Read Bittere Oogst by Shahnon Ahmad A.C.J.M. Schnijder Sjef Theunis Online

bittere-oogst

Bittere oogst is het verhaal van de kleine boer in het huidige Maleisië, wiens levensomstandigheden weinig bekend zijn en over wie weinig wordt geschreven. De Maleise boer van vandaag is iemand met een levenswijze die niet veel verschilt van die van zijn voorouders, nog steeds volkomen afhankelijk is van het land en vertrouwt op traditionele gereedschappen en technieken.BiBittere oogst is het verhaal van de kleine boer in het huidige Maleisië, wiens levensomstandigheden weinig bekend zijn en over wie weinig wordt geschreven. De Maleise boer van vandaag is iemand met een levenswijze die niet veel verschilt van die van zijn voorouders, nog steeds volkomen afhankelijk is van het land en vertrouwt op traditionele gereedschappen en technieken.Bittere oogst is ook het verhaal van de nooit-eindigende strijd van de mens tegen de hem omringende natuur. In de wanhopig ongelijke strijd voor een karig bestaan vormen een stuk land, zijn lichaam, zijn vrouw en zeven dochters Lahoema’s enige bezit De strijd gaat altijd door, de resultaten zijn miniem. Zijn geloof in God is zijn enige kracht en troost. En hij weet alleen dat hij de volgende generatie moet leren de strijd voort te zetten.Ten slotte is Bittere oogst een parabel over fatalisme en de kracht van het boek ligt in het vakmanschap waarmee het verhaal wordt geplaatst in het grotere kader van de strijd van de mens om zijn bestaanShahnon Ahmad is in 1933 geboren in een klein dorpje in het noordwesten van Maleisië. In 1971 promoveerde hij aan de Australian National University te Canberra op de Zuidoost-Aziatische beschaving. Sinds 1956 schreef hij zes romans, diverse korte verhalen, toneelstukken en een groot aantal artikelen over Maleise literatuur....

Title : Bittere Oogst
Author :
Rating :
ISBN : 9029395117
Format Type : Paperback
Number of Pages : 175 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Bittere Oogst Reviews

  • Steve
    2018-11-29 04:50

    Fear. Body-sapping hard work from dawn until dusk, day after day, year after year. Ignorance, superstition, envy, the narrowest of horizons. And fear.Welcome to the life of the poor Asian rice farmer, in fact, the life of most of humankind until relatively recently.Shahnon Ahmad (b. 1933) was born and grew up in the Malaysian village that is the setting of Ranjau Sepanjang Jalan (Traps Along the Way - 1966) before he received a university education in Australia (but not until 1971), was elected member of parliament and became an important author (the most important, according to some sources) in his home country of Malaysia. And so, in this story of a small rice farmer and his family, Ahmad is writing straight from the heart. Yes, this portrait of the struggles of the small, nay, miniscule farmer against the insects, weeds, giant leeches, white crabs, rats, birds, cobras, boars, weather and other men who continually threaten the sole means with which he can keep his wife and seven children alive is so distant and irrelevant to the lives of Goodreaders that I hesitate to bring it to your attention. This man, who can barely read, who lives in a bamboo two-room hut and sleeps with his entire family on a grass mat on the floor, who knows of nothing outside of his village, and who, in order to attempt to master his constant fears, continually tells himself that it is all in Allah's hands - this man could almost seem to be of another species.Except that Ahmad, with exactly the right tone, with exactly the right distance, with exactly the right sensitivity, with exactly the right perspective, makes that man and his family the center of the reader's hopes and cares. The very few matters of importance in their lives arise again and again, a chant of few words repeated infinitely often. A chant that breaks bodies and spirits.An intense, excruciating read. (*) Dato' Haji Shahnon bin Ahmad, to give him all of his titles. Rating http://leopard.booklikes.com/post/902...

  • Muhamad Fahmi
    2018-11-28 03:51

    Kisah suka duka perjalanan hidup Lahuma dan isterinya Jeha bersama tujuh orang anak mereka. Hidupnya ibarat kais pagi makan pagi, mengusahakan relung bendang pusaka keluarga. Permulaan plot novel yang menampakkan segalanya akan berakhir dengan penamat yang gembira kerana Lahuma seorang yang optimistik dan selalu bertawakal kepada ALLAH setelah berusaha sehabis tenaga. Ternyata tekaan salah. Sungguh menyayat hati dan tragis sekali nasib Lahuma di tengah-tengah jalan cerita sehinggalah penghujungnya termasuklah nasib yang dialami isterinya.SN Shanon Ahmad berjaya membuatkan pembaca hanyut dengan ranjau-ranjau yang berliku, terpaksa ditempuhi oleh keluarga Lahuma, sesuai dengan tajuk novelnya, RANJAU SEPANJANG JALAN, disulami bahasa-bahasa sastera yang indah dan puitis serta jarang-jarang dijumpai.Berlatarbelakangkan suasana kehidupan masyarakat kampung dan bendang yang indah, kekuatan novel ini juga ada pada hubungan kekeluargaan yang setia bersama mengharungi susah payah dan tolong menolong antara satu sama lain daripada Lahuma sehinggalah kepada anaknya yang paling kecil yang seakan-akan memahami keadaan keluarga mereka tanpa ada timbul rasa putus asa yang wajar dicontohi setiap keluarga. Lepas membaca kisah susah payah petani ini mengusahakan tanaman mereka, terasa insaf pula hendak membazirkan nasi.Novel yang tidak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas. Sesuai dibaca sepanjang zaman dan semua peringkat umur.

  • Amin H
    2018-12-09 06:57

    mati terpijak duri nibung.kemudian menjadi gila kerana menimbang bimbang yang maha.apa lagi dugaan yang lebih hebat yang akan datang?saya fikir, shahnon benar-benar 'kejam' dalam setiap ceritanya. kerana setiap cerekanya membawa pembaca ke satu alam yang tidak indah, penuh penderitaan.

  • Zulhilmi Zakaria
    2018-12-17 07:08

    Membaca Ranjau Sepanjang Jalan (1966) karya SN Shahnon Ahmad benar-benar membawa saya kedunia yang lain. Mengubah cara saya melihat kehidupan disamping bersyukur dengan kesenangan yang ada pada harini. Novel ini memaparkan kehidupan pasangan suami isteri, Lahuma dan Jeha, serta tujuh orang anaknya, Sanah, Milah, Jenab, Semek, Liah, Lebar dan Kiah yang mengharungi kehidupan yang sukar demi mencari sesuap nasi.Latar bertempatkan suasana kampung, sawah padi, dan keadaan sosial masyarakat agraria desa yang bertarung dengan kehidupan menggiatkan tanaman padi yang mencabar. Keluarga Lahuma dan Jeha menjadi subjek utama plot penceritaan novel ini. Ia menggambarkan kecekalan Lahuma dan isterinya mencari rezeki walaupun kais pagi makan pagi, kais petang makan petang demi membuncitkan perut ketujuh-tujuh anaknya sehingga besar.Kekuatan pegangan pada qada' dan qadar ALLAH s.w.t membuatkan mereka sekeluarga tetap terus berusaha demi membuahkan tanaman padi oleh kerana itulah datang punca rezeki mereka. Tiada padi tiada makan, tiada makan tiada hidup. Derita mereka sekelurga bertambah saat Lahuma selaku ketua keluarga meninggal akibat terkena bisa duri nibong. Tinggal Jeha bersama anak-anaknya tujuh orang membanting tulang mengusahakan padi empat belas relung itu.Tidak lama kemudian, ibu mereka Jeha pula berubah menjadi kurang siuman akibat terlalu merindukan arwah suaminya, Lahuma dan kesan terlalu memikirkan keadaan tanaman padi mereka yang diuji dengan ratusan ketam-ketam, ujian banjir, serangan burung tiak, dan sebagainya. Disini, Sanah anak sulungnya pula diuji untuk menjaga adik-adiknya enam orang bersama ibunya yang gila. Diceritakan juga monolog dalaman Sanah yang merenung akan kesusahan kehidupan mereka sekeluarga yang amat mematangkan umurnya.Dalam pengalaman saya membaca novel-novel Melayu, ini karya yang terbaik setakat ini. Ia amat wajar dibaca oleh semua kelompok masyarakat kaya miskin, tua muda, senang ataupun susah dek kerana nilai-nilai yang diterapkan didalam novel ini teramatlah bernilai dalam menyampaikan ilmu pendidikan supaya tidak mudah berputus asa kepada masyarakat yang menjalani kehidupan sehari-hari.Selamat Membaca!

  • Stephanie Alexis
    2018-11-25 02:12

    This novel is unlike any that I've read before. A novel depicting the agricultural life in Malaysia, No Harvest But a Thorn is a cycle of prayers, plagues, and traditions that Lahuma and his family cannot break free from physically, but have triumphed over spiritually. Though gruesome, it is a necessary aspect to the novel. It shows how the story is truly rooted to the soil, and how the struggles of the characters are devastating yet enlightening to the modern reader.

  • Fatini Zulkifli
    2018-11-30 04:07

    Ceritanya mudah. Tentang Lahuma (suami) dan Jeha (isteri) menanam padi untuk menyara hidup mereka serta tujuh orang anak perempuan. Yang bagusnya, penulis memberi gambaran yang jelas sehinggakan penat aku nak bayangkan. Boleh rasa sakitnya bila Lahuma memotong isi daging kakinya dengan pisau untuk mengeluarkan nanah kesan terpijak duri rebung sehingga berdarah tanpa henti dan nanah merebak sehingga seluruh badan seterusnya menyebabkan busung. Nanah dan cecair kuning pekat likat yang busuk keluar dari setiap rongga badan Lahuma sehingga dia meninggal dunia.Awal-awal ceritanya mudah, sehinggalah Lahuma meninggal ceritanya makin mencabar. Jeha terpaksa bekerja keras mengerjakan tanah sawah sebanyak 14 relung dan melawan serangan lintah, ketam demi memberi makan kepada 7 orang anak perempuannya. Jeha stress, Jeha berjalan mengelilingi kampung tetapi orang kampung memanggilnya 'janda gila anak ramai mahukan tok penghulu.' Memandangkan kata-kata itu doa, akhirnya, Jeha menjadi betul-betul gila. Jeha berhalusinasi akan suaminya masih hidup dan pada suatu hari, Jeha mendukung anaknya 'terjun' dalam sawah malam-malam buta.Akibat Jeha tidak boleh dikawal, orang kampung terpaksa membina penjara dalam rumah untuk Jeha. Sawah itu kemudian dijaga oleh anak sulung serta adik-adiknya yang masih lembut tulangnya. Mereka ditimpa malapetaka banjir yang menenggelamkan padi dan serangan burung tiak yang tiada belas kasihan memakan padi mereka. Sedih jugalah cerita dia, nasib baik cerita ini hanyalah fiksi. Kalaulah kisah ini benar, ya Allah susahnya hidup. Satu benda aku belajar tentang cerita ini, kena ada back-up plan. Jangan bergantung kepada satu sumber pendapatan sahaja. Rasanya kehidupan akan lebih baik sekiranya disamping menanam padi, mereka juga menternak ayam itik dan mengambil upah menjahit dan mengajar anak-anak perempuan mereka menjahit sebagai persediaan sekiranya padi tak menjadi.

  • Inn Auni
    2018-11-24 07:06

    Lahuma dan Jeha mempunyai tujuh orang. Kehidupan keluarga ini ibarat kais pagi makan pagi kais petang makan petang. Namun, Lahuma begitu komited terhadap pekerjaannya mengusahakan sawah padi seluas empat belas relung. Ketika membajak, Lahuma terpijak duri nibung yang menambah pada keperitan keluarga yang besar ini apabila ia melarat kesakitan itu ke seluruh tubuhnya lalu dia meninggal dunia. Tinggallah Jeha sebagai ibu tunggal menggalas tanggungjawab membesarkan anak-anak mereka di samping mengusahakan sawah padi demi mencari sesuap nasi setiap hari.Akibat penderitaan yang melampau itu, Jeha telah dilanda kurang siuman dek terlalu tertekan dan mula merayau-rayau keliling kampung sehinggalah pada suatu hari dia ke rumah Tok Penghulu dengan berkelakuan tidak sopan, yang menyebabkan dia dikurung di rumahnya di dalam sebuah kurungan sebelum dihantar ke rumah sakit jiwa di Tanjung Rambutan oleh Tok Penghulu agar dia kembali sembuh.Tinggallah Senah, anak sulung, yang berusia 16 tahun menggalas tanggungjawab baharu membesarkan adik-adiknya sambil mengusahakan sawah padi mereka. Bermacam-macam ujian juga dihadapi oleh Senah dan adik-adiknya tetapi dia berjaya mengatasinya.* * *Ini antara koleksi arwah abah. Jarang saya baca buku arwah sebab rasa macam sacred pula. Tapi saya ambil juga dua tiga buah sekadar nak tahu. Bak kata Oscar Wilde, "You are what you read." Majoriti buku arwah memang masuk kategori klasik dan diangkat sebagai karya hebat, termasuklah RSJ ni.Lepas baca buku ni saya rasa macam kosong. Macam 'what is the meaning of life?' gitu. Rasa macam robot pun ya juga. Buku berunsur tragedi ni selalunya akan buat fikiran saya menerawang dengan 'what if'. What if Lahuma buat macam ni dan bukan macam tu. What if Jeha buat macam ni dan bukan macam tu.Karya ni buat saya tertanya-tanya adakah petani di tahun 60-an majoritinya begitu. Beza sungguh dengan petani sekarang yang ramai sudah kaya-raya dengan hasil pertanian. Kalau Lahuma menerima unsur pemodenan, adakah nasibnya juga akan berbeza?(view spoiler)[[READ AT YOUR OWN PERIL]Mengisahkan mengenai keperitan petani kecil yang menjadi mangsa kepada penguasa seperti ketua kampung yang bersikap pentingkan diri terlalu berkira-kira dengan anak-anak buah seperti keluarga Lahuma dan Jeha.Keluarga Lahuma dan Jeha mempunyai tujuh orang anak iaitu Senah, Milah, Jenab, Semek, Liah, Lebar, dan Kiah. Kehidupan keluarga ini amatlah menderita. Namun, Lahuma begitu komited terhadap pekerjaannya mengusahakan sawah padi seluas empat belas relung. Tetapi Lahuma terlalu memegang pada adat dan menolak kaedah pertanian moden. Ketika membajak, Lahuma terpijak duri nibung yang menambah pada keperitan keluarga yang besar ini apabila ia melarat kesakitan itu ke seluruh tubuhnya lalu dia meninggal dunia. Tinggallah Jeha sebagai ibu tunggal menggalas tanggungjawab membesarkan anak-anak mereka di samping mengusahakan sawah padi demi mencari sesuap nasi setiap hari.Akibat penderitaan yang melampau itu, Jeha telah dilanda kurang siuman dek terlalu tertekan dan mula merayau-rayau keliling kampung sehinggalah pada suatu hari dia ke rumah Tok Penghulu dengan berkelakuan tidak sopan, yang menyebabkan dia dikurung di rumahnya di dalam sebuah kurungan sebelum dihantar ke rumah sakit jiwa di Tanjung Rambutan oleh Tok Penghulu agar dia kembali sembuh.Tinggallah Sanah yang berusia 16 tahun menggalas tanggungjawab baharu membesarkan adik-adiknya sambil mengusahakan sawah padi mereka. Bermacam-macam ujian juga dihadapi oleh Senah dan adik-adik tetapi dia berjaya mengatasinya. Sebagai contoh, seperti burung Tiak yang menyerang sawah mereka pada waktu malam dan Senah berjaya menyelamatkan padinya dengan memasukkan ke dalam kurungan Jeha. Akhirnya Jeha pulang ke rumah. Senah mengharapkan kepulangan ibunya aitu dalam keadaan sihat sepenuhnya tetapi amat malang sekali. Jeha masih belum lagi sembuh. (hide spoiler)]

  • syafiqah
    2018-12-06 04:02

    Kagum dengan semangat Lahuma, walaupun dalam kesakitan tetap berusaha sedaya upaya untuk turun ke bendang demi keluarganya. Jiwa kental Lahuma dan Jeha dalam mecari sesuap nasi untuk keluarga boleh dijadikan sebagai pemangkin kepada kita juga dalam menghadapi cabaran ekonomi masa kini yang makin mencabar. Dan yang paling penting sekali menanam padi tidak semudah makan nasi. Jerit payah mereka belum tentu mampu kita galasi. Teringat iklan di televisyen di suatu masa dahulu "Sebutir beras ibarat setitik peluh petani".

  • Nazihah Mohd Shafie
    2018-11-26 07:05

    It is truly heartbreaking to imagine how hard it was living in a village where we have to fully depend on our own effort for a mouthful of rice. When the rice fields are their only hope to fill their stomach, they were protected with all their might. However, Allah the Almighty know best and gave them a tough test. The trust in the power of Allah is amazing despite of all their stumbled to be alive. Although the novel had been translated but the meaning is remained and deeply touch our heart but the original version is still the best. The language is meaningful and beautiful in their own way.

  • Roselina
    2018-12-06 03:55

    A book that should be re-read like many many times

  • Cik Ezke
    2018-12-10 01:49

    Lahuma dan Jeha. Watak besar membangun dalam novel SN Shahnon Ahmad. Pelukisan kisah hidup suami isteri ini mempertahankan sumber rezeki mereka sekeluarga. Lahuma kental tidak mahu menyerah kalah walaupun kakinya hampir hancur dimamah duri nibung yang bernanah di dalam tubuhnya. Pemergian Lahuma, memberi tamparan kepada Jeha dan tujuh orang puterinya. Namun, amanah itu digalas. Sedikit pun tidak menyerah kalah.Jiwa kental penulis melukiskan gambaran kehidupan petani kepada suatu kehidupan yang lebih baik masa kini. Semuanya sebagai pedoman dan panduan kepada kita untuk menghargai jasa para petani dan erti kehidupan dengan sesuap nasi.

  • Elviza
    2018-12-04 03:58

    My personal favourite in Malaysian literature.

  • lara_nur
    2018-12-15 06:08

    Senang cerita, kalau tak pernah baca, memang rugi seumur hidup. 6 bintang.

  • Abdullah Hussaini
    2018-12-02 07:56

    Aku pegang, aku letak balik. Aku baca, aku letak balik. Benci, hiba dan geram pada cerita ini kerana meruntun jiwa dan perasaan pembacanya.

  • Dayat
    2018-12-15 07:06

    Naskhah besar tahun 1966 Sasterawan Negara Datuk Prof Emiritus Shahnon Ahmad ini baru sahaja aku usai tekuni minggu lepas.Sungguh sungguh sungguh mengesankan. Bayangan wajah-wajahLahuma dan Jeha serta anak-anaknya Sanah, Milah, Jenab, Semek, Kiah, Lebar pasti menjelma setiap kali menghadap nasi. Walaupun sudah seminggu yang lepas membacanya tetapi kesannya masih panas seperti baru semalam membacanya.Kata emak aku Ranjau Sepanjang Jalan merupakan novel yang dipelajari sewaktu zaman SPM nya dulu. Novel yang aku tatap adalah novel yang diulang cetak oleh Alaf21 yang aku pinjam dari perpustakaan. Dalam usaha menggagahkan diri yang berjiwa kecil ini membaca karya besar dari sasterawan negara. Dan pada minggu akhir cuti yang baru lepas aku telah memilih novel ini di antara Cinta Fansuri dan Lantai T.Pinkie A. Samad Said yang turut menggamit perhatian di rak.Ranjau Sepanjang Jalan (RSJ) mengajar aku maksud rasa 'membanting tulang' para petani tidak semudah yang diucapkan. Maksud rasa menanam padi tidak semudah memakan nasi. Maksud rasa beratnya kerja yang bergantung pada tulang empat kerat. Maksud rasa kehilangan.Namun pasti maksud rasa ini belum lagi tercapai maksud rasa sang pemikulnya. Seperti rangkai kata, berat mata memandang berat lagi bahu memikul.Mimpi-mimpi Lahuma saban tahun adalah moga tiada datang beratus-ratus ketam yang mengganggu padi di awal semaian, musim yang baik tidak kemarau dan banjir, tiada datang burung tiak yang beratus-ratus mencuri padi yang masak. Mimpi-mimpi yang tidak terkeluar dari persoalan bendang sawah padi. Namun 'musuh-musuh' padi itulah yang pasti dihadapi dengan sabar dan tabah setiap musim.RSJ membawa pembacanya menyelami jerih payah kehidupan seorang petani, rasanya, pandangannya, semangatnya justeru meneroka duduk bangun masyarakat jelapang keseluruhannya.Sesudah membaca RSJ menjadikan aku tertanggung merasa perlu menghargai nilai sebutir sebutir nasi yang tidaklah seringan menguisnya.(www.makhluk-bernama-aku.blog.friendst...)

  • nazhsahaja
    2018-11-21 07:57

    sebelum membacanya lagi saya sudah skeptikal; adakah buku ini bagus? adakah buku ini menepati karya agung? adakah buku ini memperkecilkan emosi wanita (seperti yang saya dengar)? siapalah saya untuk memberi komentar buku daripada sasterawan Malaysia ini. saya cuba baca beberapa artikel berkenaan RSJ agar ulasan saya tidaklah nampak dangkal ataupun sekurang-kurangnya punya isi, tapi apakan daya tidak sampai ke tahap itu. jadi ulasan saya hanya berkisar apa yang saya rasa sepanjang pembacaan. ceritanya bagi saya sungguh sedih sekali. ujian yang menimpa keluarga Lahuma tidak putus-putus. dan mungkin betul pendapat sesetengah orang bahawa tindakan Shahnon Ahmad meletakkan watak perempuan seperti menambahkan lagi beban sengsara keluarga ini, seperti cuba memberitahu bahawa letak duduk wanita yang sentiasa lemah dan tidak akan berhasil tanpa kehadiran suami disisi. tak terbayang Jeha janda yang ditinggalkan Lahuma harus memikul tanggungjawab memelihara 7 anak gadis dan menjaga 14 relung padi. mungkin femenis tegar sedikit marah dengan susun atur cerita ini apatah lagi bila Jeha akhir tewas mental dan kewarasan ketika diuji sebegitu berat sekali. tapi bagi saya Shahnon Ahmad tetap adil dalam membuat perhitungan dengan menaikkan watak Sanah, anak gadis sulung Lahuma-Jeha yang berkembang sangat baik kematangannya sepanjang cerita. tak dinafikan Shahnon Ahmad hanya cuba menyampaikan kisah perit jerih golongan petani yang dia sendiri membesar di dalamnya. sesuai dengan teori konseptual kata kunci Mokhtar Abu Hassan bahawa pengarang menulis karya berdasarkan konsepsi yang terhasil daripada banyak faktor yang mempengaruhi pengarang seperti latar belakang, latar masyarakat dan juga latar budaya. justeru adalah sedih untuk membayangkan pengalaman yang dilalui Lahuma, Jeha dan anak-anaknya adalah refleksi masyarakat petani pada zaman karya ini ditulis; begitu jerih, begitu penuh dengan pergelutan dan survival hidup.

  • Aziz
    2018-11-25 08:51

    RSJ benar-benar merupakan karya besar Shahnon malahan salah satu karya besar sastera melayu.Membaca novel ini membuatkan saya terpegun dengan kekuatan bahasanya. Penggunaan bahasa daerah benar-benar mewujudkan impak real terhadap perwatakan watak-wataknya.Walaupun banyak peristiwa dalam novel ini (cth serangan ketam, serangan tiak dsbnya) adalah gambaran kesengsaraan petani yang dihiperbolakan, namun mesej asalnya tentang kemiskinan petani dan takat kekuatan mental perempuan melayu dalam masyarakat petani itu sangat real dan mendalam.Ssatu lagi buku Shahnon yang mempunyai kekuatan penceritaan setara dengan novel ini saya kira 'Strengenge'.Must read!

  • Nurulain
    2018-11-19 04:50

    I learn a lot about paddy in one book than I will ever be. This book is such a pro-founding experience. Makes me reflect on myself, my life and how I got it good. Thank God I was born in the 21st century, to a well-off family. I'm sure that great discussions will be conducted about this book in class soon. I should read Malay classics like this more often.

  • Huda Sarkowi
    2018-12-13 04:10

    Reading this book moved me. Brought me to tears. And I don't consider myself a sensitive person. And let's talk about Shahnon Ahmad's style of writing, marvelous. (At least, his style of writing using the Malay language). Shahnon Ahmad is a genius in Malay literature.

  • Leyla Shuri
    2018-12-11 09:07

    Selepas baca novel ini baru ambo tahu kenapa sebenarnya orang-orang kampung di Malaysia tidak ke bendang lagi.

  • Karpagam
    2018-11-18 06:03

    Mesti baca. Rugi tak baca.

  • helmymuhammad
    2018-12-11 03:00

    Tidak tahu nak berkata apa..Ini lah hakikatnya,sampai tidak tahu nak bercakap apa..Shahnon memang begitu,selalu membekalkan kegembiraan lewat kesedihan..

  • Shahrulrock
    2018-12-06 04:48

    Aku kian mengerti penderitaan abah..

  • Najiihah
    2018-12-09 05:04

    Disturbing. the earlier life of a Malay family being portrayed raw unconcealed by the author got me hooked in a way I didn't expect. the idea of poverty, seemingly extreme unsanitary being mashed together give me shudders. how this community devoted their life, no, are obsessed with what might be their only source of income, worth a lifetime of reflections. how a single mother goes mad, screaming and bawling like a mad person she is, with seven daughters with gleams of hope to see their mother pull through, only to find out she doesn't and might never does, leaved me in critical fear. but above all, hats off to the author for opening up a window to a life my ancestors might have lived. thank you.

  • Baihaqi
    2018-11-21 04:04

    Sebuah produk Sastera Islami pra Dasar Kebudayaan Kebangsaan daripada Shahnon Ahmad, Ranjau Sepanjang Jalan, menghidangkan kitaran kehidupan kaum agraria masyarakat Melayu desa. Tema pergelutan sama ada dari segi materi (akibat kekurangan kapital dan beza kelas) mahu pun dari aspek emosi (dek konstruk sosial) dibina dengan penuh teliti. Bentuk dan teknik penulisan yang sangat elegan menonjolkan keajaiban tinta seorang Sasterawan Negara.

  • Adilahyasmin
    2018-11-21 05:48

    good

  • Nurhidayah Abdul halim
    2018-11-26 01:57

    ok

  • Katell
    2018-12-17 07:02

    Roman volontairement incantatoire : Les travaux et le jours version déprime. A éviter en période de spleen ...

  • CikguKaykayAlkhair
    2018-12-17 05:58

    teladan melayu

  • M.Bazli
    2018-12-08 08:53

    sedih woi cerita dia.nak2 baca time tengah bengkrap hujung semmemang sampai dia punnya feel