Read Hujan by Tere Liye Online

hujan

Tentang persahabatanTentang cintaTentang perpisahanTentang melupakanTentang hujan...

Title : Hujan
Author :
Rating :
ISBN : 9786020324784
Format Type : Paperback
Number of Pages : 320 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Hujan Reviews

  • Monaria Yulius
    2019-04-20 01:03

    Quotes:○ Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa.○Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.

  • Adininggar 'orienka'
    2019-04-30 23:45

    Just need a day to finish read this book..It's an amazing book. Sampe engga mau berhenti pas bacanya.Tentang Persahabatan. Tentang cinta. Tentang perpisahan. Tentang melupakan, dan terakhir, tentang HUJAN.Cerita fantasi dipadukan dengan romance yang membuat pembacanya larut dalam kisah serta penuh dengan imajinasi dunia era 2042an.bener-bener proud of Bang Tere Liye yang berhasil menuliskan buku sekeren ini.Thanks for this great book.

  • Jiha Takeda
    2019-05-07 22:03

    gilaaaaaaa! dibikin penasaran sampai akhir, tapi legaaaa

  • Dessy
    2019-04-23 22:47

    "Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan." - (Hujan, Epilog, hlm. 318)Hujan adalah novel yang saya datang bersama tiga novel lainnya yang saya pesan secara online. Lupa awalnya bagaimana saya bisa ketemu sama novel ini, ingatnya cuma novel ini bersanding sama novel pulang milik bang Tere Liye. Setelah menyelesaikan novel Rindu dan dibuat spechless sama pesan yang bertumpah ruah di dalamnya, novel kali ini pun sama. Selalu, bang Tere mampu menuangkan ide dalam cerita dengan sarat pesan moral. Saya dikejutkan kembali dengan nama-nama tokoh yang hadir di sini, setelah sebelumnya Ambo Uleng (dalam novel Rindu), kali ini saya bertemu dengan Esok. Karakter remaja laki-laki yang cerdas, cekatan, dan kuat. Kenapa terkejut? Karena jarang sekali saya menemukan nama-nama karakter dalam buku yang ketika disebutkan rasanya unik, dan Esok pun salah satunya.Berlatar setting tahun 2040-an, Hujan membawa saya menemui kecanggihan teknologi tingkat dewa yang nggak bisa saya bayangkan. Butuh waktu beberapa detik bagi saya untuk mengimajinasi benda sekecil jam tangan yang mampu melakukan banyak hal (hehe, saya memang jarang sekali membaca novel dengan genre scifi dan teknologi mutakhir lainnya) namun begitu selesai baca, ini termasuk salah satu novel yang harus dibaca.Dalam novel ini, saya menemukan banyak hal. Tentang kehilangan dan penerimaan akan kehilangan itu sendiri, tentang persahabatan dan ketulusan dalam ikatan tersebut, tentang perpisahan dan cara menemukan jalan keluar agar tidak melulu galau dalam mengisi penantian panjang. Tokoh Lail mengajarkan pada saya bahwa dengan menolong banyak oarng adalah salah satu cara terbaik untuk merelakan kehilangan. Dengan memberi, kita sadar bahwa kehilangn bukanlah kepahitan hidup yang harus terus diratapi. Tidak, bukan seperti itu. Lail mengajarkan saya banyak hal. Juga Maryam. Sosok sahabat yang humoris dan selalu sanggup mencairkan suasana, selalu berada di samping Lail baik susah maupun senang, gadis berambut kribo yang berpikir dewasa, salah satu orang yang menjadi alasan Lail bertahan dari lelahnya berlari dan terjatuh dengan jarak 50 kilometer dalam hujan badai. Itu sungguh luarbiasa. Saya mau bilang kalau novel ini keren, bagus, karena membutuhkan imajinasi yang tinggi saat membacanya.Bagi yang mencari novel sarat makna namun tidak membosankan, Hujan boleh berada di tingkat atas pencarian. Novel ini dikemas dengan ringan, alurnya memang terkesan agak lamban, tapi itu membuat saya bisa lebih memahami setiap kejadian di dalamnya. Dan akhir yang bahagia selalu membuat saya tersenyum setelah menyelesaikan sebuah bacaan. Esok, Lail, happy ending. Ah, saya suka happy ending.

  • Dipta Tanaya
    2019-04-30 04:01

    Hujan. Tentang Persahabatan. Tentang Cinta. Tentang Melupakan. Tentang Perpisahan. Tentang Hujan.Saya tidak punya harapan tinggi untuk novel Tere Liye terbaru ini. Ya paling ketemu, jadi sahabat, jatuh cinta, pisah, melupakan, nangis di bawah hujan. Saya mulai penasaran karena teman saya menghabiskan buku ini dalam waktu kurang lebih 5 jam. Wow! Sepertinya menarik. Buku ini bercerita tentang Esok dan Lail. Dua anak yang bertemu ketika sebuah bencana hebat terjadi pada 21 Mei 2042. Lail selamat dari bencana tersebut berkat pertolongan Esok. Ibunya yang saat itu bersamanya tidak selamat. Dan dimulailah kisah mereka.Satu pelajaran dari sekian hal yang diramu oleh Tere Liye adalah tentang penerimaan. Termasuk, menerima hal-hal menyakitkan yang terjadi dalam hidup kita. Memeluknya erat. Mengajaknya berdamai. Sepertinya teorinya gampang sekali. Namun, dalam praktiknya memang susah. Susah sekali menerima segala hal menyakitkan yang terjadi. Alih-alih berdamai, mungkin justru kita akan membenci.Penerimaan, terutama terhadap hal-hal yang menyakitkan, memang tidak gampang. Kita bisa saja bertahun-tahun menanam perasaan benci terhadap hal itu. Bersumpah tidak ingin bertemu orang-orang yang terlibat. Bersumpah ingin melupakan agar perasaan kita menjadi tenang, damai, tanpa kenangan menyakitkan itu. Tapi ternyata, penerimaan jauh lebih bijaksana daripada melupakan. Menerimanya menjadi bagian dari diri kita. Menjadi pelajaran bagi diri kita. Dan adalah bagian dari merawat hati kita dari prasangka. Kisah Esok dan Lail disajikan begitu mengalir. Kita juga belajar bahwa menolong orang lain itu mulia dari Lail dan temannya. Kita belajar mencintai dari ibu Esok. Dan kita juga belajar mencintai bumi. Mencintai, dengan tidak mengedepankan ego masing-masing.Terima kasih, Hujan. Telah menemani 5 jam perjalananku.

  • Teguh Affandi
    2019-04-24 20:02

    Sebelumnya saya mohon maaf kepada fans berat Tere Liye, tetapi buku ini menurutku masih kurang terutama bagaimana Tere Liye tidak menjelaskan 'kehebatan' teknologi tahun 2050. Apalagi kisah heroik Lail dan Maryam yang sangat sinetron sekali?Di awal saya membayangkan Tere Liye akan meramal dunia di tahun 2050 sehebat Orwell meramal tahu 1984, yang begitu detail, begitu meyakinkan, dann begitu hidup. Namun novel HUJAN ini lebih serupa dan pantas dianalogikan sebagai novel cinta-persahabatan yang kebetulan bersetting dunia 2050. Paragraf awal sangat memukau, kita dibuat penasaran apa yang sebenarnya dilakukan Lail dan Elijah. Kemudian diseret dengan banyak adegan yang kemudian membuka tabir rahasia satu demi satu.Kemudian adegan bencana gunung meletus, kemudian gempa dan hujan abu dahsyat menurutku sangat holywood sekali. Mungkin ini di awal yang membuat saya memasang nilai tinggi untuk novel ini. Nyatanya, mmmm (maaf, taku tdigebuki fans Tere Liye)Pertemuan dengan Esok, berkawan dengan MAryam, menjadi relawan, menyelamatkan penduduk dari banjir bandang, kemudian mendapatkan penghargaan itu sangat sinetron sekali..... Tapi perlu diacungi jempol adalah bagaimana Tere Liye menyimpan kejutan plot di akhir dan tentu banyak quote manis. Satu yang kusuka, Hidup ini memang tentang menunggu. Menunggu kita untuk menyadari, kapan kita akan berhenti menunggu (hal.228)Terpaksa saya beri bintang dua, karena cerita yang sinetron sekali dan tidak konflik penting di novel ini.

  • Aulia Putri
    2019-04-28 20:48

    Lail, kamu tahu kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun? Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.

  • Hanifah Rahmania
    2019-05-03 20:44

    Really like it. Setahu saya, novel Tere Liye hampir selalu happy ending. Tetapi ketika membaca 'Hujan', saya tetap penasaran dan bertanya-tanya apakah benar akan happy ending, karena bagian awal, tengah, dan akhir novel ini dikisahkan dengan cerita yang tidak terduga. Disamping itu, saya benar-benar menikmati alur ceritanya.Tere Liye selalu mempunyai ide yang baik untuk menyampaikan pesan kehidupan. Melalui novel ini dan beberapa novel sebelumnya, pesan yang disampaikan adalah tentang penerimaan; menghilangkan kesedihan dengan berbuat baik, memeluk hal-hal yang menyedihkan, menyimpannya sebagai kenangan yang indah dan membahagiakan. Saya menyukasi secara subjektif novel ini karena tokoh yang diceritakan adalah seorang tenaga kesehatan, relawan, dan ilmuwan, serta latar cerita novel ini berkisah tentang teknologi dan alam semesta.

  • NurulArdlian
    2019-04-20 21:34

    :D yeay! Bimbang harus memulai review seperti apa, karena novel ini sukses membuat baper! Parah, ih, Bang Tere T.T hehehe.Terharu juga, bahwa di novel ini, pemeran utamanya adalah perawat! Bang Tere juaraaa banget. Perawat dengan segala aktivitas kerennya (uhuk, agak subjektif jadinya :p). Okey, saya lanjutkan review objektifnya."Urusan perasaan, sejak jaman prasejarah hingga bumi hampir punah, tetap saja demikian polanya. Rumit." -halaman 172-. Harus diakui, cerita di sini bikin gemes sampai di detik2 terakhir. Plis, jadi baper dikit saat baca. Tapi overall, bagus. Ya, ya, saya percaya, untuk soal perasaan, bersabar adalah kuncinya. Meskipun akan sering nyesek-nya daripada seneng-nya. Tapi di balik itu semua, tidak ada kesabaran yang sia2. Worth it."Karena kehilangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya." - page 201-."Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan cinta itu sendiri. Rasa sukanya sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, sulit dilukiskan kuas sang pelukis, tak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun."Dan bagiku, aku menyukai hujan rintik-rintik. Dia disebut gerimis. Apalagi jika bersama2 denganmu. Gerimis romantis :p Dear, you. Selamat menikmati hujan!

  • Mardhiana Anggraini
    2019-05-14 23:53

    Hujan. Tentang Persahabatan. Tentang Cinta. Tentang Melupakan. Tentang Perpisahan. Tentang Hujan.Pada awalnya, saya berpikir kalau novel ini hanya menceritakan tentang dua orang yang bertemu, bersahabat, saling jatuh cinta, dan entah apa alasannya lantas berpisah hingga berupaya melupakan. Tapi nyatanya berbeda, saya mengagumi Lail yang meski di saat-saat pelik ia baru bisa 'menerima' semuanya, bukan melupakan."Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan." - Hal.318Penerimaan. Memeluk semua luka. Menerima hal-hal yang menyakitkan dengan hati yang lapang. Meski tidak mudah, tapi setidaknya menerima akan lebih bijaksana daripada melupakan. Menerima sebagai bagian dari perjalanan hidup kita.Sebuah pesan lain yang menarik bagi saya adalah tidak grusa-grusu dalam sebuah tindakan, tidak terburu-buru menerka-nerka dan berburuk sangka, padahal bisa saja akhir dari semuanya adalah kebahagiaan, yang meski pada awalnya terlihat tidak mungkin.

  • Tsaki
    2019-05-12 00:52

    Setelah membaca kisah Lail dan Esok, akhirnya lega di akhir cerita. Resensi lengkap: http://ulasantsaki.blogspot.co.id/201... :)4.5 bintang

  • Elvira Susiana
    2019-05-02 02:41

    Kyaaaa setelah menunggu hampir setahun akhirnya keluar juga buku ini dan sangat tidak mengecewakan sekali jalan ceritanya. Meskipun agak dibuat sedikit kesel diakhir-akhir sama Esok. Jatuh cinta sama cover depannya <3 <3"Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya menetap dihati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka biarlah begitu adanya, biar menetap dihati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian."

  • Atika Widiastuti
    2019-05-19 02:52

    ceritanya umum. tentang dua anak manusia, seorang laki-laki dan perempuan. Namun setting yang diberikan oleh Tere Liye itu begitu keren. Sesuatu yang bisa jadi terjadi jika kita melihat kondisi bumi sekarang, sesuatu di depan, yang tidak semua orang terpikirkan, bahkan untuk sekedar memperkirakannya.2 acung jempol saya berikan untuk setting cerita "Hujan" :)

  • Erma
    2019-05-09 20:38

    Hujan mengemas semuanya. Mulai dari tema dan feel pembaca.Bang Tere mampu mendeskripsikan hal-hal yang tidak bisa saya jelaskan di buku ini, terima kasih bang :DDan ketika rintik Hujan kadang membuat baper, novel inipun demikian. hahaha

  • Azzam Alfa
    2019-04-25 00:38

    Sumpah novel ini keren!! Campuran antara scifi, fantasi dan romance!! Adaa aja idenya Tere Liye! Jadi keinget serial Divergent pas baca awal awal, tp ditengah berasa di novel Bulan.. dan endingnya.. aw aw!! Great!!

  • Silvi S.
    2019-04-23 22:41

    reviewnya ntar-an yaaw :)

  • Aso
    2019-05-06 21:59

    2 dari 5 bintang Sangat banyak potensi di dalam buku ini yang bisa membuatnya menarik, tapi akhirnya tidak tergali karena penulis lebih fokus ke kisah Lail dan Esok yang klise dan membosankan. Karakter Lail dan Esok tidak terbangun dengan baik, bahkan saya merasa mereka tidak memiliki karakter. Hanya Maryam yang sedikit menghibur, itupun karakternya tipikal karakter teman penggembira. Awalnya sudah sangat menjanjikan, kejadian gunung meletus/gempa buminya mengingatkan saya pada bagian awal dari buku The Kill Order nya James Dashner. Ini membuat saya bersemangat, tapi setelah itu membosankan. Nah, menuju akhir, bagian yang kapal kapalan itu, saya pikir akan memberi rasa deg degan seperti saat pemilihan tribute Hunger Games, tapi sekali lagi potensi ini dibelokkan ke hal yang klise. Penulis memasukkan sangat banyak unsur ke dalam cerita ini, seperti setting waktu di masa depan, teknologi canggih, apokaliptis, romansa dan rentang waktu yang cukup panjang, dari Lail berusia 13 sampai 20 tahun. Namun, melihat bukunya yang hanya 318 halaman, tentu saja tidak cukup. Alhasil tidak ada unsur-unsur tadi yang dibangun dengan sempurna. Kejadian demi kejadian terjadi hanya sambil lalu. Kejadian yang seharusnya mengharukan tidak terasa karena kurang nya backstory yang mendukungnya.  Teknologi yang dijelaskanpun kurang meyakinkan, seandainya bukunya ditambah 100 halaman lagi sehingga Tere Liye  bisa menambahkan detil detilnya lagi, mungkin akan lebih menarik.

  • Ryan Anggara
    2019-05-04 02:35

    esok! terrrbaikk

  • Atika Julian
    2019-05-20 00:49

    Awalnya penasaran sama novel ini. Tapi, setelah baca lembar per lembar rasanya alur ceritanya terlalu lambat, setting ceritanya kurang natural walaupun ceritanya udah di masa depan, ada kesan maksa pada teknologi yang di ciptakan dan kemampuan ilmuwannya.So far, ide cerita menarik. Persahabatan yang renyah dan dibalut dengan beberapa humor dari Maryam membuat kesan persahabatan Lail dan Maryam benar-benar baik. Tapi, cerita ketika Maryam dan Lail menjadi seorang relawan kok agak berlebihan ya ? Hubungan Esok dengan Lail juga kok kayanya gimana gitu. Ga natural.Dibanding novel Tere Liye yang lain, kayanya aku paling ga suka ama cerita yang ini deh. Di 1/4 halaman terakhir aku baru ngerasa dapet ceritanya. Di 3/4 halaman pertama kesannya terlalu panjang ceritanya. Dan.. di novel ini kok quote nya dikit banget si ? Lebih banyak cerita yang entahlah itu..Tapi.. tergantung selera juga yaa :D

  • Fajar Arsyil rahman
    2019-04-29 02:03

    "...ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu helaan nafas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok. Tak pelak lagi, kamu sedang jatuh cinta..."Welcome HUJAN...Ada yang suka Hujan?Ahha, hampir semua orang suka dengan momen Hujan. Apalagi jika sudah lama tidak turun hujan, menyejukkan, aroma tanah basah menjadi sesuatu yang dirindukan. Asal bukan hujan yang di hiasi petir dan angin kencang.Well, kembali ke HUJAN.Kalian suka Hujan? Apakah setiap kejadian penting dalam hidupmu terjadi saat Hujan turun? Cinta misalnya, bertemu seseorang yang selalu ada di hatimu. :DJika iya, itu kabar buruk. Ketahuilah, jangan pernah jatuh cinta saat hujan turun. Karena ketika besok lusa kalian patah hati, setiap kali hujan turun, kalian akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan? :D (salah satu kutipan favorit saya di novel ini)Cerita di buka dari pasien perempuan muda yang seminggu lagi tepat berusia ke 21 tahun, di tahun 2050. Wow wow wow... tahun 2050? yah emang begitu, stop jangan bahas tahunnya, kita lanjutkan ceritanya.Adalah Lail, gadis 21 tahun kurang seminggu, yang memasuki ruang sederhana 4x4m. Jangan salah, ruang ini memiliki teknologi dan berperalatan medis paling maju. Teknologi terapi yang tidak pernah dibayangkan manusia sebelumnya. Yaps, terapi. Lail memutuskan memodifikasi ingatannya, menghapus kenangan menyakitkan. Apalagi kalau bukan kenangan tentang "Hujan"Setting berpindah ke tahun 2042. Saat Lail berangkat sekolah di hari pertama SMP, di antar ibunya dengan kereta bawah tanah super canggih yang pernah ada. Tentu saja teknologi saat itu sudah amat maju pesat. Handphone digantikan oleh layar sentuh berukuran 2x3 cm sekaligus sebagai alat pembayaran apapun, alat ini tertanam di lengan. Emejing sekali, bukan?Kembali ke cerita, saat itu gerimis sedang turun. Beberapa menit setelah Lail dan ibunya naik kereta canggih, sebuah bencana yang tidak terduga menjadi muasal cerita ini. Gunung meletus, sebuah gunung purba meletus, ledakannya bahkan terdengar hingga radius 10.000km, Terdengar keras dari kota Lail yang berjarak 3200km. Bukan ledakannya yang membuat kacau, melainkan beberapa menit kemudian terjadi gempa super dahsyat yang pernah ada. Gempa bumi berkekuatan 10SR. Keretan sudah berhenti saat gempa terjadi,Lail, ibunya dan semua penumpang kereta panik. Pemandu kereta mengevakuasi penumpang, keluar melalui tangga darurat. Sayang, ketika Lail sudah hampir sampai di ujung tangga, gempa susulan terjadi, dinding lorong retak, dalam hitungan detik, ambruk mulai dari bagian terbawah, ibu Lail tertimbun sudah, Lail menangis, berteriak, hendak jatuh juga. Beruntung seorang anak laki-laki berusia 15 tahun mencengkram tas punggungnya. Lail tertolong. Seketika mereka berdua bisa keluar dari tangga darurat. Tiba di permukaan dengan kondisi kota yang sudah hancur, tidak ada yang tersisa, rata dengan tanah. Gerimis membuat suasana hati Lail semakin mendung. Saat itulah, untuk pertama kalinya Lail tidak menyukai Hujan. Perkenalan dengan anak lelaki berusia 15 tahun terjadi, Esok namanya. Dia juga kehilangan empat kakak lelakinya, tertimbun bersama ibu Lail.Keajaiban menghampiri Ibu Esok di toko kuenya yang tidak ambruk, hanya retak-retak, rak-rak kue berserakan, salah satunya menimpa Ibu Esok. Ibu Esok selamat meski kakinya harus di amputasi.Ada delapan pengungsian di kota, namun Esok memilih pengungsian nomor dua di stadion dekat rumah sakit, agar leluasa menjenguk ibunya di rumah sakit. Hari berikutnya, Hujan abu sampai di kota mereka, tidak tanggung-tanggung, sampai 5 cm tebalnya. Singkat cerita, Lail yang masih dirundung kesedihan ditinggal mati ibunya ditambah mendengar kabar buruk tentang kepastian ayahnya meninggal, ia kembali mengunjungi lubang tangga darurat, tempat ibunya mati tertimbun, tanpa sepengetahuan Esok. Di tempat inilah, untuk kedua kalinya Esok menolong Lail dari hujan Asam. Sejak saat itu, Lail akan menurut dengan Esok, sejak saat itu pula, Esok menjadi seseorang yang amat penting dalam kehidupan Lail. Hari-hari di tenda pengungsian dilaluinya bersama.Selanjutnya, kehidupan berubah drastis. kebersamaan Lail dan Esok harus mengalami perpisahan. Esok diangkat menjadi anak angkat wali kota, termasuk diperbolehkan ikut ibunya yang sekaligus akan mendapat pengobatan gratis dari Wali kota. Lail masuk panti sosial. Mereka jarang bertemu, sekali bertemu Esok mengajak Lail bersepeda berkeliling kota. Yang justru akan membangun rasa cinta di hati Lail.Waktu melesat cepat.Pertemuan mereka semakin jarang terjadi ketika Esok harus kuliah di luar kota. Hanya setahun sekali bertemu. Bahkan ada bagian dimana Lail bertemu Esok setelah dua tahun tidak bertemu. Tepatnya saat Lail mendapat penghargaan bersama Maryam, sahabat terbaiknya yang hidup sekamar di Panti Sosial. Ah, iya, Persahabatan Lail dengan Maryam yang berambut Kribo ini, patut di acungi jempol. Disinilah letak kisah tentang persahabatan dalam novel Hujan yang di maksud Tere Liye. Entahlah, aku malah jatuh cinta dengan sosok Maryam. Seorang sahabat yang bisa menjaga rahasia temannya, yang selalu ada untuk temannya. Ah, sosok seperti ini memang selalu ada dalam kehidupan nyata.Kembali ke laptop.Lail dan Maryam mendapat Penghargaan karena dedikasinya sebagai relawan yang berhasil menyelamatkan 14.000 penduduk kota dari bahaya jebolnya bendungan. Lail dan Maryam mati-matian berlari dari kota atas, sejauh 50 kilometer melewati hutan, tanah basah, di bawah hujan badai, dengan suhu dibawah 5 derajat celcius. Saat itu mereka baru berusia 18 tahun. Lail dan Maryam mendapat penghargaan pada sebuah acara peringatan 5 tahun berdirinya Organisasi Relawan yang juga di hadiri Bapak Gubernur.Siapa yang tidak senang, hati berbunga saat bertemu seseorang yang selalu ada di hati, seseorang yang bahkan bayang-bayang wajahnya tak pernah pergi dari sisi. Esok memberi kejutan kepada Lail dengan datang saat Lail mendapat penghargaan. Tidak lama memang, tapi itu amat berkesan bagi Lail.Setelah kejutan luar biasa dari novel Pulang, Tere Liye kembali memberi kejutan melalui novel Hujan, dimana novel ini sedikit banyak justru membahas hal-hal ilmiah. Seperti di awal cerita yang disuguhkan dengan alat-alat kesehatan super canggih yang bisa memodifikasi ingatan. Ada juga kursi roda super canggih yang dipakai Ibu Esok. Kalian yang suka narsis pake Tongsis, di novel ini sudah 30 tahun Tongsis punah, di gantikan kamera kecil seukuran kumbang yang bisa terbang, cukup di gerakkan dengan telapak tangan. Keren, bukan?Bahkan musimpun bisa dimodifikasi, meski justru menimbulkan bencana yang amat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. Bayangkan saja, negara Indonesia yang tidak ada musim salju, tiba-tiba jalanan di penuhi gundukan salju, pepohonan tertimbun salju, ternak mati kedinginan. Jangan tanya padi, gandum dan makanan pokok lainnya, pasti susah mencarinya.Cerita mulai merangkak menuju klimaks ketika Esok menjelaskan sesuatu kepada Lail tentang proyek rahasianya. Esok yang diperankan sebagai tokoh genius memang disibukkan dengan mega proyek kapal antariksa berukuran 6km dengan lebar 4km setinggi 800m di universitasnya, Proyek rahasia yang membuat ia terpaksa jarang menemui Lail. Untuk apa kapal sebesar itu? untuk menyelamatkan manusia dari kepunahan.Musim salju memang berhasil di taklukkan dengan mengirim pesawat ulang alik lantas menyemprotkan anti gas sulfur dioksida di lapisan stratosfer. Namun bencana baru datang lagi, berupa musim panas yang terus menerus. Tidak ada awan, dipastikan tidak akan pernah ada Hujan. Hujan hilang dari muka bumi, sementara cuaca panas akan terus meningkat, akan mencapai suhu yang paling mematikan yang bisa membuat manusia punah.Ada 4 kapal yang di buat di 4 negara berbeda, salah satunya Indonesia. Namun hanya ada 10.000 orang di masing-masing kapal yang dipilih secara acak di seluruh dunia. Esok mendapatkan satu tiket karena jasanya turut membuat kapal antariksa, namun saat pemilihan penumpang secara acak, Esok juga terpilih lagi. Jadilah Esok memiliki 2 tiket untuk ikut ke dalam kapal antariksa yang akan menjadi tempat pengungsian, keluar dari bumi selama Bumi masih mengalami musim panas mematikan.Di lain sisi, Lail berharap Esok akan memberikan tiket itu kepadanya.24 jam sebelum kapal itu beragkat, Lail justru mendapat ucapan terimakasih dari Wali kota atas terkabulnya permintaan Wali kota kepada Lail, agar menyuruh Esok memberikan tiket itu kepada Claudia putrinya. Padahal Lail sama sekali belum pernah menerima kabar dari Esok tetang tiket itu.Lail kecewa dengan keputusan Esok yang lebih memilih Claudia dibanding Lail. Dalam pikirannya, Esok justru mencintai Claudia, Esok hanya menganggap Lail seorang adik saja, tidak lebih, tidak kurang. Hingga Lail tiba di ujung kesabarannya, Lail memutuskan untuk memodifikasi ingatannya tentang Hujan, saat hujanlah Lail pertama kali mengenal Esok. Saat hendak hujan Asam, Esok menolong Lail. Kenangan-keangan itu ingin Lail hapus dari ingatannya."Apa yang terjadi, jika hujan tidak pernah turun lagi? Apa yang terjadi, jika kamu tidak pernah mengingatku lagi? Seperti orang-orang yang lupa tentang hujan?"Seperti biasanya, Tere Liye selalu menghadirkan tokoh bijak dalam setiap novelnya. Jika dalam Novel Pulang ada Tuanku Imam, di Novel Rindu ada Gurutta. Maka di Novel Hujan ada tokoh Elijah, paramedis senior yang hendak membantu Lail menghapus ingatannya."Ratusan orang pernah berada di ruangan ini. Meminta agar semua kenagan mereka dihapus. Tetapi sesungguhya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, maka dia tidak akan bisa melupakan."Lantas, benarkah Esok memberikan satu tiket itu kepada Claudia, puteri Wali kota, yang notabennya adalah adik angkatnya?Apa yang terjadi jika modifikasi ingatan Lail berhasil di lakukan?"Tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar.Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian."Novel ini juga berkisah tentang kepastian yang tidak pasti, tentang kabar yang hampir tidak pernah dikabarkan. Hingga membuat sepasang kekasih yang saling mencintai, juga saling menunggu untuk saling mengungkapkan."Hidup ini memang tentang menunggu. Menunggu kita untuk menyadari: Kapan kita berhenti menunggu."Novel ini memang tentang hujan. Tapi bisa di baca kapanpun di musim apapun. Jangan menjadi orang yang rugi tidak membaca novel ini. Buruan beli, sudah tersedia di toko buku terdekat sejak 28 Januari 2016."Orang kuat itu bukan karena dia memang kuat, melainkan karena dia bisa melepaskan..."Review ini masih jauh dari isi keseluruhan. Tapi, setidaknya cukup mewakili isi buku, agar kalian semakin mantap untuk membeli atau membaca Novel Hujan, karya terbaru Tere Liye.

  • Eugenia
    2019-05-16 20:34

    Kalau ditanya apa yang berbeda dari buku karya Tere Liye satu ini, jawabannya adalah settingnya yang futuristik. Tahun 2044 sampai 2050-an (yang saya ingat, yang disebut dalam buku).Apa yang sama? Ehm .. banyak!Misalnya, isu alam yang diangkat. Sudut pandang berbeda tentang rasa suka antara lawan jenis. Dan, sebagai penggemar setia karya Tere Liye, bahkan dari halaman awal saja feel-nya udah kerasa. Entah dari cara ceritanya, kalimat-kalimatnya, atau saya aja yang udah merasa dekat dengan karya Beliau. Pokonya, baca buku ini rasanya seperti kembali pulang ke rumah. Kaya lagi ngobrol sama sahabat lama. Hangat, nyaman, manis. Dan seperti blurb di atas, Hujan memiliki banyak cerita dengan satu benang merah. Cerita cinta Lail dan Esok. Persahabatan dengan Maryam. Perjuangan dalam mengejar cita-cita. Sampai pengorbanan demi bumi tercinta.Saya suka karena banyak aspek manusiawi terdapat di dalamnya. Cinta terhadap diri, lawan jenis, orang tua, sahabat, sampai bumi. Saya suka, karena nama tokohnya yang unik : Lail dan Esok. Saya suka, karena meski settingnya futuristik, cerita di dalamnya tetap sederhana. Membantu di toko kue, berkeliling dengan sepeda merah, menghabiskan waktu dengan saling bercerita kesibukan masing-masing. Cinta yang sederhana, tapi terasa nyata. Lewat buku ini, saya banyak belajar ... tentang seperti apakah tepatnya mencintai? Apa artinya menunggu, sebuah pengorbanan, sampai kemenangan ...Bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Tidak ada usaha yang tidak menjadi nyata. Dan pada akhirnya, kita pun bahagia. Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat semua hal menyakitkan yang mereka alami. Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan. Hujan, halaman 317-318Selamat membaca, ya!\(^-^)/

  • Rizki Saputri
    2019-05-04 00:40

    “Apa yang hendak kamu lupakan, Lail?”“Aku ingin melupakan hujan.” —Hujan (hal 9).Jika sekadar membaca sinopsisnya yang hanya sepuluh kata, kita mungkin akan mengira bahwa novel Hujan karya Tere Liye ini adalah karya fiksi dengan latar kehidupan sehari-hari. Saya pun awalnya mengira bahwa novel ini akan klise-klise saja dengan mengangkat kisah yang sudah jamak diceritakan: persahabatan dua orang lelaki-perempuan yang merumit akibat keterlibatan perasaan-perasaan. Saya juga secara spontan mengasosiasikan Hujan dengan novel pendahulunya, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.Tetapi tidak. Novel Hujan secara mengejutkan mengambil latar dunia di tahun 2050-an, dengan segala kemajuan teknologi dan gentingnya isu-isu mengenai lingkungan.Cerita dimulai dari pertemuan Lail dan Elijah di sebuah ruangan terapi—ruang operasi saraf otak, lebih tepatnya—yang dideskripsikan memiliki atmosfer nan futuristik. Lail, dengan sesak dan tangis yang tertahan, menemui Elijah sang fasiltator terapi untuk satu tujuan: ingin menghapus ingatannya tentang hujan.Mengapa?Karena hujan selalu turun di masa-masa tergelap Lail dalam beberapa tahun terakhir—sampai ia sendiri tidak tahan. Padahal sebelumnya, hujan jamak turun pada saat-saat tercerahnya.Bagaimana bisa?Dan kita dibawa mundur kepada kejadian delapan tahun silam, tepatnya ke tanggal 21 Mei 2042, saat bayi kesepuluh miliar baru lahir ke dunia. Saat itu, ketika dunia dihadapkan pada isu pertambahan penduduk yang semakin mengeksponensial dan seakan tak bisa dibendung, ketika dunia sedang mencari jalan keluar atas luar biasa banyaknya orang-orang di bumi dan krisis yang menyertainya, tiba-tiba alam menyediakan solusi tersendiri. Siklus itu datang, sebuah gunung purba meletus dahsyat dengan suara letusan terdengar hingga 10.000 kilometer. Menyemburkan material vulkanik setinggi 80 kilometer dan menghancurkan apa saja dalam radius ribuan kilometer. Letusan yang lebih hebat dibandingkan letusan Gunung Tambora dan Gunung Toba puluhan ribu tahun silam itu secara efektif dan signifikan berhasil mengurangi jumlah penduduk dunia hanya dalam hitungan menit.Lail yang saat itu berusia tiga belas tahun, dalam hari yang tak terlupakan oleh dunia, mendadak sebatang kara dan kehilangan orang tuanya. Tetapi, takdir membawanya kepada Esok, bocah lelaki berusia lima belas tahun yang menyelamatkannya dari reruntuhan tangga kereta api bawah tanah. Bocah laki-laki spesial yang kelak akan menjadi sangat penting dalam hidupnya.Waktu berjalan cepat. Di bawah stratosfer yang rusak, di antara semrawutnya KTT Perubahan Iklim Dunia, Lail tumbuh dewasa sambil menerka-nerka kemana ujung kisahnya bermuara.Sejak saat itulah, memori Lail tentang hujan, tentang kebahagiaan, tentang perpisahan, dan juga segala unsur tentang kesedihan, berkelindan menjadi benang kusut yang membingungkan dan membuat sesak. Sampai-sampai, Lail dengan nekatnya datang ke Pusat Terapi Saraf. Berharap paramedis dapat menghapus ingatannya tentang hujan—tentang Esok. Ya, terutama ingatannya tentang Esok.***Novel setebal 320 halaman ini cukup ringan dengan alur bercerita yang sangat mengalir sehingga dapat diselesaikan dalam beberapa jam saja. Penceritaan interaksi Lail dan Esok, serta beberapa tokoh sentral lain seperti Maryam sang sahabat, Ibu Suri pengurus panti sosial, maupun Bapak dan Ibu Walikota, terasa sangat alami sehingga saya betah untuk terus mengikuti. Beberapa adegan yang terasa sinematik memang mengingatkan saya kepada beberapa judul film Hollywood yang mengambil tema akhir dunia. Tetapi toh saya tetap menikmatinya.Kisah romansa Esok-Lail yang sangat bersimpulan dengan isu-isu penting dunia berhasil dibawakan dengan apik, terkupas satu per satu dengan ritme yang tepat. Membuat saya ikut berdegup, untuk kemudian lega, untuk kemudian kembali menjadi semakin khawatir. Khawatir jika kondisi bumi dalam cerita tersebut menjadi lebih buruk lagi. Khawatir jika Esok dan Lail akan seperti arti namanya: pagi dan malam. Tak pernah bersama.Membaca novel ini di penghujung pekan yang memasuki musim penghujan adalah hal yang menyenangkan. Jika pun ada yang harus dikritik, kritik saya hanyalah karena Hujan kurang mengelaborasi karakter Esok lebih dalam.Selamat tenggelam dalam Hujan!Urusan perasaan ini, sejak zaman prasejarah hingga bumi hampir punah, tetap saja demikian polanya. —Hujan (hal 172)*) Review ini terpilih dalam #ResensiPilihan Gramedia periode 16 Februari 2016.

  • Faizah Aulia R
    2019-05-06 02:03

    awalnya mau 2(gasuka, tapi ada nilai yg bisa diambil), 2,5 lah karena endingnya, karena :1. konflik baru muncul di halaman 250an, which is itu udah ngabisin 4/5 bagian buku buat baca tapi enggak nemu konflik yang 'ewgh'2. heroine nya ya ampuuun, kugasukaaaaa, yang ada di pikiran heroine cuma bagaimana perasaan tokoh utama pria ke dia, kek hellooo di cerita dia masih umur remaja looh, kalo Faizah bisa bilang ke dia sih, "dear dedek, masih mudaa, masih banyak yang bisa kamu lakukan tanpa mikirin dulu apakah nanti akan berakhir dengan si doi atau tidak", kek kehilangan nafas hidup banget kalo ga ada doi, padahal mah yaa, bisa eksplor sana siniii. Heroine nya kayak gak punya passion meraih mimpi, sebel jadinya wkwkwk. Sebenernya wajar sih si heroine mikir kek gitu, karena dia kehilangan orang tua dan yang ada saat itu cuma si tokoh utama. Tapi, emosi, perasaan heroine enggak digambarkan dengan jelas dari awal mereka ketemu, jadi berasanya 'there's nothing happen with them', enggak ngerasain romance thingy diantara mereka, ya jadinya kesel wq3. Latar belakangnya di entah belahan bumi bagian mana pada tahun 2042, beberapa alat canggih, tapi yang lainnya, cenderung terbelakang. That part dia harus lari ke suatu daerah karena enggak bisa dijangkau dengan apapun kecuali orang yang kesana, berasa "is it real 2042 dengan penjelasan teknologi yang udah canggih luar biasanya ?"4. Bahasanya kaku banget, penjelasan bertele-tele5. Gak ngerasaiin emosi dimainin dari awal, gak ada lucu, terharu, marah, atau apaa ya kecuali udah di halaman 250an. Feel nya datar, malah kayak "naon sih meuni riweuh sorangan iyeu tokoh"6. Beberapa adegan clueless banget, ya masa diusir dari bus kota cuma gegara ngobrol mulu sama sahabatnya di dalem bus (?)7. Diceritakan bahwa heroine ini tinggal di panti rehabilitasi korban bencana alam, tapi interaksi yang digambarkan cuma sama teman sekamar dan ibu asuhnya, padahal diceritakan pantinya besar, sangat disayangkan ga ada sama sekali gambaran interaksi dengan penghuni panti yang lain, ga ada bedanya kayak tinggal di kosan cuma ber-2 sama Maryam, eheHal-hal yang bikin 'okelah' :1. Tema tentang alam, tentang keselamatan bumi, tentang keserakahan manusia sampe mengorbankan bumi-nya sendiri2. Tokoh penengah (Maryam) yang okelah buat ngehidupin suasana 2 tokoh utama yang gloomy abis3. Ending yang lumayan menyentuh4. Bagian tentang melupakan, menerima dll yang quoteable lah yaGood idea, bad execution, heKayaknya Tere Liye suka banget sama cerita cinta saling menunggu gitu ya, iya iya sih gapapa, kodrat perempuan ya emang nunggu, tapi jadi ga iyewh kalo dijadiin tema utama cerita, yang 90% isinya nunggu tapi dengan tokoh yang ga bersemangat heSatu buku dari tumpukan berkurang yeaaa~

  • Fikriah Azhari
    2019-05-13 23:43

    “Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?" - Maryam, halaman 200Lail selalu suka Hujan. Selalu. Sejak ia kecil. Namun, suatu kejadian pada 21 Mei 2042 membuatnya memiliki kenangan mengerikan tentang hujan. Usia Lail baru 13 tahun, kala bencana alam itu terjadi, letusan gunung purba yang mengakibatkan perubahan yang sangat ekstrim bagi bumi, juga merupakan hari yang tak bisa dilupakan bagi mereka yang selamat dari bencana itu. Juga bagi Lail, yang harus menerima kenyataan bahwa ia kehilangan kedua orangtuanya hari itu juga, tepat ketika hujan.Lail selamat, berkat bantuan seseorang. Anak laki-laki berusia 15 tahun yang menarik tas punggungnya di tangga darurat, menyelamatkan dirinya yang sedang berusaha menolong sang ibu yang telah jatuh empat puluh menter di bawah sana beserta guguran-guguran tanah. Anak laki-laki yang kemudian diketahui Lail bernama Esok, tepatnya Soke Bahtera, yang kemudian menemani Lail melewati masa-masa sulit, yang kelak, menjadi laki-laki yang amat Lail sayangi. Namun, kebersamaan mereka itu tak berlangsung lama.Satu tahun sejak bencana alam itu, keadaan kota menjadi lebih baik. Panti sosial didirikan untuk mereka yang tak punya tempat tujuan. Lail yang tak tahu harus ke mana, tidak punya pilihan lain selain ikut ke sana, namun tidak bagi Esok. Esok adalah anak yang cerdas, maka ada keluarga yang bersedia mengangkatnya menjadi anak asuh dan menyekolahkannya setinggi mungkin, juga merawat ibunya yang kehilangan kedua kakinya pada bencana mengerikan itu. Maka, sejak saat itu, Lail dan Esok sudah tak lagi ada di jalan yang sama, keduanya telah berada di jalan yang berbeda.Beberapa tahun setelahnya...“Apa yang hendak kamu lupakan, Lail?” – Elijah, Paramedis senior.“Aku ingin melupakan hujan.” – Lail, Pemegang Lisensi Kelas A Sistem Kesehatan, usia 21 tahun.Review lengkap: http://fikriah-bookaddict.blogspot.co...

  • Hamidah
    2019-05-17 00:42

    Buku ini dibeli di Mataram, Lombok. Tidak rugi membelinya kerana kisahnya yg menarik. Kisah yg berlaku di tahun 2050 dimana letusan gunung berapi yg amat kuat telah menyebabkan manusia cuma tinggal 10% shj di dunia ini. Kisah Lail dan Esok yg terselamat dlm kemusnahan terteruk dlm sejarah dunia. Letusan yg menyebabkan perubahan cuaca di seluruh dunia. Membacanya mengingatkan tentang tanda2 kiamatBuku ini walau ditulis di dalsm bahasa Indonesia tp mudah difahami.

  • Nurul Atiqah Muhamad
    2019-05-05 20:45

    Review buku Hujan karya Tere Liye.Pertama kali membaca buku ini, saya bayangkan ceritanya mengenai seorang introvert yang sangat sukakan hujan, selalu minum di café semasa hujan dan mungkin berkerja sebagai pustakawan di library dan terlibat dengan drama-drama cinta yang agak cliché. Sangkaan saya meleset sama sekali. Meleset. Sama. Sekali. Terlebih dahulu, buku ini bahasanya mudah difahami (kalau biasa baca tulisan penulis Indonesia) dan mungkin memerlukan bantuan kamus untuk beberapa perkataan. 318 muka surat semua sekali. Ada beberapa frasa buku ini yang mengingatkan saya pada karya2 Hamka. Buku SAINS FIKSYEN ini berlatar belakangkan masyarakat distopia pada zaman hadapan (lebih tepat lagi tahun 2050). Bagaimana beberapa tahun sebelum itu, bencana besar telah berlaku kepada penduduk bumi (bencana apa, boleh dibaca sendiri). Buku ini mengingatkan saya kepada filem-filem seperti Wall-E, Baymax, Deep Impact, 2012 dan Sinking of Japan sekaligus. Sesiapa yang sukakan novel yang mana watak utamanya orang kaya, kerja di syarikat besar, playboy yang ditundukkan, kena kahwin paksa etc novel ini bukan untuk anda. Watak lelaki utama, Esok, anak penjual kek sahaja. Sederhana cara hidupnya tapi sangat pintar berfikir. Dia menjadi salah satu tunjang dalam projek sains terbesar dalam kisah ini. Watak perempuan utama, Lail, anak yatim piatu pertama kali berjumpa Esok semasa hari bencana besar itu. Pada hari itu HUJAN, dan Lail sangat sukakan hujan. Hubungan Lail dan Esok menjadi rapat selepas itu semasa mereka bersama-sama tinggal dan menyumbangkan tenaga dan masa di khemah mangsa bencana. Lail dan Esok bukanlah pasangan yang terlibat dengan cinta dan angan-angan murahan. Esok seorang engineer genius dan Lail, Lail seorang sukarelawan yang terlibat menolong mangsa-mangsa bencana. Hebatnya Lail, dia berlari merentas ribut dalam perjalanan sejauh lima puluh kilometer dalam masa yang terhad untuk memberi amaran kepada mangsa bencana. Lail banyak menyibukkan dirinya dengan aktiviti sukarelawan untuk mengelakkan terlalu bermain dengan perasaan dan ketidakpastian. Banyak perkara-perkara saintifik seperti iklim dan bencana alam diceritakan dalam buku ini. Begitu juga isu-isu politikal. Bagaimana manusia menjadi sangat mementingkan diri sendiri dalam memastikan kelangsungan hidup. Manusia lebih memikirkan hidupnya untuk esok hari dari kesan perbuatannya untuk puluhan malah ratusan tahun akan datang. Walaubagaimanapun, dalam ribut-ribut ragam manusia ini, masih ada juga manusia yang baik hati, tidak mementingkan diri sendiri dan hidupnya samata-mata untuk berbakti kepada orang lain.Mungkin, kalau manusia memandang sesuatu dari perspektif yang lebih meluas, tidak bersifat narcissistic dan hanya terkurung dalam masalah dan penjara jiwanya sendiri, mungkin, masalah yang dihadapinya akan dirasakan lebih ‘ringan’ dan masalah masyarakat sekeliling yang lebih serius akan tampak lebih jelas. Seperkara yang sering disebut ialah kepentingan ilmuwan dalam masyarakat. Sepertinya, kata-kata ilmuwan sering diketepikan oleh golongan yang lebih berkuasa dan kaya (ahli-ahli politik) yang membuat keputusan yang akhirnya merugikan semua pihak. Buku ini sesuai untuk sesiapa yang suka berimaginasi. Juga untuk sesiapa yang sedang bercinta bertepuk sebelah tangan ataupun sekadar memendam perasaan. Anda akan lebih faham perasaan Lail. Susah hidup dalam ketidakpastian ini sebenarnya. Lebih susah lagi bila memilih untuk melupakan dan move on. Alangkah bagusnya kalau kita boleh melupakan kenangan-kenangan buruk semudah kita melupakan fakta-fakta sejarah,sains dan formula matematik yang kita pelajari di sekolah? ==' Masalahnya, kenangan ini bersangkut paut dengan emosi, hati. Fakta-fakta sains ini hanya sekadar musafir lalu di peti simpanan memori kita. Itupun kalau masuk otak, kadang-kadang melantun keluar dari telinga dan tak masuk langsung.Jujur saya katakan, kalaulah saya boleh membuat pilihan buku apa yang ingin saya adaptasi kepada filem, saya akan memilih buku Hujan ini tanpa berfikir dua kali. Sebelum mula membaca buku ini, saya sudah berfikir-fikir untuk membeli lagi karya-karya Tere Liye jikalau buku ini sebagus yang saya harapkan. Sekarang, 11 buku karya penulis ini dalam perjalanan ke Malaysia.Kesimpulannya, solid 5 bintang.#tereliye #hujan #bookreview

  • Farissa Nuri
    2019-04-27 02:53

    "Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya."3.5/5 StarsSaya bukan fans beratnya Tere Liye. Saya pun baru membaca tiga bukunya, Rindu, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, dan Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah yang jadi favorit saya. Khasnya Tere Liye itu quote-quotenya yang kadang bikin baper sendiri. Jadi buku ini merupakan salah satu buku yang sangat ditunggu-tunggu terbitnya. Saya pikir buku ini tentang romance. Tapi setelah membacanya menurut saya bukan. Memang ada romance di dalamnya, tapi tema besarnya buku ini lebih kepada masalah kerusakan dan kehancuran bumi. Buku ini mengambil tempat di masa depan. Teknologi semuanya sudah serba canggih. Pada awal bab kita akan diperkenalkan dengan tokoh utama, Lail, gadis 21 tahun yang ingin menghapus ingatannya tentang hujan. Tentunya hal itu membuat penasaran. Ada apa dengan hujan yang membuat Lail ingin menghapus ingatan tentangnya? Dari sana cerita mundur ke belakang saat Lail berumur 13 tahun. Letusan dahsyat sebuah gunung purba terjadi. Menghancurkan banyak tempat dan membunuh sebagian besar populasi manusia di bumi. Orang tua Lail meninggal. Beruntung Lail bertemu dengan Esok yang menolongnya saat gempa bumi terjadi. Sejak saat itu Esok menjadi orang terpenting dalam hidup Lail. Imbas dari letusan gunung tersebut ternyata berkepanjangan dan berujung pada bencana kiamat yang akan segera terjadi.Dengan latar belakang cerita seperti itu sebenarnya saya lebih berharap ceritanya lebih berfokus pada pengembangan karakter-karakter di dalamnya. Interaksi antar karakter-karakter tersebut. Bagaimana mereka menerima dan menghadapi bencana kiamat yang akan terjadi. Pergolakan batin yang mereka rasakan saat akhir dunia semakin dekat. Bahkan saya berharap ceritanya bisa lebih sedikit depresif. Setting di masa depannya sendiri sebenarnya cukup menarik. Tapi di beberapa bagian terkadang terlalu dipaksakan dan memuat detail yang menurut saya sebenarnya tidak perlu. Seperti terlalu ingin meyakinkan pembaca kalau teknologi saat itu memang sudah benar-benar canggih. Tapi secara keseluruhan saya cukup menikmati ceritanya. Terutama menjelang akhir cerita yang cukup tidak disangka-sangka. Mungkin pesan yang paling penting yang ingin disampaikan buku ini adalah kerusakan alam itu pasti dan sedang terjadi saat ini.

  • 'Izzatil
    2019-05-10 22:02

    "..sesungguhnya bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan."Ada yang bilang buku ini soal bagaimana berdamai dengan masa lalu dan kenangan yang menyakitkan, alih-alih bersikeras melupakannya. Tapi saya menangkap pesan lainnya. Segalanya harus dipastikan, enggak boleh main-main sama asumsi sendiri, apalagi menebak-nebak. Kalau dari awal ini yang dilakukan, saya yakin nggak bakal ada yang namanya kenangan menyakitkan, hahaha! #anaknyalogisOverall, sepanjang ceritanya cukup mengaduk perasaan dan bikin gemes-gemes sebel sendiri sama tokoh-tokohnya. Tapi saya menikmatinya dengan senang hati, karena nggak bikin kecewa dong ternyata.Anyway, naksir parah sama Esok di sini. Baik banget!Semoga bisa ketemu Esok di realita :3

  • Aas Nuraisiyah
    2019-05-03 02:02

    "Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya," (201/318)#Kalau aku jadi Lail, tentu aku juga akan amat sangat menyukai Esok (dan berharap menghabiskan waktu bersama Esok, sesulit apapun keadaan Bumi. Sesederhana itu). But, that's life. "Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami." (317/318)#Aaaaaah gila! Bikin baper dan bikin gamau beranjak dari kamar buat melahap habis buku ini beberapa jam aja

  • ABO
    2019-05-19 00:54

    3,5/5Quote favorit:“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahya jatuh cinta.”Review lengkap