identitasnya menjadi Saman, dan melarikan diri ke luar negeri.Upaya melarikan Saman itu tidak lepas dari peran dua orang sahabat Laila, Shakunta dan Cok. Karena dua orang inilah yang membuat Saman berhasil keluar dari Indonesia. Shakunta sendiri adalah seorang gadis pemberontak sejak remaja, terutama kepada ayahnya. Sementara Cok adalah gadis yang binal, berulang kali gonta-ganti pacar. Kehidupan keduanya di novel ini tidak terlalu dijabarkan seperti porsi cerita Laila..., dan Yasmin.Kisah Yasmin baru muncul di bagian akhir novel ini, dan memberikan twist yang tidak terduga. Yasmin seorang wanita yang menggeluti hukum. Ia menikah dan mempunyai keluarga harmonis. Namun pada satu kondisi, ternyata dia mencintai orang lain..., yaitu Saman. Keterlibatan keduanya pada permasalahan hak asas manusia membuat keduanya dekat dan merasakan jalinan cinta.Untuk kisah selanjutnya..., silakan baca sendiri :)***Awalnya mau kasih bintang dua, tapi justru karena baca catatan pengarang 15 tahun kemudian yang ada di paling belakang buku ini, membuat saya justru menaikkan bintang jadi 3. Sebagai penikmat novel/roman lawas dan dulu sempat baca tentang di balik cerita angkatan sastra, setidaknya saya paham bahwa pada masa sebelum reformasi, kebebasan berbicara, berpendapat, tidaklah seperti yang dapat kita nikmati sekarang. Saya pun mengamini kalimat Ayu Utami yang menyampaikan slogan: "Ketika pers dibungkam, sastra bicara." Lantas membuat saya teringat dengan Hamka, bagaimana perjuangan beliau menyiratkan upaya kesadaran bangsa Indonesia akan perjuangan melawan penjajah dengan bahasa sastra. Tidak mudah tentu saja, menyamarkan maksud terselubung hingga bahkan tak terendus (kalau kena cekal tentu kita tidak dapat menikmati novel-novel sarat makna terselubung tersebut).Nah oke balik lagi ke Saman. Sebagai pembaca awam--saya katakan awam karena, jujur, saya tidak tersadarkan ada maksud lain di balik isi cerita ini kalau tidak diingatkan oleh Ayu Utami pada bagian belakangnya. Saya hanya menikmati suguhan cerita seperti biasa saja, barangkali memang pengaruh zaman yang ... apa ya istilahnya, keenakan? Terlalu larut dalam kenyamanan barangkali, hingga memudarkan makna di balik niat mengeluarkan novel ini pada zamannya dulu. Nah, sebagai orang awam saya cukup menikmati novel ini meskipun ada bagian-bagian yang perlu dikritisi (oleh saya saja sih). Namun, dengan kekayaan imajinasi penulis dalam menggarap novelnya (mulai dari menyinggung soal cinta, agama, kekuasaan, tercium nuansa pemberontakan, sampai seks, bahkan alam metafisika), membuat saya kagum.

  • Siti Maulidyawati
    2018-12-10 09:13

    satu kata untuk Ayu Utami pada buku ini: BERANI. ....walaupun tabu bagi saya selama membacanya via i-Pusnas. menurut saya, Ayu Utami berhasil mengkombinasikan berbagai konflik yang tidak biasa dengan halus dan runtut. kemisteriusan lembaran selanjutnya terjaga pada setiap lembarnya. biarpun sulit ditebak, namun menurut saya ceritanya tuntas; nggak ngambang. over all, menurut saya buku ini worth to read. mind blowing!

  • Theo Karaeng
    2018-12-18 04:35

    Aneh.. Kok saya kurang suka ya pada si Saman.. Padahal, dia orangnya menarik..

  • Aliftya Amarilisyariningtyas
    2018-12-13 10:29

    “...sebab ia bukan mereka. Salib mereka bukan salibnya. Ia bukan perempuan sehingga tidak tau bagaimana terhinanya diperkosa. Dan ia tak punya istri sehingga tak yakin bisa sungguh mengerti kemarahan lelaki itu.”Ada dua alasan utama mengapa saya memutuskan untuk ‘membawa’ pulang kisah roman ini. Pertama, karena gambar di sampulnya yang ‘syahdu’. Dan yang kedua tentu karena blurb pada halaman belakang yang saya baca saat mengambilnya. Dan lagi-lagi, perpaduan nuansa seks, politik, serta agamalah yang kemudian membuat saya tertarik untuk melihat bagaimana framing yang dilakukan oleh Penulis.Saman bercerita mengenai kehidupan empat orang sahabat, yakni Shakuntala –seorang penari yang memiliki sifat cenderung selalu memberontak, Yasmin –seorang pengacara dan sekaligus aktivis di bidang hukum yang ‘jaim’, Laila –si fotografer yang terjebak cinta dengan seorang lelaki beristri, dan Cok –perempuan binal yang periang dan ringan hati. Serta si Saman sendiri –tokoh sentral yang ada pada cerita ini, yang baik hati, religius, dan lebih mementingkan kepentingan bersama dibanding dirinya sendiri.Cerita dibuka dengan kisah dimana Laila dengan setianya menunggu Sihar –kekasihnya yang mana merupakan suami orang, datang menepati janji untuk bertemu dengannya di bawah langit New York. Kemudian berlanjut ke kisah Saman yang berlatarkan di Perabumulih. Dan selanjutnya beralih pada kisah-kisah –kemarahan, Cok. Hingga kemudian kembali lagi ke kisah cinta antara Saman dengan Yasmin.Keseruan dari novel ini akan kita temukan pada pertengahan cerita. Hampir seluruh puncak konflik terdapat pada bagian tersebut. Penindasan. Kekerasan. Persenggamaan. Gejolak politik. Keagamaan. Hukum. Moralitas yang hitam-putih.Kisah dalam novel ini –menurut saya, lebih kepada berupa fragmen-fragmen yang meskipun terputus namun satu sama lain tetap memiliki keterikatan. Dan karena berupa fragmen-fragmen itu tadi, maka penceritaannya pun dilakukan dari ‘kacamata’ beberapa tokohnya, yakni Laila, Shakuntala, Saman, dan Yasmin. Yang menjadi warna lain mengenai hal ini adalah bentuk penceritaan dari kacamata Yasmin. Kisah Yasmin diwujudkan dalam bentuk surel yang ditujukan untuk Saman.Potret beragam pahit manis kehidupan banyak terdapat di dalamnya. Permasalahan mengenai seks, cinta, politik dan agama dan juga nilai-nilai sosial-budaya tercampur aduk sedemikian rupa hingga menjadi kompleks. Keberadaan Tuhan dan hubungan badan pun menjadi isu sentral yang dipertanyakan oleh tokohnya.Yang menarik di sini adalah penggambaran tiap-tiap tokohnya. Pengeksekusian background dan perwatakan tokoh digambarkan sedemikian kuatnya oleh si Penulis. Sedikit kompleks memang. Namun, ke-kompleks-an tersebut justru membuat jalan cerita semakin hidup. Deskripsi yang dilakukan tak terlalu muluk namun tetap memikat.Ayu Utami menuliskan setiap detailnya dengan teratur dan halus. Gaya bahasanya cenderung bebas dan lugas bahkan pada beberapa part sebenarnya cukup vulgar. Yang menjadi sedikit catatan di sini adalah alur. Meski Penulis telah memberikan keterangan waktu dengan lengkap, namun pembaca harus lebih jeli lagi dalam membacanya. Sebab, tak jeli sedikit saja kita akan kebingungan untuk memahaminya –setidaknya itu bagi saya.Poin tambahan lainnya adalah kita tak akan bisa menebak kisah yang ada pada lembar selanjutnya. Cerita ini di godog dengan perhitungan yang sangat matang.Akhirnya, selamat membaca!

  • Fatma
    2018-11-29 07:22

    Novel yang pertama kali aku baca tahun 1998, tapi karena diktat bahan kuliah yang menumpuk, so novel ini sempat tertahan hingga 11 tahun!!! Wew!! Akhirnya selesai juga aku baca...Novel ini berkisah tentang 4 perempuan yang bersahabat sejak masa sekolah, hingga mereka di usia 30-an, dan seorang pemuda yang lebih tua sekian tahun (7 tahun kalau tidak salah), yang bernama Saman. Empat perempuan itu masing-masing bernama Shakuntala, yang biseksual, Cok, perempuan yang gemar berganti pacar, atau bahkan pacaran dengan beberapa laki-laki sekaligus, Yasmin, pengacara muda yang sukses dan "nampak" bahagia, dan Laila, yang tergila-gila pada laki-laki beristri.Saman adalah nama lain dari Wisanggeni (Wis), pastor muda yang mendapat tugas melayani di suatu kota kecil Perabumulih dan Karang Endah Palembang. Namun, di kota itu, matanya terbuka akibat kemiskinan yang melanda masyarakat di kota tersebut. Dan ia pun terlibat untuk membantu penduduk di kota itu. Namun, terjadi konflik ketika penduduk transmigran sebagai buruh perkebunan karet dengan pengusaha atau pemilik modal yang menginginkan perkebunan karet dijadikan perkebunan kelapa sawit dengan cara membeli paksa tanah perkebunan penduduk dengan harga Sangat murah. Konflik ini menyebabkan kerusuhan dan Wis dianggap sebagai salah satu dalang dari kerusuhan tersebut. Seperti novel2 "feminis" lainnya, dalam novel ini sebagian bab cukup "berani" untuk mengeksplorasi gairah manusia, sex, dan kelamin. Namun perlu di catat, Ayu Utami tidak melulu membahas masalah sex, agak berbeda dengan novel Djenar yang "terlalu" berani mengeksplorasi lebih jauh dan dalam. Sementara Ayu lebih memilih sex sebagai bumbu dalam novel ini. Kisah utamanya adalah sejarah pergerakan di sepanjang tahun 90-an. Kekecewaan pada kebijakan pemerintah serta masalah sosial, terutama ekonomi, yang membelit masyarakat. "Tikus mati di lumbung padi" tampaknya menjadi bahasan yang selalu menarik untuk menelaah masalah kesenjangan ekonomi yang terjadi di berbagai daerah.Cukup menarik. Sayangnya, alur cerita dalam novel ini melompat-lompat, sehingga pembaca ada baiknya untuk duduk dan konsentrasi dalam membaca, jika tidak ingin kehilangan alur ceritanya. Endingnya pun agak membingungkan karena Ayu Utami membuatnya mengambang, membiarkan pembaca mereka-reka kelanjutannya. Menarik dan menggemaskan.Bumbunya tidak tuntas. Itu yang saya rasakan saat membaca. Semua tokoh mempunyai karakter yang tegas dalam novel ini, namun kisah mereka tidak tuntas. Berbelit, bahkan pada akhirnya tidak tersentuh lagi. Tidak jelas apakah Laila benar-benar bersama dengan Sihar, laki-laki beristri kekasihnya. Atau bagaimana dengan kelanjutan Shakuntala dan Cok? Mengambang, namun ending ini membuat gemas pembaca (sehingga tidak sabar untuk membaca Larung, novel lanjutannya ^^).Yang jelas, novel ini sangat menarik bagi penikmat sastra dan novel yang sarat dengan sejarah dan ideologi. Tidak dianjurkan untuk dibaca saat mengantar anak ke dokter untuk imunisasi.. T_T

  • I Gusti AyuArinta
    2018-12-06 03:23

    Keengganan saya membaca buku Ayu Utami banyak disebabkan oleh pemilihan diksi nya yang terkadang tidak mengenakkan buat saya.Tetapi saya akhirnya memutuskan untuk membaca buku Ayu Utami yang berjudul Lalita dan berhasil melihat bahwa dibalik diksi-diksi vulgar dan juga penjelasan yang terkadang terlalu eksplisit, banyak terdapat fakta-fakta sejarah dan informasi yang menambah pengetahuan di dalam setiap bukunya.Selain itu buku Ayu Utami kerap kali dibumbui tema-tema spiritualisme yang menarik untuk diangkat dan objektif dalam membicarakan sebuah agama.Saman bercerita tentang Laila yang lugu dan jatuh cinta dengan Sihar yang acuh dan telah beristri.Cerita tentang Laila dan Sihar lalu melibatkan karakter yang paling saya suka di buku ini karena rasa empati nya pada manusia dan konsep 'purity' yang kental ditambah kontradiksi pikiran yang dia miliki terkait statusnya sebagai mantan pastor dan juga keinginannya untuk memiliki seorang wanita.Romo Wisanggeni atau yang kemudian berubah nama menjadi Saman adalah alasan kenapa buku ini saya habiskan, selain memang jalan ceritanya yang menegangkan dan meningkatkan pemahaman saya sebagai pembaca tentang betapa busuknya konspirasi korporasi korporasi di Indonesia yang dengan tamak nya mengeksploitasi alam dan menindas rakyat kecil.Saya merekomendasi Saman apabila anda sudah sebelumnya membaca serial Bilangan Fu, karena saya pribadi merasa meskipun Saman merupakan buku Ayu Utami yang paling dikenal, tetapi buku ini bukan gerbang awal yang menyenangkan untuk membaca buku-buku Ayu yang lain.

  • Frida
    2018-11-30 07:26

    Buku yang bagus selalu bisa bikin aku gelisah. Atau, buku bagus adalah buku yang bisa bikin aku gelisah? Gelisah, bahkan lama sesudah aku sampai pada halaman terakhir. Saman adalah salah satu buku jenis itu. Pada pembacaan kali kedua, kegelisahan yang kurasakan masih sekuat pembacaan kali pertama.---Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin. Empat sahabat sejak SD. (Dalam novel ini, nantinya kita akan mengenal Laila dan Shakuntala lebih dekat melalui sudut pandang orang pertama mereka. Sementara Cok dan Yasmin, aku harap bisa kukenal lebih dekat di novel Larung.) Di masa kini, tahun 1996, Laila berada di New York; dia terbang jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk bertemu Sihar, pacarnya, yang juga adalah suami orang. Ah, untung ada Shakuntala di New York, jadi Laila tidak terpuruk sendirian. Tapi memang, cinta Laila sungguh keras kepala. Tala sudah memperingatkannya bahwa hubungan itu tak layak diperjuangkan; lelaki beristri yang kerap mengingkari janji, apa yang Laila harapkan? Tapi dia tetap ngotot. Ya sudah.Laila dan Sihar berkenalan pertama kali di Anambas, di rig tengah laut. Kala itu terjadi sebuah kecelakaan yang diakibatkan oleh kengototan Cano, si company man Texcoil, untuk melakukan pengeboran, padahal menurut analisis Sihar sebagai insinyur analis kandungan minyak dari perusahaan servis Seismoclypse, saatnya belum tepat. Kondisi sumur belum pas, kalau dipaksakan akan berisiko tinggi terjadi kecelakaan. Benar, kecelakaan itu terjadi. Tiga rekan Sihar terbunuh, hilang ke laut karenanya. Untuk menuntut Cano--yang kebal hukum, keluarganya terpandang di pemerintahan--Sihar setuju dengan ide Laila. Dengan bantuan Saman dan Yasmin, mereka membujuk keluarga korban untuk menuntut Cano. Pada akhirnya, siapa yang menang?Saman yang sekarang bukanlah sosok yang dulu dikenal Laila. Sudah sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Pertama kali bertemu, Saman masihlah seorang Wis, Athanasius Wisanggeni, seorang frater. Setelah menjadi pastor, ia memohon agar ditugaskan di Perabumulih, dan disetujui. Ada yang tertinggal dari masa lalunya di sana yang ingin ia temui (temukan?) lagi. Malah, di sana Wis berjumpa secara kebetulan dengan Upi, yang lalu membuatnya terlibat sangat dalam dengan masyarakat transmigran di Sei Kumbang dan dengan perkebunan karet mereka. Wis ikut membantu warga mempertahankan kebun mereka kala pihak perusahaan merebut lahan itu untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Desa itu kocar-kacir; Wis berakhir di tahanan dan disiksa lantaran dianggap bergolongan kiri dan hendak membangun pasukan petani untuk menggulingkan pemerintah. Ketika bebas, ia memutuskan jadi Saman, seorang aktivis pembela hak rakyat kecil.---Ditulis sebelum masa reformasi, novel pemenang sayembara DKJ 1998 ini angkat bicara dengan lantang perihal masalah-masalah yang masih relevan sekali dengan masa kini. Pihak pemegang modal yang bersikap sok kuasa, kebal hukum, masalah perizinan konsesi minyak bumi. Perebutan lahan yang sungguh rumit; perusahaan mungkin sekali sudah menyediakan dana kompensasi bagi penduduk yang lahannya harus tergusur, tapi pihak "pelaksana penggusuran" yang ditugaskan perusahaan bisa saja main kotor, mengambil keuntungan sendiri, hingga menimbulkan perselisihan dengan penduduk. Hatiku ngilu membaca bagaimana orang-orang perusahaan datang (dibantu militer? Mereka yang menyiksa Wis) dan memorak-porandakan kebun serta pemukiman. Juga bagaimana mereka menghasut warga sekitar untuk memusuhi Wis dengan propaganda bahwa Wis punya misi "mengkristenkan" mereka. Ah, isu SARA memang dalih yang--sejauh ini--selalu efektif. Ingat saja, kasus Rohingya, yang dikerucutkan dan digelembungkan jadi isu SARA, lalu melupakan bahwa sebenarnya itu isu perebutan lahan. Kalau perebutan lahan sendiri, sampai sekarang masih banyak terjadi. Suku Anak Dalam VS perusahaan perkebunan sawit. Petani Kendeng VS pabrik semen, yang pemerintah daerah juga ikut-ikutan. Petani Kulonprogo VS perusahaan pembangunan bandara, di sini pemerintah daerah dan militer juga ikut-ikutan. Sampai, entah kapan, konflik semacam ini akan terus terjadi.Lalu isu feminisme, yang pasti Ayu usung dalam karya-karyanya. Lewat Laila yang resah karena mencintai suami orang, Ayu memantik perenungan tentang cinta dan moralitas. Lewat Tala yang "bebas", Ayu mengajak aku bertanya, tidak bisakah perempuan bebas dan berhak penuh atas tubuhnya sendiri? Lewat Upi, perempuan remaja dengan keterbelakangan mental dan libido tinggi, yang lalu diperkosa oleh antek perusahaan sawit untuk menebarkan teror, aku bertanya-tanya, sampai kapan perkosaan perempuan dijadikan alat bagi satu pihak untuk meneror pihak lainnya? Tentu kita tidak lupa akan perkosaan perempuan pada kerusuhan Mei 1998. Atau, mentang-mentang Upi menderita keterbelakangan mental dan tampak "senang-senang saja" ketika diperkosa, itu menghalalkan perkosaan yang mereka lakukan terhadapnya?Dari kisah asmara Laila, Tala, Cok, dan Yasmin, juga dari penyiksaan fisik dan mental yang Wis alami, Ayu mengetengahkan pertanyaan, apakah tuhan benar-benar ada? Pada akhirnya, dari seorang pastor, Wis menjadi Saman yang selalu meragukan tuhan. Namun Laila tetap taat beragama, dan oleh karenanya cinta dan hubungannya dengan Sihar semakin rumit. Tak bermoral secara sosial, tak bermoral secara agama. Tapi kadung cinta. Lalu bagaimana? Sementara itu, Tala sudah sejak lama masa bodoh akan neraka.Lantas, lewat Wis, Ayu juga menunjukkan sikapnya bahwa untuk apa institusi agama ada jika tidak mampu membantu masyarakat dalam masalah-masalah nyata mereka menghadapi pihak yang lebih berkuasa? Maka Wis merasa keputusannya benar ketika ia memilih untuk "bergerilya" bersama masyarakat ketimbang menjalani tugasnya yang biasa sebagai pastor dan berleha-leha dengan makanan yang selalu disajikan umat, serta tinggal di pastoran yang nyaman. Sebagai orang yang pernah dekat dengan kehidupan gereja Katolik, aku telah lama mempertanyakan tugas penggembalaan para pastor. Mereka, yang bertugas di kota, menikmati segala kemewahan fasilitas yang "dipersembahkan" oleh umat, tapi pernahkah mereka benar-benar turun ke masyarakat, hidup di antara rakyat kecil dan turut memperjuangkan hak-hak mereka? Untuk apa, untuk apa mereka jadi penggembala kalau terhadap hidup manusia yang terlemah mereka tidak peduli? Yah, mudah saja mereka bilang, "Saya bantu dengan doa saja, ya."Ah, kalau membicarakan buku yang bikin gelisah, aku selalu berpanjang-lebar.

  • Azzahro Wijaya
    2018-11-19 05:10

    Saya dengar dari dosen-dosen kalau buku ini fenomenal sekali. Ada yang mengatakan kalau buku ini isinya terlalu vulgar dan banyak yang tidak menyukainya. Tapi memang untuk menilai sebuah buku tidak mungkin cukup dengan hanya mendengar, tapi kita harus membaca buku itu sehingga kita dapat mengetahui apa yang sebenarnya ingin diungkapkan dalam buku. Setelah membacanya, saya malah agak bingung ketika saya mendapati halaman-halaman awal tidak ada cerita vulgar. Di akhir ada, tapi dalam beberapa bagian malah kata-kata vulgar itu seolah-olah "diperhalus" oleh pengarang menggunakan ungkapan-ungkapan dan simbol-simbol.Bagi saya novel saman ini ceritanya cukup menarik, saya sendiri tidak bisa menebak siapa tokoh utama sebenarnya. Di awal diceritakan laila dengan Sihar, di awal cerita Laila seakan-akan memiliki kenangan romantis dengan Saman, tapi ternyata saman sendiri tidak begitu mengenang Laila. Di tengah cerita diceritakan tentang Saman yang dulunya bernama Wisanggeni, lalu dilanjutkan oleh kisah Shakuntala, teman Laila dan Yasmin juga Cok yang merupakan sahabat sejak SMP, dan di akhir diceritakan kisah Saman dan Yasmin (Saya kira Yasmin hanya seorang tokoh figuran saja yang tidak penting kehadirannya). Saya salut pada Ayu Utami. Bisa mengungkapkan idenya dengan begitu bebas bukanlah hal yang mudah. Saya cukup menyukai buku ini dan ingin melanjutkan membaca karya Ayu Utami!

  • Glenn Ardi
    2018-12-08 04:23

    Bagi saya, gaya penulis Ayu Utami dalam buku ini belum ada tandingannya di kolong langit. Saya belum pernah membaca suatu novel, yang mana penulis begitu lepas dan bebas mengekspresikan dirinya. Dia menulis apa yang ada dalam pikirannya, serta menuangkannya pada buku ini dengan begitu jujur, berani, apa adanya, tapi juga cerdas ~ Banyak orang mengkritik gaya penulisan Ayu yang kasar dan terlalu berani (terutama perihal seks), tapi saya rasa justru itulah ciri khas serta kekuatan dari tulisan Ayu.Oh ya, ngomong-ngomong tentang keberanian Ayu untuk menggambarkan sisi seksualitas dalam buku ini dengan begitu berani, saya jadi berpikir mungkin orang-orang memakluminya dan menganggap itu sebagai suatu sisi kejujuran justru karena ditulis oleh seorang perempuan. Andai buku ini ditulis oleh laki-laki, mungkin buku ini akan dianggap melecehkan kaum perempuan. Dari sini, saya pikir Ayu Utami telah memanfaatkan salah satu keunggulan yang dia miliki bahwa dia adalah seorang perempuan untuk dapat menuturkan ekspresinya yang berani dlm sisi seksualitas (agar terlihat lebih elegan - ketimbang jika seorang pria yang menuturkannya)

  • Penjuru Kosong
    2018-12-01 05:09

    Pembincangan tentang seks, cinta, politik, dan agama serta perasaan-perasaan yang saling bertaut antar para tokoh tanpa rigiditas, tanpa beban, bebas sebebas-bebasnya...- Leila S. Chudori Tapi itu bukan topik utama bagi aku. Dalamnya penuh dengan cerita tentang kemanusian, tentang harapan yang terhapus, terhapus oleh tangan-tangan berkuasa. Seperti cerita-cerita lain yang muncul zaman peralihan kuasa Indonesia, pihak berkuasa bagaikan punya kuasa mutlak. Kuasa adalah undang-undang. Di bawah undang-undang ciptaan manusia, yang batil boleh jadi benar dan sebaliknya. Si lemah tak mungkin menjadi undang-undang.Suatu yang aku suka tentang Ayu Utami adalah penggabungan mistis dan realistis. Yang mistis sebetulnya memang wujud dalam realistis. Mungkin ramai antara kita tidak suka dengan karya antiklimaks. Penutupnya tak menyata kesimpulan kesemua cerita. Pada awalnya, cerita lebih berkisar kepada Laila dan Sihar, tapi pada pengakhirnya, cerita itu tergantung, seperti masih ada perlu disambung.

  • Biondy
    2018-12-05 09:24

    Saman adalah novel karya Ayu Utami yang menjadi cikal bakal pergerakan "sastra wangi" di Indonesia. Sebuah gerakan literatur yang memperkenalkan topik-topik kontroversial, seperti: politik, agama, dan seksualitas, yang ditulis oleh penulis wanita muda.Saman bercerita mengenai seorang mantan pastor yang "beralih haluan" menjadi seorang aktivis kemanusiaan. Di dalamnya diperlihatkan hubungan antara Saman dengan 4 orang wanita modern, Yasmin, Cok, Shakuntala, dan Laila. Hubungan mereka lebih dari sekedar pertemanan biasa. Di dalamnya terkandung juga hubungan profesional dan seksual.Novel ini termasuk kontroversial saat pertama kali keluar karena mengandung topik yang tidak lazim serta banyak menggunakan kata-kata yang dianggap "kurang pantas" pada masa itu. Tetapi seluruh kontroversi itulah yang membuat buku ini laku keras bahkan hingga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bahasa yang digunakan pada versi novel yang saya baca. Lucu juga, karena justru versi bahasa Indonesianya tidak ada di perpustakaan kampus. Yang ada justru versi bahasa asingnya.

  • Hestia Istiviani
    2018-12-15 09:29

    Sebelumnya aku hanya pernah membaca buku Ayu Utami dari rekomendasi ibu, Doa & Arwah dan kemudian buku duet Ayu Utami dengan suaminya, Erik Prasetya yang berjudul Estetika Banal & Spiritualisme Kritis. Kesan yang aku dapat setelah membaca kedua buku tersebut ialah bahwa tulisan Ayu tidak serumit yang aku bayangkan. Barangkali tulisan Ayu merupakan tulisan sastra yang ringan setelah karya Ahmad Tohari.Resensi lengkapnyaUntuk sebuah buku sastra, buku ini cukup mudah dicerna. Ayu bukanlah realis, melainkan mencoba untuk menjadi kritis terhadap sesuatu yang berbau religius maupun spiritual.

  • Arya
    2018-12-09 08:16

    Kalau sebuah buku menjadi kontroversi karena ia vulgar membicarakan seks atau penguasa, apa yang aneh? Bukankah sudah sebuah keniscayaan?Maka sejak awal membaca, saya memaksa diri untuk tidak peduli dengan topiknya. Saya menganggap Ayu mungkin memang tertarik menulis tentang seks, mungkin memang ketertarikannya adalah membahas prilaku penguasa.Seperti penulis lain yang tertarik pada kayu jati, tempe atau pesawat ruang angkasa.Saya tertarik dengan angle Ayu melihat situasi. Cara dia menggali realitas dengan insight yang jarang ditemukan penulis lain.Matanya mungkin tidak menatap sekeliling. Ia hanya melihat satu obyek. Tapi obyek itu berhasil ia telanjangi hampir sepenuhnya.Seperti mengajak pembaca masuk ke "alam sadar" kenyataan. Yang seringkali tidak disadari sebagai kenyataan.Ayu tidak menghipnotis pembaca. Ia menghipnotis kenyataan.

  • Abduraafi Andrian
    2018-12-10 05:13

    Mind-blowing. Kata pertama yang tebersit di benakku seusai membaca buku ini. Apa aku menikmati akhir yang begitu syur? Bagaimana dengan bahasan yang jauh dari topik-topik awal? Dan mengingat bacaan sastra Indonesiaku yang bisa dihitung jari, bagaimana aku menilai buku ini?Konflik yang diangkat pada novel ini sungguh banyak, berbanding terbalik dengan jumlah halaman yang bisa dikategorikan tipis. Sosial, politik, agama, dan yang paling terasa itu ... seks. Sebenarnya aku sedikit berjengit karena bisa saja aku meninggalkan agamaku setelah membaca ini. Tapi, ayolah, ini kan novel! Kisah fiksi yang dibuat penulis sebagai ungkapan rasa.Pada akhirnya, aku menikmatinya, walaupun terasa begitu tabu. Selanjutnya: http://bibliough.blogspot.com/2015/02...

  • Wilma Monica
    2018-11-24 04:08

    Buku ini tidak vulgar. Ha! Menurut saya buku ini sangat tidak vulgar. AMAZING!