Read Rembulan Tenggelam Di Wajahmu by Tere Liye Online

rembulan-tenggelam-di-wajahmu

Tutup mata kita. Tutup pikiran kita dari carut- marut kehidupan. Mari berpikir takjim sejenak. Bayangkan saat ini ada satu malaikat bersayap indah datang kepada kita, lantas lembut berkata: Aku memberikan kau kesempatan hebat. Lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan aku akan menjawabnya langsung sekarang. Lima Pertanyaan. Lima jawaban. Apakah pertanyaTutup mata kita. Tutup pikiran kita dari carut- marut kehidupan. Mari berpikir takjim sejenak. Bayangkan saat ini ada satu malaikat bersayap indah datang kepada kita, lantas lembut berkata: Aku memberikan kau kesempatan hebat. Lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan aku akan menjawabnya langsung sekarang. Lima Pertanyaan. Lima jawaban. Apakah pertanyaan pertamamu? Maka apakah kita akan bertanya: Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memilki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan?Ray (tokoh utama dalam kisah ini), ternyata memiliki kecamuk pertanyaan sendiri. Lima pertanyaan sebelum akhirnya dia mengerti makna hidup dan kehidupannya.Siapkan energi Anda untuk memasuki dunia Fantasi Tere-Liye tentang perjalanan hidup. Di sini hanya ada satu rumus: semua urusan adalah sederhana. Maka mulailah membaca dengan menghela nafas lega...

Title : Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Author :
Rating :
ISBN : 9793858133
Format Type : Paperback
Number of Pages : 300 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Rembulan Tenggelam Di Wajahmu Reviews

  • Maya Sari
    2019-04-02 16:54

    Khas-nya Tere Liye, membuat cerita yang bisa jadi bahan perenungan bagi pembacanya..Berikut kutipan dari novel ini yang paling berkesan:Bayangkanlah sebuah kolam luas,Kolam itu tenang, saking tenangnya terlihat bak kaca.Tiba-tiba hujan deras turun..Bayangkan, ada berjuta bulir air hujan yang jatuh di atas air kolam, membuat riak..Jutaan rintik air yang terus-menerus berdatangan, membentuk riak, kecil-kecil memenuhi seluruh permukaan kolam…Begitulah kehidupan ini, bagai sebuah kolam raksasa.Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak..Riak itu adalah gambaran kehidupannya.Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam, menit sekian, detik sekian? Ada jutaan bulir air hujan lain, bahkan dalam sekejap riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang, terlupakan, tak tercatat dalam sejarah...Siapa yang peduli dengan anak manusia yang lahir tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian, jam sekian, menit sekian, detik sekian? Ada miliaran manusia, dan bahkan dalam sekejap, nama, wajah, dan apalah darinya segera lenyap dari muka bumi! Ada seribu kelahiran dalam setiap detik, siapa yang peduli?Itu jika engkau memandang kehidupan dari sisi yang amat negatif..Kalau engkau memahaminya dari sisi positif, maka kau akan mengerti ada yang peduli atas bermiliar-miliar bulir air yang membuat riak tersebut,Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apapun riak itu..Dan saat kau menyadari ada yang peduli, maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil..Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat..Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan..Tak ada yang bisa mengubahnya, kecuali satu! Yaitu Kebaikan.. Kebaikan bisa mengubah takdir..Nanti engkau akan mengerti, betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah merubah siklus sebab-akibat milikmu..Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja..Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu, Seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa mengubah siklusnya,Maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik..Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia,Mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain,Tapi dia tetap mengisi sebaik mungkin...

  • Cik Aini
    2019-04-03 19:13

    Saya memulakan pembacaan dengan membaca Bismillah. Sungguh saya membeli buku ini tanpa sedikit pun membaca review yang terkumpul sedemikian banyak di Goodreads. Tere Liye sudah masuk antara senarai penulis yang wajib saya beli dan miliki bukunya. Setiap tulisannya mengandungi kejutan yang tidak mungkin sesekali dijangka. Tidak banyak buku yang saya beri rating 5 bintang tetapi buku ini semestinya! Penceritaan bermula dengan kisah Rehan, seorang anak yatim yang merenung langit senja dan berguguran air matanya. Kemudian bersambung dengan pengkisahan Ray yang meniti usia senja, dan dimasukkan ke dalam hospital berulangkali. Ketika Ray bergolak di ambang maut, Ray didatangi seorang lelaki tua yang memberi Ray peluang bertanya 5 soalan. Terlampau banyak soalan yang timbul di dalam diri Ray, pergolakan jiwa, soalan-soalan yang wujud seperti merasakan Tuhan itu tidak adil sama sekali ke atas dirinya. Soalan-soalan Ray dijawab berkisarkan pada perjalanan hidup Ray, yang dianggap agak buruk, jijik, tidak membahagiakan. Benar membaca buku ini pada awalannya, saya terasa sedikit bosan, Ya, mungkin cerita ini ibarat seakan-akan '5 people You Meet in Heaven' tulisan Mitch Albom. Barangkali mungkin kerana saya merasakan permulaan kisah Ray sebagai anak yatim adalah cerita biasa-biasa, tidak ada yang luar biasa. Namun, di setiap cliche/cliff hanger, kenapa terjadinya sesuatu, persoalan Ray makin terjawab satu persatu. Watak lelaki tua yang menemani Ray melihat kembali perjalanan hidupnya memberikan jawapan kepada persoalan Ray selama ini, antaranya, mengapakah Ray ditempatkan di rumah anak yatim yang kira bagi dirinya agak malang, kenapa Tuhan meragut saat kebahagiaanya, kenapa orang lain sanggup bergadai nyawa untuknya? Dan persoalan Rehan, anak yatim yang timbul di awal kisah, terjawab di penghujung jalan cerita.Novel ini menyuntik semangat dan perasaan, tiada apa yang berlaku itu semuanya dengan kebetulan. Setisp dari kita sudah ditulis sejak dari azali apa yang akan berlaku. Tiada musibah/ujian yang terjadi kerana semuanya dengan izin Allah. Tulisan Tere Liye tidak pernah mengecewakan saya. Ibarat nafas segar, dikelilingi lambakan novel di pasaran, novel kali ini, menyebabkan saya semakin percaya Allah itu Maha Adil.Sukar untuk tidak tersentuh perasaan setelah membacanya. Air mata saya gugur akhirnya...

  • Welma La'anda
    2019-03-25 20:52

    Aduh! Tidak sanggup saya membaca buku ini. Terseksa jiwa. Saya bukan boleh membaca cerita-cerita tentang anak jalanan yang merempat serta anak yatim piatu yang tidak mendapat pendidikan. Sudahlah itu, ditambah pula dengan penganiayaan yang berlaku ke atas mereka. Tidak-putus-putus kesusahan yang menimpa dari masa ke semasa. Akhirnya kehidupan mereka hanya dipayungi dengan putus asa dan kecewa dalam kehidupan sahaja. Terus terang saya katakan, saya tidak akan membaca buku-buku sebegini kerana saya tidak suka cerita-cerita yang berkisar tentang kesedihan terutama yang melibatkan kanak-kanak. Penat saya beremosi dalam setiap pembacaan.Tetapi ini terkecuali untuk karya-karya Tere Liye kerana saya suka gagasan pemikiran dalam setiap tulisannya iaitu memandang kehidupan dengan sederhana, berbaik sangka dengan Tuhan dan bersyukur pada setiap nikmatNya. Jikalau anda pembaca karya beliau, anda akan perasan 3 elemen yang saya nyatakan tadi pasti ada dalam setiap karyanya.Beliau sendiri berpesan sebegini pada ruang biografinya, "Jika kalian menyukai buku-buku Tere Liye melalui gagasan ceritanya, bantulah dia menyebarkan pemahaman bahawa hidup ini sungguh sederhana. Bekerja keras, namun slalu merasa cukup, mencintai berbuat baik dan berbagi, sentiasa bersyukur dan berterima kasih. Maka Tere Liye percaya, sejatinya kita sudah menggengam kebahagiaan hidup ini".Buku ini hampir saja menerima nasib yang sama dengan Laskar Pelangi. Laskar Pelangi itu saya tamatkan pembacaan setelah saya tidak boleh bertahan lagi cerita tentang Lintang. Sampai sekarang, saya tidak pernah khatam-khatam buku tersebut. Tetapi, oleh kerana saya mahu mengetahui jawapan-jawapan 5 pertanyaan Ray kepada Allah, maka saya tabahkan juga hati untuk meneruskan pembacaan Rembulan Tenggelam di Wajahmu.Jikalau anda lihat di muka belakang, anda akan boleh membaca sinopsis novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Indah sekali kalimat-kalimat itu."Tutup mata kita. Tutup pikiran kita dari carut marut kehidupan. Mari berpikir takjim sejenak. Bayangkan saat ini ada satu malaikat bersayap indah datang kepada kita lembut berkata. "Aku memberikan kau kesempatan hebat. 5 kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan dan aku akan menjawabnya langsung sekarang. 5 pertanyaan. 5 jawaban. Apakah pertanyaan pertamamu?" --- Di sini ada satu rumus. Semua urusan adalah sederhana. Maka mulailah membaca dengan menghela nafas yang lega".Sebelum anda melanjutkan pembacaan, pada halaman pertama (jikalau tidak silap) anda akan dialu-alukan dengan kenyataan ini :"Puteri, sekarang Jakarta gerimis. Cepat sekali berubah. Kayak hati. Semoga pengertian, mau saling mengalah, saling menghargai, saling menjaga, komunikasi yang baik dan tentu saja yang paling penting pemahaman agama yang baik menyertai rasa sayang. Biar abadi sayangnya. Tidak seperti cuaca".Saya tidak menangis sepanjang menguliti kisah kehidupan Ray di dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Saya cuba bertahan sekuat mungkin. Tetapi akhirnya saya menangis juga setelah lengkapnya 5 jawapan kepada pertanyaan-pertanyaan Ray dalam seluruh kehidupannya. Ya, saya menangis kerana 5 jawapan-jawapan itu.Betapa besar kasih sayang Tuhan. Betapa, dalam setiap kehidupan kita tiada yang sia-sia walau setiap yang kita lalui dalam seumur hidup adalah seksa, seksa dan seksa. Seringkali kita bertanya kenapa kita harus melalui semua kesusahan hidup ini. Kenapa kita yang terpilih. Kenapa kita tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih kehidupan yang lebih baik ketika dilahirkan.Kita selalu sahaja terlupa yang setiap urusan makhluk-makhluk Tuhan itu sudah disusun kemas oleh Tuhannya. Jikalau urusan-urusan makhluk kecil lain seperti hujan, bumi, bintang, serigala, sayur kangkung, bunga matahari dan lain-lain sudah diatur kehidupan mereka, inikan pula kita manusia. Sebaik-baik ciptaan. Manusia adalah makhluk paling mulia sehingga malaikat juga diperintahkan sujud kepada kita. Segala makhluk lain diperintahkan bekerja untuk kita. Tidak mungkin Tuhan terlepas pandang sehingga memberikan khabar-khabar buruk sahaja dalam setiap perjalanan kehidupan ini.Kita sebenarnya sangat jahil untuk memahami yang kehidupan ini mematuhi konsep sebab dan akibat. Garis kehidupan kita saling berkait dengan garis kehidupan orang lain. Mungkin garis kehidupan kita menjadi penyebab kepada orang lain untuk kembali kepada Tuhan. Kita perlu yakin sungguh-sungguh yang setiap orang sentiasa memperoleh kesempatan untuk kembali kebenaran. Oleh kerana itu, kita harus sentiasa berbuat kebaikan agar berakibat baik juga kepada orang lain.Ray tidak faham konsep kehidupan ini. Dia tidak faham banyak perkara-perkara kecil tetapi berakibat besar kepada orang lain. Dia masih terus dengan sikap kurang sabarnya. Masih terus berpegang yang kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. Akibatnya, lukisan Ilham dikoyakkan penjahat. Dia gagal memasuki pameran lukisan. Hancur cita-citanya yang mahu menjadi pelukis terkenal. Natan kehilangan suara merdunya kerana dibelasah penjahat. Punah harapannya mahu menjadi penyanyi. Satu langkah lagi. Akhirnya semua musnah. Ray rasa bersalah. Dia melarikan diri dari rumah singgah itu. Rumah yang memberinya kebahagiaan. Penghuni yang sudah dianggap sebagai keluarganya dan dia pernah berjanji di dalam hati, jikalau ada sesiapa yang mengacau mereka, dia sendiri akan membalas pengacau itu.Tetapi, Ray tidak faham semua garis-garis kehidupan itu. Dia tidak mahu melihat hikmah pada setiap kejadian. Dia tidak faham yang garis kehidupannya menyebabkan penjaga panti asuhan yang jahat itu bertaubat. Dia tidak faham penjaga yang makan duit anak yatim dan dibenci seumur hidup itulah yang mendermakan organ untuk dirinya. Dia tidak faham yang dengan garis kehidupannya itulah yang menyebabkan banyak orang di sekelilingnya berjaya di kemudian hari dan menemui kebahagiaan hakiki. Ilham berjaya menjadi pelukis. Natan menjadi komposer terkenal.Ya, terus menerus Ray masih tidak mahu memahami. Dia masih terus mempersoalkan keadilan Tuhan. Kenapa orang jahat selalu terbela dan bahagia. Jikalau sedemikian, apa salahnya jikalau dia juga menjadi orang jahat. Ray lupa yang jawapan kepada persoalan kepada keadilan Allah terlalu banyak kerana keadilan Allah itu sendiri tidak terhitung banyaknya . Allah menterjemahkannya dengan pelbagai bentuk dan tidak semua bentuk-bentuk keadilan itu dikenali. Oleh kerana masih tidak mengenalinya, maka janganlah kita berani mempersoalkan keadilan Allah. Fahamilah semua ini dengan pemahaman yang cukup sederhana iaitu berprasangka baiklah selalu, berharap sedikit dengan memberi banyak.Satu-satunya garis kehidupan Ray yang bahagia ialah dalam tempoh 6 tahun bersama isterinya yang dicintai. Si Gigi Kelinci, begitulah gelaran yang diberi Ray kepada isterinya. Ray pula gelarannya ialah Si Penceroboh. Aneh sekali hubungan mereka sebelum perkahwinan. Jarang berkata-kata dan hanya di sekitar puding pisang. Penceritaan tempoh 6 tahun inilah sahaja cerita bahagia di dalam novel ini dan saya tidak sedih-sedih sepanjang membaca. Kelakar.Si Gigi Kelinci selalu berkata kepada Ray, "Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah cukup". Tetapi akhirnya Allah menarik kebahagiaan itu. Si Gigi Kelinci meninggal ketika melahirkan anak mereka berdua. Musnah seluruh kehidupan Ray. Hampa. Kosong. Tuhan mengujinya lagi. Kenapa Tuhan sanggup membuatnya sebegini. Kenapa Tuhan tidak pernah mengizinkan dia menikmati kebahagiaan berterusan.Hari berlalu dan berlalu. Ray masih lagi dengan dirinya. Jiwanya masih kosong walau dia memiliki segalanya. Dia tidak gembira. Sangat hampa dengan kehidupan yang melelahkan. Kenapa Tuhan? Kenapa harus berterusan diuji sebegini.Akhirnya, sebelum kematian, Allah menjawab 5 pertanyaan-pertanyaan itu melalui perantaraan mimpi ketika dia koma dan novel ini mengisahkan seluruh "flash back" perjalanan kehidupan Ray bermula kehidupan ibu ayah yang tidak pernah dikenalinya, kehidupan di panti asuhan yang bagaikan neraka, kehidupan di rumah singgah, kehidupan dia bertemu Plee, kehidupan dia cuba menghilangan bayangan Plee yang dihukum gantung kerana mahu menyelamatkan Ray sehinggga membawanya bertemu dengan Si Gigi Kelinci, kehidupan tentang empayar perniagaannya dan sehinggalah dia koma.Kenapa dia terpilih untuk mendapat penjelasan itu?"Ini semua kerana rembulan. Setiap kali kau memandangnya, kau slalu berterima kasih kepada Tuhan. Bila semua kehidupan ini menyakitkan, kau yakin di luar sana masih ada bagian yang menyenangkan".Ya, setiap kali Ray menghadapi hari-hari kesulitannya, hari-hari kesedihannya, dia selalu memandang bulan. Jauh di sudut hatinya, dia sentiasa berharap kepada Tuhan walau dia tidak pernah memahami segala detik-detik hatinya itu kerana pemahaman agama yang cetek. Perasaan dan harapan yang terdetik itulah yang tidak pernah terabai oleh Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Cukup menjadi penyebab kenapa semua persoalannya terjawab agar dia juga beroleh kesempatan untuk kembali pada jalan Allah.Segala apa yang berlaku ke atas diri kita harus dipandang dari sudut kebaikan. Begitu kata buku ini, jikalau kita memandang dari sudut yang bertentangan, pasti kita akan sangat cenderung menyalahkan Tuhan. Kita terlupa lagi yang kebaikan Tuhan terjelma dalam pelbagai bentuk samada yang kita nampak secara lahiriah itu ialah kesusahan atau kesenangan. Itulah juga penyebab kenapa kita perlu memilki tujuan hidup yang jelas. Agar, semua ujian yang diberi akan dianggap sebagai tempaan menuju tujuan tersebut. Nanti tidak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan kerana kita sudah yakin, setiap yang berlaku pasti untuk tujuan itu."Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji masa depan. sebaliknya ketika merasa semua kesenangan, maka saat itu lihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. hanya sesederhana itu. Dengan itu, pasti kau selalu bersyukur" - Rembulan Tenggelam di Wajahmu.Wallahu alam

  • Prente
    2019-04-14 20:44

    Buku ini menceritakan tentang perjalanan seorang yatim piatu bernama Rehan (Ray) sebelum ajal menjemputnya. Perjalanan hidup yang seakan diputar kembali untuk menjawab lima pertanyaan besar selama hidupnya...Apa saja lima pertanyaan itu dan bagaimana perjalanan hidup Ray, semuanya ada di buku ini dan tidak ingin aku ceritakan... Setiap orang punya persepsi sendiri2 tentang pertanyaan2 yang ada dan jawaban2 yang diberikan. Aku hanya ingin mengutip beberapa kalimat untuk di-share.."Kau selalu merasa andaikata semua kehidupan ini menyakitkan, maka diluar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenangkan...Kemudian kau akan membenak, pasti ada sesuatu yang jauh lebih indah dari menatap rembulan langit...""Ada satu janji Tuhan. Janji Tuhan yang sungguh hebat...Yang nilainya beribu kali tak terhingga dibandingkan menatap rembulan ciptaan-Nya...Tahukah kau?Itulah janji menatap wajah-Nya..Menatap wajah Allah! Tanpa tabir, tanpa pembatas...Saat itu terjadi maka sungguh seluruh rembulan di semesta alam akan tenggelam. Sungguh seluruh pesona dunia akan layu..."

  • Ari Yulianti
    2019-04-01 00:05

    "..sejatinya pertanyaan itu tentang definisi ukuran-ukuran Ray. Apakah yang disebut kejadian menyakitkan? Apakah yang disebut dengan menyenangkan? Sejatinya pertanyaan itu tentang perbandingan..."Ray sejak kecil hidup di Panti. Tak diketahui siapa ayah-ibunya. Selepas dari panti asuhan, ia hidup di jalan, menjadi penjudi,mencuri, berkelahi lalu oleh takdir ia mendapat keluarga di sebuah rumah singgah. Selepas hidup dari rumah singgah, ia menjadi pencuri berlian, menjadi kontraktor, jatuh cinta pada seorang gadis, menjadi pengusaha, kaya raya namun belakangan jatuh sakit sebelum akhirnya sekarat. Ia pernah jatuh cinta, pernah bahagia bersama istrinya hingga sang istri meninggal di akhir kehamilannya. Ia sering bertanya pada penguasa hidup tentang berbagai hal yang menimpanya. Kenapa ia harus hidup 6 tahun di Panti? Kenapa hidup ini tidak adil? Kenapa istrinya meninggal secepat itu? kenapa ia harus sakit berkepanjangan di usia senjanya?"Sejatinya pertanyaan itu tentang perbandingan...", kata makhluk yang 'ditugasi' menjawab pertanyaan Ray. Apa yang sebenarnya menyakitkan dan menyenangkan itu? Menyakitkan dan menyenangkan hanya parameter yang dibuat manusia, yang ironisnya, perbandingan-perbandingan itu kian waktu kian menyedihkan. Nilai 10 dianggap baik, kaya dianggap menyenangkan, sakit dianggap menyakitkan.Padahal Setelah semuanya terjadi, bukankah rasanya sama saja? Bukankah sama-sama akan menjadi 'kenangan'? Sama sekali tidak ada bedanya.

  • Andri
    2019-04-01 16:51

    Ini buku penulis ini yg pertama gw baca. Setelah sebelumnya banyak yg recommend Hafalan Delisa. Luar biasa.Gaya bercerita yang mengalir. Perpindahan plot terasa begitu halus. Kisah yang membumi, meskipun agak kurang real membumi, karena Tere Liye (ada yg tau nama aslinya ?, cowok), tidak mengidentifikasi lokasi secara jelas. Berkisah tentang Ray. D/H Reihan. Seorang yang beruntung oleh Sang Penguasa Alam Semesta diberi kesadaran tentang pertanyaan-pertanyaan yang selama ini membebani jalan hidupnya. Ah.. (again, luar biasa). Proses penyadaran yang membukakan mata. Betapa hidup sesungguhnya adalah jalinan yang saling berkelindan, antara satu individu dan individu yang lainnya.Menyadarkan, bahwa tidak ada satu pun yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini tanpa maksud. Kalau selama ini kita -maaf, lebih tepatnya saya- belum sadar akan kata-kata ini, jelas karena saya yang terlalu malas untuk merenung. Meski berulang-ulang kalimat ini telah saya baca, saya dengar, saya pikirkan.Thanks buat Tere Liye. Great story. Great way in story telling. I like it. Siap merambah ke buku-buku dia yg lain..Pesan sponsor, kalo mau difilmin.. kabarin ya.. kali aja ada kesempatan ikut casting.. ;-)-andri-

  • Fizah
    2019-03-31 19:59

    Janganlah sekali-kali kau membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan orang lain. Menganggap orang lebih bahagia atau kenapa hidup kita begitu nestapa. Kita tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui dan perjuangkan untuk mencapai kehidupan mereka yang sekarang. Karena itu, bersyukurlah dengan kehidupanmu yang sekarang.Setiap manusia diberikan kesempatan mendapatkan penjelasan atas berbagai pertanyaan yang mengganjal hidupnya. Selalu demikian.Sayangnya, kitalah yang kadang mengabaikan penjelasan itu, bahkan menolak penjelasan yang ada, malah sibuk mencari penjelasan lain yang lebih menyenangkan hati.Rasa sakit yang timbul karena kejadian menyakitkan itu sementara…. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian yang menyakitkan itu-lah yang abadi.”“Kalau semua orang berpikiran suatu hal bisa dibenarkan, bukan berarti hal tersebut otomatis menjadi bisa dibenarkan. Tetaplah yakin kalau itu sesungguhnya keliru karena kalian tahu itu memang keliru.”“Aku baik-baik saja, ceroboh. Aku senang mendengarnya. Amat senang. Tetapi aku tidak membutuhkan itu. Rumah besar, mobil, berlian, pakaian yang indah. Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu itu sudah cukup.” --Tere Liye, novel "Rembulan tenggelam di wajahmu"

  • Aina Dayana Hilmi
    2019-03-22 17:59

    Hidup ini satu kebetulan. Saya pernah mendengar ungakapan ini. Sebelum ini tidaklah berfikir secara serius mengenai kata-kata itu. Tetapi membaca buku ini buat saya kagum. Penulis dapat membuat perkaitan seluruh cerita dengan watak utama. Ceritanya menyentuh perasaan namun banyak manfaat yang dapat saya ambil. Sekali lagi Tere Liye membawa kisah kehidupan. Kali ini mengenai seorang anak yatim yang kematian ibu bapanya dalam satu kejadian kebakaran satu waktu dahulu.Pada awalnya saya agak bosan kerana belum dapat 'menangkap' apa yang mahu diceritakan. Dimulai dengan seorang tua yang membawa Ray mencari jawapan kepada 5 persoalan utama dalam hidupnya. Kemudian, barulah ceritanya tampak menarik dan saling berkait antara satu sama lain. Yang pasti, Allah itu Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya....

  • Alluna
    2019-03-25 00:05

    Sejujurnya ketika menutup buku ini, aku sedikit bingung akan menulis apa dalam review kali ini. Karena ada begitu banyak hal yang ingin aku tuliskan untuk memperlihatkan bahwa buku ini telah menawan hatiku, mengesankan jiwaku. Harus kuakui, dan mungkin ini semacam peringatan bagi yang tertarik untuk membaca, buku ini membuatku sangat lelah secara emosional. Tentu saja ini bukan hal negatif, malah sebaliknya, aku sangat menyukai tulisan-tulisan yang berhasil memutar-balikkan perasaanku secara luar biasa. Awal membaca buku ini, aku agak bingung dengan plot yang melompat-lompat. Dimulai dari gadis yang bernama Rinai yang aku belum mengerti apa hubungannya dengan cerita ini, kemudian kondisi Rehan/Ray yang berangsur membaik dari tidur panjangnya selama enam bulan dan tiba-tiba dihadapkan dengan cerita Rehan/Ray yang sedang ada di terminal. Loh ??? iya.. memang begitu plot awal dari buku ini, tapi tak perlu bingung teruskan saja membaca.. terus.. dan terus.. nanti juga kalian yang membaca buku ini akan mengerti. Karena semua hal-hal yang membingungkan di awal buku ini akan terjawab seiring dengan bertambahnya lembaran yang telah kalian baca. Plot buku ini, kalau boleh aku katakan adalah seperti sebuah lingkaran yang utuh dimulai dari satu titik, dan semuanya kembali berhubungan kepada titik awal. Benar-benar sebuah kisah kehidupan yang indah dan terasa sangat nyata. Aku merasa buku ini menggambarkan pahit-manis kehidupan yang sesungguhnya. Dimana manusia tidak hanya hidup untuk bersenang-senang dan hidup bahagia selamanya, tetapi juga banyak merasakan sakitnya kehilangan, melewati banyak kesulitan hidup, dan juga menghadapi takdir yang terkadang kejam.Kalau dari segi orisinalitas ide, buku ini sebenarnya tidak menawarkan ide yang baru. Kisah seperti ini sudah terlebih dahulu dituliskan Mitch Albom pada bukunya yang berjudul The Five People You Meet in Heaven. Bahkan ada salah satu adegan antara Ray dengan si gigi kelinci di bangsal rumah sakit yang sangat mirip sekali dengan salah satu adegan Mohabbatein. Dan kalau kita cermati, khusus muslim, buku ini sebenarnya merupakan penjabaran tentang petuah-petuah agama yang sering kita dengar. Mungkin kalian pernah dengar petuah seperti ini "Apa yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Allah swt" atau mungkin hadist ini "Janganlah engkau berprasangka, karena sebagian dari prasangka adalah dosa." atau kepercayaan kita bahwa sakit yang berkepanjangan, jika kita sabar karenanya sesungguhnya melunturkan dosa-dosa kita. Yup.. kisah dalam buku ini merangkum penjabaran dari petuah-petuah tersebut. Tapi siapa yang peduli dengan orisinil atau tidak ide buku ini -toh memang tidak pernah ada yang orisinil di dunia ini. Bahkan pesawat saja terinspirasi dari burung- karena buku ini memang berbeda menurutku. Tere liye berusaha memberikan contoh yang real yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga efeknya sungguh sangat membekas di hati. Contohnya adalah dengan karakter-karakter yang muncul dalam buku ini. Mereka semua bukan orang yang istimewa atau memiliki sesuatu yang spesial dalam diri mereka. Orang-orang yang diperkenalkan dalam buku ini adalah orang-orang biasa, sebiasa orang-orang yang kita temui sehari-hari. Bahkan karakter utama dalam buku ini, Ray, pada awalnya bisa dinilai sebagai orang jahat dan hancur oleh orang luar. Tapi inilah nilai tambah dari buku ini yang semakin membuatnya begitu membekas di hati. Karena kita seperti sedang melihat tingkah laku kita dan orang-orang di sekitar kita melalui buku ini.Tentang gaya bercerita, nama Tere Liye sudah merupakan jaminan mutu kalau kita akan dihadapkan pada sebuah karya yang bagus. Sebuah karya yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik namun tidak terkesan kaku. Inilah salah satu poin plus dari aku untuk beliau. Beliau sudah membuktikan bahwa tidak perlu menggunakan bahasa slang semacam penggunaan kata-kata elu, gue atau umpatan-umpatan kasar untuk menciptakan suasana santai, akrab dan mengalir. Dalam hal ini, beliau sama juaranya dengan Andrea Hirata. Oiya, saat aku melihat kover buku ini selintas mengingatkanku dengan kover buku-bukunya Paulo Coelho. Setuju gak? hehehhe. Sketsa rembulan dan pantai dan dominasi warna oranye, awalnya menggiringku berfikir bahwa ini adalah buku yang romantis tapi ternyata tidak, buku ini malah berisi pelajaran-pelajaran hidup yang menohokku berkali-kali.Fiuh...Rasanya sudah tak terhitung helaan nafasku ketika membaca buku ini. Sebuah buku yang luar biasa, yang menyentuh sisi terjahat setiap diri manusia. Buatku, sisi terjahat dari diri manusia adalah berprasangka buruk. Berprasangka buruk kepada siapa saja, bahkan juga kepada Tuhan. Karena dari berprasangka buruk itulah kita telah membiarkan hati yang mengambil alih, menduga-duga... Tidak puas menduga-duga, kita membiarkan hati mulai menyalahkan. Mengutuk semuanya. Kemudian tega sekali, menjadikan kesalahan orang lain sebagai pembenaran atas tingkah laku keliru kita. Dan setelah membaca buku ini rasa-rasanya sekarang aku sudah tidak sanggup lagi berdoa kepada Tuhan seperti "I want it and it my Lord.." tapi cukup lah dengan "Just give me the best my Lord." Akhir kata, terima kasih Bang Tere, bukumu ini telah mengajarkan banyak hal padaku. "Ketahuilah, Ray, ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan.Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu, kau akan selalu pandai bersyukur."

  • Marina
    2019-03-31 21:14

    ** Books 88 - 2015 ** 4,3 dari 5 bintang! 1. Kenapa aku dilahirkan dengan kondisi begini? 2. Kenapa aku tidak pernah diizinkan bahagia?3. Apa itu cinta? Apa itu keluarga?4. Kenapa aku tidak diizinkan bahagia? Bukankah Tuhan menyayangi semua makhluknya?5. Kenapa orang yang kita sayang selalu pergi meninggalkan kita?Ada 5 pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Rey.. Seorang pemuda yang berasal dari panti Asuhan yang hingga pada akhirnya terbaring kritis di suatu rumah sakit. Yaa.. lima pertanyaan itu menghantam ingatannya kembali seperti apa kehidupannya dahulu? Bagaimana kehidupannya di Panti Asuhan dahulu bersama Diar.. sahabatnya yang selalu tampak ringkih dan lemah tetapi selalu ada disisinyaBagaimana kehidupannya di Rumah Singgah yang menemukannya dengan Natan, Ilham dan teman-teman yang dianggap saudaranyaBagaimana kehidupannya dengan pedagang Plee yang menyibak takdir gelap dalam hidupnya..Bagaimana kehidupannya bertemu dengan si jelita Gigi Kelinci yang tidak ingin apapun di dunia ini kecuali Rey..Bagaimana kehidupan Rey yang serba gemerlapan penuh cahaya namun di suatu titik ia merasa kosong dan hampa? Ketika semua pertanyaannya terjawab dengan suatu rangkaian cerita.. kisah yang ia tidak pernah tahu sebelumnya atau kisah yang ia tidak pernah ingin ketahui kebenarannya..Ketika semuanya berakhir menyakitkan dan tidak ada kata telat untuk bisa memaafkan dan menerima itu semua..Ahh! Buku ini bagus banget! Hahaha sangat intens membuat emosi saya rasanya dibuat diaduk2 naik turun silih berganti dan berusaha untuk menyelesaikan buku ini.. kisah yang rumit dan sarat akan pesan moral patut untuk buku ini dikoleksi.. Kalo dipikir-pikir sebelumnya saya pernah membaca buku kisah serupa dimana seseorang yang sedang kritis/mati berjalan-jalan dengan malaikat melihat kembali frase kehidupan di masa lalunya seperti karya Mitch Albom yang berjudul The Five People You Meet in Heaven terus ada lagi karya Arswendo Atmowiloto yang berjudul Kau Memanggilku Malaikat tapi saya akui Tere-Liye piawai meramu semua konflik, ending yang klimaks dengan apik dibandingkan novel-novel yang saya sebutkan diatas.. *Kasih applause duluLast but not least, Terima kasih untuk seseorang yang sudah berbaik hati mengirimkan buku ini sebagai kado ulangtahun saya.. ditambah ada tandatangan asli Tere Liye.. it really surprise me! Kalo kamu gak ngasi buku ini.. mungkin bacaan tere-liye saya hanya berkutat di Hafalan Shalat Delisa dan Bidadari Bidadari Surga .. Sekali lagi thank you untuk bacaan berbobot yang membuat saya jadi merenung kembali frase-frase hidup yang saya lalui sekarang.. >__<

  • Silvia Iskandar
    2019-04-04 17:51

    Hiaaahh...*Spektakuler*Waktu suami pulang ke Indo, saya minta oleh2 buku Tere Liye..iyah...bagi saya bukunya sudah seperti kacang Bali, teh Tong Tji atau emping manis Ny Shiok..makanan yg saya rindukan di rantau dan tidak bisa didapat cuma di Indonesia. Buku ini begitu saya baca, langsung..hmm..ini kan Christmas Carol-nya Charles Dickens? Kok gak orisinil? Percis kejadiannya di malam takbiran sementara Christmas Carol di Christmas Eve. Percis org kaya yg mau mati dibawa melihat kehidupan yg lama oleh malaikan dan bertobat.Tapi setelah saya baca lagi..oh..ini dikawinkan dengan White Tiger-nya Aranvind Adiga, ada kemarahan yang mentah, ada rise to glory, plus percis banget sama tokoh utama White Tiger yg suka memandang bulan. Raw Anger ini dikawinkan dengan flashback plot Christmas Carol..jadi ya boleh dihitung orisinil lah..seperti fusion food.Yang saya suka dari karya ini adalah1) kekayaan deskripsi ada bagian2 yg bisa membuat saya merasa seperti sedang nonton film di depan mata. Adegan Rinai menangis di hal 5:Rinai hanya tahu ia mau menangis. Hatinya sedih. Teramat sedih malah. Maka matanya pelan membasah. Memeluk boneka beruang madunya lebih erat. Angin semilir yang lembut justru menikam perasaan. Sendiri. Sepi. Setelah sekian lama menanti jawaban, Rinai perlahan menunduk (snip). Satu bulir air akhirnya merekah, menggelayut di pelupuk mata Rinai. Pelan kristal air itu bergulir menggelinding. Membentuk parit di pipi. Membentuk gurat kemilau di lesung. Tetes air itu terdiam sejenak di dagu. Menumpuk. Membesar. Kemudian dalam gerakan lambat yang pilu, terlepaskan. P-e-r-l-a-h-a-n.Ya ampppuuuuunnnn....ada berapa penulis di dunia yang bisa menggambarkan air mata jatuh begitu panjangnya, begitu indahnya? Kita semua pernah lihat bagaimana air mata jatuh dan bagaimana momen itu indah dan begitu singkat. Tapi Tere Liye sanggup memperpanjang momen keindahan, yg mestinya hanya terjadi 1-2 detik itu jadi 1 halaman!!(termasuk yg saya snip). Saya rasa dia sudah memenuhi kewajibannya sebagai penulis, mengajak pembaca menghargai dan mengabadikan momen2 singkat dalam hidup yg biasanya terlewat begitu saja. To halt and appreciate. Seolah adegan air mata jatuh itu difoto dan dibingkai kemudian dipajang di ruang tamu oleh Tere Liye.Adegan wkt si malaikat ikut naik kereta di atas.Hal 145:Wuss...kereta melaju kencang. Memedihkan mata. Pasien berumur enam puluh tahun itu untuk kesekian kalinya gelagapan. Lagi-lagi hampir jatuh dari ketinggian. Tangannya sibuk mencari pegangan. Orang dengan wajah menyenangkan yg duduk di sebelahnya membantu. Memberikan Lengan. "Bukan main. Cepat. Dan ternyata mengasyikkan! Astaga, ini hebat, Ray!" Orang dengan wajah menyenangkan tertawa lebar. Jubahnya berkibar. Matanya memicing. Mukanya kebas oleh terpaan angin. (snip) "APA YANG KAU TANYAKAN, TADI?" Orang dengan wajah menyenangkan menoleh. Sedikit berteriak. Suara gemeletuk kereta memekakkan. Muka orang itu terlihat riang sekali. Benar-benar bak turis sedang plesir, menikmati sore indah di atas gerbong kereta.Saya suka cara Tere Liye berlama-lama menjelaskan satu scene tanpa merasa perlu tergesa-gesa2 masuk ke scene berikutnya. Waktu, bagi saya penting utk memberikan kesempatan pembaca engage dengan bacaannya. Butuh 1 1/2 halaman sampai akhirnya mereka masuk ke percakapan. 2) Kekayaan kosa kata dan pemakaian huruf besar.desing kumbang, derik jangkrik, larik hujan, kuping yg tabal, muka yg kebas, uhu burung hantu. Entah apa krn saya kelamaan merantau sehingga kosa kata ini baru di kuping? Yang jelas saya jadi belajar banyak kosa kata baru. Pemakaian huruf besar seperti di nomor satu dalam percakapan, membuat saya merasa volume percakapakan tiba2 besar. So real.3) Semakin saya baca, ini sepertinya jatuhnya novel religi Islam, ada pesan2 yang menggurui. Tapi saya tidak merasa antipati sama sekali untuk menikmatinya. Novel ini menggurui tanpa terkesan seperti guru. Karena Islam-nya Tere Liye itu seperti Islam-nya Khaled Hosseini (The Kite Runner and A Thousand Splendid Sun) : damai, arif, b-e-a-u-t-i-f-u-l.Ajaran-ajarannya universal dan melampaui batas-batas agama. Sebenarnya mungkin hal-hal yg sudah kita tahu, namun mesti diulang-ulang terus karena gampang lupa. Tentang bagaimana kita ingat melihat ke bawah kalau sedang di atas, tentang bagaimana kita bisa memperoleh kedamaian hati kalau kita bisa merasa cukup. Hal-hal biasa kok, tapi hal-hal yang susah dilaksanakan.4)Penamaan tokoh untuk memperkuat karakterSaya suka cara pembedaan panggilan tokoh utama, di mana dia sebenarnya Ray tapi oleh Jo, bawahannya, dia dipanggil Mas Rae. Hanya dengan satu hal ini karakter Jo jadi diperkuat. Ia tidak lebih dari seorang buruh rendahan yang walaupun sampai ikut naik pangkat dengan Ray, tetap saja ke-kampungan-nya tidak bisa hilang. Kebanyakan karakter di novel ini punya nama yang langsung dipakai. Tapi untuk memperkuat hubungan suami istri, justru Ray dan istrinya selalu saling memanggil dengan 'ceroboh' dan 'gigi kelinci'. Ini meng-highlight hubungan dan posisi khusus mereka dalam novel. Juga sang 'malaikat' yang gak bernama, dan selalu menolak menjawab dia siapa. Again, dia punya posisi khusus sehingga dapat perlakuan khusus.Saya juga suka nama2 yang biasa dan membumi spt Oude dan Ouda, Plee, Ape, bercampur dengan nama2 indah dan luhur spt Rinai, Fitri, Natan dan Ilham. Ini menggambarkan kemajemukan karakter hanya dengan satu kata.Ada sih, sebenarnya, beberapa hal yg mengganggu saya, seperti:-Nih org kok hidupnya sial banget yah..kayaknya gak ada deh org sesial itu-Semua org2 dalam hidupnya kok berhubungan ya..dalam kenyataan gak mungkin gitu deh-Pemakaian hyphen, A-p-a-k-a-h-a-k-u-a-k-a-n-m-a-t-i...haduh...bacanya bingung..ini mesti gimana ya..? Ngetiknya aja gak enak. Kalau masih pendek gak papa, kalau udah panjang pusing.-dalam kenyataan, mana bisa org gak ada ijazah naik setinggi itu dalam karir. Di perusahaan manapun ada requirement ijazah utk posisi tertentuTapi yah..hal2 mengganggu itu tertutup oleh teknik tulisan dan inspiring things dalam novel ini.Rasanya, kalau saya ketemu langsung Tere Liye, pengen deh saya tersungkur di depannya dan berteriak, "SUHU!! JADIKAN SAYA MURIDMU!!!"Subuh ketika saya menghabiskan novel ini, entah kenapa saya terbangun agak terlalu pagi. Saya baca halaman-halaman terakhirnya sebelum bangkit untuk bersiap ngantor. Ketika saya akhirnya menamatkannya, masih dalam gelap, saya tengok ke sebelah, selimut yang membungkus suami sampai ke leher naik turun dengan teratur. Di kamarnya, mata anak saya berkedip-kedip dengan muka bantalnya ketika saya cium dalam tidur. Aahh...life is beautiful. Buku ini memampukan saya untuk merasakannya. (dan inilah alasan kenapa saya berikan bintang ke-5)

  • ahmedoank
    2019-03-22 20:50

    Jujur ini buku pertama Tere Liye yang saya baca :)Berkisah tentang Ray. D/H Reihan. Ray yang sejak kecil hidup di Panti. Tak diketahui siapa ayah-ibunya. Selepas dari panti asuhan, ia hidup di jalan, menjadi penjudi,mencuri, berkelahi lalu oleh takdir ia mendapat keluarga di sebuah rumah singgah. Selepas hidup dari rumah singgah, ia menjadi pencuri berlian, menjadi kontraktor, jatuh cinta pada seorang gadis, menjadi pengusaha, kaya raya namun belakangan jatuh sakit sebelum akhirnya sekarat. Ia pernah jatuh cinta, pernah bahagia bersama istrinya hingga sang istri meninggal di akhir kehamilannya.Ray diwaktu ia hendak menjemput kematian masih diberi kesempatan untuk meriveiw dan menjawab 5 pertanyan yang selama ini selalu menghantui dirinya Bagaimana ia melihat kehilangan sahabat di panti asuhan "DIAR", yang tak pernah ia ketahu nasibnya setelah ia meninggalkan Diar sendirian di tenggah sebuah kesalah pahaman, tapi ternyata kematian Diar malah membuka mata sang penjaga panti asuhan, tentang hidupnya yang selalu berbuat jahat kepada anak asuhnya...ini lah hukum sebab akibat dalah sebuah kehidupanDan saat kau menyadari ada yang peduli, maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil.. Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat.. Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan.. Tak ada yang bisa mengubahnya, kecuali satu! Yaitu Kebaikan.. Kebaikan bisa mengubah takdir.. Nanti engkau akan mengerti, betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah merubah siklus sebab-akibat milikmu.. Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja.. Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu, Seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa mengubah siklusnya, Maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik.. Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia, Mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain, Tapi dia tetap mengisi sebaik mungkin... cerita terus bergulir, demi menjawab satu persatu pertanyan yang Ray ajukan kepada penguasa langit."Ada satu janji Tuhan. Janji Tuhan yang sungguh hebat...Yang nilainya beribu kali tak terhingga dibandingkan menatap rembulan ciptaan-Nya...Tahukah kau?Itulah janji menatap wajah-Nya..Menatap wajah Allah! Tanpa tabir, tanpa pembatas...Saat itu terjadi maka sungguh seluruh rembulan di semesta alam akan tenggelam. Sungguh seluruh pesona dunia akan layu..."setiap hidup insayan di dunia penuh dng pertanyaan, dan Tere menjawabnya dengan manis sekali :PAir mata saya sempat berguguran saat membacanya dibeberapa titik, cuma kadang kala ceritanya jd terlalu mendayu2 :) over all, good jobselamat membaca

  • Wulan
    2019-04-20 22:48

    Gw baca buku ini atas rekomendasi seorang temen. Pas dia rekomendasiin ini, gue juga merekomendasikan My Sister's Keeper ke dia krn menurut gue tu novel KEREN BGT!!! ALhasil kita saling meminjamkan buku lah.Tapi ternyata temen gw enggak sependapat krn dia enggak suka endingnya. Pada saat itu gw sendiri belum selesai baca novel ini, jadi gw cuma iya-in aja, meski sebenernya kecewa ada org yg enggak suka sama MSK.Anyway....Setelah gw membaca novel ini, gw akhirnya ngerti bahwa gw dan temen gw itu punya selera novel yg beda.Gw kurang menikmati baca novel ini, despite the fact that my friend loved it so much. Ceritanya mengingatkan gue dgn novel 5 People You Meet in Heaven, bedanya si tokoh utama di cerita ini menjelajahi waktu di saat di sekarat, sedangkan di 5 PYMIH, si tokoh utama udah meninggal.Alur novel ini, menurut gue, lambat. Kadang bahkan membuat gue malas untuk membuka halaman berikutnya. Ide flashback-nya sih bagus, tapi penuturannya sedikit membosankan.Sebenarnya novel ini bisa aja gue kasih 1 bintang, tapi ada satu hal yg membuat gue memilih untuk kasih 2 bintang adalah kesan yg terasa setelah gue membaca bab terakhirnya. Gue merasa.....diberikan kesadaran bahwa enggak semua orang diberikan kesempatan kedua. Jadi, kita harus menjalani hidup semaksimal mungkin dan menikmati perjalanannya. Feeling kayak gitu jarang gw dapetin dari novel. So...for Tere-Liye (whoever you trully are), over all, good job.

  • Isnaini Nuri
    2019-03-28 16:13

    Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenagkan dan merasa kurang dengan semua kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu kau akan selalu bersyukur.Ray, tokoh utama dalam cerita ini, mempunyai kisah hidup yang sangat keras hingga menimbulkan banyak pertanyaan dalam dirinya. Lima pertanyaan tentang rahasia kehidupan yang pada akhirnya ia diberi kesempatan untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terpendam dalam hatinya.Apakah cinta itu?Apakah hidup ini adil?Apakah kaya adalah segalanya?Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup?Apakah makna kehilangan?Penelusuran kisah hidupnya yang bermula dari sebuah panti asuhan dan berakhir pula di panti asuhan yang sama membuat terjawabnya pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kenyataan-kenyataan tidak kasat mata yang sama sekali tidak disadari oleh Ray.Hidup adalah sebab-akibat. Satu peristiwa menjadi sebab peristiwa yang lain. Akibat yang dihasilkan bisa jadi menjadi sebab peristiwa lainnya. Semua cerita kehidupan saling terhubung. Tak ada satupun yang meleset dari skenario-Nya.

  • Deva Nurmala
    2019-04-02 20:55

    petanyaan pertanyaan yang dipertanyakan oleh tokoh Rey dalam buku ini adalah pertanyaan semua orang pada umumnya didalam hidup. pertanyaan tentang ketidakadilan, pertanyaan mengapa ini terjadi, mengapa harus kehilangan orang-orang yang disayanginya. kadang sebagai pembaca saya juga merasakan seperti tokoh Rey mempertanyakan setiap kejadian yang pernah dialami. segala pertanyaan Rey ini akhirnya terjawab melalui rekaman-rekaman kehidupannya, seperti menonton ulang video kehidupan yang telah dialaminya. yang gw tangkap dalam buku ini adalah selalu ada sebab akibat dalam hidup, adanya pembalasan dan adanya mimpi yang bagaimanapun caranya dapat menjadi kenyataan cepat atau lambat, dan tentang kebahagian hidup yang tidak melulu akan materi.untuk pesan yang tersirat dalam buku ini sangatlah menyentuh. ada kerinduan si yatim piatu yang merindukan sosok orang tua yang tidak pernah dikenalnya bahkan dibayangkannya sekalipun, yang mampu membuat gw menjatuhkan air mata (hick cengeng).namun ada beberapa bagian yang tidak masuk akal terutama bagaimana Ray yang awalnya hanya tukang bangunan tapi dapat menguasai beberapa gedung yang dibangunnya.untuk keseluruhan gw sangat suka buku ini, membuat gw berhenti bertanya tentang ketidakadilan hidup dan semakin bersyukur.

  • Melyn Mel
    2019-04-16 00:01

    membaca buku ini bagiku seperti belajar tentang kearifan. belajar soal kesederhanaan dan keikhlasan menerima. belajar senantiasa berbaik sangka. belajar bahwa untuk banyak hal, mengalah itu bukan berarti kalah dan tidak membalas itu bukan berarti tak berdaya ataupun tidak bisa apa2. adakalanya, mengalah berarti bebas. bebas dari nafsu untuk membalas, bebas menerima situasi apa adanya, menjadi apa adanya.buku ini membuatku semakin percaya bahwa hidup ini adil. tak terbantahkan lagi, bahwa hidup ini adil. sebab penciptanya adil dan mengatur semua dengan keadilanNya.aku hanya harus melihatnya dari sisi yang berbeda ketika aku mulai ragu akan hal itu. satu sisi yang bukan lewat kacamataku.dan tere liye -seperti yang terdapat di bagian belakang buku ini- telah sukses membuatku menjadi paham.bahwa hidup ini sungguh sederhana. bekerja keras namun selalu merasa cukup, mencintai berbuat baik dan berbagi, senantiasa bersyukur dan berterima kasih. maka sejatinya kita sudah menggenggam kebahagiaan hidup ini.buku ini membuatku belajar.belajar bersikap.belajar menjadi bijak.iqra!Mahendra Bayu 14 , 11:20 , 12 mei 2010

  • Annisa Reswara
    2019-04-10 23:56

    Novel ini menceritakan tentang seorang yang bernama Raihan. Seorang pasien berumur 60 tahun yang selalu merasa bahwa Tuhan tidak pernah memberikan keadilan dalam hidup. Cerita ini diawali dengan Raihan yang bertemu dengan (katakanlah) malaikat, yang kemudian membawanya kembali menelusuri jalan hidupnya dari awal hingga umurnya mencapai 60 tahun. Malaikat ini ingin menjawab lima pertanyaan yang selalu menelusup dalam pikiran Raihan. Lima pertanyaan itu adalah Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup? Dan Apakah makna kehilangan?Malaikat ini membawa Raihan menelusuri jengkal demi jengkal kehidupan masa lalunya. Mulai dari ketika dia berada di Panti Asuhan terkutuk (begitu Raihan menyebutnya), ketika Raihan menemukan peruntungan sekaligus celakanya di Terminal, ketika Raihan menemukan kehangatan utuh sebuah keluarga di rumah singgah, ketika Raihan sudah pindah ke sebuah kamar sewaan petak kecil di dekat bantaran sungai, ketika Raihan selalu suka memandangi rembulan dari atap rumah singgah dan menara air, ketika Raihan memiliki rencana besar pencurian sebuah berlian yang ternyata nantinya berlian itu mengubah hidupnya, ketika Raihan melihat kembali wajah kedua orangtuanya, ketika Raihan pertama kali bertemu dengan wanita yang membuatnya hanya satu kali jatuh cinta sekaligus satu kali patah hati dan kehilangan, dan sampai ketika Raihan seorang anak jalanan liar kemudian menjadi seorang pengusaha sukses.Iya, malaikat itu membawa Raihan menelusuri lengkap semua kehidupannya. Dia menjawab setiap pertanyaan Raihan. Raihan selalu mempertanyakan tentang keadilan Tuhan. Raihan selalu merasa bahwa hidup ini tidak pernah adil. Raihan berpikir, mereka yang baik selalu mendapatkan kesulitan, cepat direnggut kebahagiaannya oleh Tuhan. Sedangkan mereka yang berbuat jahat selalu mendapatkan kemudahan, selalu berbahagia di atas penderitaan oranglain. Sampai muncul niat dari dalam diri Raihan untuk menjadi orang jahat saja.Saya tidak akan banyak menceritakan bagaimana cerita di dalamnya. Yang jelas, pelajaran yang dapat diambil dari novel ini adalah hidup ini sebenarnya sungguh adil. Hidup ini merupakan sebuah sebab akibat. Mengapa kita harus melakukan ‘ini’? karena perlakuan ‘ini’ yang kita lakukakan sekarang akan berimbas pada ‘itu’. Entah ‘itu’ pada orang lain atau ‘itu’ pada diri kita sendiri.Semua yang terjadi di dunia ini sudah ada pada garisnya masing-masing. Kita manusia yang menjalani, hanya perlu berusaha dan bersabar dalam menjalaninya. Novel ini menjelaskan bahwa sesuatu yang untuk kita pasti akan menjadi milik kita selama apapun itu sejauh apapun itu akan tetap menjadi milik kita.Karena Tuhan tidak akan pernah keliru, Tuhan akan selalu adil. Novel ini mengajarkan Tuhan selalu tau apa yang kita butuhkan, bukan yang manusia inginkan. Karena Tuhan selalu mengerti kita.Jadi mari selalu bersyukur dengan apa yang terjadi hari ini. Bersyukur atas semua nikmat yang Dia berikan kemarin, hari ini, esok, dan lusa. Meskipun kecil, tapi jika kita termasuk orang-orang yang bersyukur, pasti kita akan selalu merasa menjadi orang yang paling beruntung. Jauh dari keluh kesah, jauh dari amarah, dan yang terpenting jauh dari negative thinking pada Allah SWT.Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu pandai mensyukuri nikmat. Amin.Yang amat menggelitik saya, dalam novel ini dikatakan bahwa otak manusia sejak lama terlatih untuk menyimpan banyak perbandingan berdasarkan versi mereka sendiri, menerjemahkan nilai seratus itu bagus, nilai lima puluh itu jelek. Wajah seperti itu cantik, wajah seperti ini jelek. Hidup seperti ini kaya, hidup seperti itu miskin. Otak manusia yang keterlaluan pintarnya mengumpulkan semua kejadian-kejadian itu dalam sebuah buku besar, yang disebut buku perbandingan.Iya ya. Sadarkah kita bahwa terkadang tanpa sadar kita selalu disibukkan dengan membandingkan. Membandingkan ini dan itu, yang kemudian kebanyakan tidak membuat kita merasa bersyukur tapi membuat kita selalu merasa kurang, si A lebih banyak, aku hanya sedikit. Ujung-ujungnya, padahal kan aku sudah ini dan itu, kenapa hanya mendapatkan segini, kenapa tidak segitu. Itulah membandingkan. Dan kita terlalu sibuk dengan itu.

  • Kusogaki
    2019-04-05 23:07

    Aku mulai mengenal buku-buku Tere Liye sejak pertama kali membaca Bidadari-bidadari Surga. Gaya penulisannya yang deskriptif dan unik, juga setting tokoh utama yang tidak selalu 'PUTIH' membuatku menyukai buku-bukunya. Buku ini adalah buku ketiga yg kubaca. (cukup susah mendapatkan buku-bukunya karena sedang berdomisili di luar negeri).Novel ini adalah sebuah 'fantasi' ala Tere Liye yg bercerita tentang Ray/Rehan yang diberi kesempatan untuk menoleh kembali ke belakang, ke masa lalunya, sebelum ajal menjemputnya. Dia juga diberi kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas 5 pertanyaan terbesar dalam hidupnya.Ray pun seolah-olah mengendarai mesin waktu, mampu melihat dan mengulang lagi kenangan2nya dengan jelas. Hidupnya sudah begitu keras sejak kecil. Yatim piatu, Menjadi anak jalanan, menjambret, merasakan punya 'keluarga' untuk pertama kalinya, kemudian sendiri lagi dan mengutuk, menyalahkan orang-orang sekitarnya. Merasakan kebahagiaan bersama 'gigi kelinci'-nya. Sebuah kehagiaan yang sementara karena terenggut oleh takdir. Dia pun mengutuk langit dan Tuhan.Dia pun mengenang kembali malam-malam kesendiriannya yang hanya ditemani sang purnama. Merasakan kekosongan hidup meskipun dipenuhi gelimangan harta. Kembali mengutuk Tuhan atas nasibnya.Begitulah hidupnya sampai akhirnya di penghujung nyawanya. Tuhan berbaik hati mengirimkan jawaban atas 5 pertanyaan terbesar dalam hidupnya. 5 pertanyaan yang sebenarnya dipertanyakan juga oleh setiap orang. Pertanyaan tentang takdir, keputusan langit yang pahit, perpisahan, kekosongan hidup dan tentang sebab akibat.Novel ini seolah memberitahu bahwa hidup itu memang keras, tapi sebenarnya sederhana, sungguh sangat sederhana. Bekerja keras namun selalu merasa cukup. Senang berbuat baik dan berbaagi, senantiasa bersyukur dan berterima kasih, bila kita sudah mampu melaksanakannya, kita sejatinya sudah menggenggam kebahagiaan hidup ini.Salah satu quote favorit:"Ray, kehidupan ini selalu adil. Keadilan langit mengambil berbagai bentuk. Meski tidak semua bentuk itu kita kenali, tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil? Hidup tidak adil? Ah, urusan ini terlanjur sulit bagimu, karena kau selalu keras kepala"

  • Carni Hajr
    2019-04-15 21:11

    Aku mulai mengenal Novel Tere Liye sejak pertama kali membaca Rembulan Tenggelam Di wajahmu. Tokoh dalam novel ini yakni Ray/Rehan. Di dalam novel ini menceritakan bahwa semua orang pada umumnya di dalam hidup punya pertanyaan tentang ketidakadilan, pertanyaan mengapa ini terjadi, mengapa harus kehilangan orang-orang yang disayangi. Ray dalam novel ini diberi kesempatan untuk menoleh kebelakang, ke masa lalunya sebelum ajal menjemputnya. Dia diberi kesempatan mendapatkan jawaban atas 5 pertanyaan terbesar dalam hidupnya.Ray, hidup sebagai anak yatim piatu. Dia ditinggal ayah dan ibunya sewaktu kecil, ketika kebakaran besar yang menghanguskan seratus rumah. Pasar kumuh itu luluh lanak tak bersisa dalam semalam. Hanya beberpa orang yang selamat termasuk bayi kecil yang bernama Rehan. Dia ditemukan dipinggiran bantaran kali dekat lokasi kebakaran.Pelaku pembakaran yakni Plee dengan seorang temannya lagi. Kebakaran ini dilakukan atas perintah Koh Cheu. Koh Cheu membakarnya karena ingin membangun imperium bisnisnya. Suatu malam Plee mengajar Ray untuk mencuri disebuah berlian seribu karat yang berharga miliaran rupiah yang berada di lantai 40 salah satu gedung tinggi ibukota.Akhirnya Ray menemukan cinta pertamanya yang bernama Fitri yang diberi gelar oleh Ray dengan gigi Kelinci. Yang pada akhirnya dijadikan seorang Isteri bagi Ray selama enam tahun. Isterinya meninggal dunia akibat pendarahan hebat ketika keguguran dalam mengandung anak yang kedua. Ia merupakan isteri yang penuh dengan kesederhanaan tanpa mencari kekayaan dunia. Berbeda sekali dengan Ray yang tidak mau puas dengan kekayaan yang ia dapatkan.Novel ini sebenarnya memberi tahu bahwa hidup ini penuh perjuangan. Tetapi sebenarnya tidak sulit dalam menjalani hidup ini. Jika kita dapat mensyukuri apa adanya dan berbagi kepada sesama. Itulah yang dapat menjadikan kebahagiaan.Kutipan dari novel yang paling berkesan: “Aku baik-baik saja, ceroboh. Aku senang mendengarnya. Amat senang. Tetapi aku tidak membutuhkan itu, yang. Rumah besar, mobil, berlian, pakaian yang indah. Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanmu padamu itu sudah cukup.”

  • Rani
    2019-04-11 18:56

    "an awesome book for an awesome person" written by a friend in the first page of the book"u must read it...." she said.well,i do under estimate the book at first. The title, the cover design....really not my typeits only because i already gave my promised to read it.but what i found behind all that i categorize as "not my type", is something different.if u ever watch WANTED, then i hope you will agree with me if i said that the moral message in this book is almost similar with what the movie said. the idea is about how we,connected each others...about how what we do, connect and influenced others...weaved each other in a complex relations.almost, i said.because The Fraternity in WANTED interpretate those connection with arrogance.sounds silly if they thought they had a right to kill others, only based on weaving errors of the fabric.while the book, interpretate in a humble.and said that those connectivity is always meaningfullthat no matter how small it is, what we do is affect others. that every question has an answer.only if you could just open your heart.Because live is fair. Always fair.Because HE is there. Always there.read it, open your heart.and you will know what i mean.best part :"kalau Tuhan menginginkannnya terjadi, maka sebuah kejadian pasti terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu menggagalkannya....Sebeliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya,maka sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi, tak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melaksanakannya...Kejadian buruk itu datang sesuai takdir langit...hanya ada satu hal yang bisa mencegahnya...satu hal!sama seperti siklus sebab-akibat sebelumnya, yaitu berbagi!. Ya, berbagi apa saja dengan orang lain. Tidak, sebenarnya berbagi tidak bisa mencegahnya secara langsung, tetapi dengan berbagi, kau akan membuat hatimu damai...hanya orang - orang dengan hati damailah yang bisa menerima kejadian buruk dengan lega. hanya orang - orang berhati damailah."

  • Siti Maslihah
    2019-04-10 22:48

    Lama bgt nyelesain buku ini karena harus disambi dengan bejibunnya tugas...Awal cerita agak bingung dengan karakter-karakter yang muncul, dan sensasi waktu baca Moga Bunda Disayang Allah muncul lagi. Rangkaian kalimat-kalimat Tere Liye mengingatkan aku pada novel itu. Namun, makin lanjut makin enak dicerna dan dipahami.Entah aku terlalu cengeng atau gimana, tapi kembali aku harus berkali-kali meneteskan air mata saat membacanya.Satu yang sangat aku ingat dan benar-benar membuat dadaku sesak plus mata bengkak karena nangis (lagi dan lagi) waktu Si Gigi Kelinci-nya Ray menghadapi saat-saat terakhirnya. Aku menangis karena ingat akan diriku sendiri, bertanya pada diri sendiri apa aku bisa sepertinya? Apa tujuan hidupku sebenarnya? Apa visi dan misi hidupku?Buku ini membuatku bercermin, siapa aku, bagaimana kelakuanku selama ini, bagaimana hidupku, betapa beruntungnya aku. Sungguh, buku ini membuatku bisa mensyukuri banyak hal yang selama ini aku lupa. Keluarga, teman, lingkungan, masa depan....Melalui buku ini aku bisa belajar mengikhlaskan akan kepergian seseorang yang sangat berarti dalam hidupku dengan suatu pemahaman yang sangat sederhana yang Tere Liye ungkapkan."Kita menjadi sebab dan akibat bagi hidup orang lain." Semoga aku bisa jadi sebab dan akibat yang baik bagi orang lain....

  • drg Rifqie Al Haris
    2019-03-25 19:00

    Ini buku Tere-Liye yang aku baca pertama kali.Sangat menyentuh dan inspiratif! Tipikal novel-novel Tere Liye. Sarat dengan hakikat kehidupan.Novel ini memiliki alur maju mundur dan memang dituntut untuk demikian karena pada dasarnya novel ini adalah pencarian jawabab masa kini dengan melihat masa lalu. Itulah yang dialami oleh tokoh utama dalam novel ini, Ray. Keajaiban yang didapatnya berupa jawaban dari 5 pertanyaan dalam hidupnya itu telah mengantarnya lagi ke masa lalu. Karena di sanalah Ray akan menemukan jawaban yang selama ini tidak didapatkannya.Pencarian jawaban atas nasib hidupnya itu tak lain karena Ray merasa hidup yang dia jalani nampaknya sangatlah tidak adil. Sebenarnya pemikiran seperti itu dialami oleh banyak orang. Maka tak heran kalau Tere Liye berhasil menggugah hati banyak orang pula dengan novel ini.Pesan yang akan didapat setelah membaca novel ini adalah kita akan menghargai hidup kita baik yang dahulu, sekarang dan yang akan datang. Tidak ada satu momen yang sia-sia. Semuanya telah digariskan. Satu kejadian kecil akan menentukan apa yang terjadi di masa depan dan satu orang akan menjadi pengaruh bagi orang lain. Tuhan telah mengaturnya sedemikian rupa dan Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hambanya sekalipun kita sangat sering berprasangka buruk terhadap-Nya.

  • Syahiran Ramli
    2019-04-03 16:07

    Karya dari seberang setakat yang aku baca ternyata masih belum mengecewakan. Sebut saja Buya Hamka, Andrea Hirata, Pramoedya Ananta Toer dsb, kebanyakkan akan kenal. Begitu juga Tere-liye, yang bagi aku punyai karakter istimewa dalam menampilkan karyanya. RTDW menampilkan Ray seorang yatim piatu sejak kecil yang tinggal di rumah anak yatim. Liku-liku hidup yang ditempuhi Ray sedikit sebanyak membantu Ray untuk menjadi dewasa yang luar biasa walaupun ketika sinar seolah-olah mahu masuk ke dalam hidup Ray, akan terjadinya satu bentuk ujian. Ujian tersebut merupakan sebab dan akibat. Malangnya Ray tidak merasakan sebab dan akibat itu, kerana Ray merasakan hidupnya tidak adil, Tuhan itu tidak adil dsb. Sehinggalah satu ketika, Ray berpeluang mengetahui sebab dan akibat yang jarang orang berpeluang untuk mengetahuinya dan juga berpeluang untuk menanyakan 5 persoalan. Ya, aku turut beremosi sebelum mengetahui sebab dan akibat yang terjadi pada Ray sehinggalah aku juga turut menemui jawapan kepada 5 persoalan tersebut , dari rumah anak yatim yang kejam, rumah anak yatim yang bahagia, titik bermulanya cinta di keretapi, dan banyak lagi tidak aku mampu sebut. Mahu tidak mahu, bacalah karya ini. Tataplah !

  • Fariza
    2019-04-03 23:47

    "Kalau pun tidak, begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu. Ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidaktahuan itu bukan bererti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin sahaja Tuhan sengaja melindungi kita daripada tahu itu sendiri."PertamaIni adalah karya pertama Tere-Liye yang dibaca oleh saya. Asyik. Yang pertama yang mengagumkan. Sebenarnya saya terpengaruh dengan rakan-rakan Goodreads yang memuji dan mengagung penulis ini. Nyata tidak sia-sia pengaruh itu. Tere-Liye nyata menambah senarai peminatnya. Saya!Plot Yang MenarikPermulaan dengan watak seorang kanak-kanak perempuan bernama Rinai membuat saya tertanya-tanya di sepanjang pembacaan. Ke mana hilangnya watak anak ini?http://farizahrin.blogspot.com/2011/0...

  • Liliyah
    2019-04-20 23:14

    Andai semua orang diberi kesempatan seperti tokoh Ray (Rehan)dalam buku ini, aku juga mau. Kelak, di hari-hari terakhir, menit-detik terakhir hidup di dunia, masih di beri kesempatan me-re-view seluruh perjalanan hidup, melihat apa dan siapa saja yang telah kita libatkan, melibatkan dan terlibat dlm hidup kita... Meski dibeberap bagian cerita ini agak2 lebay..*hehe..piiss ah, bang Darwis*.. ya, lebay karena jd berasa kyk lagi nonton film India gitu ;) Tapi pesannya sangat berarti banget buat Aq pribad, sebagai renungan "Kenapa aku hadir di dunia ini?" Btw, thanx to hunny, yg ngadoin buku ini di ultah kemarin :) -luv u always..

  • Frans
    2019-03-24 22:46

    Buku hebat, sumpah. Ide nya sangat sederhana, bermodal 5 pertanyaan tapi sanggup mengaduk aduk perasaan dan pikiran saya, sungguh. Mengajarkan saya untuk belajar melihat dari sisi lain, sisi yang kadang kita sangat anggap sepele, kasat mata. Luar biasa hidup ini. Adil, begitu sederhana kata itu namun sungguh besar makna dibaliknya. Buku ini juga membuat saya untuk belajar mengenai kesempatan kedua, bahwa semua orang tidak terkecuali berhak mendapatkan kesempatan kedua. Buku hebat, sanggup memberikanmu arti baru, pandangan baru dan kelak melakukannya di kehidupan nyata. Tolong baca buku ini.

  • Hadiyatussalamah Pusfa
    2019-04-14 16:59

    Syukur, sabar, berprasangka baik, ga akan pernah habis dibahas pake apapun juga.Selalu ada cara untuk menjelaskan semua ini sampai hati ini memilih untuk mengerti. Yakini saja dalam hati, maka akal akan mengikuti.Yang pasti, semua yang terjadi dalam hidup kita ada maksudnya, ada tujuannya. Mungkin kita tahu, mungkin pula tidak tahu. Mungkin kita tahu sekarang, mungkin pula nanti. Siapa yang tahu?Yang pasti jangan sampai berprasangka buruk pada Allah. Berhusnudzonlah! Berdamailah dengan hatimu. Karena hidup ini pasti adil.

  • Fitri Gita Cinta
    2019-04-09 23:48

    wah, gile deh ... penuh hikmah banget nih buku. bahwa kita -manusia- saling berhubungan satu dengan yang lainnya. kita menjadi sebab dan akibat dari perjalanan atau siklus hidup seseorang. merinding aja bacanya .... ^__^tere liye mang jago deh. gimana beliau meramu cerita seorang ray dalam menjalani hidupnya, jatuh bangunnya dia ... wah, pokoknya detail deh ... trus gimana fitri - istrinya ray berusaha melakukan yang terbaik untuk suaminya demi mendapatkan keridhoannya.asik ... suer! baca deh .... ^__^ps : nama istri ray --> fitri (kaya nama q. xixixixi)

  • AyuShafiyah
    2019-03-29 23:08

    Bukan karena judulnya yang membuat saya tertarik untuk membeli buku ini, juga bukan karena karena diskonnya, tapi karena penulisnya, yang terkenal membuat pembacanya bukan hanya sekedar membaca, tapi juga membuat pembacanya sampai mewek-mewek bahkan sampai menangis. Lihat saja komentar para pembaca setelah menyelesaikan buku "Hafalan Shalat Delisa". Bahkan para pembaca pria pun dibuat berkaca-kaca matanya (bukan karena kelilipan debu atau apapun :D).Sebenarnya bukan karena efek yang sampai membuat pembaca menangis yang membuat saya membeli buku-buku karangan Bang Tere, tapi lebih karena hikmah dan pelajaran yang dapat dengan mudah dipahami dalam setiap kata-katanya, yang mengalir dengan bahasa yang indah. Dan buku ini pun, selain buku Bidadari-bidadari Surga yang juga sarat hikmah dan pelajaran dan juga buku lainnya, juga memberikan pemahaman baru bagi saya, terutama tentang salah satu sifat Tuhan : Maha Adil.Sebagai manusia, yang selalu banyak keluh kesahnya, pasti sering terlintas dalam hati pertanyaan-pertanyaan tentang kenyataan hidup yang dihadapi. Mengapa saya hidup susah padahal saya telah bekerja keras dan ikhlas, mengapa saya selalu ditimpa kemalangan padahal saya selalu berbuat baik, mengapa saya ditinggalkan oleh orang-orang yang saya cintai, mengapa hidup ini tidak adil buat saya, dan pertanyaan-pertanyaan yang bernada seperti menggugat Tuhan.Di buku ini, Bang Tere mengingatkan kita untuk membuang jauh-jauh lintasan pikiran semacam itu. Karena saat kita menanyakan tentang takdir kita pada Tuhan, bahkan sampai membuat kesimpulan sendiri tentang ketidakadilan hidup, maka perlu tanda tanya besar tentang keimanan kita pada-Nya, kepercayaan kita pada-Nya, kebersandaran kita yang seharusnya sepenuhnya pada-Nya, dan meragukan salah satu sifat-Nya : Maha Adil.Beruntunglah seorang Reihan, tokoh dalam buku ini, yang diberi kesempatan untuk mengetahui jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang hidup yang dilaluinya. Mengapa Reihan harus hidup menghabiskan 16 tahun hidupnya di panti yang penuh dengan penderitaan, mengapa ia merasa hidup tak pernah berpihak padanya, mengapa ia harus merasakan sakitnya kehilangan, mengapa orang-orang yang dekat dengannya ternyata ikut andil dalam kehidupannya yang penuh kegetiran, mengapa ia merasa hampa dengan kesuksesan yang telah diraihnya, dan berbagai pertanyaan lainnya yang mungkin juga kurang lebih sama dengan pertanyaan yang kadang terlintas dalam hati dan pikiran kita.Tapi saya juga beruntung bisa membaca buku ini dan juga menikmatinya. Bukan sekedar menikmati, namun juga bisa mengambil hikmah dan belajar dari pesan-pesan yang tersirat dan tersurat dalam setiap kata-kata di dalamnya (semoga). Dari buku ini saya benar-benar bisa mengerti bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini, segalanya akan kembali untuk kita. Setiap kebaikan yang kita lakukan, akan kembali lagi kepada kita. Begitupun kejahatan yang kita lakukan, akan kembali lagi kepada kita. Itulah hukum yang berlaku bagi manusia di dunia ini, yang tak terlepas dari hukum sebab akibat. Pasti ada konsekuensi di setiap perbuatan kita, sekecil apapun. Kebaikan akan menuai pahala, kejahatan akan menuai dosa. Adil bukan?Senang, susah, sedih, gembira, menangis, tertawa, termenung, ceria, pasrah, khawatir, ikhlas, kecewa, resah, tenang, derita, bahagia, hanyalah dinamika rasa yang selalu hadir di setiap episode kehidupan kita. Kata Bang Tere dalam buku ini, bisa saja kita hanya ingin merasakan senang, gembira, tertawa, ceria, tenang, bahagia dan hal-hal positif lainnya, kalau kita mau melihat dari sisi yang berbeda, bukan hanya dari sisi dan sudut pandang kita saja. Jadi teringat perkataan seorang teman, bahwa senang, susah, sedih bahagia, dan apapun itu, harusnya kita syukuri, musibah, ujian, cobaan, pun harus kita syukuri, karena apa dan bagaimanapun bentuknya, itu semua dari Allah. Dan segala apa yang berasal dari Allah, pastilah itu tanda cinta-Nya pada kita. Subhanallah…Puji, caci, cinta, benci, jujur, dusta, sayang, dengki, benar, fitnah, rela, iri, jumpa, pisah, datang, pergi, itu juga dinamika kehidupan yang selalu hadir di setiap episode kehidupan kita. Hukum sebab akibat pun berlaku di sini. Semuanya mengalir dan berputar, seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah, kadang berbuat baik, kadang berbuat jahat, kadang menuai pahala, kadang mendulang dosa. Begitulah seterusnya, karena memang kodrat manusia tak pernah luput dari salah. Tapi Tuhan, sungguh benar-benar Maha Adil, Dia memberi ampunan tak terbatas untuk kita hamba-Nya, dan tetap memberikan karunia-Nya yang melimpah untuk kita.Jadi, mengapa kita tidak menjalankan peran kita sebagai aktor yang baik saja, di panggung sandiwara dunia yang dikuasai oleh Sang Sutradara Maha Kuasa, Allah swt.? Mengapa harus bersusah-susah mempertanyakan tentang sesuatu yang hanya dengan menjalani takdirnya dengan ikhlas saja, maka lebih dari dunia dan seisinya akan Dia berikan untuk kita sebagai balasannya?Terlepas dari pemikiran Bang Tere yang merasa menjiplak buku ini dari bukunya Mitch Albom, atau komentar dari pembaca lainnya yang mengatakan agak-agak lebay karena KEBETULAN-KEBETULAN yang TERLALU (kayak di sinetron-sinetron di tipi), yang jelas saya cukup puas dengan buku ini dan semakin ingin membaca buku karangan Bang Tere lainnya.Oiya, baca buku ini jadi teringat nasyid Lukisan Alam nya Hijaz. Berikut penggalannya :“Hidup tidak selalunya indah, Langit tak selalu cerah, Suram malam tak berbintang, Itulah lukisan alam, Begitulah aturan Tuhan. Jadilah rumput nan lemah lembut, tak luruh dipukul ribut. Bagai karang didasar lautan, tak terusik dilanda badai. Dalam sukar... hitunglah kesyukuranmu, dalam senang... awasi kealpaanmu. Setitis derita melanda, segunung KurniaanNya.”

  • Aoi Matsuzaki
    2019-04-08 19:48

    Well yah. saya baca ini modal pinjem di perpus sekolah (yang untungnya, sekarang di SMA perpusnya lebih gede dari di SMP dulu! Walaupun tetep aja perpus kecil sih). Padahal saya punya sih, udah dari lama. Cuma masih nangkring di kosan mamas saya. Dua tahunan ada kali. Nah, oke. Menurut saya sih ya, pas awal itu, adudu, entah kenapa enggak sreg. Saya nggak suka karakter Rinai, yang walaupun dia 'anak baik', entah, ku merasanya dia terlalu lebay. Gaya penulisan Tere Liye juga nggak enak diliat. saya geregetan banget liat pemenggalan per huruf itu. misal b-a-j-i-n-g-a-n. Dan karakter yang begitu-begitu lagi (iya sih. Kayaknya buku ini termasuk buku lawasnya Tere Liye, tapi suer, karakternya sejenis) alias berotak encer, perawakan menarik, then istimewa. Eh wait, Ambo Uleng pengecualian kayaknya haha *ini bukan Rindu woy*. Jujur saya suka pesan-pesannya. Dan jujur, karena cara penyampaian bang Tere nggak bikin sreg, rasanya pesannya ya biasa aja. Saya kurang suka gimana karakter-karakternya itu 'hidup'. Mungkin yang saya paling suka adalah pertanyaan-pertanyaan Rehan. Haha.Terus, typonya bertebaran di mana-mana omaygat. Bahkan di judul buku juga salah. Harusnya kan Rembulan Tenggelam di Wajahmu yakan yakan.Yak. 3.4 dibuletin ke bawah buat buku ini.