Read Bound by Okky Madasari Nurhayat Indriyatno Mohamed Makna Sinatria Online

bound

Does free will truly exist? Does man truly exist?Okky Madasari explores the seminal questions of mankind and humanity in her latest novel.A struggle arises between the two main characters, Sasana and Jaka Wani, in the search for freedom from all restraints - from those of the mind and body, to restraints imposed by tradition and family, society and religion, to economic doDoes free will truly exist? Does man truly exist?Okky Madasari explores the seminal questions of mankind and humanity in her latest novel.A struggle arises between the two main characters, Sasana and Jaka Wani, in the search for freedom from all restraints - from those of the mind and body, to restraints imposed by tradition and family, society and religion, to economic domination and the shackles of authority....

Title : Bound
Author :
Rating :
ISBN : 9786020305349
Format Type : Paperback
Number of Pages : 273 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Bound Reviews

  • *eKa*
    2019-03-24 06:47

    "Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu."Pasung Jiwa adalah perkenalan pertamaku dengan karya Okky Madasari dan aku sukaaaaaa banget. Habis temanya keren banget dan menambah pengetahuan juga. Dan aku yakin isu-isu yang diangkat dalam novel ini pasti sudah melalui riset yang gak main-main. Ya masa sih berani-beraninya ngomongin polisi, jenderal dan FPI dengan cuma mengandalkan imajinasi dan asumsi?Tokoh sentral dalam novel ini adalah Sasana/Sasa dan Cak Jek/Jaka Wani/Jaka Baru. Sasana digambarkan sebagai seorang berjiwa perempuan yang terkungkung dalam tubuh lelaki. Dia lahir dari keluarga berada dan terpandang yang senantiasa mempersiapkan Sasana untuk menjadi seorang yang membanggakan kedua orangtuanya. Sementara Cak Jek digambarkan sebagai seorang lelaki yang pandai bicara model motivator/provokator gitu. Masa kecilnya sih gak diceritakan. Tapi kayaknya dia datang dari keluarga kelas bawah. Berdua mereka dipertemukan di sebuah warung kopi milik Cak Man dan di sinilah awal perjalanan mereka dalam menemukan kebebasan jiwa mereka, yaitu melalui mengamen. Sebuah perjalanan yang tak hanya berisikan tawa, tapi juga dipenuhi luka. Dari mulai luka fisik sampai luka batin. Aku suka cara Okky menuliskan ceritanya dari sudut pandang Sasana dan Cak Jek secara bergantian. Dan aura yang keluar dari setiap rangkaian kata yang kubaca memang berbeda. Terasa seperti hal tersebut memang diungkapkan oleh Sasana atau Cak Jek sendiri. Kadang aku ikutan ketawa setiap Sasa ngomongin betapa bangganya dia karena banyak orang yang mengagumi goyangannya. Atau merasa ngeri ketika Cak Wani melihat darah hasil aborsi. Singkatnya, kerenlah. Belum lagi settingnya tempatnya nyata, gak pake inisial-inisialan. Ras juga disebutin secara terang-terangan di sini. Isu yang diangkat di buku ini seputar Orde Baru, ketenagakerjaan, pelacuran, laskar agama dan proses keadilan yang masih pandang bulu. Untuk beberapa isu gak begitu mendalam, tapi setidaknya sekarang aku jadi tahu kenapa FPI bisa begitu bebas menlancarkan aksinya. Haha, ternyata direstui sama polisi juga, to. Mereka dapat orderan dari polisi juga. Huh! Polisi gak mau tangannya kotor nih kayaknya. Eh, sebenernya Okky gak secara gamblang menyebut FPI, sih. Tapi ya kayaknya udah jadi rahasia umum juga soal siapa yang suka razia bar dan menyerang sebuah aliran sesat hingga membabi buta seperti disebutkan di buku ini. Adegan ini bikin mules, loh. Oh iya, terus ada adegan dewasanya juga dan dialog cabul juga sih, Jadi ya hati-hati aja kalo gak terbiasa. Isu yang melekat dengan tokoh sentral tentu saja soal pencarian jati diri. Bagaimana pergulatan seorang Sasana dalam menerima sisi lain dirinya yang kemayu yang bernama Sasa dan reaksi keluarganya mengenai pilihannya. Dan aku tersentuh sekali sama pilihan ibu Sasa yang mau menerima keputusan anak sulungnya tersebut. Bahkan sampai dia memilih berpisah dengan suami dan anak perempuannya. Kasih ibu memang sepanjang masa. Kalau Cak Jek? Dia bergulat dengan menjadi apa dirinya, profesi apa dirinya, karena dia selalu mengoceh soal profesionalisme. Dan tentunya untuk memenuhi mimipinya membela pihak yang tertindas. Karena berulang kali lelaki ini selalu bertingkah bak pengecut.Akhirnya? Cukup memuaskan aja sih karena bagiku kurang panjang dikit lagiiii aja. Kependekan. :(Ada satu "keyakinan" Sasa yang begitu ironis dengan kondisi sesungguhnya kini:"Pada hari ketika kami sama-sama meneriakkan kemenangan, aku meloncat-loncat kegirangan. Aku merasakan sebagai bagian kemenangan itu. Tubuhku bergoyang di tengah-tengah ribuan orang. Tak akan ada lagi ketakutan, tak akan ada lagi orang-orang berlagak preman. Tak akan ada lagi anak SMA sok jagoan yang berlindung di balik jabatan bapaknya. Tak ada lagi tentara yang bisa menyekap dan menyiksaku seenak mereka. Lebih dari itu, ini adalah kemenangan atas ketakutan. Ini adalah hari di mana impian akan kebebasan itu benar-benar datang."Dan buku ini membuatku berpikiran bahwa jiwa kita selamanya akan tetap TERPASUNG, sebebas apa pun kita merasa. Kecuali ketika kita MATI.

  • Darnia
    2019-02-27 08:33

    3.5/5 bintangWhile we are free to choose our actions,we are not free to choose the consequences of it(Stephen R. Covey)Quote di atas sudah menggambarkan keseluruhan isi buku ini. Kebebasan yg diinginkan Sasana, yg sejak orok sudah diperdengarkan musik klasik, untuk menekuni lagu dangdut, namun terhalang keinginan dan gengsi orang tua. Kebebasan yg diinginkan Jaka Wani, buruh pengelap layar televisi, untuk kembali menghidupkan jiwanya yg dilumpuhkan oleh rutinitas. Keinginan yg digambarkan sangat indah. Namun, apakah kebebasan itu gratis dan tanpa syarat? Okky Madasari memberikan gambaran ketidakadilan dunia (terutama negara ini, pada masa itu) terhadap kebebasan.Seperti buku sebelumnya (yg gw baca) Entrok Okky Madasari kembali menghadirkan karya yg padat. Buku ini adalah buku pertama Okky, sehingga menurut gw, Entrok lebih unggul. Tapi, tema yg diangkat masih sama, nggak jauh-jauh dari ketidakadilan. Banyak kejadian yg "disenggol" Okky di sini (meski nggak terlalu vulgar menyampaikannya), seperti kasus Marsini (pelesetan nama Marsinah sepertinya), kemudian lengsernya Presiden Soeharto (yg ini hanya sekilas aja), Laskar Tuhan (kayaknya sih nyindir FPI) dan yg terakhir Ahmadiyah (yg ini disamarkan). Menurut gw ya...bisa aja yg lain pendapatnya beda, Okky dalam buku ini secara halus memberikan gambaran hitam putih terhadap suatu peristiwa. Gak pake area abu-abu, sepertinya Okky menggiring pembacanya untuk melihat bahwa si A ini jahat, si B ini baik, dengan berbagai alasan yg ada. Di situ saya kadang merasa sed...eh, di situ gw agak enggak setuju. Tapi memang itu hak penulis. Jadi, bintang gw untuk buku ini murni untuk gaya penulisan dan plot yg mengalir lancar bak arus sungai brantas saat musim hujan, meskipun gw gak 100% setuju dengan opini Okky terhadap peristiwa-peristiwa yg diangkat.Despite of all, I think her message is clear:"Sulit bagi seseorang untuk menciptakan hidup dan kebebasan mereka sendiri (Chris Cornell), namun menjadi diri sendiri pada dunia yang menuntut kita menjadi orang lain adalah prestasi yang luar biasa (Ralph Waldo Emerson)"Terima kasih iJak atas peminjaman bukunya

  • Nana
    2019-03-15 02:59

    Walau tidak seekstrem kasus Sasa dan Jaka Wani, saya rasa setiap orang memiliki Pasung Jiwa-nya masing-masing. "Be Yourself" is such a bullshit. Siapa coba yang bebas menerapkan "Be Yourself" kalau setiap hari berhadapan dengan orang-orang sekitar yang siap menilai kita? Siapa juga yang berani menerapkan "Be Yourself" dengan resiko dikucilkan atau dianggap gila?Ini novel Okky Madasari ketiga yang saya baca setelah Maryam dan 86, tapi menurut saya novel ini yang terkaya dari segi isi. Selain membahas mengenai kebebasan mengekspresikan diri--yang bisa sangat dekat dengan pembaca, Okky Madasari juga membalutnya dengan isu-isu sosial seperti perburuhan dan juga kekerasan berkedok agama, dengan latar belakang reformasi 1998-1999.Btw, saya kasihan sama Sasa, tapi sama sekali nggak simpati sama Jaka Wani. Jaka Wani pengecut. Huh!

  • Harun Harahap
    2019-03-12 05:35

    Aduh, kangen deh gue sama novel Entrok nya mbak Okky. Tiga karya setelahnya belum ada yang bisa bikin gue kasih bintang lebih dari tiga. Termasuk buku ini. Gue ga bilang buku ini jelek. Buku ini bagus. Tapi menurut gue terlalu banyak topik yang ingin disampaikan. Jadinya semua tidak fokus bahasannya.Tidak mendalam.

  • Biondy
    2019-02-24 06:59

    Ketidakwarasan yang WarasJudul: Pasung JiwaPenulis: Okky MadasariPenerbit: PT Gramedia Pustaka UtamaHalaman: 328 halamanTerbitan: Mei 2013 Apakah kehendak bebas benar-benar ada?Apakah manusia bebas benar-benar ada?Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.ReviewRating sebenarnya sih 4,5 bintang. Saya rasa Goodreads ini harus mulai mempertimbangkan penggunaan sistem setengah bintang pada sistem penilaiannya. Biar orang-orang yang galau karena suatu buku itu bagus banget, tapi juga gak sampai "it was amazing", bisa kasih bintang di antara 4 dan 5."Pasung Jiwa" bercerita tentang Sasana, seorang anak laki-laki yang merasa dirinya selalu terkekang. Dimulai dari orang tua yang memaksanya untuk bermain piano klasik (padahal dia lebih suka dangdut), hingga preman-preman di sekolahnya yang membuatnya babak belur tapi tidak dapat dihukum karena mereka anak pejabat.Rasa terkekang itu terus dia bawa hingga dia dewasa dan berkuliah di Malang. Di sana dia bertemu dengan Cak Jek, seorang seniman jalanan (alias pengamen), yang menyadarkan dirinya akan Sasa, sisi feminin yang bersembunyi dalam dirinya selama ini.Ya, saudara-saudari. Buku ini mengangkat tema transeksual. Kalau Anda perhatikan baik-baik kover buku ini, Anda pasti akan sadar kalau wanita yang jadi model sampul memiliki jakun.Sasa dan Cak Jek serta Memed dan Leman, dua anak jalanan yang bergabung dengan mereka, kemudian membentuk sebuah kelompok musik dangdut dengan Sasa sebagai biduanitanya. Kehidupan mereka berjalan dengan cukup baik, sampai mereka memutuskan untuk menolong Cak Man, pemilik warung tempat Sasa dan Cak Jek bertemu, yang anaknya menghilang setelah menuntut kenaikan gaji di tempatnya bekerja.Sebuah usaha protes yang mendapat perlawanan membuat formasi mereka pecah. Sasa terpaksa pulang ke rumah orang tuanya, sementara Cak Jek berakhir sebagai seorang buruh pabrik di Batam, lalu akhirnya menjadi pelaut.Di rumah orang tuanya, Sasa berusaha untuk menjadi Sasana. Dia memasung Sasa dan berusaha untuk hidup senormal mungkin. Senormal yang lingkungannya inginkan. Sayangnya hal ini membuatnya tertekan hingga mengalami gangguan jiwa. Rumah Sakit Jiwa pun menjadi rumah baru bagi Sasana.Sampai sini saya mengacungkan dua jempol untuk novel ini. Kenapa? Karena saya merasa semuanya berjalan dengan sangat alami. Mulai dari Sasana yang menjadi Sasa, kenapa dia semakin merasa jauh dari orang tuanya, kenapa dia bisa gila, sampai ke apa yang dia pikirkan dalam kegilaannya itu terasa masuk akal. Yup, kegilaan yang masuk akal. Menarik. Saya jadi teringat sama buku The Bell Jar yang mengangkat tema sama. Ketidakwarasan yang waras. Cuma, kalau boleh jujur, menurutku buku ini lebih menarik ketimbang "The Bell Jar".Cerita kemudian berlanjut dengan Cak Jek, yang kini bernama Jaka Wani, yang bergabung dengan sebuah Laskar, sebuah ormas yang bersikap penuh kekerasan dengan mengatasnamakan Allah. Terdengar familiar? You bet.Jaka Wani yang semula merasa tertekan akan dirinya sendiri yang pengecut dan miskin mulai menemukan "jati dirinya" pada Laskar. Jaka Wani yang sempat "belajar" pada Laskar di Jakarta, dielu-elukan ketika dia pulang ke Malang. Orang-orang Laskar Malang menjadikannya pemimpin karena dia dianggap paling "berpengalaman" karena telah berguru pada Laskar Jakarta. Jaka Wani yang semula bukan siapa-siapa, kini memiliki dukungan massa, uang, dan pengaruh politik.Sampai sini kembali saya acungi dua jempol. Lagi-lagi runutannya terasa masuk akal. Oke, tidak juga sih. Saya merasa bagian ini sebenarnya agak terlalu "lebay" untuk Jaka Wani, tapi setidaknya saya masih bisa terima perubahan yang terjadi pada Jaka Wani.Pada suatu hari Jaka Wani melakukan pembersihan acara dangdut porno. Dia menghancurkan acara itu dan menangkap si biduanita karena menganggapnya telah menistakan agama. Jaka Wani yang telah menguatkan imannya, dan berkali-kali berkata pada dirinya sendiri bahwa dia melakukan ini untuk Allah, pada akhirnya tetap goyah ketika melihat amarah pada diri si biduanita. Amarah pada diri Sasa. Apalagi Jaka Wani adalah orang yang membangkitkan Sasa pada diri Sasana. Dialah "ayah" dari Sasa.Tunggu, tadi si Sasa alias Sasana kan di RSJ. Kok bisa ada di dangdutan? Pada salah satu episode, ada bagian ketika Sasa dan para orang gila kabur dari RSJ dengan bantuan salah seorang dokter. Kenapa si dokter membantu pelarian itu? Bagaimana Sasa bisa tiba-tiba jadi bintang dangdut? Bisa baca sendiri deh.Lalu apa yang terjadi? Hng... Baca sendiri aja yah X3Secara keseluruhan saya puas dengan buku ini. Cuma akhir ceritanya yang agak kurang greget buat saya dan membuat bintang buku ini turun setengah. Membaca buku ini membuat saya ingin membaca karya Okky Madasari yang lainnya. Khususnya "Maryam" yang memenangkan Khatulistiwa Literature Award 2012.Buku ini untuk tantangan:- 2013 New Authors Reading Challenge- 2013 Monthly Key Words Reading Challenge

  • Sadam Faisal
    2019-03-12 06:58

    Konflik batin yang berkepanjangan, emosi naik turun, benturan kepentingan. Ah gila lah ini.Kejadian Sasa di akhir2 mirip sama apa yang lagi kejadian di Ibukota

  • Silvia Iskandar
    2019-03-17 07:42

    3.5Saya gagal connect dengan tokoh Sasa di awal2, kenapa ya, dia kok kayaknya agak susah dipercaya. Pada wkt dia gila, dia masih sempat berdialog2 susah tingkat tinggi tentang kebebasan jiwa dll, kayaknya, bikin ragu, apa masih sanggup dia mikir pas dlm keadaan begitu. Menurut saya ini agak risky, mengambil sudut pandang org gila, krn well..kita gak pernah gila dan gak pernah tahu sebenernya org gila mikirnya gimana. Satu buku yg pernah saya baca ttg org gila dan kesimpulannya percissss bgt sama buku ini tentang, sebenernya siapa sih yg gila, apa org gila itu yg gila atau org2 yg memaksa dan me-label org2 ini gila-lah yg gila, itu di buku Gabriel Garcia Marquez, Of Love and Other Demons. Ini cerita ttg anak perempuan rabies gila yg diasuh dan diperhatikan sama priest atau penjaganya..aduh sorry deh udah lama banget bacanya, tapi dia jg sampai pada titik pemikiran spt itu dan pada saat itu buatku sangat amat mengejutkan krn aku disadarkan. Iya ya..yg gila tuh sebenernya siapa ya? Lah org2 gila itu lebi bahagia kok hidupnya dr kita? Bedanya dg novel Pasung Jiwa, di Of Love and Other Demons yg membawakan narasi ini org waras, jadi saya bisa lebih connect, krn saya bukan org 'gila' (menurut saya sih..hahaa)Sebaliknya bagian Jaka saya sukaaaaaaaaaa bgt sama dialog dia dengan si pelacur, bebas apanya? Toh kamu juga masih jadi budak uang, sementara Jaka budak pabrik. Jangan sok bilang bebas lah, kalau kamu melacurkan diri demi uang. Saya juga sukaaa banget bagian Sasa tinggal berdua sama ibunya dan berdialog macam2, so beautiful ya...anak dan ibu yg terpisah oleh tembok tata krama dunia bisa saling buka2an ngomongnya. Trenyuh.Nah, tapi kemudian saya bingung juga, ini Sasa gampang amat dari gila bisa jadi waras lagi..kok gak ada trauma2nya sama sekali?Saya juga setuju dengan review lain yg bilang terlalu banyak yg mau disampaikan. Agak penuh-nuh juga sih, walau saya gak terganggu dan itu bukan deciding factor saya dalam memberi review.Menurut saya bagian penggambaran Sasa agak cheesy. Kurang elegan. Bagian awal2, aku begini, aku begitu. Kalau yg saya suka penggambaran dr point pertama itu buku Water for ElephantsPage 9They part for me, these old ladies. These are the vital ones, the ones who can either move on their own steam or have friend to wheel them around. These old girls still have their marbles, and they're good to me. I'm a rarity here. An old man among a sea of widows whose hearts still ache for their lost men."Oh here," clucks Hazel. "Let's give Jacob a look"Page10My ticker lurches so hard I clutch a fist to my chest."Jacob!Oh Jacob!" cries Hazel. "Oh dear!"Oh dear!" Her hands flutter in confusion and she turns toward the hall "Nurse! Nurse! Hurry! It's Mr Jankowski!"Page17Age is a terrible thief. Just when you're getting the hang of life, it knocks your legs out from under you and stoops your back. It makes you ache and muddles your head and silently spread cancer throughout your spouse. Metastatic, the doctor said. A matter of weeks or months. But my darling was as frail as a bird. She died nine days later. After sixty one years together, she simply clutched my hand and exhaled.Sepanjang cerita dr awal gak pernah ada kalimat, My name is Jacob Jankwoski and I live in nuersery home, and I lost my wife to cancer. Gak! Gak ada! Can you see how elegant it is? Semuanya kita dapat dr membaca deskripsi tidak langsung ini.Saya suka sama temanya Pasung Jiwa, jadi udah pasti 3 bintang dong. Ragu2 kasih 4, krn saya gagal connect sama Sasa di bagian2 tertentu.Gak bisa kasih bintang 5 karena gak ada hal baru yg saya pelajari spt di Entrok (bahwa wanita2 dibayar pake ubi) atau di 68 (kehidupan di penjara). Tapi saya seneng banget Okky kembali menaburkan bahasa Jawa di mana2, tidak spt Maryam yg gersang, Pasung Jiwa rasanya spt bumbu ketoprak...gurih!Biarlah kalau buku2 Okky diterjemahkan ke Inggris, bahasa2 Jawa itu tetap tidak diterjemahkan dan jadi se-terkenal Mon Ami, Mon cherie atau Tres bien-nya Hercule Poirot. Biarlah org luar negeri juga belajar kata2 spt "sakpenake udele" hehehe...that was my fave!

  • Nastiti
    2019-03-06 02:38

    Sejak membaca novel Okky Madasari yang pertama, yaitu Entrok, saya sudah terpesona dengan gaya penceritaan Okky yang 'straight to the point' namun tetap mampu mengaduk-aduk emosi pembacanya. Pasung Jiwa kali ini tidak jauh berbeda. Mengangkat issue LGBT, Okky berusaha mengetengahkan konflik internal pada tokoh utama yaitu Sasana/Sasa dengan jernih. Plot yang rapi juga menjadi kekuatan novel ke-4 Okky ini. Pengalaman membaca novel2 Okky sebelumnya, saya tidak berharap sama sekali untuk mendapatkan ending yang happy pada cerita ini. Mental sudah saya persiapkan untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan diletakkan sebagai penutup cerita. Dan ternyata...surprise! Endingnya bisa dibilang 'bitter sweet'.Tidak muram sama sekali. Sangat suka. Pemikiran-pemikiran jernih sang pengarang berhasil menempatkan dua orang tokoh utama meraih apa yang mereka inginkan selama ini. Tanpa terlihat diselamatkan begitu saja nasibnya oleh pengarang. Sukses buat Okky Madasari. Maju terus menyuarakan segala sesuatu yang terpendam di lorong paling gelap dari kehidupan manusia. Bravo!

  • Crowdstroia Crowdstroia
    2019-03-03 05:38

    premis idenya gila banget.it's... i really like the life's questions in here. Tiap tokoh kayak merepresentasikan pertanyaan2. tapi, idk apa ini cuma aku aja, aku merasa tiap abis baca novel-novel yang menang lomba Dewan Kesenian Jakarta itu meski premisnya gila dengan pertanyaan terkait kebatinan manusia dan isu sosial yang mendalam, aku merasa kosong setelah bacanya. Ini cerita dewasa, ada adegan penyiksaan yang bikin aku mual pas bacanya. This book is a page turner bcs aku juga penasaran jawaban atas pertanyaan2 hidup para tokoh itu apa. Gak ngerti lagi gimana cara ngungkapin apa yg kurasain pas baca cerita ini.

  • htanzil
    2019-03-18 04:54

    da dua tokoh utama dalam novel ini yaitu Sasana (Sasa) dan Jaka (Cak Jak). Sasana terlahir sebagai seorang pria dari pasangan orang tua yang mapan. Walau kedua orang tuanya bukan pemusik mereka menginginkan Sasana untuk menjadi anak yang mahir dalam memainkan piano. Sejak dalam kandungan suara piano telah diperdengarkan untuknya, ketika memasuki usia sekolah seorang guru didatangkan untuk melatih kemampuan pianonya. Sasana memang akhirnya mahir bermain piano dan mendapat sejumlah penghargaan namun sebenarnya ia tidak menyukai bermain piano.Aliah-alih mengembangkan bakatnya dalam berpiano Sasana lebih menyukai musik dangdut, tubuh dan jiwanya terasa bebas saat dia mendengar musik dangdut sambil bernyanyi dan meliuk-liukkan tubuhnya. Kesukaannya ini tentu saja dilarang oleh kedua orang tuanya. Karena ia tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya, Sasana tetap menjadi anak yang patuh dan mengikuti kemauan orang tuanya walau jiwanya merasa terkurung.Setelah lulus SMA Sasana melanjutkan kuliahnya di Malang, di sana ia berkenalan dengan Cak Jak (Jaka) di sebuah warung kopi. Cak Jak yang mahir bermain gitar dalam alunan lagu-lagu dangdut membuat Sasana betah nongkrong di warung kopi itu sampai akhirnya Sasana ikut menyanyi dan bergoyang.Kemarihan Sasana bernyanyi dan bergoyang membuat Cak Jak mengajak Sasana untuk mengamen. Sasana yang seolah menemukan dunianya menerima ajakan Cak Jak, lambat laun ia mulai meninggalkan kuliah dan tempat kosnya dan menghilang dari jangkauan teman kuliah dan keluarganya di Jakarta. Untuk membuat lebih menarik Cak Jak mendandani Sasana dengan pakaian wanita dan mereka mulai mengamen dan mentas dari satu panggung hajatan ke panggung hajatan lainnya. Dan semenjak itu Sasana merubah namanya menjadi Sasa. Ia menikmati perubahan penampilan dirinya dari seorang pria menjadi wanita sexy dengan goyangan mautnya. Dengan menjadi Sasa ia merasa nyaman dan bebas menjadi apa yang dia inginkan.Petualangan Sasa dan Cak Jak membawa mereka pada berbagai perisiwa yang mungkin tidak pernah mereka duga, sebuah peristiwa membuat keduanya ditangkap polisi. Ketika ditangkap dan dipenjara sebagai seorang waria Sasa menerima perlakuan tidak seonoh, ia diperkosa dan dipaksa melayani nafsu bejat dari para tentara dan komandan yang menangkapnya. Sasa begitu terpukul sehingga ketika keluar dari penjara Sasa memutuskan untuk menata hidupnya dan kembali pada kedua orang tuanya. Sayangnya kembalinya Sasa pada keluarganya tak berlangsung lama. Jiwanya terus menerus dibayangi rasa sakit dan terhina atas ulah bejat tantara-tentara yang menangkap dan memperkosanya sehingga akhirnya Sasa harus dirawat di rumah sakit gila. Sasa kembali terkukung, kali ini tidak hanya jiwanya saja melainkan secara fisik dia kembali terpenjara dalam rumah sakit jiwa dengan aturan-atruan yang harus ia patuhiBagaimana dengan Jaka (Cak Jak)? selepas dari penjara Cak Jak bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik elektronik, ketika dirinya mendapat perlakuan yang tidak adil oleh majikannya ia mengalang aksi mogok kerja sehingga dirinya dikejar-kejar aparat, melarikan diri hingga ke Jakarta dan akhirnya bergabung dalam sebuah laskar berjubah putih untuk ikut berjuang bagi Agama dan Tuhan.Lewat kedua tokoh utama dalam novel ini Okky benar-benar hendak mengetengahkan sosok yang berjuang untuk memperoleh kebebasan sejati. Sasana atau Sasa adalah tokoh yang semenjak kecil merasa bahwa dirinya terperangkap dalam tubuh prianya dan dia harus melakukan apa yang sebenarnya tidak mau ia lakukan. Sementara itu Jaka atau Cak Jak hidupnya selalu terbelenggu oleh kemiskinan, namun setelah ia mengatasi kemiskinannya ternyata itupun tidak membebaskannya karena jiwanya terus dihantui oleh masa lalunya dan keadaannya kelak yang berlawanan seratus delapan puluh derajatSelain Sasa dan Jaka sebenarnya masih ada tokoh lain yang muncul yaitu seorang pelacur bernama Elis yang memilih menjadi pelacur kelas bawah daripada hidup terkukung bersama suaminya, dan Karlina yang dipecat sebagai buruh karena hamil padahal yang menghamilinya adalah mandornya sendiri. Lewat dialog-dialog antar tokoh maupun dialiog batin dari masing-masing tokohnya novel ini mencoba membangun kesadaran kita semua akan apa artinya kebebasan, keadilan, dan kemanusiaanYang tidak kalah menarik adalah ketika Sasa berada di rumah sakit jiwa terjadi dialog tentang jiwa yang bermasalah dan kebebasan menarik antara Sasa dengan seorang psikiater yang saat itu sedang melakukan penelitian."Tak ada jiwa yang bermasalah, yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu. Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus dikeluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda"(hlm 146)"Aku tak melihat ada masalah dalam jiwa-jiwa kalian. Orang-orang diluar kalianlah yang punya masalah. Menganggap kalian harus disingkirkan karena kalian merusak tatanan"Tempat ini justru membunuh kalian," kata Marsita. Bukankah di luar sana juga sama" tanyaku. "Di sini kami dikungkung teralis dan tembok-tembok tinggi. Di luar sana kami diikat oleh aturan dan moral."Setidaknya di luar sana kehendak bebas kalian bisa terus dihidupkan", jawabnya. "Di sini kehendak itu sengaja dimatikan. Agar kalian patuh, agar kalian tak berontak. Akhirnya, lihat hal yang dilakukan Banua dan Gembul. Mereka membunuh diri mereka sendiri. Sebab itu satu-satunya kehendak bebas yang masih bisa mereka ikuti"(hlm 151)Tidak hanya itu, lewat kisah para tokohnya novel ini dengan gamblang mengemukakan berbagai hal tentang ketidakadilan dan kekerasan yang dialami oleh orang-orang yang terpinggirkan baik yang dilakukan aparat negara maupun para laskar berjubah putih yang mengatasnamakan agama dan Tuhan.Di novel ini terkisahkan bagaimana atas seizin aparat keamanan para laskar berjubah putih melakukan 'operasi' melawan kemaksiatan dengan cara kekerasan. Dengan berani Okky membeberkan bagaimana polisi memberikan daftar tempat-tempat mana yang boleh menjadi target operasi dan mana yang tidak. Terungkap juga bagaimana di akhir operasinya para laskar berjubah putih itu mabuk-mabukan dengan minuman keras yang mereka sita atau bagaimana mereka melampiaskan nafsu syahwat mereka setelah mereka melakukan operasi terhadap para waria. Selain itu terkisahkan juga sebuah tindakan keji seorang laskar yang dengan sadis mencincang tubuh seorang penganut aliran yang mereka anggap sesat.Selain itu di novel ini juga Okky dengan cerdas menyelipkan kisah Marsinah seorang buruh yang berjuang melawan ketidakadilan namun harus membayar mahal perjuangannya dengan nyawanya sendiri. Semua yang terungkap dalam novel ini menggedor sisi kemanusiaan kita dan membuat kita gemas terhadap ketidakadilan dan tindak kekerasan yang dikisahkan novel ini.Novel yang sarat dengan nuansa perlawanan terhadap ketidakadilan, kebebasan, dan kemanusiaan ini sangat baik untuk diapresiasi karena tema yang diangkat sangat relevan dengan keadaan kini dimana hingga kini masih banyak orang yang kehilangan kebebasan karena berbagai faktor seperti pandangan agama, sistem sosial, ekonomi, telebih politik.Perjuangan orang-orang yang kehilangan kebebasan itu tercermin dalam karakter Sasa dan Jaka yang tereksplorasi dengan baik sehingga pembaca bisa ikut memahami pergulatan batin yang mereka rasakan. Kisah demi kisah yang dialami tokohya terangkai dengan baik tanpa mengada-ngada karena hampir semuanya merupakan pengisahan dari berbagai peristiwa yang pernah kita alami sebagai sebuah bangsa yang masih jatuh bangun dalam mengusung kebebasan dan keadilan ini. Dari keseluruhan novel ini saya hanya menemukan satu ganjalan saja, yaitu bagaimana Banua, seorang pasien RS Jiwa melakukan bunuh diri.dengan cara menikam diri dengan pisau di dadanya. Saya rasa bunuh diri saya cara dengan menancapkan pisau ke dada adalah hal yang sulit dilakukan oleh orang awam karena membutuhkan tenaga ekstra dan lokasi yang tepat agar pisau itu menembus jantung dengan sempurna. Akan lebih wajar rasanya jika bunuh diri tersebut dilakukan dengan menggantung diri atau mengiris urat nadinya sendiri.Terlepas dari itu dari jika saya bandingkan antara novel Okky sebelumnya yaitu antara Entrok dan Maryam (minus 86 karena saya belum membacanya) , maka saya berpendapat Pasung Jiwa adalah yang terbaik diantara dua novel sebelumnya.Akhir kata, menngutip pendapat Okky mengenai tugasya sebagai penulis seperti yang terungkap di awal review ini bahwa ia "menulis untuk menegakkan keadilan bagi kemanusiaan" saya rasa Okky telah membuktikannya lewat novel ini dan novel-novel sebelumnya.Okky telah menunaikan tugasnya sebagai seorang penulis, sekarang tinggal berpulang pada pembacanya, apakah setelah membaca karya-karya Okky kita tergerak untuk berjuang melawan ketidakadilan dan mengakkan kemanusiaan? Jika tidak, perjuangan Okky akan sia-sia dan karya-karyanya hanya akan menjadi sebuah monumen yang tersimpan dengan baik di rak buku kita masing-masing. @htanzil

  • Anindyta
    2019-02-23 01:30

    Bingung mau menulis review seperti apa. Buku ini bercerita tentang Sasa dan Jaka Wani. Sasa dan Jaka Waninya kenapa ? Sasa dan Jaka Wani mencari kebebasan ? Sasa dan Jaka Wani mencari keadilan ? Sasa dan Jaka Wani mencari kebenaran ? Saya rasa semuanya dicari oleh Sasa dan Jaka Wani. Saya mendapatkan Okky Madasari memiliki kemampuan menulis yang baik sekali. Pemilihan kata dan cara bercerita yang lugas terhadap berbagai macam karakter manusia di sini menunjukkan kalau Okky adalah penulis yang patut diperhitungkan. Namun, entah kenapa terlalu banyak hal – hal yang membuat saya bingung. Yang pertama, mungkin isu utama dari buku ini. Kalau dilihat dari bukunya, isu yang ditonjolkan adalah kebebasan. Namun, entah kenapa di dalam buku ini banyak hal – hal lainnya, misalnya kebenaran, keadilan, dan isu politik. Tentunya tidak salah untuk menuangkan semuanya ke dalam satu buku, tetapi saking banyaknya masalah dan isu yang ditunjukkan oleh penulis, malahan membuat buku ini kurang unsur nyatanya. Bayangkan, Sasa dan Jaka Wani harus menghadapi peristiwa bertubi - tubi yang menunjukkan isu - isu tersebut. Sedikit tampak mendramatisir menurut saya. Mungkin akan lebih baik bila buku ini fokus terhadap kebebasan, misalkan cerita Sasa yang ingin bebas dari kungkungan orang tua dan norma sosial yang sudah dikenalkan sejak awal novel ini dimulai. Kedua, buku ini sarat dengan yang namanya opini. Kelihatan sekali bahwa penulis menggiring pembaca untuk melihat ini loh yang dirugikan, ini loh yang jahat. Tokoh ini yang selalu menjadi korban, dan lain sebagainya. Tidak salah, namun saya lebih suka bila tokoh Sasa dan Jaka Wani tidak dari sisi yang sama, sehingga pembaca bisa melihat bahwa dunia ini tidak hanya satu sisi saja. Capek juga melihat Sasa dan Jaka Wani yang selalu dirugikan dan “tertindas”. Membaca buku ini saya malah berpikir, jangan – jangan di dunia ini tidak ada orang yang baik. Tetap, Okky Madasari meyakinkan saya bahwa beliau bisa bercerita. Saya tetap suka dengan tutur kata penulis. Saya tetap menikmatinya, walaupun buku ini sangat membingungkan dengan banyaknya isu yang dihadirkan. Ini juga merupakan buku yang mudah sekali diselesaikan saking lugasnya penulis dalam bercerita. Namun ada bagian yang sedikit tidak bisa saya nikmati saking banyaknya kata – kata vulgar yang dikeluarkan.

  • Septian Hung
    2019-03-02 02:39

    Buku ini saya peroleh dari obral buku yang diselenggarakan Gramedia di pusat perbelanjaan Teras Kota, BSD City. Saya juga cuma perlu merogoh kocek sebanyak Rp 20.000,- untuk buku yang pada akhirnya memukau saya dengan segenap keberanian dan kekritisan penulisnya dalam mengangkat tema seputar kebobrokan sosial yang sebetulnya selalu ada di sekitar kita. Saya merasa keberanian dan kekritisan semacam inilah yang sepertinya telah membawa sang penulis menjadi pemenang Khatulistiwa Literary Award di Tahun 2012 silam.Buku ini mengenakan sudut pandang orang pertama, dengan dua tokoh sentral yakni Sasana dan Jaka Wani, yang diceritakan dengan kehidupan masing-masing meski di titik-titik tertentu mereka sempat bersinggungan sebelum kemudian dipersatukan kembali di penghujung kisah dengan konflik utama yang berkutat seputar pertanyaan ontologis mengenai kebebasan itu sendiri. Sasana yang merasa terperangkap dalam tubuh dan pikirannya, dengan Jaka wani yang merasa dirinya bagai mesin pabrik sampai ia memperoleh kebebasan semu dengan menjadi pemimpin Laskar Malang yang tanpa diduga malah semakin menjerumuskannya ke dalam pola pikir yang keliru. Kebebasan yang didamba-damba dengan kekuasaan yang sewenang-wenang kini menjadi lamur hingga menyesatkan pikiran sang Jaka Wani. Saya sangat mengapresiasi sang penulis yang memaparkan dengan apa adanya serta tanpa tedeng aling-aling rasa takut terhadap pihak-pihak tertentu bagaimana pola pikir yang keliru mengenai agama atau Tuhan sekalipun, mampu membuat seorang manusia bertindak tidak manusiawi terhadap sesamanya. Tindakan tidak manusiawi ini semata-mata hanya berdasar pada keyakinan buta atau kepercayaan bahwa ia telah melakukan kebenaran mutlak dengan membela sesuatu yang sebetulnya tak perlu dibela-bela. Bagaimana manusia-manusia dengan pola pikir yang keliru telah menjelma biang dari kemunafikan.Selain itu, sang penulis juga peka terhadap kasus-kasus ketidakadilan yang kerap menimpa mereka yang mencari nafkah sebagai buruh pabrik. Dimana di buku ini dikisahkan seorang buruh yang hanya ingin meminta haknya untuk naik upah sesuai ketetapan peraturan negara tetapi pada akhirnya malah dibasmi dan dilenyapkan entah ke mana. Unsur totalitarian begitu kentara dalam kasus ini. Siapa membangkang, ia binasa. Siapa menantang, ia musnah.Saya pribadi turut prihatin dengan kisah ini sebagaimana kisah tersebut juga nyata-nyata ada dalam realitas kita. Namun lagi-lagi, ketidakadilan semacam ini hanya akan meruap ke udara bersama angin lalu karena manusia memang sudah sangat piawai menyembunyikan borok dan hanya senang mencari aman untuk dirinya sendiri.Meski epilog dari buku ini kurang memuaskan karena menurut saya kurang gereget dan seperti dipaksakan untuk selesai, lima bintang tetaplah pantas untuk buku fiksi yang berani mengusung tema kritik sosial seperti ini. Saya menikmati membacanya, dan saya pun berpikir untuk segera membaca buku-buku lain karya sang penulis, yang kelihatannya juga akan mengupas mengenai kritik-kritik sosial yang lain.

  • Amal Bastian
    2019-03-12 03:56

    Ketika kebebasan bermanusia dan memanusiakan manusia masih menjadi hal langka di negeri ini. Meski rezim berubah, orde berganti, tapi seolah hanya sampul pemerintahan semata. Pasung pengekang kemerdekaan yang tertancap selama puluhan tahun tak serta merta hilang begitu saja. Mereka yang di atas, mereka yang berduit besar, tetap berperan sebagai pengontrol, penentu nasib, penindas bagi mereka yang beketerbatasan. Dan yang terbatas, entah sampai kapan, terus menggugat, kepada mereka, kepada Tuhannya, kapan mereka dapat menjadi manusia bebas? Tanpa harus meregang nyawa.

  • Qunny
    2019-03-05 04:56

    Saya suka sama penggambarannya. Kebebasan. Bagaimana kita bisa bebas, kalau orang-orang di sekeliling kita sendiri yang mengekang? Dan itu yang saya impikan sejak dulu. Kebebasan. Yang akan saya raih entah kapan. Mungkin setelah saya cukup berani seperti tokoh-tokoh yang ada di sini.

  • Nita
    2019-03-03 08:46

    One of the most overrated book I've read :(1.5 stars

  • FinChu Harefa
    2019-03-09 02:51

    Judul Buku: Pasung JiwaPengarang: Okky MadasariTebal: 328 hlm; 20 cmCetakan: 1, Mei 2013Penerbit: Gramedia Pustaka UtamaSeluruh hidupku adalah perangkap.Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengungkungku, tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku (hlm. 9)Mudah bagi seorang Sasana menjadi anak kebanggaan orangtuanya. Menjadi laki-laki penurut, pintar dalam akademik, juga piawai memainkan lagu-lagu klasik dengan piano. Ya, piano salah satu obsesi pasutri yang ia kenal dengan sebutan Ayah dan Ibu. Sang Ayah yang seorang pengacara, dan Ibu yang seorang dokter bedah itu menggilai musik klasik. Mereka bukan pianis. Untuk itu, Sasana satu-satunya jalan memuaskan hasrat mereka akan permainan musik klasik via piano. Akan tetapi, bukan hal yang mudah bagi Sasana untuk melawan hasratnya sendiri. Ia jatuh cinta pada pertemuan pertama dengan dangdut. Musik kampungan, dan dianggap membawa pengaruh buruk oleh orangtuanya. Belum lagi ia bertemu - tepatnya dipertemukan - dengan Sasa, wujud betina dari Sasana.Aku si Sasa, saudara kembar Sasana. Kami kembar, tapi kami berbeda. Kami satu tubuh, tapi kami dua jiwa. Kami tak saling meniadakan. Kami sepasang jiwa yang saling merindukan. Menjadi dua bukanlah kesalahan. Menjadi satu bukanlah keharusan. Sasana memang berpenis, tapi Sasa punya lubang dan puting. Sasa menyanyi dan bergoyang. Sasana bersiul dan menabuh gendang. Kami satu, tapi kami dua. Kami dua, tapi kami satu. (hlm 232)Terperangkap dalam tubuh. Yes, saya mulai menyukai novel ini, tenggelam dalam ceritanya dan tak sabar membaca halaman berikutnya. Bagi saya, cerdas sekali memilih transgender sebagai perwakilan dari kata #PasungJiwa. Seorang transgender hidup dengan tak hanya melawan norma agama, tak sekadar memikul dosa sosial, tapi ia juga hidup melawan hasrat dan pikiran-pikirannya. Terpasung oleh pikiran yang menggugat: mengapa orang-orang tak normal dianggap tak waras? Padahal, orang-orang tak waras adalah orang-orang yang justru memiliki dirinya secara utuh. Orang-orang sinting, adalah orang-orang yang bebas. Pemikiran itulah yang Sasana dapatkan setelah selama beberapa bulan ia mendekam di rumah sakit jiwa.Ia tak akan mau mengikuti apa yang dikatakan orang lain. Ia tak akan pernah sekadar ikut-ikutan hanya agar dianggap normal. Orang yang kehilangan kewarasan adalah orang yang sepenuhnya memiliki kesadaran. Ia akan menolak dan melawan. (Hal 119)Masih mengevaluasi sedalam apa keterlibatan kata #PasungJiwa dengan ide cerita yang disodorkan Okky, kali ini saya beranjak ke tokoh lainnya, Jaka Wani. Kupikir, nama adalah perangkap pertama dalam hidupnya. Dari namanya, Cak Jek – begitu ia disapa – seharusnya seorang lelaki berani. Tapi ia pengecut. Sekelumit kisahnya akan saya ulas:Setelah memutuskan untuk berhenti kuliah di 2 bulan pertamanya, Sasana bertemu dengan Cak Jek di sebuah warung kopi. Dari sanalah keduanya akrab dan memulai hidup baru sebagai duo pengamen jalanan. Cak Jek cakap dalam berbicara, memengaruhi orang lain dengan kesoktahuannya yang jujur. Ia memang merasa tahu apa yang dikatakannya, bukan berpura-pura tahu agar orang lain menyangka ia tahu. Cak Jek jugalah yang menciptakan Sasa, walaupun sejak awal Sasa telah ada dalam jiwa seorang Sasana. Satu lagi, Cak Jek tak acuh terhadap apapun yang berbau politik.Yang penting buat kami bisa tetap makan tiap hari, terus hati senang. Gak ono urusan karo negoro, gak ono urusan karo politik-politikan. (Hlm 67)Itulah yang dikatakan Cak Jek menjawab ajakan Marjinal – nama sebuah grup pengamen – untuk berjuang melawan kesewenangan pemerintah lewat lagu dan karya seni lainnya. Bicara tentang pemerintah, tak berbeda dengan novel Entrok, Okky memilih orde baru sebagai latar dalam novelnya kali ini. Kesewenangan pemerintah serta ajudan-ajudannya terutama TNI, dengan lantang ia deskripsikan. Disinilah ucapan sekaligus prinsip Cak Jek diuji.Saat itu Cak Jek, Sasa, serta kelompok musik jalanannya, harus menolong Marsini, buruh yang hilang. Mereka harus berhadapan dengan kesewenangan pemilik pabrik serta oknum-oknum TNI yang telah disuap. Cak Jek dan rombongan tertangkap. Cak Jek, manusia yang bebas, dikalahkan urusan politik yang katanya tak ingin ia pedulikan, politik uang, politik kekuasaan. Pada akhirnya, ia pun mencicipi mendekam di balik jeruji.Tak hanya sampai di situ, Jaka Wani yang mengubah namanya menjadi Jaka Baru harus dihadapkan pada konflik batin antara konsep ketuhanan dan kemanusiaan. Setelah Soeharto (di)lengser(kan), orde baru berakhir, kekuasaan TNI pun ikut berakhir. Akan tetapi, lahirlah kekuatan baru dari golongan pemuka agama yang tak kalah sok berkuasa. Jaka Baru menjadi salah satu dari mereka. Mereka mesin penghancur, menghancurkan segala sesuatu yang dianggap tidak sesuai norma agama. Bahkan mereka tak segan membunuh siapa saja yang mencoba melawan. Itu semua mereka lakukan atas nama Tuhan. Padahal, semata-mata hanya untuk uang dan kedudukan yang tinggi di mata masyarakat.Lebih bejat mana? Kami yang jual badan, atau kalian yang jual Tuhan untuk cari uang? (Hal 302)Itu kutipan terakhir dan yang paling mutakhir buat saya. Saya suka novelnya. Ide ceritanya tidak basi, penulis resensi yang saya baca resensinya yang basi :p Okky memang pantas dapat Khatulistiwa Literary Award tahun lalu.Catatan:Kasus Marsini mengingatkan pada kasus Marsinah, aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, yang diculik, kemudian ditemukan dalam keadaan tewas dengan tanda-tanda penyiksaan berat pada 8 Mei 1993 (Wikipedia). Marsini adalah nama kakak perempuan Marsinah.Marjinal adalah band beraliran anarko-punk asal Jakarta yang menciptakan sebuah lagu berjudul Marsinah yang didedikasikan untuk perjuangan Marsinah (Wikipedia)

  • Hamzah Ibnu Dedi
    2019-02-23 03:50

    Progressively good, but meh, regressive ending at the bay. Hanya di bagian tengah-tengah saja yang bikin tergerak, karena kekonsistenan karakterisasi. Sisanya? Cringeworhty(?) Soal isu-isu, saya kira ada saja penulis yang mampu membungkusnya lebih baik. Okky terlalu memasukkan banyak hal.

  • Nadira Aliya
    2019-03-25 07:57

    Lima bintang dan lima huruf : Salut! Dalam novel realis ini, diceritakan seorang Sasana yang tumbuh menjadi manusia yang memperjuangkan kebebasan jiwanya. Jiwa Sasana 'mati' dibunuh dua kali. Sasana 'mati' saat dipasung oleh keinginan-keinginan dan harapan kedua orang tuanya kepada dirinya sewaktu masih seumur anak sekolah. Saat sudah bebas pun, Sasa (nama barunya) 'mati' dibunuh oleh perlakuan-perlakuan tidak manusiawi di penjara. Untuk kemudian masuk rumah sakit jiwa setelahnya.Salahnya kah jika jiwa Sasana tidak sejalan dengan musik piano dan malah menyatu dengan musik dangdut hajatan sebelah rumah? Salahnya kah jika kemudian seorang Sasa menolong Marsini, buruh pabrik yang hilang entah dimana tubuh dan nyawanya?Membaca novel ini pembaca akan disuguhkan sudut pandang lain mengenai hal-hal yang umumnya dianggap negatif dalam masyarakat. Lalu belajar menjadi manusia darinya. Manusia adalah yang berkuasa dan berhak menentukan arah hidupnya. Manusia bukan daging hidup yang diam saat manusia lainnya ditindas jelas-jelas. "Kenapa aku mau berada di tempat ini? Kenapa aku terbuai oleh kebebasan-kebebasan semu? Kenapa aku justru bersembunyi di balik ketidakwarasan? Kenapa aku berpuas diri dengan hanya menyanyi dan bergoyang setiap pagi, sementara banyak hal yang bisa kulakukan di luar sana? Kenapa aku mesti lari dari kejaran ingatan-ingatan menyakitkan? Kenapa aku tak berani menghadapinya, menumpasnya dengan kesadaranku sendiri? Kenapa? Kenapa?""Marsini punya sesuatu yang tidak aku miliki : keberanian! Marsini punya apa yang buruh-buruh lain tidak punya : kesadaran! Dia berani melawan apa yang diterima semua orang sebagai kewajaran. Ia perjuangkan haknya, ia perjuangkan harga dirinya.""Goyanganku adalah kejujuranku. Goyanganku harus menghadirkan siapa diriku. Goyanganku tidak hanya tubuhku. Goyanganku adalah pikiran dan jiwaku. Aku bergoyang bukan sekadar untuk jadi tontonan. Aku bergoyang untuk berbicara dengan orang-orang, untuk membius mereka, untuk membuat mereka paham apa yang kupikirkan. Untuk membuat mereka mendengar apa yang ingin kukatakan. Memang aku bergoyang untuk mendapatkan uang, tapi itu bukan berarti aku hanya barang yang tak punya pikiran dan kesadaran.""Sejak awal aku bergoyang dengan kesadaran. Aku bergoyang karena aku punya keinginan. Aku tidak diperalat oleh uang dan orang-orang yang menonton goyanganku. Aku sedang berdagang dengan sadar. Menukarkan apa yang aku punya dengan apa yang mereka punya. Kini, aku tak mau sekadar tukar-menukar. Nilai goyanganku tak semurah recehan yang kukumpulkan tiap malam. Aku bergoyang karena inilah caraku untuk bisa didengar. Untuk bisa dianggap sebagai manusia." Novel untuk para pemberani!

  • Pradnya Paramitha
    2019-03-09 03:38

    Aaaaaaaaaaaaaaaaarrrgghhh!!!!! begitu menyelesaikan buku ini, rasanya aku pengen teriak keras-keras. emosi yang diaduk-aduk sejak halaman pertama rasanya kayak meledak. pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Okky Madasari lewat tokoh-tokohnya seperti mewakili beberapa pertanyaanku yang nggak pernah terselesaikan. hiks.Apa itu kebebasan? Adakah kebebasan? Apa itu yang waras dan yang tidak waras? Siapa yang menentukan apakah seseorang waras atau tidak waras? apa itu kebenaran? adakah kebenaran? ataukah yang ada hanya sesuatu yang dianggap benar dan dibenar-benarkan?kira-kira pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang coba dibagi oleh penulis. bercerita melalui sudut pandang dua tokohnya yang nggak biasa: Sasana/Sasa dan Jaka Wani.Sasana, pria yang merasa berjiwa perempuan dan terperangkap dalam tubuh laki-laki. tuntutan untuk bertingkah laku, berpenampilan, berpikir, dan mencintai secara laki-laki membelenggu seumur hidup Sasana. Sedangkan Jaka Wani seorang seniman yang terbelenggu pada 'realitas' (atau yang sering kita anggap realitas) kehidupan yang membuat manusia menjadi mesin. Sasana dan Jaka Wani seperti ditakdirkan bertemu. Jaka Wani lah yang melahirkan Sasa dari tubuh Sasana, tapi pada akhirnya Jaka Wani juga yang menghancurkan Sasa. Duh, hidup ya, hidup. Kadang nggak masuk akalnya kebangetan. Dan buku ini membuat segalanya yang nggak masuk akal menjadi masuk akal. aku yang tadinya nggak pernah paham dengan pemikiran orang yg ngebunuh atas nama agama, sedikit banyak bisa ngira-ngira pikiran mereka setelah baca buku ini. Pasung Jiwa ini buku penulis yang pertama kali aku baca. Katanya buku yang sebelumnya lebih bagus lagi. buku ini berbicara tentang banyak hal. tentang LGBT, tentang kaum buruh, tentang seni, tetang tatanan sosial. penulis membawa pembaca masuk ke dalam pemikiran tokoh dengan gaya bahasanya yang sederhana tapi jleb banget. ide cerita ini cukup berat aku rasa. mengusung pemikiran-pemikiran filosofis. tapi dengan gaya penulisan yang mengalir, sederhana, bikin buku ini gampang banget diikuti. salah satu yang agak mengganggu cuma dialog dalam kepala tokoh yang terkesan sering diulang-ulang. tapi nggak masalah sih. tetep asik dibaca.ketika penulis membawa aku masuk ke dalam pikiran Sasana ketika sedang gila, aku ngerasa pikiran Sasana masuk akal-masuk akal saja. Aku seperti melihat kesinambungan dari setiap pemikiran Sasana yang gila. Aku merasa Sasana normal, karena aku bisa mengikuti cara berpikirnya yang disebut gila oleh masyarakat. etapi kalau begitu, apa berarti aku juga gila? nah loh.

  • Nadya Kurnia
    2019-03-05 08:54

    Ini buku ketiga Okky Madasari yang saya baca setelah 'Entrok' dan '86'. Seperti di ketiga buku sebelum 'Pasung Jiwa', Okky Madasari membahas isu sosial dalam novelnya. Kali ini dengan tema kebebasan dalam kisah LGBT. Gaya penceritaan Okky Madasari sangat baik, cara bertuturnya sangat ringkas, tidak bertele-tele, dan tepat sasaran. Narasi dan dialog pada novel keempatnya ini cukup baik. Mengapa saya bilang cukup baik? Karena dialog dan narasi pada novel ini tidak sebaik 'Entrok'. Well, menurut saya, sih. Namun secara keseluruhan, novel ini bagus. Sesuai dengan judulnya, novel ini berfokus mengenai topik kebebasan jiwa, kebebasan memilih, dan kebebasan untuk hidup sesuai dengan pilihan yang kita mau. Tanpa takut harus terinjak oleh norma kenormalan yang menjadi norma standar dalam masyarakat. Bravo, Mbak Okky! :)

  • Nike
    2019-03-09 01:44

    Saya penyuka karya Okky Madasari.Tapi entah kenapa di buku ini saya harus bilang agak kebanyakan yang mau disampaikan.Saya diawal berpikir ini cuma soal Sasana dengan jiwa Sasa.Saya mendapati Jaka dengan jiwanya yang kesana kemari.Ada pengacara yang tak mampu apa-apa ketika dihadapkan dengan pejabat walau itu kasus anaknya sendiri.Ada hilangnya buruh pabrik dan dikaitkan dengan PKI.ada sebuah laskar yang mengatasnamakan Islam, seperti FPI?Pelecehan seksual. Prostitusi dengan isu penggunaan kondom.Kebebasan itu tema besarnya. Bebas dengan jiwa yang memang kita rasakan dan inginkan.Tidak ada yang jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah itu adalah hal-hal yang ada diluar jiwa itu. Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan ~ Marsita.

  • LostaMasta
    2019-02-25 08:58

    Terlalu membesar-besarkan makna kebebasan. Tokoh2 dibikin trlalu ironi, terlalu sinetron, hanya untuk memunculkan kesan 'terkungkung'. Yg kemudian dikeluarkanlah solusi yg juga biasa2 aja. Menurutku 'so so' aja sih. Gak terlalu cetarrr banget.Ohiya, pencomotan kisah buruh marsinah sebagai salah satu tema, menurutku kurang kreatif. Kalo cmn untuk memunculkan sebuah 'reason' untuk sebuah konflik sosial, kayaknya masi banyak hal lain deh. Soalnya itu kisah Marsinah udah umum banget, nanggung kalo kisah nyata seperti itu hadir diantara kisah lainnya yg fiksi abis.

  • Tina Nova
    2019-02-27 05:50

    Kecewa dengan buku ini. Kebesaran nama Okky sebagai salah satu Pemenang Khatulistiwa Literary Award dalam bukunya Maryam, sama sekali tidak terlihat di buku. Isu yang diangkat sebenarnya sudah banyak diulas para penulis dan media-media. Saya kira Okky akan menyajikan dengan berbeda dan mengejutkan, akan tetapi jalan ceritanya datar.

  • Feti Habsari
    2019-02-25 09:32

    Sebuah kisah yang penuh dengan pergolakan batin. mencari sebuah kebebasan yang sebenar-benarnya. mencari tahu apa sesungguhnya arti bebas. adakah manusia yang benar-benar bebas, merdeka dari segala kungkungan? novel ini membawa pembacanya turut terseret ke dalamnya dan juga bertanya-tanya, apa kebebasan yang sesungguhnya itu.

  • Alluna
    2019-03-12 01:41

    Aku ga terlalu suka buku ini :( buku ini terlalu penuh, sampai bingung sebenernya tujuan utama menulis buku ini itu apa? mau bahas LGBT? bullying? penculikan buruh? kekerasan atas nama agama? kekejaman TNI? atau apa? kayaknya ini bukunya Okky yang paling ga aku suka deh. Padahal you are my fav author

  • Thomas Utomo
    2019-03-08 01:47

    Suara Kebebasan yang TerbungkamJudul : Pasung JiwaPengarang : Okky MadasariPenerbit : Gramedia Pustaka UtamaCetakan : Pertama, Mei 2013Tebal : 328 halamanHarga : Rp 55.000,00ISBN : 978-979-22-9557-3Peresensi : Thomas Utomo“Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengungkungku, tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku.” (halaman 9).Itu bukan kata-kata Okky Madasari; perempuan bertundung kepala peraih Khatulistiwa Literary Award 2012 kategori prosa. Itu adalah suara hati Sasana; tokoh yang diciptakan Okky yang kita kenal produktif menelurkan tulisan. Sasana sendiri adalah laki-laki yang sejak sebelum lahir sudah ditentukan peta jalan hidupnya oleh orangtuanya. Sejak dalam kandungan, Sasana sudah dibiasakan untuk mengenali denting piano. Sebegitu lahir dan tumbuh besar, orangtua mengharuskannya belajar memainkan piano. Untuk itu, didatangkan guru piano yang mengajari Sasana seminggu dua kali.Berangsur-angsur, Sasana menunjukkan kemahirannya bermain piano. Saat usia sekolah dasar, dia sudah piawai memainkan komposisi-komposisi klasik dunia, seperti Beethoven, Chopin, Mozart, Bach, dan Brahms. Orangtua, teman, guru sekolah tidak sedikit yang kagum dan menghadiahi Sasana dengan semerbak kata-kata pujian.Sayangnya, kemampuan memainkan piano dan pujian yang bertubi-tubi dari orang-orang tidak membuat Sasana bahagia. Dia justru menganggap bermain piano sebagai beban. Dia “mau” memainkan piano bukan karena suka, didasari kehendak dari hati, melainkan karena tidak ingin mengecewakan orangtuanya. Ayah-ibu Sasana memang bukan pemain musik. Profesi ayah Sasana adalah pengacara, sedangkan ibunya dokter. Mereka bisa memainkan piano, tapi hanya sekadarnya saja. Sementara kehendak orangtua Sasana demikian besar untuk menciptakan anaknya menjadi pianis handal.Sampai suatu ketika, Sasana berkesempatan mendengar musik dangdut dari sebuah acara hajatan tidak jauh dari rumahnya. Anehnya, baru pertama kali dengar, Sasana langsung jatuh hati dan bisa menikmati. Tanpa sadar, dia ikut menyanyikan syair lagu yang bisa langsung dihapalnya sambil menggoyangkan tubuh.Sejak saat itulah, Sasana tidak bisa lagi memainkan tuts-tuts piano. Tangannya mendadak kaku, kemahirannya seketika tumpul saat duduk di depan piano. Di benak dan telinganya yang terngiang hanya suara seruling maupun gendang pengiring musik dangdut. Tentu saja, Sasana tidak memberitahu orangtuanya akan kesukaannya pada dangdut, karena hal itu potensial membuat murka ayah-ibunya.Demikianlah. Sasana terus menutupi kegemarannya pada dangdut di hadapan orangtuanya.Sementara orangtua Sasana terus-menerus mendiktekan kehendaknya, yaitu ingin membentuk Sasana sesuai idaman mereka. Saat SMA, Sasana dimasukkan secara paksa ke sebuah sekolah Katolik khusus laki-laki. Mereka ingin Sasana menjadi laki-laki jantan dan tangguh sesuai namanya.Sasana kembali harus menelan kekecewaan, karena tidak bisa berkutik di hadapan orangtuanya. Tapi dia tetap patuh, menurut, dan rajin berangkat sekolah meski dengan hati merana. Kemeranaan Sasana semakin bertambah manakala di sekolah dia diperas dan digencet sedemikian rupa oleh kakak-kakak kelasnya. Nyaris setiap hari, Sasana pulang dengan keadaan babak-belur. Sampai akhirnya dia mengaku pada orangtuanya kalau dirinya diperas, digencet, dan sering dikeroyok oleh kakak-kakak kelasnya.Malangnya, orangtua Sasana tidak dapat berbuat banyak; memperkarakan kasus itu ke meja hijau karena kakak-kakak kelas Sasana itu merupakan anak-anak orang yang berpengaruh, sehingga kemudian Sasana justru dikeluarkan dari sekolah, meski dia adalah pihak yang dirugikan.Kejadian itu terngiang-ngiang terus di benak Sasana. Berangsur-angsur dia membenci laki-laki menurutnya gemar mempergunakan kekerasan secara sembrono. Dia juga mulai membenci jatidirinya sebagai laki-laki, termasuk juga namanya yang dia anggap terlalu garang, terlampau keras.Di sisi lain, Sasana menyimpan kecemburuan besar pada Melati; adiknya yang jelita serupa bunga. Sasana iri pada segala-gala yang dimiliki Melati; mukanya, tubuhnya, perangainya, namanya, bajunya, semuanya! Dia ingin menjadi seperti Melati: yang cantik, lembut, dan bisa mengenakan baju-baju manis berlainan model, corak, maupun warna. Pelan-pelan, Sasana ingin menjadi perempuan!Tapi lagi-lagi Sasana harus membungkam keinginannya itu di hadapan orangtuanya yang demikian pemaksa kehendak dan sama sekali tidak membuka ruang kompromi.Memasuki bangku kuliah, Sasana harus tinggal jauh dari orangtua karena universitas yang dipilihkan orangtuanya ada di luar kota. Pada periode ini, Sasana mulai merasa memiliki kebebasan yang leluasa, karena dirinya jauh dari pandang mata penuh selidik orangtua.Saat mengenyam pendidikan tinggi inilah, tanpa sengaja Sasana berkenalan dengan Jaka Wani; pemuda dengan pekerjaan tidak jelas yang lebih karib dipanggil lewat nama Cak Jek. Bersama Cak Jek yang pandai memetik gitar, Sasana kemudian mulai bisa menyanyikan lagu-lagu dangdut secara bebas. Bahkan kemudian, keduanya menjadi pengamen--Sasana menyanyi dan bergoyang, Cak Jek memetik gitar--dari satu warung ke warung lainnya. Akibatnya, kuliah Sasana terbengkalai dan lalu malah ditinggal sama sekali. Tapi Sasana tidak kecewa, karena dengan mengamen, dia bisa menyanyikan lagu-lagu dangdut kesukaannya, bisa bergoyang sesuka hati, dan mengenakan baju dan atribut perempuan yang dia idam-idamkan.Kenyamanan hidup bebas yang Sasana kecap bersama Cak Jek, tidak berumur lama. Peristiwa penculikan dan pembunuhan Marsini; seorang buruh yang demikian vokal menyuarakan protes pada para tuan-tuan pemilik pabrik, menyeret Sasana dan Cak Jek dalam pusaran konflik yang membuat keduanya dituduh sebagai antek PKI dan lalu terjerembab di balik jeruji penjara.Di dalam penjara, Sasana menerima perlakuan yang jauh dari kata senonoh. Selain diberi makan yang tidak layak, dia juga kerap ditelanjangi, dilecehkan, dan dipaksa melayani kebutuhan seks para tentara secara bergilir.Sasana melukiskan kebiadaban tingkah para tentara sebagai berikut, “Penisnya dimasukkan ke mulutku. Sambil tangannya memegang kepalaku dan menggerak-gerakkannya. Mereka semua tertawa. Aku meronta, berteriak tanpa suara. Sakit rasanya. Sakit yang begitu dalam. Terhina, tak dihargai sebagai manusia. Ada cairan terasa di mulutku. Aku masih tak bisa mengangkat kepala. Orang itu memaksaku menelannya. Mukanya menahan nikmat.” (halaman 98).“Kini dia menarik tubuhku, lalu dengan kasar menarik celana dalamku sampai putus dan lepas begitu saja. Ia dorong tubuhku menghadap ke dinding. Lalu… aaaaargh! Sakit, sakit. Sakit di hati. Sakit di tubuh. Mereka melakukannya bergiliran. Aku benar-benar sudah merasa bukan lagi manusia.” (halaman 99-100).Kejadian yang terus berulang itu pada akhirnya menciderai jiwa Sasana. Dia menjadi gila dan lalu dimasukkan ke rumah sakit jiwa.Membaca novel ini akan mengayakan pembaca dengan berbagai liuk kejadian yang jauh dari kebahagiaan, namun sarat dengan makna, pesan, sekaligus pertanyaan besar mengenai hakikat manusia dan kemanusiaan. Informasi penting yang dapat ditemukan di novel ini antara lain bahwa tidak selalu waria menyukai dan berhasrat pada laki-laki, meski dirinya sendiri berpenampilan, berperilaku, dan bersifat layaknya seorang perempuan. Bahkan tidak sedikit waria yang menyukai perempuan. (halaman 284-285).Di samping itu, novel ini tidak hanya sekadar layak baca, namun juga dapat dijadikan bahan kajian sastra, filsafat, dan sosial, meski di sejumlah tempat terdapat sekelumit ganjalan. Seumpama keberadaan kelompok atau geng Marjinal yang tidak punya arti penting, bahkan lumayan terasa seperti tempelan saja (halaman 65-69, 89-92). Juga soal keberadaan Melati; adik Sasana yang disinggung hanya berdasarkan narasi atau paparan Sasana saja, tanpa ada interaksi yang gamblang berupa dialog atau kontak fisik.Ledug, 14 Juli 2013*Thomas Utomo adalah guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Telepon 085747268227. E-mail totokutomo@ymail.com. Saat ini bermukim di Banyumas.

  • Ahmad Rofai
    2019-03-16 01:36

    sejujurnya; membaca buku ini (terutama kondisinya aku sudah membaca tiga karya mba Okky); merasa seolah tidak mendapatkan kepuasan sesuai dengan ekspektasi sebelum tangan mulai membuka tiap lembar kisah.sebelum jauh bicara tentang kisah; mungkin ada baik aku uraikan orang2 yang terlibat didalamnya.a. Sasana; tokoh utama (?) anak laki-laki yang tumbuh menjadi pendamba perempuan, eh bukan pendamba; lebih tepat menjelma. anggaplah Sasana adalah lelaki. dan Sasa adalah perempuan.b. Cek Jak; bertemu dengan Sasana (ditulis sebagai aktor dan dalang dibalik munculnya Sasa dalam tubuh Sasana). c. Ibu dan Bapak Sasana; juga adiknya; anggaplah beranama Melati.d. selebihnya adalah piguran.alur kisah sebagai berikut:Sasana dilahirkan oleh Ibu (dokter bedah) dan Ayah (Pengacara) - sangat pintar; apalagi bermain piano; tapi tidak merasa bahagia - suatu hari, Sasana sangat menikmati acara dangdutan, dimarahin habis2an sama kedua orangtuanya - Sasana SMP di bully, dipalak, dipukuli hingga disuruh pindah sekolah - Sasana membenci laki-laki dan menyesali diri karena bagian dari laki-laki - Sasana mandeg kuliah; bertemu Cek Jak; ngamen tiap malam; jadilah Sasa - Goyangan yang dikenal adalah goyangan sasa dan goyang gandrung (lol) - Marsini seorang buruh hilang - Sasa dan Cek Jak melakukan aksi membela Marisini - Keduanya ditangkap polisi - penyiksaan, pelecehan dan tindakan senonoh diterima Sasa dari para oknum polisi - Sasa terpisah dengan Cek Jak - Sasa gila (entahlah, dipandang gila mungkin); masuk rumah sakit jiwa karena traumatisme yang diterima paska penangkapan oleh polisi - Cek Jak; dibelahan bumi lain dengan segala asam manis hidup; menjadi pemimpin laskar Malang; misinya membela agama - Sasa manggung ke Malang - Cek Jak mengecam Sasa - Sasa kembali ke polisi - Cek jak ngajak kabur.nah. nah. nah.mungkin secara kisah kompleks dan sangat; meskipun dalam beberapa part agaknya terlalu dipaksakan dan rasa-rasanya sulit diterima dengan akal.tapi tak apa. menurutku kadang hal-hal seperti ini perlu dalam novel.tapi.tapi.yang membuat aku merasa tidak mendapatkan kepuasan sesuai ekspektasi adalah.kisah yang dibuat Okky dalam buku ini banyak (dibandingkan dengan novel2 sebelumnya yang sudah ku baca) tulisan yang terkesan menggurui.terutama dalam caranya menyampaikan kontemplasi pikiran tiap tokoh.seolah-seolah; yang membaca dimarahi. digurui oleh si tokoh didalamnya.meskipun begitu.aku belajar.terutama tentang pertanyaan siapa yang sebenarnya gila.kita yang mengangap mereka gila.atau justru kita yang gila.ah.

  • Jojo
    2019-03-06 09:41

    Dalam cerita ini ada dua tokoh yang bercerita(naratornya ada dua), namanya sasana/sasa dan cak jek/jaka wani/jaka baru. dua tokoh tsb secara garis besar punya satu cita-cita yang sama, yaitu bagaimana caranya mereka bisa berkehendak bebas tanpa harus berpatok pada kewajaran-kewajaran yang ada di masyarakat tempat mereka tinggal.Buku dimulai dengan cerita tentang masa kecil sasana dari masa kecil sampai dia SMA, dari belajar piano klasik sampai pertemuannya dengan dangdut yang nantinya bakal mengubah hidupnya. Ada suatu hal yang di rentang waktu itu yang akhirnya membuat sasana punya alter ego bernama Sasa. jadi sasana merasa menjadi utuh kalo udah jadi sasa (laki-laki yang berpakaian perempuan, gemar menyanyi dangdut dan punya goyangan khas) dan bisa menghibur orang. hal ini tidak lepas dari buntut bullying yang diterimanya waktu sekolah di sekolah khusus laki-laki dulu.sedangkan cak jek yang berhenti kuliah karna merasa hidupnya hanya untuk bermusik yang akhirnya bertemu dengan sasa dan ngamen bareng. Mereka bercita-cita punya grup dangdut profesional. sampai pada suatu saat sasana dan cak jek terpisah, Cak Jek ke Batam dan Sasa kembali ke Jakarta.Banyak sekali hal yang ingin penulis sampaikan disini, mulai dari isu feminisme, anarkisme(bukan dalam stereotype orang indo kebanyakan), perbudakan(hampir semua buruh perempuan di tempat kerja jaka wani 'dipake' sama mandor dan supervisor supaya tidak dipecat), anti bullying(sasana jadi bulan-bulanan di sekolahnya), HAM termasuk didalamnya kecacatan kebebasan berpendapat, perburuhan, eigenrichting atau main hakim sendiri(saat laskar menyerbu warung minuman keras dll), kecacatan demokrasi(waktu bapak sasana tidak bisa memenjarakan orang yang menganiaya sasana karena bapaknya seorang jendral), parent-ing, dan banyak sekali isu hukum lainnya. Kalau menurutku pribadi, menarik sekali ide penulis ini, tapi bukunya telalu singkat untuk membahas itu semua, jadi antara kurang panjang ceritanya atau dikurangi isu yang mau diangkat, supaya bisa lebih detail lagi. Tapi terlepas itu semua, sepanjang aku baca buku ini, aku bisa menerima pesan yang ingin disampaikan penulis mengenai isu-isu di atas. Membaca buku ini penulis dan khususnya pembaca(orang indo) seperti berkaca pada kehidupan negeri ini, cacat demokrasi, cacat pancasila, cacat UUD45, cacat semuanya.3,5/5 untuk pasung jiwa

  • Diana Nissa
    2019-03-05 01:43

    Pasung Jiwa. Bukan hanya sekadar buku dengan cerita beralur dalam kertas-kertas, ia lebih hidup dan menghidupi. Polemik batin tentang esensi kebebasan hakiki tiap individu kembali dipertanyakan dengan mengarungi tiap jiwa tokoh-tokohnya.Betapa berani Okky Madasari (lagi-lagi) menjungkirbalikkan sekaligus merobek apa-yang-selama-ini-diyakini-dan-dianggungkan-mayoritas. Kemudian mendobrak norma dengan mengajak pembaca melihat dari kacamata yang berbeda, dari dua pasang mata korban yang tidak bisa membebaskan jiwanya di tengah masyarakat anti-toleran.Sasa dan Sasana, dua jiwa dalam satu badan yang berkali-kali kalah tapi juga menang. Kalah di tengah kehidupan masyarakat yang monoton, tapi menang dengan kedua jiwanya yang hidup berdampingan. Okky menggambarkan sisi Aku milik Sasa dan Sasana dengan spesial, banci yang punya sejuta tanya tentang kebebasan, keberanian, kejujuran, dengan kerendahan diri yang bahkan tidak dimiliki oleh aparat laskar yang menggembor-gemborkan diri jihad di jalan Tuhan. Cih! Elis juga jadi salah satu wanita anti-kemunafikan yang favorit. Ogah dikasihani karena terjerembab dalam dunia pelacuran. Betapa jiwanya bebas dengan segala pilihannya, melacur tanpa penyesalan dan tidak repot menangisi hidup yang kejam.Jaka adalah salah satu nahkoda Pasung Jiwa yang semangatnya memompa adrenalin, pengkhianat yang memicu emosi hingga ke sum-sum tulang. Lagi-lagi jadi istimewa dengan tiap kurang dan lebihnya.Drama perjalanan hidup tokoh sungguh panjang dan kompleks, tapi sama sekali tidak sulit diikuti. Berkat pilihan diksi dan gaya bahasa masyarakat marjinal yang sederhana namun bermakna besar, emosi pembaca dapat dengan mudah dimainkan senada dengan tiap napas tokoh-tokoh Pasung Jiwa. Buku yang menarik untuk tiap-tiap jiwa yang masih bertanya-tanya tentang dirinya, pun baik untuk tiap jiwa yang tidak menilik apa-apa tapi ingin memahami sisi istimewa manusia lainnya. Dengan buku ini, mari kita rayakan bersama kemenangan tiap-tiap jiwa yang telah bebas, seperti Sasa dan Cak Jek. Salute!

  • Puji P. Rahayu
    2019-02-27 09:50

    Pasung Jiwa - Okky Madasari4 dari 5 bintangSeluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengungkungku menjadi tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku. — Sasana, hlm. 293.Pernahkah kalian memikirkan, apakah kehendak bebas itu benar-benar ada? Memang dikatakan kalau Hak Asasi Manusia merupakan hak yang melekat karena kita adalah manusia. HAM merupakan satu hal yang universal dan dimiliki oleh setiap orang, dimanapun mereka berbeda. Adanya HAM seolah-olah menjamin bahwa kebebasan seseorang dalam berlaku dan bertindak dapat terjadi. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah setiap keputusan yang kita ambil, tindakan yang kita lakukan, murni pengejawantahan dari kehendak bebas yang kita miliki? Apakah benar, kita ini memiliki kehendak bebas? Bukankah pada akhirnya keseluruhan keputusan yang kita ambil dan tindakan yang kita lakukan merupakan hasil kontemplasi dari batasan-batasan yang ada dalam masyarakat? Batasan-batasan yang tanpa sadar telah mengekang kehendak bebas kita.Melalui kisah Sasana dan Jaka Wani, kita akan diajak menyelami apa itu kebebasan yang ada dalam hidup kita.Resensi lengkap dapat dibaca di http://prayrahayusbook.blogspot.co.id...