Read Remember The Flavor by Fei Online

remember-the-flavor

Dimas dan Melodi adalah dua sahabat yang saling mencintai, walau kata cinta tidak pernah terucap dari bibir masing-masing. Dimas selalu ada untuk Melodi dan menjadi suporter utamanya. Namun ketika Melodi memilih pergi meninggalkan Dimas untuk mengejar impian, akankah Dimas masih tetap ada untuknya ketika ia kembali?Karena rasa itu tidak pernah mati, ia selalu ada di hati..Dimas dan Melodi adalah dua sahabat yang saling mencintai, walau kata cinta tidak pernah terucap dari bibir masing-masing. Dimas selalu ada untuk Melodi dan menjadi suporter utamanya. Namun ketika Melodi memilih pergi meninggalkan Dimas untuk mengejar impian, akankah Dimas masih tetap ada untuknya ketika ia kembali?Karena rasa itu tidak pernah mati, ia selalu ada di hati....***Setiap karakter terasa seperti aneka rasa dalam ice cream, perpaduannya menciptakan lompatan-lompatan kepuasan. (Ence Bagus, aktor)Cinta dan rasa menurut gue memang bisa saling berhubungan. Rasa bisa bermacam-macam jenisnya, tapi cinta berbeda. Cinta adalah dua jiwa yang menemukan keindahan dalam hatinya tanpa rasa benci dan saling menyakiti. (Tarra Budiman, aktor)...

Title : Remember The Flavor
Author :
Rating :
ISBN : 32855595
Format Type : Paperback
Number of Pages : 244 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Remember The Flavor Reviews

  • Nia F. S. Kartadilaga
    2019-03-08 03:57

    Sempat tertunda untuk menyelesaikan ini karena tergiur untuk membaca yang lain terlebih dahulu. Hehehe. Ceritanya memang predictable sih, pola-polanya juga tidak ada yang istimewa. Awalnya saya ingin membaca karena Remember the Flavor diadaptasi dari skenario film, di mana script-writer untuk versi film adalah Ratih Kumala. Sebagai penggemar tulisan Ratih Kumala, saya pun tergoda untuk membaca Remember the Flavor.Kisah ini ditulis dengan gaya yang cukup menarik. Ya, bisa dibilang lumayan mengalir lah ya. Untuk cerita se-klise kisah yang ditawarkan Remember the Flavor, gaya kepenulisan Fei bisa dibilang cukup untuk menyelamatkan cerita supaya tidak berakhir sebagai cerita yang sekadar cheesy, mudah ditebak, dan nggg... Makanya, saya tetap bisa mengapresiasi buku ini. Saya juga mengapresiasi ending yang seperti itu -- yang mudah membuat suudzon supaya pembacanya tetap mau menonton film demi mengetahui ending-nya. Kalau misalnya ending buku ini tidak dibikin seperti itu, kemungkinan besar saya berakhir tidak menyukai buku ini sama sekali. Ehe~

  • Fitra Aulianty
    2019-03-15 19:34

    Sejauh pertengahan buku, ceritanya rapi. Namun sewaktu Arnesti datang, saya malah kurang tertarik. Bagian cita-cita yang ingin dituju Dimas dan Melodi jadi samar, dan akhirnya hasil akhir dari yang mereka tuju ini tidak terlihat. Yah mungkin karena memang ditutupi untuk filmnya. Untuk es krimnya sendiri, masih kurang banyak. Malah saya lebih suka sama patung yang pecah itu. Semoga kalau ini dicetak ulang, deskripsinya lebih luas lagi, es krimnya lebih banyak lagi dan lebih manis. Btw, saya suka Tanu, komenannya lucu semua.

  • Mizuki Arjuneko
    2019-03-03 01:50

    Semoga buku ini nggak underrated. Aku sendiri nggak nyangka kalau bakal sangat menikmati buku ini. Soalnya belinya gak sengaja. Kalau saja kiriman Being Henry David-ku nggak tertukar sama buku ini, mungkin nggak akan pernah menikmati kelezatan es krim kedai Mirasa. Fei keren cara nulisnya. Sweet tapi nggak bikin eneg. Momen-momennya sederhana tapi justru terasa begitu istimewa. Ya kurasa aku akan nonton filmnya, apalagi karena ending bukunya begitu menggantung. Tapi kurasa ini strategi marketing yang bagus hahaha...Buku ini langsung membuatku lengket dan terus membaca sepanjang malam demi meneruskan baca sampai tamat. Genre romance ternyata nggak buruk-buruk amat haha. Meski disajikan sangat normal tanpa ada isu disorder atau suicide. Kesederhanaanya yang membuatnya terasa spesial. Tak ada glorifikasi tema meraih mimpi di sini. Semua disajikan sewajarnya.Aku suka kutipan Dimas yang mengatakan hal ini pada Melodi: Apa impian itu harus selalu berupa sesuatu yang terasa jauh dan butuh dikejar? Tidak bisakah impian adalah sesuatu yang dekat dan layak dipertahankan?

  • Niratisaya Niratisaya
    2019-02-25 01:40

    Fei is good in building up her story and its fictional world. However, I feel that she lacks in romance department.It doesn't mean that she writes cheesy romance story, just that her focus is not there. Most of her works focus on the relation between each character, setting, and the story itself. That is the reason I live every character Fei creates.In "Remember The Flavor" though, she tries to make it up by showing the real problem of a romantic relation. Not about the process of the relationship, but the person itself.Does one understand what's the meaning of love? This is reflected in the Dimas and Melodi.And about Arnesti.... I do wish Fei give at least 10 pages more about her and Dimas.Their story were too fast and too short (yes, not furious XD), and too smooth if I had to say, that makes me a bit jealous about their story.Concerning the ending... Fei, you need to call your lawyer. I want to sue you and you, Penerbit Haru. Did you guys rob some pages out of this novel?!

  • Afy (Splendid Words)
    2019-03-19 23:43

    More like 3.5 stars tbh.jujur aja, saya enjoy banget baca cerita ini. saya itu tipe orang yang nilai sebuah cerita dari gaya bahasa. kalo bagus, i'll continue. tapi kalo engga... ya i'll stop (atau gak, lama bacanya). dan novel ini untungnya termasuk yang punya gaya bahasa yang bagus. TAPI SATU YANG BIKIN SAYA JADI GABISA NGASIH 4 BINTANG KE NOVEL INI: KENAPA ENDINGNYA HARUS GANTUNG?!?! Okay, saya tau mungkin itu sengaja juga biar kita nonton filmnya, but hell, cliffhanger-ending stories are just asdfghjkl.

  • Nina Sandiah
    2019-03-05 02:52

    hahaha. ternyata endingnya gantung. well, pas baca dan ternyata nemu kalo endingnya gantung aku jadi mikir, kemungkinannya ya cuma ada dua, si penulis emang sengaja bikin ceritanya gantung dan pengen bikin lanjutan di novel berikutnya (tapi kok gak ada tanda tanda bakal ada novel berikutnya ya) atau dia udah bingung untuk bikin ending yang kayak gimana sampe akhirnya dibikin gantung aja lah, biar kita si pembaca yang menerka nerka Dimas milih Melodi atau Nesti.oh ya, di akhir akhir baru tau kalau ternyata novel ini ada film nya ya. hmmmyang aku bingung adalah pdhal salah satu karakter dalam novel kan penyanyi ya, ada bagian diceritakan bahwa si Melodi lagi nyanyi, ibu Citra juga nyanyi, tapi gak ada keterangan soal Melodi nyanyi apa, atau senggaknya jenis lagunya apa. kalau gak salah ada sih disebut sebut soal musik Jazz, tapi aku gak dapat feel bahwa lagunya nih lagu Jazz. nah karena masalah itu tadi, makanya aku rada rada kecewa (dih gaya banget haha) buat penulisnya semangat lagi ya, padahal ide ceritanya udah bagus banget lho, paduan antara ice cream dan lagu, romantis gimana gitu ya, tapi aku gak dapat feel paduan dua hal itu. padahal kalau ice cream sama lagunya bisa nyatu, aku yakin novel ini bisa enak banget buat dibaca.

  • Ratna Sari
    2019-02-26 00:38

    Oke, gw kembali kecewa dengan buku yg endingnya "dipending" alias gw harus nonton filmnya untuk bisa tau kaya gmn endingnya. Hmph..Memang sih tergantung selera. Dan gw termasuk orang yang gak mau "digantung" seperti ini. Iya, kalo gw sempet nonton filmnya, kalo engga?Untuk ide cerita cukup sederhana, tentang persahabatan dan mengejar impian. Dan penulis juga menceritakannya dengan ringan. Yg aku suka adalah settingnya yang di kedai es krim. Jadi pengen ikutan makan es krim terus. Oh ya, dibuku ini juga diselipkan quote2 yang perpaduan antara love & ice cream. Bikin melt deh.

  • Riri
    2019-03-15 20:43

    good

  • Evita MF
    2019-03-14 01:56

    Dimas dan Melody bersahabat sejak SMA. Pertemuan pertama mereka terjadi secara tak sengaja di ruang UKS. Dimas yang cenderung tak pandai bersosilisasi sebenarnya ingin menyudahi obrolan dengan Melody saat itu. Namun Melody yang ramah dan mudah bergaul malah tak henti bicara. Ia bahkan membicarakan tentang ibunya yang mantan penyanyi terkenal dan membicarakan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang penyanyi. Sementara itu Dimas tak punya mimpi, ia tak tahu mau jadi apa di masa depan. Sampai ia menyadari satu mimpi besarnya; membuat bahagia orang yang amat disayanginya.“Sepuluh dari sembilan orang memang suka cokelat, Mas.”“Diam kamu! Ikut-ikutan aja! Lagi pula istilah yang benar itu sembilan dari sepuluh.”“Justru itu, Mas, maksudnya yang satu lagi sampai nambah saking sukanya.” (hal. 117)Setting tempat dalam novel ini adalah kota Yogyakarta. Membaca novel ini membuat saya rindu sekali pada Jogja. Beberapa tempat yang disebutkan dalam novel ini menimbulkan kenangan tersendiri di benak saya. Fokus dalam novel ini adalah kedai es krim Mirasa. Sempat terpikir kalau nama kedainya lebih cocok untuk jualan mie dari pada es krim. Tapi namanya cukup unik dan membuat penasaran jika benar kedai es krim ini terdapat di Jogja. Saya pasti mampir ke sana.“Apa impian itu harus selalu berupa sesuatu yang terasa jauh dan butuh dikejar? Tidak bisakah impian itu adalah sesuatu yang dekat dan layak dipertahankan?” (hal. 173)Dimas sebenarnya lulusan sarjana teknik tapi karena ia sendiri tak tahu apa mimpinya, ia berakhir menjadi penerus usaha kedai es krim milik ayahnya yang sudah ada sejak 1936. Untuk ukuran laki-laki saya sebenarnya lebih suka kalau Dimas ini lebih tegas dan berusaha untuk menemukan mimpi untuk dirinya sendiri. Juga mampu menentukan tujuan hidupnya. Seperti Melody, sejak kecil ia sudah punya mimpi untuk menjadi penyanyi seperti ibunya. Sedikit masukan saja sih sebenarnya, dua karakter utama dalam novel ini seperti dua anak yang terinspirasi untuk berprofesi seperti orang tuanya. Terlalu kebetulan menurut saya. Sepertinya lebih baik jika salah satu punya cita-cita yang berbeda untuk memghidupkan cerita menjadi lebih realistis. Untuk karakter, saya paling suka hubungan Hendro dan Dimas. Penulis pandai sekali menulis hubungan Hendro dan Dimas yang dekat dan hangat. Saya bisa merasakan bahwa kehangatan keluarga lewat interaksi Hendro dan Dimas.“Satu-satunya hal yang konstan dalam hidup, adalah perubahan.” (hal 181)Saya suka sekali dan menikmati saat-saat membaca buku ini. Sudah lama rasanya tidak membaca dengan lancar dan tanpa jeda yang panjang. Jujur saja saya membaca buku ini hanya dalam waktu kurang lebih 4 jam. Bacaan yang ringan dan menghibur sekali untuk dibaca ketika week day. Namun saya sedikit kesal dengan endingnya. Saya seperti diberi ketidakpastian. Saya harap sih novel “Remember the Flavor” ada sekuelnya. Nanggung banget akhirnya!

  • Perdani Budiarti
    2019-03-15 21:40

    Awalnya mulus sih penceritaan kisah Dimas dan Melody ini: pertemuan di SMA, impian Melody untuk menjadi penyanyi, dan kegalauan Dimas terkait masa depannya yang tidak muluk2, hanya menerima keadaan yang sudah ada. Kehadiran tokoh pendamping seperti Hendro, Tanu, dan Citra di sekitar Dimas dan Melody cukup memberi warna cerita. Konflik yang cukup mengubah jalan cerita adalah kemunculan tokoh Ivan, Patrick, dan Juned. Terutama Ivan dan Juned yang turut serta memperuncing konflik Melody dan ibunya, Citra.Ketika Melody mendapat peluang meraih mimpinya, alur cerita mulai terasa tergesa-gesa diceritakan. Dimas seakan kehilangan semangatnya, dan terkihat dia bukan tipe pelaku LDR. Kemunculan seseorang yang baru di hidup Dimas terasa sangat singkat sebelum menjelang akhir cerita. Endingnya terbilang cukup menggantung... mungkin akan lebih dapat feelnya jika divisualisasikan.NB: sepertinya buku ini disadur dari film denga judul yang sama ya?

  • Lievadiar
    2019-02-23 01:41

    Judul : Remember The FlavorPenulis : FeiPenerbit : Penerbit HaruTebal : 244 halamanSuka sama novel ini, walaupun nggak yang suka banget.. tapi rasanya pas baca macem-macem, btw jadi pengen nyobain es krim buatan Dimas :vSuka sama quotes buatan Tanu! Favorite banget, haha.. Pas awal keluar info terbitnya buku ini tuh rada penasaran, kok terbit di Haru? Bukan di Inari? Pasalnya novel ini tuh nggak kayak terbitan Haru yang mayoritas Korea-Jepang-China (walopun ada Thai-Phil juga sih). Jadi novel ini tuh pure INDONESIA banget! Asli! Aaaahh Jogja! Yaampun jadi pengen ke Jogja. Menceritakan gimana Melodi yang ingin meraih mimpinya untuk jadi seorang penyanyi. Dan ternyata ada masalah dengan masa lalu sang Ibu tentang mimpi Melodi itu. Lalu ada Dimas dengan kedai es krimnya. Kalo beneran ada kedai es krim Dimas kusamperin deh nih /heh/Sayangnya di ending kayak kurang greget bagiku. Kayaknya butuh nonton filmnya deh. Sayang waktu itu nggak sempet nonton :(

  • Ramadhana Kirana
    2019-03-04 23:34

    Menurut saya buku ini lumayan kok, bagus. Jadi kalau mau beli menurut saya (lagi) nggak nyesel. Apalagi penerbitnya haru, yang biasanya emang bukunya bagus-bagus sih 😂. Konfliknya nggak berat kok, enak dibaca. Juga nggak drama bgt. Yang aku suka tuh ada hand lettering di beberapa halamannya tentang es krim. Lucuu. Katanya ini dibuat film ya? Saya lebih suka baca novel daripada nonton film sih wkwk. Kalau nonton mematikan imajinasi saya soalnya :(