Read Swiss: Little Snow in Zürich by Alvi Syahrin Online

swiss-little-snow-in-zrich

Di Zürich,Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair. Membuat Yasmine tersenyum bahagia."Ich liebe dich,"—aku mencintaimu—bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.Di puncak gunung Uetliberg—yang memancarkan seluruh panorama KotaDi Zürich,Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair. Membuat Yasmine tersenyum bahagia."Ich liebe dich,"—aku mencintaimu—bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.Di puncak gunung Uetliberg—yang memancarkan seluruh panorama Kota Zürich—bola-bola salju terasa hangat di tangannya, kala mereka bersisian. Dan Jembatan Münsterbrücke, jembatan terindah dan tertua di Zürich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang.“Jika aku jatuh cinta, tolong tuliskan cerita yang indah,” bisik gadis itu. Ia tahu ia telah jatuh cinta, dan berharap tak tersesat.Namun, entah bagaimana, semua ini terasa bagai dongeng. Indah, tetapi terasa tidak nyata.Tschüs—sampai jumpa—Yasmine, semoga akhir kisahmu indah....

Title : Swiss: Little Snow in Zürich
Author :
Rating :
ISBN : 9786022201052
Format Type : Paperback
Number of Pages : 308 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Swiss: Little Snow in Zürich Reviews

  • Yuli Pritania
    2019-03-20 20:45

    Selesai dalam waktu dua jam saja di tengah kebosanan nongkrong di rumah sakit yang benar-benar tidak saya suka.Acung jempol buat gmbr ilustrasinya yg luar biasa, terutama gambar pasangan yang sepayung berdua di halaman prolog. Tp hanay sampai di situ saja keindahan buku ini. Keindahan desain tidak diikuti keindahan isi.Bagian prolog msh oke, saya suka cerita ttg si butiran salju. Tp kemudian saat bagian memperkenalkan karakter, penulis memakai kata "anak laki-laki". Dan mulai sejak kata itu terbaca, yg ada di pikiran saya adalah anak-anak SD yg lg main cinta-cintaan. Karakter Yasmine dan Rakel g mencerminkan anak SMA. Terlalu kekanak-kanakan. Itulah kesan yang saya dapat.Bagian konflik? Bad. Konfliknya juga childish banget.Novel ini seperti sinetron. Kisahnya dipanjang-panjangkan dengan eksekusi yg begitu membosankan. Anti klimaks. Seolah penulis didesak untuk menghasilkan novel tebal. Yg saya tangkap saat awal ibunya Rakel muncul adalah dia seharusnya membawa Rakel ke New York untuk menghilangkan kenangan pilu di Swiss. Itu karena dia melihat anaknya menderita. lah, kenapa saat nyaris menyentuh ending tiba2 dia memutuskan pindah ke New York, di saat anaknya sudah mendapatkan kebahagiaan? Bukankah alasan utamanya agar Rakel kembali normal?Secara keseluruhan, novel ini... hmmm... terlalu kekanak-kanakan buat saya. Dimulai dari konflik, hingga karakter. Not my taste. Walaupun cara penulisannya sudah cukup lumayan.

  • Daniel
    2019-04-13 17:33

    Hah... siapalah saya yang belum pernah mengalami kisah romantis membaca novel romantis. #heh #belumbelumudahcurhat ~~/o/Zurich adalah buku serial Setiap Tempat Punya Cerita yang pertama kali saya beli (dan baca). Jadi, Alvi, saya boleh dong dapet tempat di ucapan terima kasih buat cetakan keduanya. #terusdihajarAlvi Saya, jujur aja, udah lama penasaran sama Setiap Tempat Punya Cerita karena kebetulan saya suka sama cerita berlatar luar negeri, menikmati nilai-nilai yang mereka anut yang BISA JADI!!! (view spoiler)[ala-ala Eat Bulaga ~~\o/~~ (hide spoiler)] berbeda sama Indonesia. Latar tempatnya belum ada yang menggugah saya kalau dilihat dari judul-judulnya. Semuanya sudah sering saya baca dan tonton meski, iye, saya belum pernah ke tempat-tempat itu sekali pun. Saya rindu membaca dengan latar negara-negara yang jarang dikunjungi sama acara jalan-jalan di televisi. Zurich, sebenarnya jatuh ke kategori yang sudah sering saya tonton dan baca. Saya lebih penasaran ke Bern, yang kesannya kayak ibu kota tapi bukan ibu kota. But, Switzerland is a nice country. So, that's a good start.Rating keseluruhan tiga setengah bintang. Rating ala-ala gini nih yang suka bikin konflik. Kayaknya emang kita perlu bikin petisi ke Goodreads biar bikin rating tengahan. Tapi, enggak papah. Saya buletin ke bawah. Kenapa? Mari kita baca repiu sayah~ Saya lebih suka Zurich a lot dibanding sama Dilema, jujurly. Dilema menurut saya agak "diseret" alurnya, tapi enggak dengan Zurich. Zurich ini sudah kelihatan konfliknya di bagian awal cerita yang merupakan hal bagus karena itu bisa bikin pembaca penasaran. Banyak yang bilang kalau prolog dan epilog dari salju itu bagus. I give you credit for that. Itu beneran bagus. Saya suka diksi di bagian prolog dan epilognya. Meski saya kurang setuju kalau salju di prolog sama dengan salju di epilog karena kan salju di prolog kan meleleh di dalam mulut Yasmine terus gitu, terus gini, terus gitu, tapi kayaknya enggak penting amat saya protes kayak gitu, jadi ya udahlah. Ayo, Vi, kapan-kapan yang satu buku isinya antropomorfisme kayak gini semua <3 Berikutnya, soal karakter. Ini yang bikin saya #dilema. #halah. Di sini siapa, sih, tokoh utamanya? Yasmine? Rakel? Atau dua-duanya? Saya ngerasa kalau tokoh utamanya cuma Rakel aja. Sampai akhir cerita saya cuma ngerasa kalau Yasmine ini hanya ada untuk: "Noh, ada karakter namanya Yasmine di situ tuh. Kenapa bisa begitu? Karena sampai akhir cerita, saya enggak kenal siapa Yasmine. Iya, saya tahu dia dari Indonesia, dia sekolah di Kantonsschule Ramibuhl, rambutnya item panjang. Saya cuma kenal Yasmine secara luar, bukan secara dalam. #heh Hum, mungkin saya menghendaki ada latar belakang Yasmine, detail-detail kecil soal keluarga Yasmine, atau kebiasaan unik Yasmine seperti mengupil setiap pukul tiga sore, misalnya. Menurut saya, detail-detail kecil kayak gitu yang bikin Yasmine hidup. (view spoiler)[Atau jangan-jangan nama lengkap Yasmine ini Yasmine Wildblood. Terus jadi Zahira, ala-ala Putri Yang Ditukar gitu #dihajar(hide spoiler)].Sebaliknya, Rakel bagus banget penjelasan latar belakangnya. Saya ngerti kenapa dia bisa gitu meski dia anaknya agak-agak drama gitu ya. Tapi, enggak apa-apa. Kalau seorang penulis sukses membuat pembaca menyukai atau membenci--dalam kasus ini saya membenci Rakel, huuu!--itu berarti dia sukses dalam menciptakan karakternya. Saya kesel aja karena dia ngalahin Dylan. Huhuhuhu~ Padahal kan Dylan cowok pinter dan pirang. Huhuhu :'( #TeamBlondeSementara Elena dan Dylan sendiri, apa ya istilahnya, kalau di kisah fiksi fantasi adalah semacam Gandalf atau Dumbledore, seorang pria tua bijak yang penuh petuah dengan halo di atas kepalanya. Enggak masalah buat saya. Saya justru malah kesel kalau ada subkonflik antara Elena-Dylan. Saya udah agak waswas kalau Elena ternyata naksir salah satu dari kedua cowok itu, tapi untungnya enggak. Hohoho~ saya nyebarin spoiler /o/~~Deskripsinya bagus meski di halaman pertama jantung saya agak berhenti karena saya kayak lagi baca buku Lonely Planet karena deskripsinya ditumpuk gitu. Tapi untunglah di bagian selanjutnya deskripsinya udah disebar dengan bagus. Salah satu kawan saya pernah bilang kunci bikin cerita berlatar tempat asing adalah jangan kayak lagi bikin buku buat travelling. Latar tempat cuma sebagai pendukung dan tetep yang paling penting adalah plot yang bagus. Gitcuuh~ Saya menikmati perjalanan Yasmine mengelilingi kota Zurich dengan transportasi umum meski dia enggak naik Polibahn #patahhati. Funicular ini bukannya udah jadi trademark-nya Zurich? #sotoyILUSTRASINYA BAGUS. Hum, tapi saya enggak ngerti soal seni, sih, jadi mungkin buat anak seni nganggepnya biasa ajah. Tapi, saya suka banget ilustrasi dengan model sketsa macem gitu. Terus, layout-nya juga bagus. Tiap bab baru pasti ada di buku sebelah kanan. Kok bisa gitu ya? '-')7Berikutnya, bagian random rant dari saya.Di halaman 154: ... Seperti biasa, Elena dan Dylan berusaha menghiburnya, tapi Yasmine hanya menolak ajakan mereka dengan cahaya kecil yang tak sempurna di bibirnya.... Maaf, saya anaknya enggak peka, tapi huhuhuhu Yasmine ini makhluk apaaaa? :'( Kenapa bibirnya bisa bercahaya? Apa dia suka ngemil senter gitu anaknya? Huhuhuhu :'( Serem. Saya ingat pernah membaca sebuah tulisan dari seorang penulis/ahli bahasa--saya lupa--yang bilang kalau metafora dalam bahasa Indonesia akhir-akhir ini sering memaksa dan enggak sesuai dengan artinya. Dicocok-cocokkan biar kerasa indah. Saya lupa contohnya apa, sih. Tapi, kalau pendapat pribadi saya, metafora yang bagus itu yang adalah metafora yang tepat dan sesuai dengan makna tiap kata. Entahlah. Saya juga bukan ahli bahasa. Berikutnya halaman 227:... Ia harus menghabiskan waktu berjam-jam di udara, menembus awan-awan di langit, melewati samudra dan pulau-pulau kecil, menyeberangi benua Asia.... Saya enggak tahu, tapi apakah kalau terbang dari Zurich ke New York harus nyebrang Asia dulu. Atau saya yang salah tangkap dari kalimat itu. Zurich-New York seinget saya punya penerbangan langsung. Saya suka bikin rute-rute fantasi Amazing Race jadi lumayan sering baca mana yang punya penerbangan langsung. Kalau nyebrang benua Asia, bukannya jadi kejauhan? Atau emang gitu aturannya?Soalnya begini. Di acara yang sama, saya masih inget waktu tim terbang dari Moskow ke Portland, mereka nyebrang Eropa dan Amerika, padahal logikanya kan deketan dari Moskow ke Tokyo atau manalah terus ke Portland, kan? Portland kan di pantai barat Amerika. Hum, tapi itu tergantung connecting flight-nya, sih. Eh, tapi kalau dari Zurich-New York harus lewat Asia dulu, sih, ini bakalan jadi pengetahuan baru buat saya karena selama ini saya mikir tinggal nyebrang Samudra Atlantik aja. Ada hal kecil waktu Rakel nunjukin sebuah rink. Di situ Yasmine bilang dia enggak bisa main ski, tapi berikutnya Rakel ambil sepatu luncur. Setahu saya, ski sama luncur itu beda, dan, yah bisa, sih, main ski di rink es, tapi bisanya cuma jalan doang. Gitu. Jreng~ jreng~ Berikutnya adalah alasan kenapa saya enggak mau naikin bintangnya setengah. Ending-nya!!! Alviii :'( Buat saya ending-nya cuma kayak ngubah nama di ending Dilema terus latar tempatnya dipindah ke Zurich. Udah. Gitu. Padahal, saya berharap ending yang lebih sadis #hasek. Gitu, Vi. Jadi, beginilah repiu saya. Sori, ya, Vi kalau banyakan bercandanya. Biar enggak tegang gitu deh. Terus berkarya~

  • Kartika Nurfadhilah
    2019-04-20 18:59

    Ah, prolognya manis banget :3 suka. Mengambil sudut pandang dari salju yang baru saja turun. Bahkan, aku sempet mikir jangan-jangan mau ngambil sudut pandang si salju terus nih, taunya ngga hihihi.Swiss: Little Snow in Zurich ini menceritakan tentang empat remaja SMA, mungkin kira-kira di Indonesia tingkatannya segitu. Yasmin: cewek blasteran Indo-Jerman/Swiss ini baru saja pindah ke Kota Zurich setelah kepergian sang ibu, sehabis pulang sekolah ia suka duduk di pinggir dermaga Danau Zurich dan disaat bersamaan ada seorang bocah laki-laki duduk di sisi yang lain dengannya di dermaga itu. O, iya Yasmin itu suka sekali memotret makanya dia suka bawa-bawa kamera yang digantungkan di lehernya.Yakemudian dari hanya duduk dekat-dekatan gitu, keduanya pun akhirnya dekat sejak cowok itu mengajaknya mengobrol untuk pertama kali. Lambat laun, keduanya semakin dekat, dan salju yang perlahan mencair pun turut meresap ke dalam perasaan Yasmin hingga gadis itu mulai menyukai Rakel Steiner; nama cowok itu. Hingga Rakel mengajaknya untuk melakukan agenda musim dingin. Seperti bermain ice skating, mengunjungi Jembatan Munsterbrucke, Pergi ke Puncak Uetlitbreg, Melakukan hal yang baik, dan terakhir Curhat dari dini hari sampai matahari terbit. Adapun Dylan dan Elena; teman sekolah Yasmin yang ternyata mengenal Rakel juga. Namun, Rakel hanya mengatakan kalau dia-dan kedua orang itu hanya sebatas temanprimary schoolngga lebih dari itu. Namun, Yasmin yakin kalau hubungan mereka bukan sekedar dari itu. Tentu saja, ternyata mereka bertiga dulunya merupakan sahabat satu sama lain, namun hubungan itu retak karena sesuatu hal. Sesuatu yang bisa disebut kesalahpahaman namun berakibat fatal. Di saat bersamaan, Yasmin pun mengetahui apa arti dirinya bagi cowok itu--sesuatu yang akan menyakitinya, namun tak bisa ia hindari. Pada akhirnya, para tokoh inilah yang berusaha untuk menemukan penyelesaiannya, berusaha untuk saling memahami satu sama lain termasuk menerima apa yang namanya lingkar kehidupan. Ada kelahiran, kehidupan dunia, dan kematian. Waktu baca Swiss ini di awal-awal, aku sempet sebel banget sama Rakel; kesannya dia egois (dan memang begitu) dan apa ya, dia berusaha untuk menjadi sosok yang tegar dan dewasa namun pada kenyataannya dia belum siap untuk menjadi sosok dewasa itu-dan juga mencoba untuk tegar. Hufht, apalagi saat dia berusaha yah semacam menjauhkan Yasmin dari Dylan dan Elena itu kerasa banget sifat egois dia. Apalagi saat ada dialog yang dia bilang, " Dia milikku." huh kesannya dia itu... yah, padahal saat itu dia belum punya hubungan apapun dengan Yasmin hanya sebatas teman saja. Namun, syukurlah di ending-Rakel akhirnya sadar :) dan itu membuat aku senyum-senyum sendiri melihat perubahan watak Rakel yang cukup drastis. Tapi yah, apapun uneg-uneg tentang tokoh Rakel XD penulisan Kak Alvi cukup asik, dan mampu membangkitkan khayalan pembaca mengenai lokasi-lokasi di Zurich yang didatangi oleh tokoh-tokoh dalam novel. Dan itu membuat aku gemas sendiri, meyakinkan diri sendiri negara ini harus gue datengin di masa depan! XD Semangat terus, Kak Alvi! Ditunggu karya berikutnya :)

  • Amalia Azzahra
    2019-04-17 22:58

    Kisah yang agak rumit, sebenarnya. Begitu banyak perasaan yang menyatu di satu kisah. Tetapi, aku suka konflik yang muncul, aku suka perasaan yang didalami di setiap perjalanan Rakel dan Yasmine. Dan happy ending nya, aku suka. 5 of 5 stars!

  • Ifnur Hikmah
    2019-03-28 21:54

    Setelah ibunya meninggal, Yasmine diajak pindah ke Swiss oleh ayahnya dan tinggal di sana. Yasmine punya satu tempat favorit, sebuah dermaga di pinggir danau Zurich. Dia biasa datang ke sana sepulang sekolah, sekadar untuk memotret atau melemparkan sandwich ke tengah danau untuk dimakan angsa. Di dermaga itu pulalah dia bertemu Rakel, anak laki-laki dengan senyum jail yang enggak pernah kehabisan bahan untuk menggoda Yasmine. Termasuk memotret Yasmine dengan zoom yang berlebihan.Suatu ketika, Rakel yang pada dasarnya sudah iseng memutuskan untuk masuk ke kelas Yasmine, padahal mereka beda sekolah. Yasmine memperkenalkan Rakel kepada kedua sahabatnya di sekolah, Dylan dan Elena. Dylan dan Elena terlihat kaget waktu bertemu Rakel, tapi Rakel hanya bilang mereka teman lama. Yasmine enggak percaya dan yakin ada sesuatu di antara mereka.Lalu, ketika Rakel mengajak Yasmine melakukan Agenda Musim Dingin, Dylan dan Elena merasa harus menyelamatkan Yasmine dari Rakel. Karena Rakel masih hidup di masa lalunya, masa lalu yang enggak diketahui Yasmine.Alright.Ini STPC Bukune pertama yang gue baca dan STPC ketiga secara keseluruhan *my bad*. Sejak awal, gue udah tertarik dengan novel ini karena setting yang enggak biasa, yaitu Swiss. Tapi gue sempat mundur karena belum kenal tulisan Alvi sebelumnya. Untunglah ketika hadiah menang lomba dari Bukune datang, gue dapat tiga STPC Bukune, salah satunya ini. Awal membaca, gue enggak menaroh ekspektasi apa-apa, hanya sekadar pengin senang-senang aja.But I found this book is mooooooore interesting. Surprisingly, I love this book so much. Gue enggak tahu apa faktor utama yang membuat gue menyukai buku ini. Entah setting Swiss yang cantik banget, ceritanya yang remaja banget dengan konflik berlapis, atau cara Alvi membawakannya? Entahlah. Intinya adalah gue suka banget sama buku ini. Dan, bikin gue kangen belajar Bahasa Jerman lagi. Untung Bahasa Jerman yang diselipin di buku ini masih gue mengerti tanpa harus lihat terjemahan jadi enggak ada yang mengganggu keasyikan gue baca buku ini.Gue pengin mengacungkan dua jempol atas riset luar biasa yang dilakukan Alvi. Juga kepiawaiannya menyelipkan detail lokasi tanpa membuat pembaca—khususnya gue—jadi kayak baca brosur wisata. Dan keputusan tepat membuat setting di musim dingin karena cerita yang sendu jadi semakin sendu dengan latar musim ini. Dan detail kecil terkait Swiss yang memperkaya cerita membuat cerita ini jadi makin hidup. Gue enggak tahu lagi harus berkomentar apa soal setting dan cerita. Two thumbs up.Tokoh-tokohnya pun lovable. Gue memang jarang bisa suka sama cewek menye-menye dan lebih suka cewek nyablak yang terkesna kuat. But somehow, gue suka kepolosan yang ditampilkan Yasmine. Enggak gengges, Alhamdulillah, haha. Gue juga suka Rakel. Oh no, I have a crush on him, he-he-he. Gue suka Rakel yang dibalik sikap jail dan to the point-nya ternyata menyimpan masa lalu yang sedih. Elena dan Dylan pun gue suka. Dan, gue berharap Dylan akan menemukan cintanya yang sebenarnya. Plis Alvi, bikin dong side storytentang Dylan, he-he-he.Gue suka gaya menulis Alvi. Jangan harap ada romantisme berlebihan di sini karena sepanjang buku yang ditulis Alvi adalah kisah keseharian yang sederhana, apa adanya, minus gombalan super romantis tapi justru terlihat sangat manis. Gue serasa baca buku terjemahan, which is, semakin memperkuat unsure luar negerinya. I like it.Ada beberapa bagian yang membuat gue menangis, terutama surat Kelly.Gue suka endingnya. Mungkin gue akan ilfil kalau ending Rakel dan Yasmine sempat bertemu karena itu akan terkesan mengada-ada. Untunglah enggak, ha-ha-ha.Tapi, gue juga punya sedikit keluhan. Selain typo yang yaudahlah ya, di luar kuasa Alvi juga. Buku ini terlalu minim dialog. Gue kurang menikmati proses jatuh cinta Yasmine karena lebih banyak disampaikan lewat narasi. Gue berharap ada tambahan interaksi dan dialog antara Yasmine dan Rakel sehingga proses jatuh cintanya lebih terasa.Tempo juga kurang terjaga dengan baik. Bagian awal terasa cepat banget lalu memelan di pertengahan dan akhir kembali cepat. Malah seperempat akhir ini tempo terasa sangat sangat sangat cepat. Untungnya sih masih bisa dinikmati.Overall, gue suka buku ini. mungkin gue sedikit mempertimbangkan untuk baca Dilema, he-he-he. Good luck, Alvi (dan karena buku ini gue baru tahu kalau Alvi itu cowok. Kirain cewek, haha).

  • Winda Fabiola
    2019-03-26 01:34

    Baru saja saya menamatkan membaca salah satu seri STPC ini, dan... lagi-lagi saya dikecewakan. Sebenarnya, saya berharap banyak untuk setiap seri STPC. Saya pikir, dengan latar tempat yang demikian bagus, ceritanya juga akan sama bagusnya. Tapi ternyata saya salah. Waktu saya membaca halaman-halaman pertama novel ini, saya kurang tertarik. Semakin saya membacanya, saya mulai berharap lebih, karena cerita semakin bagus. Tetapi menjelang akhir, harapan saya tak terwujud. Swiss bercerita tentang kisah antara Yasmine dan Rakel, tentang persahabatan dan kesalahpahaman, tentang kehilangan, serta tentang sekecap rasa yang bernama cinta. Kalau ingin tahu lebih lanjut, silahkan baca sendiri novel ini. Atau boleh pinjam kepada teman adik saya, karena saya juga meminjam novel ini dari dia.Sebenarnya, konflik yang terdapat dalam novel ini lumayan. Tapi sayang, menurut saya, masih kurang greget. Kok sepertinya hanya dibahas sepintas lalu kemudian dilupakan. Penyampaian konfliknya cenderung hambar. Datar. Itu pendapat saya, saya tidak tahu pendapat pembaca lainnya. Saya suka dengan bahasa yang digunakan dalam buku ini, tetapi sayangnya ada beberapa kata-kata dan kalimat yang mengganggu. Seperti di halaman 154:...tapi Yasmine hanya menolak ajakan mereka dengan cahaya kecil yang tak sempurna di bibirnya... Cahaya kecil yang tak sempurna? *hening* *mikirkeras* Itu maksudnya apa?Saya juga kurang sreg dengan karakter tokoh dalam novel ini. Yasmine terlalu... cengeng? Rakel... sebagai cowok, saya rasa dia terlalu... plin-plan? Ah, mungkin kak Alvi ingin menggambarkan Rakel sebagai sosok yang suka menyangkal perasaan sendiri, tapi yang saya tangkap bukan seperti itu. Lalu Dylan. Errr... di novel dikatakan kalau dia mau memperjuangkan cintanya, tapi kenapa dia malah bersikap sebaliknya? Dari segala interaksi kaku yang digambarkan dalam novel, saya samasekali tidak menangkap bagian mananya dari Dylan yang memperjuangkan cintanya. Untunglah tidak ada yang salah dengan karakter Elena. Saya cukup menyukainya.Kelebihan novel ini terletak pada kovernya (yang menurut saya sangat-sangat-bagus!) serta ilustrasi-ilustrasi cantik yang menghiasi halaman-halaman novel ini. Tetapi bagusnya kover dan ilustrasi tidak akan memengaruhi jalan cerita, kan? Oh, latar tempatnya juga bagus sekali. Dari dulu, Swiss selalu menjadi negara impian saya. Dan Zürich adalah kota pertama yang ingin saya kunjungi kalau saya berkesempatan pergi kesana. Penggambaran latarnya menurut saya sudah cukup bagus. Saya bisa membayangkan seperti apa kiranya tempat-tempat yang disebutkan dalam novel ini, meskipun saya yakin bayangan saya pasti jauh daripada yang aslinya. Ah, saya suka penggunaan bahasa Jerman dalam novel ini. Lumayan untuk menambah ilmu :p Meskipun saya cukup terhibur dengan novel ini, saya hanya bisa memberi 2 bintang. Maafkan saya, kak Alvi...

  • Biondy
    2019-04-13 18:00

    Judul: Swiss: Little Snow in Zürich Penulis: Alvi SyahrinPenerbit: BukunéHalaman: 308 halamanTerbitan: Juli 2013"Swiss: Little Snow in Zürich" bercerita tentang Yasmine, seorang gadis keturunan Indonesia-Swiss. Yasmine dibawa ke Swiss oleh ayahnya setelah ibunya meninggal. Di Swiss inilah dia bertemu dengan Rakel, seorang pria yang membuatnya jatuh cinta, serta Elena dan Dylan yang menjadi sahabatnya. Awalnya hubungan Yasmine dengan Rakel dan kedua sahabatnya berjalan mulus. Namun, tampaknya ada sesuatu di antara ketiga orang itu yang tidak Yasmine ketahui. Sesuatu yang dapat memengaruhi hubungan mereka berempat.Review"Swiss: Little Snow in Zürich" ini membawa sebuah tema yang sebenarnya "biasa" dan mungkin sudah cukup sering dijelajahi oleh penulis lainnya. Tentang seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang pria, lalu terseret ke dalam masa lalu kelam pria itu. You get the man, you get the dark side. Satu paket. Lalu ada juga tentang persahabatan dan teman-yang-ternyata-suka.Alvi membawakan sentuhan kota Zürich, serta gaya tulisan yang liris-melankolis sebagai bumbu dalam cerita ini. Saya suka dengan gaya menulisnya ini. Saya juga suka dengan prolog dan epilognya yang mengambil sudut pandang sebutir salju yang jatuh. Efek melankolis di novel ini kerasa banget, ya. Apalagi penulisnya memilih musim gugur dan dingin, palet yang membuat perasaan tambah sendu.Yang saya kurang suka dari novel ini adalah gaya POV-nya. Butuh sedikit usaha untuk mengikuti POV-nya karena penulisnya memakai gaya Omniscient (POV tahu segala). Selain karena bergerak dengan terlalu lincah dari satu karakter ke karakter lainnya, saya juga merasa suara para tokohnya terlalu mirip. Yasmine, Rakel, Elena, dan Dylan tidak punya kepribadian yang bisa membuat saya langsung paham ini narasinya siapa.Secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini. Ceritanya sederhana, tapi gaya narasinya lumayan enak. Saya suka banget sama ilustrasi di dalamnya. Jadi pengin ke sana setelah lihat ilustrasi tempat-tempat yang seperti keluar dari buku dongeng. ... salju yang membekukan, angin yang menusuk-nusuk tulang, jika cinta adalah dongeng yang indah, mengapa harus ada rasa sakit di dalamnya? (hal. 116)Buku ini untuk tantangan baca:-2015 Young Adult Reading Challenge- 2015 New Authors Reading Challenge- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge- 2015 100 Days of Asian Reads Reading Challenge

  • Rana
    2019-04-19 21:52

    "Kita tidak pernah saling membenci, hanya saling merindu."Klausa favoritku di novel ini. Yap, kata-katanya nusuk banget, menyadarkan manusia bahwa jika kita membenci seseorang, sebenarnya kita merindukan orang itu. Kebencian adalah cikal bakal dari rasa suka, kan? Makanya aku suka klausa ini.Lalu kenapa aku kasih bintang empat dari lima?Satu bintang hilang: karena menurutku konflik dalam cerita ini udah agak kebaca. Rakel yang melampiaskan rasa rindunya ke Kelly pada Yasmine, menganggap Yasmine adiknya, membuat Yasmine merasa dicintai, membuat Yasmine jatuh cinta, membuat Yasmine sakit hati. Agenda musim dingin itu, udah jelas itu milik seorang cewek yang ada di masa lalu Rakel. Yasmine gak sadar, tentunya. Di tengah agenda itu, rahasia Rakel terkuak. Buatku, itu udah agak kebaca. Jadi bisa dibilang aku kurang puas karena aku bisa nebak alurnya.Satu bintang pertama: salut buat epilog dan prolognya; sudut pandang salju yang bikin temen-temenku yang baca itu bingung dan nanya ke aku. Buatku, dua bagian itu adalah bagian terbaik. Kata-kata dalam dua bagian itu seolah-olah benar-benar mengajak pembaca untuk menjadi salju dalam cerita itu. Menjadi salju yang lumer di lidah Yasmine, salju yang penasaran dengan kisah cinta dua anak manusia di bawah hujan salju. Sudut pandangnya KEREN banget!Satu bintang kedua: karakternya gak begitu mainstream. Misalnya Rakel, yang kelihatan seenaknya tapi ternyata punya sisi manis dan jujur di balik semua itu sampai-sampai akhirnya dia mengutarakan perasaannya ke Yasmine. Yasmine, yang agak pemalu tapi baik banget. Elena, yang kelihatan seenaknya padahal dia paling peduli sama teman-temannya dan paling sering diajak curhat. Dylan, diam... diam... diam... tapi sekalinya jatuh cinta, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa "ingin membuat bahagia"-nya.Satu bintang ketiga: penjabaran yang bagus, meski ada beberapa yang membuatku bingung. Arena skate, gunung... akulupanamanya, danau Zurich, dan lainnya, aku suka. Danau itu, seolah-olah ada di depanku, dengan Rakel dan Yasmine di atas dermaganya, duduk menghadap danau sambil memunggungi satu sama lain. Itu... keren. Penjabaran dalam novel ini membuatku seolah-olah adalah kameramen cerita itu.Satu bintang keempat: aku suka konsepnya, di musim salju tapi gak mainstream seperti kebanyakan cerita dengan latar "winter".Pokoknya aku suka novel ini! Dan karena baca novel ini, kayaknya aku jadi kepingin baca novel Alvi yang lain XD

  • Ghyna Amanda Putri
    2019-04-12 19:43

    Saya baca buku ini... di angkot #pentingamat (curhat: 2 jam dari rumah ke kampus, lumayan tamat 1 buku). Oke, setidaknya baca buku ini bikin suasana angkot yang panas jadi dingin banget. I feel freeze when saw the cover #ahahaha.Nah, ini reviewnya!Why cuma 2 bintang, mbak sis? *ngomong sama kaca* Karena... bentar, saya tulis dulu apa yang saya suka dari buku ini. Ahem, pertama saya nggak tau yang nulisnya cowok #dor, dan rasanya baca ini unyu-unyu gimana gitu. Remaja banget, dan remaja bule yang rasanya terlalu dalam negeri. Mungkin nyari konteks aman ya, tapi entahlah saya sendiri nggak tau remaja di Swiss macam apa. Ah, tapi poin menariknya adalah bagian monolog sama epilog yang diambil dari sudut pandang sebutir salju. Metafora-nya keren, tapi saya malah jadi mikir kalau saljunya udah cair, terus dia mati nggak? (oke, ini nggak penting juga), tapi sudut pandang si salju ini emang poin plus banget karena emang jarang yang pake. Tiga, saya suka deskripsi suasaa freezing di Swiss-nya, ya itu... yang bisa bikin suasana angkot tetep dingin 8'DaEtapi!Ternyata ceritanya mungkin terlalu biasa (buat saya sih). Nggak ada letupan maha dahsyat yang bikin penasaran atau apa. Saya bacanya datar-datar aja, bahkan saya ngerasa nggak perlu saya selesein pun saya tau ending dan jalan ceritanya gimana. Tapi karena perjalanan dengan angkot itu panas sekali ya, pemirsa, jadi akhirnya saya baca terus sampai selesai. Dan benar, nggak ada hal-hal luar biasa yang bikin saya tepuk tangan (ya ngapain juga tepuk tangan?) atau ngerasa wow gitu. It's me, saya yang emang kadang suka bacaan yang agak 'belok'.Kesannya dari awal, mungkin kita emang dibuat bertanya-tanya sama 'masa lalu' Rakel kenapa dia begini dan begitu. Tapi ternyata, biasa aja :|a Ekspektasi saya dia agak yandere gimana gitu #oi, atau emang over-protective tapi I didn't get that feel. Yasmine juga sebagai heroine rasanya bukan tipikal kesukaan saya. Padahal saya berharap banyak juga sama Dylan, atau Elena yang nggak cuma jadi sebatas 'teman bijak'. Sayangnya, nothing. Bahkan endingnya pun sesuai prediksi.Jadi yah begitulah. Untungnya saya nggak berekspektasi lebih. Plus poin, ilustrasi di bagian layout-nya keren, sayang ada yang nabrak teks.

  • Watin Sofiyah
    2019-03-30 18:41

    Ini adalah novel karya Alvi Syahrin yang pertama saya baca.Awal membeli novel ini karena saya suka sama musim salju dan saat melihat covernya juga membuat saya tertarik untuk membelinya. Akhirnya, saya membeli novel ini :)Saat membuka plastiknya, saya terkesan sama kertas berbentuk amplop itu juga desain sketsanya *applaus buat desainer bukunya* itu keren banget ><Kedua, saya terkesan sama prolog tentang butiran salju itu, itu prolog yang bagus.Dan cerita Yasmine dan Rakel, sepasang remaja yang saling jatuh cinta di dermaga Danau Zurich. Saya suka karakter mereka, mencerminkan karakter remaja. Ya... taulah remaja Eropa itu kan saat berbicara memang terlihat lebih tua dari usianya *saya dapatkan dari hasil menonton film* jadi wajar saja jika ada potongan dialog mereka yang tak menggambarkan usia mereka.Konflik persahabatan di sini juga bagus, tiga sahabat yang dulunya bersahabat sangat baik, namun karena kematian adik Rakel yang menjadikan konflik di antara tiga sahabat itu terjadi. Saya suka penyelesaian masalahnya saat mereka berkumpul di dermaga dan mulai menyelesaikan masalahnya. Itu mengharukan sekali.Dan, ada juga yang tidak terlalu saya sukai dari novel ini dan cukup membuat saya bingung. Pertama, tentang kematian adik Rakel, bagian ini bisa dikatakan menarik karena mengundang tanda tanya tentang catatan daftar apa saja yang akan dilakukan yang dibuat oleh adik Rakel, tp saya merasa ada yg janggal saat adik rakel meninggal dan rakel menyalahkan Dylan. Dan saat ibu Rakel mengajaknya pindah ke New York, kalau memang ingin menyelamatkan Rakel dari masa lalu, kenapa tidak sejak kematian adiknya saja beliau sudah melakukan itu?Baiklah, saya hargai itu karena itu adalah ide penulis. Saya pun belum tentu bisa menulis cerita sebagus novel Swiss dengan feel yang membuat saya mampu berimajinasi saat itu juga. Dan keunggulan lainnya yang mampu membuat saya kagum *lagi* pada gaya penulisan Alvi Syahrin adalah beliau menulis bagian Rakel dan Yasmine dengan adegan yang manis dan sesekali membuat saya tersenyum membacanya :)Dan semoga saat saya membeli novel Dilema, saya akan menemukan gaya menulis beliau seperti di novel Swiss ini:)

  • Silvia Natari
    2019-04-07 18:00

    I'm done with these cool book, covered!:-) Two thumbs up deh buat Alvi Syahrin for writing this another good book, yeah I'm googling for your other books, anyway.Kisah tentang seorang laki-laki yang kesepian dan seorang perempuan yang sedang jatuh cinta. Sukses, buat saya out of blue, menyentuh banget, ikut sedih lah baca kisah cinta Yasmine, yang salah mengarikan sikap manis Rakel, yang ternyata ia hanya media untuk membangkitkan kenangan masa lalu Rakel bersama adiknya, Kelly yang telah tiada. Yasmine sedih, kecewa, sakit hati namun rasa rindu dan cintanya pada Rakel tak kan bisa pernah padam, walau she had been always trying, dan mencoba menjalin hubungan dengan Dylan, pria yang tulus mencintainya. Namun, sedikit pun ia tak bisa mencintai Dylan. Meski, Elena, terus menyakinkannya.Yasmine jatuh cinta tuk kedua kalinya pada orang yang sama. Masih Rakel dan akan selalu Rakel. Namun, kali ini sepertinya bumi berpohak padanya, salju-salju di Zurich entah kenapa menghangatkannya walau di tengan guyuran hawa dingin yang luar biasa dingin. Asal dengan Rakel- Yasmine membatin. Pertemuan mereka untuk kedua kalinya, menyadarkan Rakel bahwa sebenarnya perasaan Yasmine tidak bertepuk sebelah tangan."Ich liebe dich"- aku mencintaimu- bisik Yasmine waktu itu, salah sekali jika Rakel menyangkalnya karena saat ini, ia sangat teramat rindu akan gadis dengan kamera yang menggantung di lehernya- percis seperti Kelly, namun kali ini perasaannya tidak lagi atas dasar mengingatkannnya akan adiknya, namun ini murni karena ia mencintai Yasmine.Namun, tampaknya Zurich bukan tempat yang tepat untuk cinta mereka, karena sesaat setelah itu, Rakel harus meninggalkan Zurich, yang artinya harus meninggalkan Yasmine, dan berarti kembali menorehkan luka masa lalu Yasmine- kehilangan.Suka sekali cara Alvi, menuturkan kisah ini. Apalagi, bagian prolog dan epilog, yang mengambil sudut pandang si 'salju' di Zurich, dimana itu sangaaaaat keren! Yey. Serasa, ikut berada di Zurich, menikmati salju-salju saat membaca kisah Rakel dan Yasmine. Oke, gak tau mau bilang apalagi selain KEREN KEREN KEREN!Recommended deh! :-)

  • Ruri Alifia Ramadhani
    2019-04-05 22:50

    Dear Kak Alvi,saya suka sekali sama prolog saljunya. Bener-bener menarik saya untuk membaca sampai tuntas(meskipun nggak sekali baca, sih)! Saya suka deskripsi Kota Zurichnya. Saya suka kekonyolan Rakel dan most of all, saya jatuh cinta sama ilustrasinya. Ini ilustrasi #STPC favorit saya, heuheu.Dari segi plot, entah mengapa menurut saya terlalu biasa, ya. Saya kelewat bosan malah. Ada beberapa waktu dimana saya akhirnya mendiamkan buku ini, lantas mengambilnya lagi karena nyesel meninggalkan cerita setengah jalan. Selain karena sudah kepincut sama ciri-ciri Kak Alvin dalam bercerita(Yes, meskipun ceritanya datar, storytellingnya memuaskan, kok). Satu hal yang mengganjal sepanjang cerita adalah... Dialog-dialognya yang kelewat dewasa. Tokoh-tokoh di sini baru berumur 16 tahun tapi mengapa obrolan mereka kelewat kaku, ya, Kak? Dan,(oke, ini ketularan gaya cerita Kakak, kikikik) kenapa Yasmine cuma jadi sekedar tempelan? Kenapa latar-belakangnya cuma dijelasin sekilas aja? Saya masih bingung bagaimana asal-muasal papa Yasmine bisa nyasar ke Indonesia, lho.Terus, Kak... Saya kasihan sama Elena. Kenapa hubungan dia nggak diekspos sama sekali? Hubungan cinta maksudnya. Kenapa dia cuma jadi penolong Yasmine aja? Lagi-lagi, saya penasaran sama ceritanya si Elena ini. Atau mungkin akhirnya dia milih Dylan(Oke, yang ini kayaknya nggak mungkin)?Terakhir, endingnya kurang greget! Akh, kurang memuaskan, Kak! Kenapa cuma kayak gitu doang? *histeris teriak-teriak nggak jelas*Kayaknya cuma segitu aja, deh. Hubungan sebab-akibat dari cerita sudah cukup dan logis sehingga saya cukup terlarut meskipun--jujur--masih belum mencapai klimaks dalam menyentuh perasaan. Keep writing, Kak!1 bintang untuk ilustrasinya.2 bintang untuk ceritanya.3 bintang dari lima bintang.

  • Karst
    2019-03-31 18:38

    Saya belum pernah baca Dilema, jadi yaaa nggak bisa membandingkan .__.Sejak pertama kali berburu STPC, saya akhirnya beli Swiss. Langsung aja deh yaaaa.(+)1. Suka banget sama deskripsinya, bahkan mulai dari prolog. Penjabaran Alvi seperti film, membuat saya bisa membayangkan dengan sangat jelas, seperti kamera film yang mengambil dari sudut tertentu (kaki yang bergoyang-goyang, ujung dermaga, danau biru langit). Banyak repetisi kata. Di satu sisi menolong untuk menegaskan dan memperjelas latar, di sisi lain bisa membuat pembaca terjebak dengan kebosanan. Untungnya saya kena yang pertama :)2. Permasalahannya sesuai dengan remaja seumuran tokoh-tokoh yang ada. Nggak berlebihan, tapi nggak sederhana juga. Pas. 3. Saya suka tokoh utamanya nggak digambarkan dengan sempurna. Kekurangan Rakel cukup membuat saya menganggap dia 'jerk' :)) dan Yasmine pun punya kelemahannya tersendiri. Begitu juga Dylan. Sedangkan Elena selalu netral. 4. Kesan persahabatannya dapet banget.(view spoiler)[(-)1. Yasmine terlalu cepat jatuh cinta sama Rakel. Ini agak subjektif sih, tapi saya bener-bener nggak dapet feeling Yasmine-nya. Mungkin karena baru diajak ke beberapa tempat, terus Yasmine udah menyimpulkan kalau dia jatuh cinta. Untuk seorang gadis yang belum pernah pacaran (atau belum pernah jatuh cinta? saya lupa), menurut saya terlalu cepat. Sedihnya Yasmine jadi nggak dapet sama sekali. Saya malah lebih terkesan dengan persahabatan Rakel-Elena-Dylan. 2. Ini subjektif (lagi). Kalau nggak salah Rakel menganggap perasannya lebih dari cinta, ya? Nggak salah sih, tapi untuk anak umur 17-18 tahun agak dewasa aja kalau sampai lebih dari cinta. Umur segitu aja kadang belum bisa bedain cinta.(hide spoiler)]Kayaknya itu dulu deh. Maaf kalo subjektif :)

  • Rendi Febrian
    2019-04-16 20:57

    To be honest, this book is so annoying. Atau mungkin karena gue bukan tipe orang yang suka cerita kayak gini. Entahlah... gue nggak terlalu menikmati buku Alvi Syahrin yang satu ini. Bacanya pun menghabiskan waktu selama dua minggu. Saya beli buku ini di Bali dan baru selesai ketika saya di Palembang.Snow-whatsoever itu menceritakan tentang Yasmin dan Rakel. Lalu bla bla bla yawn! Gue nggak bisa mendeskripsikannya lebih panjang lagi, karena sudah banyak review yang ngelakuin hal itu. Yang ingin gue sampaikan adalah... betapa gue sangat menyayangkan sifat Yasmin yang begitu lemah (dalam artian, dia itu agak kayak cewek gatal-ew times one!). Beneran deh, gue baru sadar kalau ada cewek yang kayak gitu. Di lingkungan gue juga ada tuh cewek menye, tapi nggak segitunya juga kaleeeee!Too much hiperbolis! Gue nggak suka--nggak suka--sekali lagi--nggak suka! Yasmin, you have to grown up, please! Dan si Rakel ini, serius kan kalau dia itu seorang 'cowok'. Kok sifat plin-plannya kayak cewek ya? Malah gue mikir nih ya, si Yasmin yang cowok karena berani gatal dan si Rakel yang cewek karena malu-malu guk-guk!Agak kesel aja sih sama mereka berdua. Gue kasih dua bintang karena covernya yang warna biru muda gitu, le o le ole! Warna kesukaan gue banget [Nggak ada yang nanya!]Sedangkan yang satu lagi buat dua sahabat Rakel yang dewasa itu.Kalau masalah alur dan tetek bengek penulisan lainnya, masih ada beberapa hal yang ngebuat gue yawn agak lebar. Boing! Ew times two!Tapi bagi orang yang suka cerita mellow-hoam-drama kayak gini boleh lah! Silahkan aja. Lagi pula buku ini masih keren kok, asal Yasmin dan Rakel nya nggak jadi pemeran utama. Lho!

  • Alfian Daniear
    2019-04-20 20:47

    Saya sempat menunggu lama sebelum novel ini akhirnya terbit :)Sekadar cerita pembuka, novel ini memiliki keterkaitan tak tampak dengan novel perdana yang saya tulis (terlanjut kesebut, mungkin ini promosi terselubung - tapi saya nggak sebut judul lho :D ).Jadi, bulan Januari 2013 lalu saya sempat kontak dengan Alvi. Kebetulan kami tengah menggarap draft masing-masing. Waktu itu kebetulan yang tak disengaja, kami memilih sudut pandang bukan manusia untuk prolog dan epilog novel kami masing-masing. Saat itulah akhirnya kami saling sharing untuk eksekusi pada draft kami. Saya ingat, Alvi ingin membuka ceritanya dari sudut pandang sebutir salju. Dalam benak saya, itu hal yang terbayangkan begitu syahdu (ceileh, he he). Dan setelah menunggu lebih dari setengah tahun, akhirnya saya bisa membaca hasil eksekusi Alvi di novel ini.Begitu membaca prolog, hati saya langsung setuju kalau Alvi berhasil memenuhi harapan saya tentang syahdunya penceritaan dari sudut pandang sebutir salju. Memasuki isi, saya tetap suka bagaimana Alvi mengantarkan kisah-kisah para tokoh yang dibuatnya pada pembaca. Halus dan mengalir. Meski saya ngerasa konflik ceritanya masih kurang nonjok, he he. Bagian epilog berhasil menutup dengan pas (memenuhi harapan saya). Yeah, harus diakui, hal paling menonjol dari novel ini justru teknik penceritaan di prolog dan epilog.Ini novel kedua Alvi. Tema yang diusung masih kuat tentang persahabatan. Semoga Alvi berani mendobrak sesuatu yang beda di novel yang ketiga (dapet bocoran sih katanya sedang ditulis):)

  • Rizky
    2019-04-18 19:35

    Aku mengenal penulis dari salah satu grup di fb, dan pas tahu alvi juga ikutan proyek STPC , aku memasukkan SWISS di salah satu "Want to read".Walau ini adalah buku kedua alvi, tapi ini pertama kali aku membaca karyanya. Setelah berhasil menamatkannya, aku cukup terkesan dengan gaya bercerita alvi.Yang kusuka dari Seri Setiap Tempat Punya Cerita baik bukune maupun gagas adalah kita seakan diajak berbagi kisah dengan para tokoh di sebuah kota. Dan alvi memilih Swiss. Aku cukup terkesan, karena aku baru pertama kali membaca novel dengan setting ini, dan memang jarang banget diambil. Setting yang dibangun pun cukup memanjakanku, seakan diajak berpetualang bersama Yasmine dan Rakel di Zurich. Good job, alvi :)Aku suka dengan prolognya, unik banget, mengambil sudut pandang dari "salju", pembuka yang manis dan menarik. Sebenarnya cerita ini ringan, tentang cinta yang terbangun perlahan dikala musim dingin, saat salju turun, antara Rakel dan Yasmine, juga tentang persahabatan yang retak dimasa lalu karena sebuah keegoisan dan kesalahpahaman. Cara bercerita alvi mengalir, diperkuat dengan settingnya, membuat novel itu tidak membosankan. Hubungan antara Yasmine, Rakel, Elena dan Dylan pun perlahan-lahan mencair bersama salju yang turun, diwarnai dengan agenda musim dingin, dan aku suka agenda yang ke-4.Walau memang ada sedikit typo di beberapa halaman, tapi tidak terlalu menjadi masalah. Overall, kisah Yasmine-Rakel aku suka dan tidak sabar untuk membaca novel debutnya alvi yang Dilemma :)

  • Dinur Aisha
    2019-04-09 00:35

    sebenernya udah selesai baca buku ini sejak 2 minggu yang lalu, tapi baru sempet buka internet lagi sekarang karena urusan-urusan anak kelas 10 yang menyita waktu sekaligus membebani mental.apa ya... novel ini tuh sebenernya bagus. apalagi latar belakang tokoh Rakel. tapi entah kenapa aku kurang bersimpati sama semua tokoh dalam cerita ini. mungkin karena selain Rakel, semua tokoh yang lain nggak punya latar belakang apa-apa selain nama mereka. itu terserah penulisnya juga sih...dan selama membaca buku ini, aku sama sekali nggak menganggap mereka sebagai anak-anak berusia 16, melainkan 20an. aku baru akan nyadar kalau mereka anak remaja tiap kali disinggung mengenai sekolah mereka aja. susah ngebayangin anak-anak seumuran aku udah mengalami masalah batin sepelik itu dan berbahasa sedewasa itu.klimaksnya juga kurang terasa. entah kenapa aku nggak nangis sama sekali. mungkin ini salahku juga yang baca buku ini pas banget disaat aku lagi jenuh sama mainstream romance. huhu maaf. :(akhir kata, buku ini buku bagus. penulisannya puitis dan indah. cuma kadang-kadang agak terlalu 'indah' sampai-sampai aku nggak ngerti ini maksud penulisnya apa menulis seperti ini...3 stars. :)

  • Kya
    2019-03-31 19:37

    Novel ini nih yg bikin aku penasaran dari akhir thn kemaren :)Pertama, aku lebih suka gaya penulisan Kak Alvi di novel ini. Menurutku gaya penulisannya lebih halus dan lembut daripada di Dilema.Kedua, Untuk segi cerita sudah bagus, berasa banget Swiss-nya :D jadi pengen kesana saat Musim Dingin, tapi menurutku tidak lebih baik dari Dilema :)Ketiga, Ntah apa, tapi ada 2 scene cerita ug bikin aku bingung dan harus membaca ulang beberapa paragraf, mungkin aku-nya yg lagi ga konsentrasi kali ya? Ntahlah.Keempat, konfliknya lebih rumit dan emosi tokoh kurang berkesan. aku terharu di #15 & #25, tapi ga berasa apa2 di scene #24 yang menurutku seharusnya jadi klimaks para cewek melumerkan air mata. Ada sesuatu yg kurang disitu tapi sulit dijelaskan dengan kata2.Kesimpulanku, gaya penulisan Kak Alvi jelas keliatan sudah meningkat dan cenderung mengarah ke novel Ai karya Winna Efendi, ntah karena menggemari karya2 beliau atau apa yg jelas aku suka gaya itu. Dan sayangnya, keterlibatan emosi yang lebih kuat di Dilema jadi terabaikan.Terakhir, karena tema-nya Setiap Tempat Punya Cerita bagiku Kak Alvi dah sukses dengan novel ini. knp? karena Kak Alvi dah berhasil membawaku ke Swiss dalam dunia khayal :DGood Job, Kak! Ditunggu naskah selanjutnya ;)

  • Vivie Sitorus
    2019-04-16 21:55

    Swiss adalah buku Alvi kedua yg saya baca. Kesukaan saya dengan negara swiss membuat saya langsung mupeng waktu bukune melabeli cooming soon di buku ini. Surprise-nya adalah, penulis buku ini adalah Alvi, maka ga perlu babibu lagi buat gotong buku ini ke kasir. Sebelumnya saya ga mau spoiler tentang swiss, cuma mau komentar aja.Alvi sangat mahir menjelaskan setiap spot hingga waktu ngebacanya saya ngerasa beneran di swiss. Cocok juga buat referensi saya yg memang payah dalam hal deskripsi setting. heheheAlurnya apik. Mengalir dan sangat enjoy ngebacanya. Pokoknya swiss bisa bikin saya senyum-senyum sendiri. Hanya saja proses jatuh cinta dalam kisah ini terlalu cepat. Kekurangan lainnya dalam swiss adalah, ng... Cuma kurang suka aja dibagian-kalaugasalahdiceritakanYasmine-membandingkan Jakarta-yg gabanget-dengan swiss-padahal selain keburukan yg ga cuma Indonesia yg punya, banyak hal baik dari Indonesia yg bisa diceritakan.Oke, selain itu, novel ini sangat direkomendasikan. Ditunggu karya kamu selanjutnya Al ;D *peace

  • Jessica Ravenski
    2019-03-25 23:52

    Pertama, aku suka dengan prolog dan epilog yang menurutku sangat manis :)Kedua, aku suka dengan segala detail setting Swiss-nya. Berasa kepengen duduk di dermaga-nya deh ._. Dan btw, rasa salju itu gimana ya? Di Indonesia ga ada salju sih..Dari segi cerita dan konfliknya, menurutku enggak terlalu 'berat' ya. Tapi gaya penulisan kak Alvi ini bener-bener lembut, mendayu-dayu loh, demen sih bacanya (walaupun sambil ngerjain tugas sekolah yang sebarek-abrek).Nah, aku kasih 4 bintang, karena aku ngerasa kan Yasmine, Dylan, Rakel, dan Elena ini umurnya 16 tahun tapi kok yang ada di bayanganku mereka udah >16 tahun. Abisnya aku udah 16 tahun tapi ga se-dewasa mereka sih. Dan kedekatan Rakel dan Yasmine menurutku sih agak terburu-buru. Tapi itu cuma opiniku aja sih ya, enggak tau deh sama opini pembaca lain (:Typo ada sih, cuma ga mengganggu kok. Ehmmm, apalagi ya. Segitu dulu deh, nanti kalo ada yang kelupaan aku tambahin lagi (:

  • Hime Sutomo
    2019-04-12 21:48

    Sorry to say, dari semua seri STPC yang saya baca so far, ini yang paling 'datar'. Mulai dari konflik cinta antara Rakel sama Yasmine yang kayaknya sinetron dan childish banget, sampai di penggambaran setting yang kurang menggigit. Oke, saya salut sama Alvi Syahrin yang berani mengambil setting tempat yang jarang-jarang banget disentuh penulis Indonesia; Swiss. Tapi beda dengan buku-buku dari seri STPC yang lain, saya nggak bisa dapet suasana 'Swiss' nya sama sekali di buku ini - mungkin apa karena Swiss itu sendiri yang sulit digambarkan? Karena nggak lama setelah saya baca buku ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi Zurich dan...yah, kota itu bener2 terlalu teratur, terlalu rapi, dan biarpun saya di pusat kota di siang bolong dan banyak orang lalu lalang, it's still too quiet. Beda sama kota-kota Eropa lain yang bener2 bustling with people dan begitu banyak warna. Susah juga buat digambarkan secara 'seru' dalam tulisan kayak di buku-buku seri STPC lainnya, jadi saya maklum.

  • Cindy Pricilla
    2019-04-18 22:50

    Jelas sekali di buku ini, teknik menulis si penulis meningkat dan berkembang dari buku pertamanya, Dilema.Saya suka deskripsi kota Swiss nya. Narasi dari sudut pandang salju di prolog dan epilog nya juga menarik.Konfliknya sih hampir sama kayak buku Dilema, intinya cinta segitiga, cuma yang ini lebih rumit.Plotnya juga bisa ditebak heheNamun, terlalu banyak deskripsi tokoh ataupun tempat yang diulang-ulang, saya sampai hafal bagaimana fisik Yasmine dan Rakel.Hal yang membuat saya menyukai buku ini, yaitu gaya menulisnya, cenderung puitis, sendu, teknik enter dan pakai titik-titik yang semakin mengaduk perasaan hehe, pokoknya baca buku ini berasa 'dingin' karena settingnya musim dingin.Ok, goodjob buat penulisnya! Ditunggu buku berikutnya dengan ide cerita yang berbeda.4 stars means I really like it :)

  • Muhammad Rajab
    2019-04-16 23:39

    jika boleh membandingkan, saya cenderung lebih suka gaya penulisan Alvi di karyanya terdahulu; Dilema. dalam novel tersebut Alvi menulis dengan lincah.untuk karya keduanya ini, saya mendapati Alvi berkisah dan mendeskripsikan kota Zurich, Swiss dengan baik dan indah.saya juga suka mengenai idenya tentang 'agenda musim dingin keempat' yang dilakukan Yasmine pada Rakel.endingnya mengingatkan saya pada Dilema, (view spoiler)[dua orang yang saling jatuh cinta bertemu kembali setelah berpisah sementara sekian tahun. (hide spoiler)]mungkin karena Alvi menyukai konsep 'pulang'.--selalu kunanti karya-karyamu selanjutnya :)

  • Ruly Marifanti
    2019-04-19 23:53

    Swiss adalah novel kedua karya Kak Alvi yang aku baca, dan aku jauh lebih menyukai ini daripada Dilema :)Dari awal sudah terpikat dengan prolognya yang unik dan manis.Sangat nyaman membaca novel ini lewat penuturan Kak Alvi yang indah dan lembut. Memang temponya agak lambat, tapi tidak membosankan.Aku menikmati kebersamaan Yasmine dan Rakel. Aku juga terharu dengan kisah masa lalu Rakel. Tapi, tokoh favoritku di novel ini adalah Dylan. Entah kenapa, suka sekali dengan pembawaannya yang tenang dan berjiwa besar :)Oh iya, cover dan gambar ilustrasi di dalamnya patut di acungi jempol. Keren!So, tentu saja aku akan menunggu karya Kak Alvi Syahrin selanjutnya :)

  • Nur Fauziah
    2019-04-17 18:52

    Alviiiiiiiiiii........ akhirnya aku bisa buka GR juga & ngerating buku ini.Jadi inget deh waktu pertama kali baca Dilema. Ngeratingnya juga dari laptop temen, abis itu lupa sign out (kebiasaan) terus besoknya nggak bisa dibuka lagi. Tapi untungnya ditolongin temen bisa sih. Jadi curhat gini ya aku.Dibanding Dilema, aku sangat suka cerita ini. Emang sih, cerita di Dilema lebih seru. Tapi menurutku cara Alvi nulis di sini jauh lebih enak untuk diikuti. Aku suka cerita tentang saljunya. Terasa dingin tapi juga hangat.Dan jadi pengin duduk-duduk di dermaga gitu deh. Kayaknya enak buat ngegalau gitu ya.Ditunggu novel selanjutnya ^^

  • Fania Hanny
    2019-04-07 21:53

    Cerita yang sangat manis dan lembut hihi..Saya sangat terkesan dengan novel Swiss ini.Dan ternyata endingnya bikin saya nangis karena terharu.Dan quotes yang paling saya suka sih bagian "Sekarang aku belajar satu hal; aku tidak perlu pergi jauh-jauh untuk menemukan apa yang aku cari. Karena orang yang kucari selama ini sudah berdiri setia di sampingku, menanti kepastian, tetapi aku sempat tidak menyadarinya. Aku menyayangimu, dan perasaan ini jauh lebih kuat dari cinta"Good Job bang Alvi :)

  • Endah Taufik
    2019-03-28 01:44

    Penuturan ceritanya menyenangkan. Deskripsi latar dan pemilihan katanya suka banget! Sukses ngebawa kita terbang ke Zurich! Sketsa di dalamnya juga oke banget.Tapi agak kurang suka dengan alur perpindahan sudut pandang penceritaannya. Misalnya di satu kalimat masih menceritakan Yasmine dari sisi Yasmine, tapi kalimat berikutnya menceritakan Rakel dari sisi Rakel. Menurutku sih enaknya nyeritain Rakel dari sisi Yasmine. Kalau mau dari sisi Rakel dikasih jeda dulu.

  • andini
    2019-03-21 18:39

    Alvi Syahrin membuat kisah cinta yang berbeda. Pada prolog dan epilog novel ini disajikan dalam sudut pandang setetes salju yang turun. Yang menarik adalah isi ceritanya yang membuat kita penasaran atas sikap Rakel, walaupun permasalahan yang dialami Rakel sebenarnya terlalu berlebih-lebihan jika ia harus memusuhi kedua orang temannya hanya karena Dylan tidak pernah membalas SMS dari adiknya.Jalan ceritanya cukup ringan dan mudah dicerna :)

  • Audreyna
    2019-04-01 23:55

    I feel like I should explain why I gave it one star. Great words; enak dibaca, dan penggambaran+deskripsi yang jauh dari jelek. But I just really really really don't care about the characters. At the second half I just want it to end already. Also, the pace became REALLY slow at the end. Great at the start, boring at the end.

  • Tia Halim
    2019-04-17 19:45

    Kalau dihayati,berasa lagi jalan-jalan di Swiss,berasa duduk didermaga sambil ngerasain tiap butir salju yang jatuh dari langit dimusim dingin.This book is not only about a girl and a boy, not only about love but this books is also about friendship,about family,about losing,about hopes. worth to read!