Read From Beirut to Jerusalem by Ang Swee Chai Online

from-beirut-to-jerusalem

This is the story of Dr Ang Swee Chai, a Penang-born orthopaedic surgeon, and her flight to war-torn Lebanon in 1982 to treat the wounded and dying. This new edition, twenty years after the Zionist terrorism in Shabra and Shatila which killed thousands of Palestinian civilians, is a tribute to the ongoing struggle against Zionist occupation in the Holy Lands....

Title : From Beirut to Jerusalem
Author :
Rating :
ISBN : 20699863
Format Type : Kindle Edition
Number of Pages : 320 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

From Beirut to Jerusalem Reviews

  • Nazmi Yaakub
    2018-10-28 03:44

    ANDAINYA Dr Ang Swee Chai memperincikan perjuangan dalam misi kemanusiaannya di Lubnan dalam Dari Beirut ke Jerusalem, pastilah memoir ini tidak akan menemukan kesudahannya dan kita tidak berupaya mengempang air mata.Pembaca lelaki dimaaf dan dibenarkan untuk menangis ketika membaca catatan sukarelawan sehingga tiada siapa pun yang akan menimbulkan soal kejantanannya atau sekurang-kurangnya berasa sebak ketika memamah catatan pandangan pertama doktor bedah yang bertugas ketika kem pelarian Palestin di Sabra dan Shatila, Lubnan itu disembelih.Kita didedahkan dengan wajah derita kem pelarian Palestin yang berulang kali dikepung dan dihujani peluru sehingga pada satu tahap para ibu mencium anak-anaknya berkali-kali hanya untuk keluar mengambil air kerana merasakan ia seolah-olah pertemuan kali terakhir sebelum nyawa dirampas penembak tepat yang bersembunyi dari bangunan tinggi.Dengan penuh rendah hati dan diri, Dr Swee Chai bercerita tentang pengalamannya dalam membina hospital daripada puing runtuhan kepada bangunan yang serba daif tetapi terpaksa menguruskan belasan ribu warga pelarian - beliau seolah-olahnya beberapa kali memulangkan kekaguman kita kepada rakyat Palestin dan rakan sukarelawannya.Dari Beirut ke Jerusalem adalah memoir wajib dibaca oleh rakyat Malaysia kerana perjuangan Palestin tidak boleh mati dalam jiwa kita selepas umat Palestin beberapa kali hidup kembali selepas kematian kem pelarian mereka yang sangat dahsyat.

  • Teh
    2018-11-16 04:52

    "Kita hanya bisa menciptakan perdamaian jika ada keadilan," kata2 ini yg terus saya inget dr buku ini.Buku ini merupakan kesaksian dr. Swee tentangPembantaian Sabra-Shatila, kamp pengungsi Palestina di Beirut,Lebanon, pada 1982. Pembantaian Sabra-Shatilla merupakan salah satu tonggak paling tragisdalam konflik Israel-Arab; dan merupakan jejak Israel yang berlumurandarah dalam konflik yang sampai hari in belum juga kunjung usai.Yang paling menarik dari buku ni adalah penulisnya, Dr. Swee adalah seorang nasrani dan beliau bukan seorang wartawan, jurnalis, politisi ataupun analis politik, melainkan seorang dokter bedah ortopedik. Dr. Swee Lahir di Penang, Malaysia, Ayah-ibunya pernah dipenjarakan karena perjuangan mereka melawan penjajahan Jepang pada Perang Dunia II. Pengalaman ituterlalu pahit sehingga keduanya memilih menjadi ateis meski membiarkanSwee tumbuh dewasa dalam lingkungan Kristen yang taat.Swee menyelesaikan sekolah kedokteran di Singapura berkat doronganibunya, yang mengatakan penting bagi perempuan untuk mencapai gelaryang umumnya hanya disandang kaum lelaki. Sang ibu juga selalumengingatkannya, bahwa "belum lama lalu, di Daratan China, bayiperempuan yang baru lahir ditenggelamkan karena dianggap tak berharga."Dia mengambil spesialisasi bedah ortopedik di The Royal LondonHospital, Inggris, dan menjadi warga negara itu sejak 1977. BersamaFrancis Khoo, seorang pengacara beragama Katolik, Swee kelakmendirikan Medical Aid for Palestinians (MAP), selepas Sabra-Shatila.Di London itulah, pada musim panas 1982, dia membaca koran danmenonton televisi yang memberitakan bagaimana pasukan Israelmenggempur Lebanon. Dia nekad mendaftar sebagai sukarelawan untukberangkat, mengatasi rasa takutnya sendiri terhadap kemungkinan mati,dan kemungkinan bertemu dengan "bangsa teroris" Palestina. Membantu & hidup bersama orang2 palestina bahkan menyaksikan sec langsung pembantaian Sabra-Shatila mengubah pikiran bagi dr.Swee. "Sebagai seorang Kristen fundamentalis dulu aku mendukungIsrael... Pengalamanku di Sabra-Shatila menyadarkanku bahwa orangPalestina adalah manusia." ini buku sebenarnya sudah diterbitkan tahun 1989 di inggris. tahun 1996 sempat diterbitkan di amerika namun mendapat berbagai protes sampai akhirnya penerbitan di Amerika dihentikan. dan tahun 2002 buku tersebut akhirnya diterbitkan lagi di Kuala Lumpur, oleh Penerbit The Other Press. dan baru pada 2006 lalu buku ini diterbitkan oleh MIZAN di Indonesia dalan versi bahasa indonesia.layak baca deh pokoknya...

  • Ainun Nazrin
    2018-11-19 09:03

    Refleksi1982-1988; Malaya: Aku sibuk main masak-masak; aku sibuk main polis sentri dengan kawan-kawan; aku belajar kenal huruf, kenal angka, muqaddam dan Al Quran; aku kumpul setem dan duit syiling sebagai hobi.1982-1988; Sabra & Shatila, Beirut: Kanak-kanak sebaya aku tak cukup air dan makanan, kanak-kanak sebaya aku main baling-baling batu dengan tentera Israel, kanak-kanak sebaya aku kenal erti jihad, erti survival dan belajar menentang penjajahan; kanak-kanak sebaya aku kumpul serpih-serpih bom dan peluru dalam tubuh mereka.*kesat air mata dan air hidung yang berjelejeh**lari ke pojok dinding lalu duduk peluk lutut erat-erat*Oh, alangkah!

  • Lala
    2018-10-24 03:50

    astaqfirullah....buku ini bener-bener menyentuh...bagian yang bikin aku bener-benar kena di hati, saat salah seorang temen dr. swee cerita kalo ada anak kecil umur 3 tahun yang nglemparin batu ke tentara israel, tentara israel-nya siapamarah "Anak kecil tidak seharusnya ngerti cara seperti ini!!siapa yang ngajarin kamu?..anak kecilnya menjawab "kakakku"...trus tentara tadi minta anak kecil itu nganterin ke rumahnya dan bertemu dengan kakaknya..ternyata kakaknya adalah anak kecil umur 4 tahun..see..siapa yang bisa disalahkan atas semua itu??!!!buku ini membuat aku membuka mata atas nama yang sudah kusandang sejak lahir (chatila)..asal kata dari shatila...kamp pengungsian palestina di lebanon...

  • Novian Anggis
    2018-11-14 00:50

    Kisah yang luar biasa yang di tuliskan oleh dr Ang Swee Chai selama menjadi dokter ortopedis di Beirut dari tahun 1982, saat terjadi pembantaian warga Palestine besar2an di Shatila dan Sabra. Perjuangannya untuk memberikan kesetaraan, kebahagiaan yang seharusnya di miliki oleh setiap warga Palestine yang ada di sana, yang terus menerus mengalami siksaan baik fisik maupun mental, tekanan yang tak kunjung berakhir dan beribu penderitaan lain yang begitu menyakitkan dan menyedihkan.dr. Swee menemukan banyak hal yang luar biasa tentang rakyat Palestine yang tak pernah di temui sebelumnya, tentang semangat, rasa sayang kepada sesama, ketabahan, perjuangan tanpa akhir, cinta dan masih banyak makna hidup yang luar biasa yang terus menerus menguras air mata pembaca.Beliau menuliskan kisah ini dengan sangat jujur, terurut, mudah untuk di pahami. Dengan sedikit menampilkan dokumentasinya di tengah2 halaman, dan map beirut di awal, dr Swee membuat emosi pembaca kian terkuras.Terakhir buku ini sangat inspiratif, memberikan semangat dan dorongan untuk melakukan hal yang sama yang d kerjakan oleh dr. Swee. Saya sedang mengusahakan mencari versi bahasa inggrisnya, karena saya masih ada yang kurang dalam terjemahaan Indonesianya.:)

  • Heba
    2018-11-06 05:03

    An honest - at times touching, at times horrifying - eyewitness account by a Christian British-Singaporean woman surgeon on the Sabra and Shatila massacres and what followed them. A heavy read, but also an amazing, amazing, amazing book that gives you hope - there are still some good people out there."I am not an Arab, nor am I a Muslim. I am not a European, and I have neither the difficulty of living with the guilt of Nazism, nor the responsibility for the British Mandate in Palestine. For me, supporting the Palestinians is not a political matter: it is my human responsibility." - Dr. Swee Chai Ang

  • dhika
    2018-10-31 06:57

    Buku yang bagus, layak dibaca. Selesai saya membaca buku ini, membuat saya banyak bersyukur pada Tuhan YME bahwa, di hidup saya yang biasa-biasa ini ternyata adalah hidup termahal yang harus dibayar di Shabra-Shatilla. Di sisi lain, saya belajar tentang toleransi agama, bahwa bukan agama yang menjadikan seseorang jahat, akan tetapi, memang sifat yang ada pada dirinya. Two Thumbs Up!! Must Buy! :D

  • Tezar Yulianto
    2018-11-16 03:46

    Salah satu bagian yang tak terlupakan dari buku ini, ketika dr. Ang terpaksa harus mengoperasi pasien Palestinya, tanpa ketersediaan obat bius. Tapi sang pasien menabahkan dr. Ang dengan perkataan, "Doctora, Anda lupa? Saya seorang Palestina":One of must-read-books.

  • Norain
    2018-10-23 01:54

    Heart-wrenching. If you read and you don't feel a thing, then something must have gone really wrong with either your head or your heart.

  • Darnia
    2018-11-17 07:41

    Pas tadi bongkar-bongkar, mendadak nemu buku ini. Agak lupa-lupa ingat sih ceritanya. Pokoknya ada dokter yg dikirim ke medan perang dan buku ini tentang pengalaman beliau selama di sana, ngerawat anak-anak korban perang. Buku bagus. Serius!

  • Muhammad Faez
    2018-11-20 07:52

    Even if the newspapers won't print our story, it will still be written: it will be written with the blood of our martyrs.

  • Yus Naeni
    2018-11-18 09:06

    Tears of Heaven, "From Beirut to Jerussalem" merupakan kesaksian dr. Swee tentang pembantaian Sabra - Shatila, kamp pengungsi Palestina di Beirut, Lebanon. dr. Swee sendiri merupakan seorang dokter bedah ortopedi kelahiran Penang, Malaysia. Dia adalah seorang kristen yang tumbuh dengan keyakinan mendukung Israel, membenci orang-orang Arab, dan memandang PLO (Palestine Liberation Organization) sebagai teroris yang harus dikutuk dan ditakuti. Menjadi relawan dokter di Palestina, melihat kondisi yang sebenarnya, telah mengubah paradigma-paradigma dr. Swee sebelumnya. Ia berbalik memihak rakyat Palestina, memihak keadilan dan kemanusiaan. Jadi benar, "toleransi tidak bisa hanya diajarkan melainkan harus dialami dan dirasakan". Pengalaman dr. Swee yang ia tuangkan dalam buku ini telah membukakan mata saya tentang banyak hal, dua di antaranya toleransi dan kemanusiaan. Buku ini telah menyihir saya menjadi pribadi yang lebih peka terhadap isu-isu kemanusiaan, bermimpi menjadi wartawan untuk menyampaikan keadilan, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

  • Satenik Barseghyan
    2018-11-15 04:49

    Loved the book because of many brave and strong women characters appearing in it, and mainly because of Ang Swee Chai, for making us to believe in humanity.

  • Cik Aini
    2018-11-05 05:40

    Terima kasih Mudin kerana meminjamkan buku ini kepada saya. Sebelum memulakan pembacaan, semat di dalam hati, buku ini jauh bezanya dengan buku From Beirut to Jerusalem. Buku yang ditulis Friedman banyak ke arah pandangan seorang jurnalis.Buku ini merupakan lebih kepada catatan peribadi/jurnal, rakaman pengalaman Dr Ang mengenai keadaan di Lubnan ketika bertugas di sana. Dr Ang merupakan seorang devout Christian yang mengabdikan diri dalam membantu penduduk Palestin yang hidup di dalam buangan. Berkali-kali hati saya bagai direntap apabila membaca kedaifan penduduk di sana, malahan apabila tragedi Shatila & Subra berlaku, saya rasa seolah tertikam hati. Tidak dapat saya bayangkan bagaimana Dr Ang mampu bertahan di sana, dengan mayat yang bergelimpangan, keadaan yang serba daif, sehingga ke tahap untuk melakukan pembedahan pun, menggunakan alat-alat tanpa sebarang perlindungan. Ketika ketiadaan elektrik, jururawat membantu menyuluh ketika Dr Ang melakukan pembedahan. Seolah-olah terbayang bagaimana keadaan bangunan yang berlubang-lubang, dan betapa daifnya mereka. Malahan bau busuk mayat. Itupun saya kira, penceritaan Dr Ang di'tone town' agar tidak termuntah kita membacanya.Kualiti edisi terjemahan yang saya baca amat baik (tahniah unit Harakah kerana menghasilkan mutu terjemahan yang baik sekali). Saya mampu menjiwai catatan Dr Ang dengan sepenuh hati. Manakan tidak, saya mampu menangis taktala Dr Ang mengisahkan tentang Dr Chris yang bergolok gadai dan menyerahkan kehidupannya untuk terus kekal bersama orang Palestin. Dr Chris yang kemudiannya diberi pilihan untuk pulang ke negara asalnya, namun dia menolak kerana ingin bersama mereka, dan kerana besarnya jiwanya, dia sendiri sehingga ke tahap seperti rakyat Palestin - baju yang conpang camping, selimut buruk membaluti badan, malahan badannya kurus kering. Langsung tidak pernah menggambarkan dirinya sebagai seorang doktor yang hebat. Selama ini, isu Palestin sering dipandang sepi, malahan saya sendiri tidak begitu menjiwainya. Penceritaan Dr Ang membuatkan saya sedar, begitu ramai yang tulus ikhlas, malahan sanggup berhenti kerja semata-mata untuk membantu mereka. Bukan sedikit yang mereka lepaskan pergi, kebanyakannya melepas jawatan tinggi di hospital dengan gaji yang banyak, kerana dasar perikemanusiaan. Sanggup pula berada di dalam kem tahanan yang diputuskan bekalan elektrik, air, dan tiada bekalan makanan selama hampir 3 tahun. Saya kagum dengan ketulusan hati orang Palestin, dalam kedaifan masih lagi, murah hati, dan memuliakan tetamu. Masya Allah! Merekalah sebenarnya yang kaya. Kaya kerana tidak memiliki apa-apa, namun masih memberi dan memberi, ibarat semangat jihad sahabat Rasulullah SAW.Banyak yang saya dapat simpulkan dari catatan ini, kecekalan hati mereka yang sanggup bergolok gadai dan mempertaruhkan nyawa. Tetapi saya malu dengan diri saya sendiri, sungguh saya malu. Kerana mereka yang meninggalkan segalanya untuk bersama rakyat Palestin. sudah pasti faham konsep meletakkan dunia di tangan dan bukan hatinya. Barangkali kalau saya berada di sana, mungkin trauma melihat segalanya yang terjadi. Adakah mudah untuk melihat mayat yang dikorek matanya, ataupun seorang ibu yang ditembak curi ketika mencari rumput untuk dijadikan makanan untuk 7 orang anaknya? Isu Palestin bukannya isu asing, tetapi seharusnya sentiasa disemat di dalam jiwa, bahawa ianya isu kemanusiaan. Kalaulah air mata tidak gugur ketika membacanya, saya kira hati masih belum lembut untuk merasai penderitaan rakyat Palestin.Heart wrenching! A keeper!

  • Letitia
    2018-11-08 08:10

    Utterly inspirational. Dr. Ang, a.k.a. "Doctora Swee" is intelligent, precise, humble, and a person of great compassion (both for the Palestinians and for the Israelis, and the Lebanese and Syrians and everyone caught in between). She’s done so much for the Palestinians, she even received the Star of Palestine from Yasser Arafat. It’s a transformative, universal story because Dr. Ang went into the conflict with no political preconceptions – in fact, she believes God called her to it – and ended up dedicating decades of her life to helping the Palestinians out of an instinctual human response to suffering. Initially it sent her into a crisis of faith because her Church seemed to be telling her different things from what God was telling her, but Ang Swee Chai was born with so much pluck and gumption, the reader delights in seeing how this tiny woman outwits, outplays, and fearlessly charges her way through some of the most life-threatening situations.The fulcrum on which her story turns is the massacre at Sabra and Shatila refugee camps while she was working at the hospital there. In 1982, Israel had invaded Lebanon in an attempt to "flush out the Palestine Liberation Organisation (PLO) from its bases in Lebanon". After the end of this invasion, under a peace agreement the PLO fighters (mostly men) were evacuated from Beirut, then the international peacekeeping forces convinced the remaining women, children and old folks in Sabra and Shatila camps to disarm themselves, surrendering their pistols, machine guns and other weapons to the Lebanese Army for the promise of peace. Then Israel announced it was "invading West Beirut to flush out 2,000 terrorists left there by the PLO”, giving time for Palestinian hospital workers to leave Gaza Hospital (where Dr. Ang worked), then Sabra and Shatila camps were bombed from overhead for 5 kilometres in any direction around Gaza Hospital, gradually giving way to Northern Lebanese gunmen coming into camp homes and shooting residents. Injured people streamed into Gaza Hospital and Dr. Ang operated for 72 hours straight on the victims, after which she and other foreign medics were escorted out of the hospital by gunmen who were poking her with their machine guns, and saw the camp transformed into heaps of rubble and mutilated corpses. Meanwhile other soldiers went into Gaza Hospital with machine guns and finished off the patients. Dr. Ang soon comprehended the true horror of the situation, and realised that her surgical work had probably not made any difference, saving dozens of people while they were dying by the thousands outside.One of the most difficult parts of this book for me was a few days after the massacre, when some of these militiamen who had been killing her Palestinian friends and patients had the audacity to come to her hospital and demand treatment. Dr. Ang was so tempted to “get even” and refuse them treatment, but then Azziza, the Lebanese Palestinian hospital administrator, begged her to remember the Palestine Red Crescent Society’s principle of treating everyone equally. I can’t have been the only reader to want to shake Azziza in disbelief. What a saintly capacity the Palestinians have for humanity and forgiveness, instead of justice – the book overflows with examples of this. So Dr. Ang treated their injuries, gained the militiamen's goodwill and saw them as human beings too.As a Singaporean, it hurts me to know that the country I share with Dr. Ang has exiled her and her husband, but I am so proud of her, and as someone who also fell in love with the Levant the first time I visited, I understand her pain.

  • Ningsih
    2018-11-15 05:44

    Dengan sistem cicil mencicil akhirnya selesai juga buku ini.. :D Sampai saat menulis review ini pun, setiap kali membayangkan ulang gambaran peristiwa yang dipaparkan di buku ini, tentang detail kondisi pengungsian dan penderitaan penduduk shabra dan shatila dan juga kamp2 pengungsi lainnya yang tersebar di lebanon, palestina ataupun di daerah perbatasan dengan israel, aku masih tetap merinding. Buku ini layak dibaca semua orang. Bukan agar kita semakin membenci satu sama lain, membenci bangsa tertentu atau lebih parah agama tertentu, bukan..! Yang paling aku ingat dalam buku ini ada quote Dr. Swee yang mengatakan "Tuhan tidak pernah mengkhianati umatNya. Tetapi sekali lagi manusialah yang mengkhianati dirinya sendiri (dan kaumnya)" And i got chilled while writing this. Jadi konflik Palestina - Israel yang terjadi, itu bukan salahnya agama tertentu. Itu bukan konflik Islam vs Yahudi/Kristen seperti yang selama ini banyak dikesankan banyak orang. Karena biar gimanapun, rakyat Palestina yang beragama Yahudi/Kristen juga turut menjadi korban. Dalam sebuah peperangan semua adalah korban. Rakyat Israel pun ikut menderita. Orang2 Israel yang memiliki keluarga dan saudara yang berkebangsaan Palestina harus terpisah. Orang tua yang anaknya bertugas sebagai tentara harus rela melepaskan putra2 mereka bertempur di medan perang dengan resiko bisa kehilangan putra2 mereka untuk selamanya. Tidak ada kemenangan yang sejati jika dicapai dengan pengkhianatan terhadap rasa kemanusiaan. Konflik Palestina - Israel adalah akibat dari hawa nafsu orang2 yang haus kekuasaan. Orang2 yang sudah kehilangan rasa kemanusiaannya dan lupa bahwa dunia ini bukan hak mereka, tapi hakNya Sang Pencipta. Bukankah dunia ini adalah sebuah persinggahan buat kita? Dan selalu ada pilihan di tangan kita, apakah akan menciptakan surga atau kah neraka di dunia ini. Mari berhenti saling menyalahkan dan saling membenci. Mari berhenti mengkhianati sesama kita manusia. Mari kembali kepada ajaran Tuhan kita yang adalah "Sumber Kasih" dan menyalurkannya ke setiap insan manusia. Bukankah pasti akan terwujud sebuah "surga" di dunia ini?If i could i would like to say thank you Dr. Swee for writing this book. Apa yang beliau tulis dan kisahkan dalam buku ini benar2 mengubah paradigma ku. Because i also used to be just like her, trapped in a wrong judgement.

  • Norziati
    2018-10-28 01:47

    Menjadi saksi kepada tragedi di kem Sabra dan Kem Shatila, Dr Ang Swee Chai mengenepikan sentimen agama bagi menjadi sukarelawan di Beirut. Kemanusiaan baginya tidak mempunyai sempadan agama meskipun beliau berpegang kepada ajaran Kristian dan mengetahui kisah seputar Israel dan Palestin seperti yang terdapat dalam Injil.Atas kesedaran tersebut, beliau tampil memberi kenyataan kepada Suruhanjaya yang ditubuhkan bagi menyiasat tragedi Sabra-Shatila. Seterusnya, beliau menubuhkan Medical Aid for Palestin (MAP) yang sehingga kini memberikan bantuan perubatan dan penghantaran sukarelawan perubatan bagi membantu mengurangkan kesengsaraan pelarian Palestin di kem yang terpinggir.Segala apa yang beliau saksikan ketika berada di Beirut, Jerusalem dan di kem-kem pelarian menginsafkan beliau bahawa akan harga sebuah kehidupan dan tugas yang perlu dilaksanakan bagi menjamin para pelarian mendapat hidup yang lebih baik, tidak kira sama ada diberi rawatan, mendapat makanan, pakaian yang sesuai atau hak untuk hidup. Malah kita yang membaca seharusnya lebih sedar kerana konflik di Palestin berlaku bukan disebabkan oleh serangan Israel sahaja tetapi perpecahan sesama orang Islam yang sanggup membunuh dan menjarah sesama sendiri tanpa rasa simpati.

  • Fadillah
    2018-10-30 08:02

    My friend told me about how she met Dr. Ang Swee Chai accidentally in toilet without knowing who she really is. At that time, she already past 50 and has been famous for her charity works and bravery in helping people especially in Palestine. Reading her book is like reading what's been kept deep in her heart. Intense and personal but you can sense the sincerity of hers via this. I am glad and proud that she is part malaysian and still consider herself one. I cried most when she described Shatilla Massacre and how she has been taken away by Zionist Army . She left her patients at hospital Gaza feeling helpless knowing they can't defence themselves. That's exactly turn out to be. The zionist shot almost everyone at the hospital. This book is depressing and uplifting in the same time, of how cruel the world can be and how there are people who cares to destroy that cruelty. Hats off to non Palestinian doctor who actually gives a damn to what happened in Palestin and actually do something about it.

  • Meita
    2018-11-15 07:54

    "From Beirut to Jerusalem adalah mimpi abadi setiap orang palestina di pengasingan. diusir dan dibuang ke pengasingan sejak tanah air Palestina dirumah menjadi Israel pada 1948, jutaan warga yang merana di pengungsian di seluruh Lebanon, Suriah, Yordania, dan negara lain tak pernah berhenti berharap untuk dapat pulang dan memperoleh haknya kembali ke tanah air mereka. Jika bukan tahun ini, maka tahun depan mereka akan tiba di Jerusalem"buku ini menceritakan tentang perjalanan dr. Ang Swee Chai seorang Cina yang tinggal di London yang menjadi sukarelawan di Beirut. Ia menceritakan tentang ketegaran dan kuatnya orang orang Palestina yang ia temui disana, dan ia tergerak untuk terus berjuang untuk mereka. mengumpulkan donasi dan bantuan internasional untuk membantu warga palestina hingga ia mendapat Star of Palestine.ceritanya menarik dan sangat mengharukan. walaupun mungkin ada beberapa bagian yang agak membosankan karena detail setting yang diceritakan itu itu saja. akan tetapi, memang seperti itulah setting tempatnya.

  • Abdul Wahid Muhaemin
    2018-11-06 09:06

    Kumpulan laporan yg jujur dengan penggambaran peristiwa di lapangan yg sangat mendetail saat si penulis terjun langsung di wilayah konflik Timur Tengah, dimana beliau adalah seorang dokter relawan medis yg juga seorang Kristen fundamentalis.Dalam penyusunan bukunya ini, saya mengira bahwasanya penulis mendapatkan motivasi yg besar lantaran pengalamannya itu telah membuatnya tersentak dan sadar akan mana kebohongan semu dan kebenaran yg nyata, yg berangkat dari situ telah membawa penulis terbebas dari propaganda2 licik yg henda menguasai persepsi dunia. Dan barangkali itu pulalah beliau hendak menyampaikannya kepada masyarakat dunia yg sebenarnya terjadi "Siapa menjadi Siapa?"Jika demikian, tidaklah mengejutkan jika buku ini tidak bertahan lama di AS, kemudian peredarannya dilarang.

  • Alisyah Samosir
    2018-11-05 04:03

    Buku ini benar-benar laporan yang sangat detail mengenai pengarang selama berkiprah membantu warga Palestina dan Lebanon menjalani masa-masa suram dibawah pengendalian tentara Israel.Tidak akan pernah terbayangkan keadaan dunia ini yang paling suram kecuali gambaran detail tentang daerah Sabra dan Shatila yang digambarkan di buku ini.Pun tidak akan ada orang yang lebih kejam dan biadab di bumi ini kecuali orang-orang Israel. Keseluruhan!Buku ini sedikit mulai menjawab pertanyaan yang selama ini berdentum di pikiran saya: kenapa Amerika seperti banci kaleng bila berhadapan dengan Israel. Ternyata sebagian besar warga Israel adalah orang buangan dari Amerika. Mungkin merasa bersaudara atau gimana. Karena bersaudara itu pula maka Amerika sama biadabnya dengan Israel!

  • Suci ays
    2018-10-25 00:58

    Buku ini sanggup menggetarkan hati dan membuat mataku basah bahkan ketika aku belum membuka sampulnya, hanya membaca sinopsis di sampul belakang buku.Membaca buku ini seperti membaca diary seorang dokter banyak sekali istilah - istilah medis bertebaran dimana - mana, latar belakang tempat digambarkan dengan detail, membawa pembaca seolah - olah kita sedang mengikuti perjalanan Dr. Ang Swe Chai di Beirut.Buku ini menggambarkan pembantaian Shabra dan Shatilla di kamp pengungsian palestina Beirut dengan runut, persis dengan jam dan tanggal kejadian. Sungguh mencekam. Dada dibuat berdebar - debar menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Kisah yang luar biasa, membuat hati teriris - iris membayangkan saudara kita dibantai tanpa ampun.

  • Septy Anggraeni
    2018-10-25 04:56

    kisah perjalanan seorang dokter ortopedis kristiani yang terpanggil hatinya untuk membantu korban perang di Beirut, Lebanon. Dari Beirut kemudian mengantarkannya sampai ke Palestina. semenjak kecil dia ajarkan bahwa PLO (Palestine Libaration Organitation-Organisasi Pembebasan Palestina) adalah sebuah organisasi teroris. Namun kemudian ia menyadari bahwa hal tersebut tidak tepat. Buku ini menceritakan dengan detail setiap pengalaman dr.swee selama menjadi relawan di lebanon dan palestina. setting kisah ini adalah tahun 1980-an. walaupun sudah sangat lama, namun ketika membacanya saya yakin kondisinya tidak jauh berbeda dengan situasi penyerangan Israel ke Palestina saat ini.

  • maila
    2018-10-23 06:43

    kerja keras banget menyelesaikan buku ini karena saya paling susah baca buku kalau ada adegan pembunuhannya.nggak takut darah tapi kalau ngebaca, pasti kebayang dan gak tau kenapa malah takut.baca buku ini berkali2 mengernyitkan gigi karena ngilu. sedihnya dapet. tapi bayangan lokasi yang kanan-kirinya di bom menyisakan satu tempat aja yang selamat di tengah-tengahnya kurang dapet. rasanya nggak masuk akal T_Tbagian habis ada bom terus banyak korban yang masuk rumah sakit dengan keadaan kaki dan tangan yang buntung....ughsaya kurang suka buku berjenis seperti ini. tapi cukup memberikan saya banyak pengetahuan, meski ini terjadi beberapa tahun yang lalu

  • Busyoiri Imtiyaz
    2018-11-21 00:47

    aku baca versi terjemahan bahasa melayu. versi yg aku percaya dibuat sempena 25 tahun sambutan pembantaian shabra dan shatilla.buku ini cukup inspiring. tajuk buku ini sahaja memberi aku sangkaan perjalanan dia(pengarang) dari beirut,lubnan ke jerusalem,palestin.tapi aku silap. setelah habis bab yg ke 2 akhir baru ak faham tajuk buku ini dan mengapa buku ini di tulis.semangat kebangkitan untuk hidup rakyat palestin di kem pelarian shatilla merebak ke jerusalem sehingga rakyat palestin di sana bangkit dengan seruan intifadah.dan pengarang, DR ANG SWEE CHAI, cuba mengalirkan semnagat itu ke seluruh dunia dengan tulisan ini.

  • Annisa Anindita
    2018-10-24 08:46

    For me this book was amazing! Totally amazing!The condition of my brothers and sisters in Palestine, Lebanon were just headlines before I read this book. After reading this book, I keep questioning how on earth could something so cruel happen in this world? This book gave me a great picture of how Palestinians had to live their lives. I totally admire the women in this book. How they were all brave, smart, and kind-hearted. Totally a must read book for girls, women, muslims, peace-lovers... This book would make you more thankful for your peaceful life also would've push you to give the best of your life. At least that's what this book has done to me.

  • Simpet Soge
    2018-11-16 02:44

    Seorang wanita mungil asal Asia Tenggara nekat bekerja di antara dentuman bom Israel di kamp-kamp pengungsi Palestina. Menjadi tim kesehatan ‘tidak resmi’, dokter ahli bedah tulang ini menyaksikan bahwa banyak relawan ‘resmi’ Palang Merah Internasional yang bahkan tidak cukup terlindungi dan akhirnya mati akibat perang.Tokoh kita ini tidak takut mati. Naluri keibuan membuatnya ingin melindungi dan memberi harapan bagi mereka yang lemah. Membaca buku ini, kita diajak untuk menyimak langsung kondisi di TKP, bukan dari para peninjau, tetapi langsung dari orang lapangan.Ini buku saya baca pada peringatan Hari Kartini kemarin.

  • Sri Een Hartatik -
    2018-10-23 01:05

    Jujur saja, sebelum membaca buku ini saya hanya mengetahui sedikit sekali tentang Palestina...Di dalam buku ini, digambarkan tentang betapa kejamnya entitas Israel yang merampas tanah air dan membantai rakyat Palestina , dalam pembantaian Sabra Shatila, dan dalam pembantaian2 selanjutnya...Karena di satu sisi saya juga menyukai ilmu kedokteran, buku ini benar2 menarik. Penulisnya adalah seorang dokter ahli orthopedi, yang semula dengan keyakinannya mengira bahwa rakyat Palestina adalah teroris. Tapi kemudian dia justru menjadi pembela rakyat Palestina, menjadi pelopor organisasi MAP (Medical Aid for Palestine) , dan mengumpulkan bantuan dari seluruh dunia untuk rakyat Palestina.

  • Helga Soenimanggar
    2018-10-31 04:47

    dr. Ang lee,, you are the inspiration to make good will and make me thingking what i can do for people and make them feel their not lonely and still have people that care about them. good book of the doctor in Beirut,Lebanon in the civil war area, how the medic people fighting to rescue live and while outside of hospital building people hunting to killed more people. ironic of war. and childrens more suffered than us in that situation. can you imagine you need to rescue somebody but with limited sourche??hmh,,, bravo for volunteer in every place.

  • 'izzati Idris
    2018-10-27 02:45

    Heart wrenching.Menghabiskan pembacaan dengan air mata.Dan dalam diam masih berharap apa yang dibaca hanya fiksi semata.Ya Tuhan, berat sungguh penderitaan mereka.Penceritaan Dr Swee sangat bersahaja,tapi tulus.Komitednya beliau merentasi halangan jarak, bahasa dan pandangan masyarakat sekeliling demi mengabdikan diri membantu mereka sedangkan aku yang duduk di tanah arab ini, belajar bertahun2 pula untuk menjadi 'duktura' namun hanya mampu memandang dari jauh konflik yg berlaku di Palestin dan Syria sana.Sungguh,aku malu dengan diri sendiri!