Read Seribu Kunang-kunang di Manhattan by Umar Kayam Online

seribu-kunang-kunang-di-manhattan

INILAH New York, dan Umar Kyam bercerita dari dalamnya. New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Raksasa ini entah karena kena penyakit apa, tidak pernah merasa kenyang biar dia sudah makan berapa ribu manusia. Karena itu mulutnya terus saja menganga tidak sempat menutup. Segala manusia, putih hitam, kuning, coklat, besar, kecil, ditelannya tanpa pilih-pilih lagi”. UmINILAH New York, dan Umar Kyam bercerita dari dalamnya. New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Raksasa ini entah karena kena penyakit apa, tidak pernah merasa kenyang biar dia sudah makan berapa ribu manusia. Karena itu mulutnya terus saja menganga tidak sempat menutup. Segala manusia, putih hitam, kuning, coklat, besar, kecil, ditelannya tanpa pilih-pilih lagi”. Umar Kayan mengutip perubahan itu dalam cerita Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa, cerita kedua dan yang terpanjang dalam kumpulan ini. Secara tipikal, dia tidak menyatakan adakah dia setuju atau tidak dengan karikatur tentang New York tersebut. Namun 6 buah cerita pendek yang ditulisnya selama ia hidup di kota itu semuanya dengan latar Manhatan (sebuah “belantara”, katanya) menampilkan kota jutaan itu sebagai dunia yang menarik, tapi murung. “Aku melihat ke luar jendela. Ribuan pencakar langit kelihatan seperti gunduk-gunduk bukit yang hitam, kaku dan garang.”Begitulah, New York sebuah paradoks. Jutaan manusia hidup di dalamnya, tapi ia nampaknya lengang. Di apartemennya sang isteri Indonesia kesepian, juga seorang wanita ganjil yang memasang namanya sebagai Madame Schlitz: seorang wanita entah dari mana, tinggal hanya bersama seekor anjing yang dilatihnya menyanyi, sembari ia sendiri belajar yoga dan kepada tamunya menceritakan biografinya yang mungkin tidak betul — untuk kemudian menghilang tanpa bekas.Atau Jane dan Marno. Si wanita berpisah dari suaminya dan si pria berpisah dari isteri dan tanah airnya. Mereka berpacaran. Kemudian rutin dan bosan. Si wanita mengulang-ulang cerita yang lapuk untuk mengisi kehampaan bicara, tapi si pria terkenang akan hal lain: isterinya, bunyi cengkerik dan “ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa”. Keduanya berpisah. Dan lihatlah si Sybil : gadis 15 tahun yang tersia-sia (ibunya yang miskin lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur bersama majikannya), tiba-tiba saja menemukan semacam penglepasan diri dalam suatu tindakan tanpa rencana, ia membunuh si Susan, 6 tahun, yang seharusnya dijaganya.Lebih merasa tersiksa lagi kakek Charlie Si kakek menjalani hari-hari tuanya di Central Park, main karousel setiap hari seperti anak-anak membayangkan dan sebagai tokoh legendaris ketua suku Indian Chief Sitting Bull, untuk kemudian menemui “pacarnya”, nenek Martha, dengan siapa ia menaburkan makanan untuk burung-burung seraya mengeluarkan perlakuan buruk anak dan menantu mereka masing-masing Chief Sittilg Bull bisa merupakan ilustrasi yang baik buat studi Simone de Bouvoire tentang nasib orang-orang lanjut usia di masyarakat industri oknum yang tak lagi berguna, seperti sepah, yang mencari harga dirinya dalam hal-hal yang kacau oleh ketinggalan zaman...

Title : Seribu Kunang-kunang di Manhattan
Author :
Rating :
ISBN : 1680750
Format Type : Paperback
Number of Pages : 269 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Seribu Kunang-kunang di Manhattan Reviews

  • e.c.h.a
    2019-01-19 05:35

    Setiap cerita meninggalkan kesan berbeda saat membacanya; haru, bahagia, kesel, marah. Dr sepuluh kisah, 3 kisah sukses menjerat gw; Musim Gugur Kembali di Connecticut, Bawuk & Sri Sumarah. Dgn berlatar kemelut politik, umar sukses meramunya menjadi kisah yg hebat. Pengorbanan, ketabahan, perjuangan, cinta, kemandirian menghiasi ke 3 kisah tersebut. Membuat gw mengagumi sosok Istri Tono, Bawuk & Sri Sumarah. Mereka perempuan hebat. Dan musim gugur itu menjatuhkan keharuan, mengiringi Bawuk & menyejukan Sri.

  • Toffan Ariefiadi
    2019-01-19 11:38

    Apa yang bisa kalian bayangkan tentang Manhattan? Sebuah pulau. Ya, sebuah kota-pulau yang mengelilingi kota New York (dengan beberapa pulau kecil lain) dan membentuk apa yang sekarang dikenal sebagai New York Country.Apa yang istimewa dari sebuah pulau bernama Manhattan dalam buku ini? Umar Kayam. Ya, sastrawan Indonesia ini mendeskripsikan Manhattan dengan sangat baik. Seolah-olah saat membaca beberapa cerita dalam buku ini kita diajak oleh Umar Kayam berkeliling dan menjelajahi Manhattan dan kota-kota lain di New York.Amazing alias menakjubkan. 6 (enam) dari 10 (sepuluh) cerita dalam buku ini mengulas kota Manhattan, perilaku masyarakat Manhattan, kebiasaan, kesenangan, bahkan kriminalitas sebagai latar belakang cerita. Yang menarik adalah bahwa setiap cerita meninggalkan kesan sendiri-sendiri. Setiap cerita mengalir begitu cepat seakan-akan ingin cepat diselesaikan, tapi saat sampai di kalimat akhir cerita tersebut samar yang membuat pembaca seperti melihat lukisan yang belum selesai sepenuhnya tapi sudah selesai. Ah, susah mendefinisikannya.Hebatnya, "Seribu Kunang-kunang di Manhattan" yang menjadi judul buku ini bahkan diterjemahkan ke dalam 13 bahasa daerah Indonesia dan diterbitkan dengan judul buku yang sama.4 (empat) cerita lain mengajak kita pergi dari Manhattan dan terbang jauh ke Indonesia saat tahun 60-an. Ketika komunis mulai mengakar kuat dan menancapkan ideologinya di Indonesia dan ketika komunis mulai tercerabut akar-akarnya dari Indonesia. 4 (empat) cerita terakhir adalah cerita pendek yang panjang (bukan cerpen koran tapi cerpen yang biasa muncul di Horison). Saya yang biasanya kelelahan membaca cerita pendek yang panjang di Horison merasa beda saat membaca cerita Umar Kayam dalam buku ini. "Bawuk" dan "Sri Sumarah", salah dua karya terbaik Umar Kayam yang dimasukkan ke dalam buku ini.Dan jangan tanyakan bagaimana Umar Kayam menggambarkan peristiwa tahun 60-an/komunis dan penggambaran tokoh-tokoh dalam 4 (empat) cerita tersebut. Semua sangat mengagumkan dan detil. Sekali lagi, cara bercerita Umar Kayam dalam buku ini sangat berbeda dengan bagaimana dia bertutur dalam bukunya yang lain, kumpulan tulisan kolom Umar Kayam: Mangan Ora Mangan Kumpul.Berikut kesepuluh cerita tersebut:1. Seribu Kunang-kunang di Manhattan2. Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa3. Sybil4. Secangkir Kopi dan Sepotong Donat5. Chief Sitting Bull6. There Goes Tatum7. Musim Gugur Kembali di Connecticut8. Bawuk9. Kimono Biru buat Istri10. Sri SumarahDus, pokoknya saya merasa beruntung bisa membaca karya salah satu sastrawan terbaik Indonesia ini.Selamat Membaca!

  • Edy
    2019-01-25 08:52

    Buku ini merupakan salah satu karya terbaik almarhum Umar Kayam. Kumpulan cerpen ini merupakan rangkuman dari cerpen pilihan yang ditulis sejak tahun 1968 sd 1980an. Umar Kayam yang merupakan sosok budayawan intelek, tidak canggung dan tidak gagap menuliskan realisme nilai-nilai budaya Jawa dalam cerpennya. Malah sebaliknya, keahlian beliau untuk memebenturkan kondisi modern dengan nilai-nilai budaya, akan mengajak kita untuk lebih merefleksikan diri terhadap dinamika budaya yang berkembang saat ini. Pemahaman budaya Jawa yang cukup mendalam dan disertai gaya bercerita dengan alur yang sederhana dan bahasa yang mudah dipahami, membuat kita terlempar dalam suasana imajiner yang penuh empathy dengan salah satu tokoh yang ada dalam cerita itu ….Terima kasih kepada sahabat baikku dik Jenny yang sudah memberikan buku ini sebagai kenangan untukku…..

  • Astri Kusuma
    2019-01-24 07:59

    Buku ini memuat 14 versi cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Versi pertama, versi bahasa Indonesia. Versi kedua hingga keempatbelas adalah versi bahasa daerah.Siribee Meuk di Manhattan (Bahasa Aceh),Hillophillop Ni Lampoting di Sosor Manhattan (Bahasa Batak Toba),Saribu Api-Api di Manhattan (Bahasa Minangkabau),Saribu Cicika di Manhattan (Bahasa Sunda),Sewu Kunang Ing Manhattan (Bahasa Cirebon),Konang-Konang Ing Manhattan (Bahasa Jawa),Prappa’na Nang-Konang Nabuy E Manhattan (Bahasa Madura),Siu Kunang-Kunange Ring Manhattan (Bahasa Bali),Seribu Ntep-Ntep Leq Manhattan (Bahasa Sasak),Sisakbu Kullu-Kullu ri Manhattan (Bahasa Bugis Makasar),Sisebbu Api-Api Ri Manhattan (Bahasa Bugis),SangSa’bu Lupeppe’ Dio Manhattan (Bahasa Toraja),Sallessorang Belung-Belung Dio Manhattan (Bahasa Mandar).http://astrikusuma.com/?p=294

  • miaaa
    2019-01-28 10:38

    Aku termangu. Terdiam seribu bahasa. Terhenyak.Setiap karakter dalam cerita-cerita ini begitu hidup. They are there, doing things and alive. Kumpulan cerita pendek dengan dua sisi. Sisi yang kiri menunjukkan dunia asing dari mata seorang Indonesia, sisi yang kanan cerminan kehidupan dan kepahitan saat Indonesia melalui gejolak politik.

  • devie
    2019-01-18 07:33

    cara bercerita Umar Kayam yang berbeda dibanding kumpulan kolomnya yang terkenal itu (seri Mangan Ora Mangan Kumpul).Dibanding novelnya dan kumpulan kolomnya, kumpulan cerpen inilah karya terbaik Umar Kayam.(full review in progress)

  • ratna
    2019-01-23 09:55

    buat saya: cerita-cerita yang harus dibaca dengan rasa, cuma bisa dirasa, dan hanya pada saat merasa

  • Fertina N M
    2019-01-29 12:47

    Belum jelas kenapa yang terpilih sebagai judul buku ini adalah Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan. Apa karena mau disamakan dengan chapter pertama buku ini, jadi tidak perlu repot lagi memilih atau ada alasan lain. Biar mejadi teka-teki buat kita. Yang jelas, terdapatnya nama kota besar di Amerika sana bukan berarti di dalamnya mengisahkan cerita-cerita kejadian atau panorama kota tersebut. Tetapi susunannya ceritanya menarik, menurut saya. Di awali dengan kisah sepasang kekasih yang berada di Manhattan beserta dengan settingnya. Lalu kisah mulai berseger ke luar kota itu, kisah seorang gadis kesepian yang harus menemani anak seorang tetangganya yang rewel di sebuah taman yang di depannya terbentang east river yang memisahkan Manhanttan. Hingga semakin bergeser hanya sekedar ingatan, simbol dan semakin menghilang.Secara garis besar, saya suka dengan cerita Umar Kayam ini. Semua akhir yang dibuatnya, melepas kewajibannya untuk diteruskan oleh pembacanya. Mau cerita tentang sepasang kekasih, seorang suami, seorang tawanan revolusi atau bahkan seorang gadi kecil, dari berbagai sudut itu Umar Kayam menyuguhkan kisah-kisah yang menarik. Seperti kisah yang menerut saya menarik. Dengan judul Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa. Kisah sederhana, seorang istri harus tinggal di New York bersama sang suami yang sedang mengeyam pendidikannya. Sang istri merasa kesepian, karena sang suami sibuk dan sementara kota yang mereka tinggali menganut sistem individualis. Hingga akhirnya, sang istri yang senang membaca kisah misteri menemukan "permainan" barunya dari seorang tetangganya, Madame Schlitz. Menurut saya, ceritanya sederhana tetapi dengan cara pandang yang digunakan membuat cerita sederhana juga bisa menarik.* Sebab pertanyaan "mengerti" tidak untuk dijawab mengerti karena "mengerti" adalah mencari untuk menegerti.* Kalau markas musuh nampak terlalu kuat untuk diduduki, kitarilah dulu untuk melihat kemungkinan-kemungkinan selanjutnya.* Orang mengunyah hotdog, karena orang dikirinya mengunyah hotdogog. Beo, Peggy, Beo!!* Lantas, semua yang memuakkan kau itu berbahaya?* "Capek? seolah-olahkewajibanmu sebagai seniman dan sarjana rakyat dibatasi oleh rasa capekmu."* Kalau kau ada dedikasi, ada keyakinan, dan kesetiaan kepada ideologi, capek fisik yang sesekali datang hanya sebentar saja menguasai kita. Selebihnya, enthusiasm seperti yang kaukatakan itu akan terus bersama kita, bersama kesetiaan kita kepada ideologi."*Dia ingin menempuh jalan sendiri, ingin lepas dari ikatan-ikatan ideologi, prganisasi-organisasi dan kawan-kawannya, tetapi di lain pihak mengakui bahwa organisasi dan kawan-kawannya telah merupakan dunia sendiri baginya.* Ada tingkat-tingkat perubahan memang. Tetapi yang pokok kita berubah. Dan kita pasti akan terus berubah, bergeser terus ke sana dan ke sini karena kita telah menjadi bagian-bagian dunia yang lain.

  • Indri Juwono
    2019-02-14 11:53

    baru dpt di TM bookstore depok dgn diskon 30% dan harga asli 49rb.eehh, udah abis skrg krn cuma 2 gw beli semua. tp di gramed depok ada 10 tp 52rb.***Gue suka cerita tentang Bawuk dan Sri SumarahRasanya masih dengan gaya priyayi yang digambarkan namun terjerumus dalam suatu kondisi sosial yang membuat kehidupan berubah selamanya mengikuti angin perubahan..Membaca kumpulan ini, awalnya gw hilang.Hilang tak bisa berkonsentrasi dan tidak menemukan jiwanya.Tidak bisa mencerna isi cerita di New York.Tapi ketika kembali ke tanah Jawa, gw seakan menemukan gaya Umar Kayam ini.. gw baru dapet isinya..makanya gw kasih 3 bintang aja. cukup.

  • Arinamidalem
    2019-02-09 08:54

    Kumpulan cerita pendek yang dalam keterbatasan ruang pena mampu memainkan emosi kita. Ada tersenyum, tertawa konyol, namun tiba-tiba merasa terhempas..ke sudut pilu. Ini lembar kehidupan yang beliau tunjukan kepada kita dalam beberapa halaman saja, dalam beberapa menit baca… bagaimana dengan lembar kehidupan serupa yang dahulu dilalui di kehidupan nyata? Kehidupan nyata yang bukan beberapa menit, tapi tahun demi tahun.. situasi serupa dan juga rasa pilu yang sesungguhnya. hidup kah itu? saat pikiran dibatasi dan nyawa ditukar paksa dgn keyakinan dan kompromi.

  • anis Ahmad
    2019-02-04 08:43

    menurut gunawan muhammad ini adalah salah satu kumpulan cerpen terbaik yang pernah dihasilkan. pemikiran kayam dalam cerpen dan novelnya memebrikan satu sumbangan yang sangat besar dalam dunia sastra indonesia khususnya sumbanganyya yaitu tulisannya yang melahirkan trend tentang realisme. realisme kultural yang dibawa oleh kayam dalam cerpen dan karangan sastra yang dibuatnya merupakan satu hal yang menginsprisasi saya tentang makna kehidupan. intinya cerpen umar kayam itu sederhana, menarik, realistis.bagus lah....

  • Reyhan
    2019-01-23 07:53

    Jika Para Priyayi adalah novel magnum opus almarhum, maka Seribu Kunang-Kunang di Manhattan adalah cerpen magnum opusnya.Menarik membaca kumpulan cerpen ini karena sebagian besar bercerita tentang kehidupan di luar negeri (terutama AS) dari sudut pandang Indonesia.Suasana yang dibangun dari cerpen-cerpen di sini mengingatkan kepada Great Gatsby-nya F.S. Fitzgerald yang kental dengan nuansa Amerika yang Jazzy, tapi tetap dengan gaya bahasa sederhana yang khas dari seorang Umar Kayam.

  • Hery Setianingsih
    2019-02-01 08:42

    Ini adalah sebuah kumpulan cerpen karya guru besar Umar Kayam. Buku ini berhasil membuatku sadar akan realitas dunia yang penuh dengan kepalsuan dan kekejaman demi ego segelintir manusia. My favorite chapter is Musim Gugur di Connecticut. It really made me cry in the end. Even more crying when the story's brought up to story-telling performance by Landung Simatupang. Mixing of a great writter (Umar Kayam) and an amazing story teller (Landung Simatupang)!

  • Ginanjar
    2019-01-28 09:32

    Salah satu begawan dalam dunia tulis menulis Indonesia: Umar Kayam. Dan ini adalah kumpulan cerpen yang sangat amat keren sekali. Sastra tidak harus disampaikan dengan bahasa yang berat dan penuh kata-kata yang berakrobat.saya suka cara Umar Kayam mengetengahkan Masalah-masalah yang dihadapi oleh sebagian besar tokoh dalam kumpulan cerpen ini. Saya berharap ada lagi pengarang seperti beliau ini.

  • Johan Radzi
    2019-01-31 12:38

    Ya tuhan, aku begitu sukakan cerpen-cerpen umar kayam. bahasanya sederhana; tak keterlaluan dan tak melebih-lebih. gaya penceritaannya juga begitu, tapi caranya mengungkapkan cerita dan meleraikan plot kemas sekali. aku boleh rasakan suasana romantisme yang terdapat pada beberapa buah cerpen yang ditulis beliau.cerpen kegemaran: istriku, madame schlitz, dan sang-raksasa.

  • Nduk
    2019-02-15 09:38

    begitu cerdas dan kaya wawasan semua cerpennya disini.pengungkapannya begitu penuh makna, tak ada satu katapun yang sia-sia.bangga sekali aku pernanh mementaskan teater seribu kunang2 di manhattan. tantangan yang lumayan bikin deg-degan....love u umar kayam...

  • Nonna
    2019-01-24 10:39

    Kalau ada yang tidak pernah mau mengalah menunggu, itu adalah usia namanya.. _236

  • Asri
    2019-01-21 06:43

    Menggambarkan kemunafikan manusia dengan gamblang dan vulgar. Menjijikan memang, but that is the fact of life.

  • Anwar
    2019-02-02 07:35

    lebih dari tiga kali gw baca buku ini..dan lebih dari tiga makna pula yangtertangkap..sebuah cerita pendek khayam yang padatdan berhasil!

  • Aqessa Aninda
    2019-01-26 06:56

    After looking for this book for a very very very loooong time, I finally found it in some online shop. :))Seribu Kunang-Kunang di Manhattan adalah kumcer Umar Kayam pertama yang gue baca. Sejak baca reviewnya di blog Friendster nya Kanya beberapa tahuuuuun yang lalu (iya, Friendster, kebayang kan tahun kapan?) saya langsung jatuh hati. Kumcer ini terdiri atas 10 cerpen karya Umar Kayam dari tahun 60-an sampai 80-an (4 terakhir bisa dibilang novelet sih? Atau cerpen yang kepanjangan), enam diantaranya ber-setting di New York, USA, empat sisanya berlatar belakang kemelut politik Indonesia di tahun 60-an sampai 80-an.Seribu Kunang-Kunang di ManhattanIstriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa Sybil Secangkir Kopi dan Sepotong Donat : Chief Sitting BullThere Goes TatumMusim Gugur di ConnecticutBawukKimono Biru Buat IstriSri SumarahEnam kisahnya bercerita tentang begitu tidak pedulinya kota Manhattan. Manhattan is like a giant creature, eating the society. Orang-orang tua yang tidak peduli dengan anak-anak mereka, tenggelam dalam kesibukan kota. Tetangga-tetangga yang tidak peduli dengan tetangganya. Wanita yang rindu akan belaian kasih sayang. Orang tua yang bertingkah seperti anak kecil. Serta pemuda Indonesia yang meski jauh merantau di tanah kebebasan yang menjanjikan, the city that never sleep they said, ia merindukan tanah airnya.Empat kisah lainnya bercerita kemelut dunia politik di Indonesia tahun 60-an. Tentang permainan politik, suap menyuap secara halus. Tentang kerinduan akan sedikit kebebasan sederhana, merasakan hangatnya pelukan sang istri, tentang kebahagiaan sederhana mendengar pergerakan si jabang bayi dalam rahim sang istri. Tentang keikhlasan perempuan-perempuan yang suami atau anaknya memilih jalan sebagai aktivis PKI. Tentang bagaimana priyayi bertutur dan berserah pada Tuhan. Tentang bagaimana kesetiaan seorang istri yang hanya menginginkan suaminya dan kebebasan akan hidup. Tentang kepolosan wanita desa. Tentang ibu-ibu yang berjuang. Dan tentang berserah diri.Untuk ukuran tulisan jaman segitu, Umar Kayam bisa dibilang cukup 'metropop' pada jamannya hehehe. Mungkin satu-satunya cerpen jaman itu yang terdapat kata 'superb' dan 'sophisticated', atau reaksi, "So what?" hahahaha. Bahasanya sangat lugas, nggak bertele-tele, nggak mendramatisir. Kalau baca, akan terasa sekali logat Jawa kental dalam penuturannya. Saya tenggelam membaca kumcer ini, ikut sedih waktu Tono ditahan pada cerpen "Musim Gugur di Connecticut". Atau kepasrahan dan kepolosan Bu Sri pada "Sri Sumarah". Juga galaunya Bawuk waktu ia mencari suaminya yang ditangkap, serta galaunya Nyonya Suryo waktu anaknya pergi cari suaminya dalam "Bawuk".Entah kenapa buku ini nggak masuk daftar list sastra yang bagus untuk dibaca, karena susah banget nyarinya even di public library sekalipun di Jakarta (saya sih survey di internet, di web pencarian buku secara online gabungan beberapa public national library di Jakarta). Apa mungkin karena latarnya PKI gitu? Jadi kurang di rekomendasikan? Atau karena beberapa ceritanya memang diperuntukkan genre dewasa jadi nggak masuk dalam silabus mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia?Quotes:"Oh, Tuhan yang baik dan agung. Untuk kesekian kali Kau buktikan bahwa ciptaan-Mu bernama manusia adalah ciptaan-Mu yang paling kreatif, elastis, dan ekspansif. Dalam keadaan netral dia minta jumper, dalam keadaan nrimo dia minta Topaz, dalam keadaan putus asa dia minta apa saja, dalam keadaan optimis dia minta kimono..""Perempuan bukan sekali itu saja minta untuk sekedar minta. Ingin dimiliki. Bukankah dulu Sembadra minta gamelan Lokananta dari surga kepada Arjuna juga untuk sekedar memilikinya? Dan Arjuna memberinya? Kalau suami--laki-laki yang dititipi oleh nasib untuk sementara menjaga perempuan--itu tidak mengerti akan permintaan seperti itu, lebih baik dia mengembalikan mandat kepada nasib dan bersedia menerima nasib yang berbeda.""Calon sarjana yang baik dan jujur itu mesti mencoba selalu terbuka sikapnya karena itu semua buku, teks atau bukan, kiri atau kanan, mesti dibaca..""Ah, ya. Nasi bungkus itu akan selalu mesti dibeli dan dibagi kapan saja, Mus. Bentuknya bisa lain-lain, ukurannya bisa lain-lain. Tapi politik, ah, apa saja, juga dagang, juga perang, semua ada urusannya dengan nasi bungkus itu.""Sebab pertanyaan 'mengerti' tidak untuk dijawab mengerti karena 'mengerti' adalah mencari untuk mengerti"Review ini sebelumnya ditulis di: http://aqessa.blogspot.com

  • Kungkang Kangkung
    2019-02-04 08:32

    Sebelum saya memiliki buku ini, saya sudah pernah membaca cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Saat itu saya tak terlalu memahami isi ceritanya dan menganggap biasa saja terhadap cerpen ini. Tapi setelah beberapa waktu buku ini menjadi timbunan saya yang tidak tersentuh, saya mencoba membacanya kembali. Saya mengulang baca cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan, dan ternyata efeknya sangat berbeda. Entah kenapa saya jadi memahami isi ceritanya begitu saja dan menyukainya (begitu saja) pula.Di cerpen-cerpen berikutnya saya pun terhanyut dalam kalimat-kalimat ringan yang-menurut saya-terkesan cuek tapi asik dibaca. Kecuekan yang dihadirkan dengan isi cerita yang berbobot dan ending yang terkadang mengejutkan atau memberi efek hampa semata.Seringkali saya menangkap kesan "ngalor-ngidul" dalam beberapa judul cerita di buku ini. Yang paling terasa adalah Sri Sumarah, meski memang, semua masih saling berkaitan dan berurutan.Dari sepuluh cerita dalam buku ini, masih ada beberapa yang tidak membekas di hati saya. Tapi saya tetap menikmati keseluruhan cerita-cerita di dalamnya.

  • Harun Harahap
    2019-02-15 09:53

    1. Seribu Kunang-kunang di Manhattan : 2 Bintang : Setan, bulan itu memang kuning keemasan..2. Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa : 2 Bintang : Mpok, ade lengkoas gak??bagi dong,mpok..3. Sybil : 3 Bintang : Gw ga akan menamakan anak gw Sybil, Sybil yang gw kenal semuanya gila..4. Secangkir Kopi dan Sepotong Donat : 2 Bintang : Dunkin Donut menurut gw lebih enak daripada Jco..5. Chief Sitting Bull : 3 Bintang : Tua-tua keladi..makin tua makin jadi..6. There Goes Tatum : 2 Bintang: Kejahatan tidak hanya terjadi karena niat..tapi karena adanya kesempatan..WASPADALAH???!!!7. Musim Gugur Kembali di Connecticut : 3 Bintang : HSI, Lekra, PKI, Gestapu??Sama saja kan??..hmm..masa' sih??8. Bawuk : 3 Bintang : Terbaca seperti kisah nyata..apakah ini memang kisah nyata???9. Kimono Biru buat Istri : 2 Bintang : Pejabat, Politik, Seks dan Uang..10. Sri Sumarah : 3 Bintang : Sri..oh Sri...polos bener sih lo...Jadi: 2+2+3+2+3+2+3+3+2+3=25/10= 2,5 Bintang

  • Bernard Batubara
    2019-01-27 11:44

    Selesai baca "Seribu Kunang-kunang di Manhattan", kumpulan cerpen Umar Kayam.Satu hal yang saya tangkap dari cerpen-cerpennya Umar Kayam, dialognya kurang ajar banget; efektif, nyeleneh, slengean, mengalir, kuat, dan menggerakkan plot.Favorit saya sebuah cerpen berjudul Kimono Biru buat Istri yang bercerita tentang Mus, seorang suami yang diberi amanah oleh istrinya untuk membelikannya sebuah kimono biru bermotif burung bangau. Di Ginza, Mus malah bertemu sahabat lamanya yang membuatnya kilas balik tentang kehidupannya di masa lalu. Umar Kayam memperkuat watak tokoh-tokohnya dengan menggunakan dialog yang selalu menjadi suara khas dari masing-masing tokoh dalam ceritanya.4 dari 5 bintang.

  • Ahmad
    2019-01-29 08:57

    Tak ada cerita menyedihkan yang mandayu-dayu dalam kumpulan cerita ini, bahkan ciri menonjol dari buku ini adalah humor. Namun saya membaca buku ini dengan mata berkaca-kaca karena keindahan realitas yang ditampilkan Kayam dengnan sangat sederhana, polos.Saya selalu ingat ketika merasa tersesat dalam fragmen Jean dan Marno yang begitu sublim dalam cerpen "Seribu Kunang-kunang di Manhattan". Ketika cerita habis, saya terkaget-kaget tanpa tahu alur cerita, namun bisa memahami kenapa Jean Menangis.Cerita lain dalam buku ini penuh dengan kalimat-kalimat sederhana yang justru membuat keindahan berbinar-binar. Saya akan selalu merindukan buku ini.

  • Hanif Amin
    2019-02-10 10:32

    Menghadirkan cerita secara hemat dan cerdas berdasarkan kenyataan hidup. Pembaca diajak bergeser dari Manhattan sampai ke tanah Jawa.Kecerdasan penceritaan dari Umar Kayam yang mampu menghadirkan situasi seolah masih belum selesai berupa garis samar. Namun mampu mengajak kita untuk terus membaca. Dari kehidupan di Manhattan sampai intrik - intrik PKI di Indonesia yang sangat menarik untuk dibaca.Secara keseluruhan sangat menarik untuk dibaca ke-10 cerpennya. Poin plus buat cerita Sybil, There Goes Tatum, Musim Gugur di Connecticut, Bawuk, dan Sri Sumarah.

  • Farrisghazy
    2019-01-20 05:49

    Bukunya asik, perspektif ndeso yang kerap "ngintelek" dalam mencerna dan menyajikan kembali yang terlintas dalam kehidupan sekilas di luar negeri, dan suka dukanya sebagai seorang "multitalenta" Indonesia. Apalagi saya sempat mengalami euforia kekaguman terhadap sosok Umar Kayam, tetapi belakangan setelah membaca kumpulan kolomnya yang berjudul Dialog. Ternyata Dialog lebih saya sukai dibanding buku ini. Tetapi lebih kurangnya, Umar Kayam memang satu dari sedikit tokoh intelektual Indonesia yang saya idolakan.

  • Wikupedia
    2019-02-10 11:32

    cerpen-cerpen dalan buku ini bisa dikomentari dengan hanya satu kata, menakjubkan!umar kayam yang realis begitu mengenal dunia yang ia tulis. sederhana dalam penyampaian namun kaya dlam makna.seperti cerpen yang menjadi judul buku ini. seribu kunang-kunang di manhattan. ceritera tentang perselingkuha dua orang dewasa yang diakhiri dengan ending yang lirih, sangat indah. lalu chief sitting bull, yang berceritera tetang seorang kakek yang berain peperangan dengan anak-anak.umar kayam membuktikan dirinya menjadi seorang diplomat yang jago menulis!

  • Taufiq Ramadhan
    2019-02-11 05:57

    akhirnya selesai! :)setelah malas-malasan membaca 1-6 cerita pertama akhirnya cerita ketujuh dan seterusnya membuat saya bersemangat untuk bisa menyelesaikan buku ini. memang ada perbedaan background cerita antara 'bagian pertama' dan 'bagian kedua'. *baca sendiri ya :pmungkin saya juga harus beradaptasi dengan cara bertutur Umar Kayam; yang agak beda dengan penulis-penulis yang sudah saya baca-ini karya pertama beliau yang saya baca.saya penasaran dengan karya beliau yang lain. :)credit buat mas upiq yang sudah meminjamkan buku ini dengan begitu lama.

  • Rosaria
    2019-02-04 10:47

    buku ini aku baca, dah lama...pas jalan jalan ke toko buku di jogja, iseng aja liat judulnya. Sebuah judul yang menarik.isinya...menurut ku si (sebagai manusia awam sastra) lumayan menarik, karena komponen pemilihan katanya lumayan cepet connect ke otak ku (alias aku g perlu mengernyitkan kening tuk menterjemahkan isi novel ini). Kejadian yang di ambil juga lumayan nyambung ma kondisi nyata. Kesimpulan ku si....aku suka bahasanya dari pada ceritanya :)

  • Pringadi Abdi
    2019-02-05 11:00

    Dua hari lalu nemu buku ini di Zoe dan kupinjam. Sayabgnya cuma punya waktu dua hari untuk membacanya karena harus pulang hari ini. Selain cerpen utama yang menjfi judul buku, cerpencerpen lain juga punya kekuatan yang gila di dialog. Dialognya benarbenar mewakili karakter, menguatkan mereka. Dan ya, ada banyak lapisan makna yang ingin diungkap penulisnya. Beberapa cerpen lain membutuhkan kekuatan pembacaan yang ekstra agar bisa memahaminya.