Read Furin Kazan by Yasushi Inoue Dina Faoziah Fatmawati Djafri Online

furin-kazan

Yamamoto Kansuke hidup pada zaman Sengoku Jidai; di mana perang saudara dan perebutan wilayah melingkupi wilayah Jepang. Kansuke dipandang sebelah mata karena kakinya yang pincang dan matanya yang buta sebelah. Hingga pada suatu ketika ia bertemu dengan jenderal Itagaki, yang memberinya kesempatan untuk mengabdi kepada daimyo Takeda dari Provinsi Kai.Takeda Shingen yang inYamamoto Kansuke hidup pada zaman Sengoku Jidai; di mana perang saudara dan perebutan wilayah melingkupi wilayah Jepang. Kansuke dipandang sebelah mata karena kakinya yang pincang dan matanya yang buta sebelah. Hingga pada suatu ketika ia bertemu dengan jenderal Itagaki, yang memberinya kesempatan untuk mengabdi kepada daimyo Takeda dari Provinsi Kai.Takeda Shingen yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya, mengangkat Yamamoto Kansuke sebagai ahli strateginya. Bakat Kansuke dalam diplomasi dan pemahamannya akan strategi perang, membuat klan Takeda sukses besar. Namun agenda terbesar mereka adalah mengalahkan pasukan Echigo yang dipimpin oleh Uesugi Kenshin Kagetora. Pertempuran tersebut dikenal dengan peperangan Kawanakajima, dan sejarah mencatatnya sebagai salah satu peperangan terbesar pada zaman Sengoku Jidai. Mampukah strategi Yamamoto Kansuke mengalahkan pasukan Echigo?Diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang, Furin Kazan akan membuat para pembacanya lebih merasakan nuansa Jepang kala itu.***Yasushi Inoue terkenal serius dalam membuat cerita fiksi sejarah, keakuratannya membuat buku-bukunya banyak diminati dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa serta diadaptasi ke layar kaca. Melalui karya-karyanya, Yasushi Inoue telah mendapatkan berbagai penghargaan seperti: Akutagawa Prize, Literature Prize dari Kementerian Pendidikan Jepang, Japanese Literary Award, dan The Order of Cultural Merit—penghargaan tertinggi di bidang sastra yang diberikan oleh Pemerintah Jepang....

Title : Furin Kazan
Author :
Rating :
ISBN : 9786029719604
Format Type : Paperback
Number of Pages : 288 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Furin Kazan Reviews

  • Andre
    2018-09-14 20:54

    Good:* This novel is about a crippled and deformed bachelor-for-life old man who became an advisor to a lustful master with multiple wives. His master's nemesis was a celibate religious nut. Does it sound like a terrible sitcom?Yamamoto KansukeHobbies: capturing castles, schemingThe main protagonist of the story. Kansuke was born deformed, missing one finger, had only one eye and a few other physical deficiencies. Due to his appearance, most people treated him poorly, which caused him to hate almost everyone.Takeda ShingenHobbies: collecting beautiful women, taking other people's territoriesKansuke's master. A clever warlord with multiple family problems, some of them were caused by his polygamous life style. Very ambitious and wished to unite Japan.Uesugi KenshinHobbies: praying, getting drunk, going to warShingen's nemesis. A brave warlord with warped sense of life and justice. Lived like a monk except for a few minor differences such as: he drank too much and killed a lot of people.The novel was set in 16th century Japan and followed Kansuke as he helped Shingen in defeating his opponents and culminated in the battle of Kawanakajima, where Shingen fought for his life against Kenshin.Bad:* Some anachronisms: for example the book referred general Obu Masakage as Yamagata Masakage more than 10 years before he changed his name.* Date and time were left untranslated.

  • umberto
    2018-08-22 19:06

    This compact novel by Yasushi Inoue seemed unreadable to me at first till I was reluctant and wondered if I could finish it. However, I found it interestingly revealing especially in relation to an eminent samurai protagonist named Yamamoto Kansuke who served his lord, Takeda Harunobu, that is, Takeda Shingen, chief commander of the Shingen's clan as narrated within the time frame of 1541-1573 (p. 208). In fact, it was a story leading to the fate of Takeda Shingen's son, Katsuyori who had to "fight against the two strongest unifiers of Japan, Oda Nobunaga and Tokugawa Ieyasu" (p. 200). As for these two unifiers, one night whlie I was watching a Japanese film on television months ago, the name 'Tokugawa Ieyasu' interested me since he was the first founder and the first shogun in the Tokugawa shogunate in Japan (http://en.wikipedia.org/wiki/Tokugawa... he was so powerful and charismatic that his order to his warriors ready to take action was to be obeyed, that is, not to annihilate an uprising village due to an unthinkable, earnest request from a young, goddesslike warrior who bravely sacrificed her eyes for the safety of those villagers. It was really a touching scene revealing the great elderly shogun named Tokugawa Ieyasu shocked nearly beyond words to utter who stepped out from his norimono, walked to the lady and consoled her. He said something implying his ultimate approval on her request but I can't recall it now. It's a pity I can't read Japanese, thus the film's title has since remained mysterious to me and I think the film might have been produced based on a true story written by a Japanese historian. Definitely, I would appreciate any information on the film from my Goodreads friends knowing Japanese who have watched, known or had any clue about the book related to this film or the film itself.Having a strange ambition to capture a castle, Kansuke eventually trusted by Takeda Shingen as a key war strategist unfolded his vision and integrity. I liked this excerpt depicting him as a true warrior who deserved admiration and respect from posterity: ..."Then why did you not kill me?"For the first time, her tone was fiery. Her beautiful eyes were staring at Kansuke's face."Because I felt all of you, your two princesses, the child in your body, they will all be an important asset for the Takeda family. All of your children will be good brothers and sisters for the son of Princess Yuu, Katsuyori."...... "I am the one whose name is Yamamoto Kansuke.""I know. When you came into this room, I thought you must be.""From now on, I shall help you. I shall protect all of you, the princesses and the child in your body, with all my life. No matter how much you suffer and feel sad, you must suffer for the future of this house. You have to realize one thing, though; since Prince Katsuyori was born one year before your son, you have to recognize him as your son's elder brother."... (p. 112)In brief, Kansuke adapted his own decision not to kill this mysterious lady (Princess Ogoto) for the sake of the advantages of the Shingen's clan which was remarkable due to his wise action instead of killing her in cold blood as planned.

  • Mairéad (is roaming the Undying Lands)
    2018-08-24 01:04

    {November 17th, 2015} MINI REVIEWMy younger brother got this when we were at Disney World last Christmas, and I had read only the first 50 or so pages. Now reclaiming it to finish, I reread from the start. It had the symbolic stylistic tones of historical fiction blended with a peek into Feudal Japan and its warring states. There was a lot of battles commanded, issued, and fought over these centuries--all in the name of conquering the entirety of Japan.This is one of those stories.Following the samurai Yamamoto Kansuke as he navigates this particular time frame, we become involved in the Takeda clan and its struggles. While it's mostly a narrative story, it does ply the overall aspects of the political climate and the struggles that these warlords undertook. I grew to like Kansuke and other characters, while they did remain 1 or even 2D in personal complexities. But the truth remains it is a portrait of those harsh times where it meant life or death.

  • cindy
    2018-08-25 02:13

    editted 30/12/2015===============ok, mungkin ini masalah ekspektasi dan saya yang gak baca tag bukunya dengan benar. di bagian atas judul memang telah ada penjelasan bahwa buku ini berkisah tentang "Strategi Penaklukan Benteng Yamamoto Kansuke" jadi (meskipun judul bukunya Furin Kazan yang jadi banner Takeda Shingen) tentu saja novel historis ini berkisah tentang Yamamoto Kansuke dan strategi-strategi perang yang dilakukannya selama membantu Sang Tuan, yaitu Shingen... sedangkan saya sendiri awalnya mengira ini lebih pada pelaksanaan strategi Furin Kazan itu sendiri yang bikin Shingen disuyudi sedemikian, bahkan bisa dikatakan ditakuti baik oleh Uesugi Kenshin maupun Oda Nobunaga, kelak di penghujung usianya.Jadi, tentang bukunya sendiri, ini lebih ke semacam historic-war-biography dari seorang Ahli Strategi Yamamoto Kansuke sejak ia masuk mengabdi kepada Klan Takeda yang dipimpin Shingen, sampai saat kematiannya. Selain membahas masalah strategi perang, juga banyak menunjukkan intrik di kediaman Takeda, dari masalah istri dan putra-putra resminya hingga selir-selir dan putra-putri lainnnya. Kansuke entah mengapa lebih suka mengabdikan dirinya pada seorang selir dari wilayah Suwa, Putri Yuu, dan putranya Katsuyori. ***seingatku, nanti memang Takeda Katsuyori ini yang menjadi penerus Shingen dan berperang dengan Nobunaga (ok, sudah cek ke om wiki, benar begitu adanya! terbukti saia sudah terlalu banyak baca manga dan nonton pelm jepun inih... :p )*** Nah, tapi karena dukungannya ini, banyak pula masalah yang dihadapi Kansuke selama mengabdi. Satu hal yang menjadi ciri Kansuke, adalah dia berpikir 3-4 langkah ke depan. Misalnya saat pemberian nama kecil Katsuyori, semua orang mengusulkan nama Saburo, yang berarti putra ketiga. Namun Kansuke mengusulkan nama lain yang sama sekali netral, Shiro. Setelah dimintai penjelasannya, ternyata dia memikirkan bahwa kelak di kemudian hari, dari hasil berbagai peperangan dan perjanjian, pasti akan ada anak adopsi dari klan lain yang diberikan kepada klan Takeda, yang mungkin lebih tua dari Shiro, jadi mestinya dia tidak pas lagi bernama putra ketiga. Oh, begitu.... Demikian pula dengan masalah pembangunan Benteng atau saat membuat perdamaian atau saat menyerang yang tak terduga. Kansuke (dan Shingen) bisa berpikir cerdik, mengantisipasi semua kemungkinan. Sayangnya, nasib Kansuke naas saat satu pertempuran besar melawan Uesugi Kenshin, Daimyo dan Jendral besar Echigo, lawan sebanding Shingen sepanjang hidupnya. Dan buku ini juga berakhir mendadak, tanpa epilog tanpa penjelasan lanjutan sama sekali, saat Kansuke tewas di medan perang tersebut.Untuk gaya penulisannya, aku ternyata lebih suka narasi-narasi indah Yoshikawa Eiji - sensei daripada gaya lugas Inoue Yasushi - sensei di sini. Memang mungkin gaya ini lebih cocok untuk novel biografi semacam ini, tapi aku jadi kurang menangkap gambaran pribadi Kansuke seutuhnya. Oh iya, dan edisi terjemahannya ini ada beberapa typo, belum sampai taraf mengganggu sih, tapi cukup untuk tertangkap saat membaca. OK... selanjutnya baca Uesugi Kenshin?? Boleeeh jugaaa kali ya... *yuk bongkar timbunan*========================FURIN KAZAN INRAIGara-gara baca Detektif Conan, jadi tahu artinya: Fu/Kaze (Wind), Rin/Mori (Forest), Ka/Kasai (Fire) dan San/Yama (Mountain).Moto Takeda Shingen yg ditulis dalam panji-panjinya berbunyi, Moving as swift as the wind,stay as silent as forest, offend as fierce as fire, defend as unmoveable as a mountainDalam versi aslinya yang diambil dari Sun Tzu's Art of War, masih ada dua baris strategi lagi (dalam Conan, --pembunuhnya pengagum berat Takeda Shingen-- 2 baris ini yg menjadi kunci misteri-nya :p )Rai/Kurai (Dark) Hiding as formless as the darkIn/Kaminari (Thunder) Attack as quick as the speed of thunder **jadi bener-bener pengin baca buku ini, ada yg mau minjemin g ya?!?**

  • Sweetdhee
    2018-09-09 02:03

    Orang pintar yang menyebalkanButa sebelah mata, pincang pulak!Itulah sosok Yamamoto KansukeRonin yang tidak pernah berada di satu peperangan sekalipuntapi entah mengapa aura nya membuat orang merasa entah segan, entah jengah, entah takutBahkan tidak ada satupun daimyo yang mau mempekerjakannya karena perasaan aneh yang timbul saat berada di sekitar KansukeSaya aja bawaannya pengen nabok si Kansuke terus sepanjang baca buku ini..Ketika akhirnya bertemu dengan jenderal Itagaki, Kansuke dipekerjakan oleh daimyo TakedaDih, si Kansuke ini bisa banget baca pikiran bos nya (bisa diterapkan di kantor neh.. hehehehe)Dia tau banget apa yang menjadi pertimbangan khusus dan tujuan yang ingin dicapai bosnya.Walaupun Kansuke tidak pernah terjun ke medan perang sebelumnya, tapi karena Kansuke banyak membaca buku (yeaaa!!! musti ditarik jadi goodreaders neh.. kedip-kedip ke momod). Dan menggabungkan ketrampilan membaca jalan pikiran Tuannya dengan pengetahuan yang dia dapat dari buku, dia selalu bisa mengajukan saran dan nasihat yang sudah pasti dijadikan pertimbangan utama TakedaPokoknya si Kansuke ini pinter banget deh bikin strategiBaik dalam strategi perang, ataupun dalam menangani urusan selir Takeda, putri YuuBahkan sampai mengatur Katsuyori, putra Takeda dengan Putri Yuu, untuk menjadi pewaris Takeda dibandingkan dengan Yoshinobu, putra dari istri pertama TakedaKansuke benar-benar mengabdi pada putri Yuu yang dia anggap sangat pantas mendampingi TuannyaSampai-sampai sempat terpikir jangan-jangan Kansuke sebetulnya jatuh cinta sama Putri YuuNah, apa benar Kansuke jatuh cinta?Apakah strategi-strategi Kansuke sebegitu canggihnya sehingga cukup untuk mengantar Takeda memperluas wilayahnya, apalagi pada pertarungan puncak yaitu melawan pasukan Echigo yang dipimpin Uesegi Kenshin Kagetora?Hmmmmm.. silahkan baca buku bersampul BIRU yang penuh dengan peperangan ini untuk tahu lebih lanjut..Yang jelas, buku ini (kayaknya) jauh lebih seru dibanding dengan Heike Story yang sampe sekarang ga maju-maju nih baca nyaHehehehhePS: Font nya enak dibaca, terjemahannya juga okeh.. asik lah

  • Speakercoret
    2018-09-11 23:02

    aku lebih suka ini dr pd heike :pheike bagus, tp ini lebih seru :Dapa mungkin krna heike lebih bantal?hehehe....tokoh utamanya bukan pemimpin klan, tp seorang ahli strategi perang, Yamamoto Kansuke..semenjak bergabung dengan takeda shingen, kansuke melakukan berbagai macam taktik utk memperluas wilayah kekuasan takeda..Kansuke merancang taktik yg mendukung keinginannya utk mendudukkan katsuyori anak dr putri yuu, seorang selir, sebagai penerus klan takeda. Katsuyori dianggapnya lebih pantas dr pd Yoshinobu, pewaris yg sebenarnya.. kisah ini bener2 berputar disekitar kansuke, jd kisah ini pun selesai setelah kematian kansuke..kadang2 tindakan kansuke kejam, tp entah kenapa, aku ga bisa benci ma kansuke, kadang ga suka, tp ga bisa benci :pKalau kemarenan baca heike sedikit cerita perangnya, di buku ini malah perang melulu :p

  • Faira
    2018-09-15 02:06

    Begitu terima bukunya dari Haikal kemarin sore, langsung saya mulai baca setibanya di rumah dan akhirnya selesai tepat jam 12 malam [sempat diselingi jeda makan dan on-line juga sih:].Seperti bisa dibaca di sinopsis, inti cerita Furinkazan adalah tentang sepak-terjang Yamamoto Kansuke, yang awalnya cuma seorang ronin biasa tapi berhasil mengangkat namanya sebagai penasihat Takeda Harunobu yang kelak lebih dikenal dengan nama Takeda Shingen alias Harimau dari Kai. Dalam sejarah Jepang, Kansuke dikenal karena penampilan fisiknya yang sama sekali tidak terlihat seperti layaknya jenderal tangguh. Namun beruntunglah Kansuke karena sang majikan, Harunobu, bukan tipe orang yang menilai sesamanya semata dari tampak luar.Saya tidak akan membahas cerita buku ini lebih dalam karena tidak ingin merusak kenikmatan mereka yang belum membaca. Tapi kalau sebelumnya saya sempat dibuat "kecewa" oleh kekurangan terjemahan Heike Story [detilnya bisa dilihat di review Heike Story oleh saya:], Furinkazan sukses mengobati kekecewaan itu karena dua poin utama berikut [maaf kalau terkesan agak subyektif:]:1. Sampul depan. Keren banget karena memakai gambar pasukan Takeda Shingen yang memegang umbul-umbul Furinkazan, plus warna latar biru, warna kesukaan saya *digebukin massa*2. Terjemahan. Angkat jempol untuk Furinkazan! Karena diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang, nuansa aslinya lebih terasa. Kalimat-kalimat deskripsi ala novel Jepang berhasil ditransfer ke dalam Bahasa Indonesia dengan, menurut saya, cukup OK. Lalu, sebenarnya sih ini cuma menurut ego pribadi saya, sistem penamaan tokoh yang mengikuti cara Jepang [ex: Yamamoto Kansuke, bukan Kansuke Yamamoto]semakin membuat saya nyaman membaca buku ini.Kalau masih mau ngotot cari kekurangan, mungkin ada pada sedikit ketidakkonsistenan pemilihan kata "Aku" dan "Saya". Misalnya, ada satu kalimat agak panjang yang awalnya sudah memakai "Aku", tahu-tahu diakhiri dengan "Saya".Akhir kata, terima kasih banyak untuk Redline Publishing karena telah menerbitkan Furinkazan ini. Ditunggu terbitan2 selanjutnya, dengan kualitas terjemahan yg makin mantap juga tentunya.

  • Sally Ito
    2018-09-07 22:03

    This is not really my 'type' of book except that it is a historical romance of the Japanese that intrigued me because it was about the warlord and daimyo Takeda Shingen who is mentioned in my grandfather's memoir. Apparently, his family was a vassal of this great war leader's clan. Anyway, the book is well known and famous enough in Japan where Takeda Shingen is a popular samurai hero figure, depicted in films and TV. The translator of this book is Yoko Riley, a professor of Japanese history at the University of Calgary. I ran into as a published book in English under the Tuttle Classics imprint.Generally, I found the book entertaining and engaging -- Inoue has created an interesting fictional character, Kansuke Yamamoto, a diminutive and slightly deformed ronin, who helps mastermind Shingen's military career and ambitions. I found the narrative was told well, for the most part, but occasionally there was some repetition that I found took me out of an otherwise seamless reading experience. This, I've come to understand, is one of the problems with translating Japanese to English. Sometimes, characters' feelings also were expressed awkwardly or in a conflicting manner -- this could be one of those lost-in-translation cultural moments, possibly -- couldn't tell. Basically we are given the story of the clan's success mediated through this political and military manipulator, so the story turns out to be as much about the 'kingmaker' as the 'king' himself, so to speak. And this narrative perspective is what makes the book engaging and clever.

  • Alex
    2018-09-15 00:20

    I didn't enjoy this book as much as I expected to. This is a fictional retelling of key battles during Japan's Sengoku era, or 'Warring States' period, which preceded the start of the Tokugawa Shogunate. The characters from this book come directly from history recounts of the period, and overall I felt that Inoue accurately represents what life would have been like in a feudal Japan where people constantly fought for power. In 'The Samurai Banner of Furin Kazan' we see the rise of Takeda Shingen and are given insight into his relationships with vassals (Yamamoto Kansuke) and enemies (Uesugi Kenshin). With such interesting characters and such an interesting period of Japanese history as the setting of this story, I was expecting it to be a more compelling read. Unfortunately, at times it felt very stale. Most of the narrative follows Takeda's vassal Yamamoto Kansuke, and whilst he was an interesting individual in life, I don't think this portrayal does him the justice he deserves. Kansuke is often depicted as a brilliant mastermind of war and political manoeuvring, and his end is a tragic example of samurai loyalty and honour. In this novel he is very difficult to empathise with and his political prowess doesn't seem to have origin, which makes him feel like a typical 'hero' figure but without any idiosyncrasies or unique backstory from which reader empathy can develop. I think perhaps some of the emotion was taken out of the story through the translation process, as I know from personal experience that the subtlety in meaning and emotivity of the Japanese language is often difficult to translate. Due to this, I struggled with the slow pace and could not feel much movement in the heavier 'war' sections as I was not emotionally attached to the characters. Whilst this novel is a little dry, overall I would still recommend this book to those interested in Japanese history.

  • Yamilet Motte
    2018-09-07 02:03

    Este libro me dio la sensación de que yo también iba cabalgando a la batalla junto con los protagonistas, pues es vívido y ágil.

  • Scott
    2018-09-17 22:58

    Good, but not highly recommended - this historical novel generally reads more like history than a novel.

  • Tiksna Pramudita
    2018-09-20 01:17

    Buku ini adalah salah satu dari sedikit novel terjemahan tentang kehidupan samurai dan politik di Jepang selama jaman Sengoku Jidai (konflik antar penguasa feodal, c.1467 – c.1603), yaitu periode antara merosotnya Bakufu Muromachi / Ashikaga dengan naiknya Bakufu Edo / Tokugawa.Bakufu sendiri adalah pemerintahan militer yang mengambilalih kekuasaan dari lembaga Kekaisaran, dipimpin oleh seorang jenderal besar (generalissimo) bertitel Shogun.Ada 3 Bakufu dalam sejarah feodal Jepang: Kamakura / Minamoto (alias Genji, 1185–1334), Muromachi / Ashikaga (1338-1573) dan Edo / Tokugawa (1600-1868).Sebelum, di sela-sela dan sesudah pemerintahan Bakufu ini terdapat beberapa rezim non-Keshogunan. Sebelum Bakufu Kamakura ada rezim Taira / Heike (Kiyomori, 1160-1185), antara Bakufu Muromachi dengan Bakufu Edo ada rezim Azuchi-Momoyama (Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi & Toyotomi Hideyori, 1568-1600), dan sesudah Bakufu Edo bangkit kembali para pendukung Kekaisaran yang membentuk pemerintahan oligarki Meiji (1868-1912).Sinopsis:Sesuai dengan judulnya yang mirip buku manajemen itu, tokoh utama dalam novel ini adalah Yamamoto Kansuke (1501-1561), seorang ronin (samurai tanpa majikan) yang hidup di periode Sengoku Jidai, persisnya di jaman transisi antara Era Muromachi (Keshogunan Ashikaga) dengan Era Azuchi-Momoyama (Oda-Toyotomi).Dalam usianya yang mulai senja, Kansuke belum juga mendapatkan majikan baru. Kecerdasan dan kepandaiannya berbicara (jika perlu membual) memang membuat Imagawa Yoshimoto (Daimyo / Adipati Suruga, 1619-1560), merasa terkesan dan memberinya tunjangan hidup. Namun setelah10 tahun menanti Kansuke tak kunjung diangkat menjadi pengikut oleh klan Imagawa.Dalam kekecewaannya, Kansuke melihat peluang untuk mengabdi ke penguasa provinsi tetangga, Takeda Shingen (1521-1573) di Kai. Dengan cerdik dan licik, dia memprovokasi seorang ronin lain untuk mencegat Itagaki Nobutaka, salah seorang jenderal senior Kai yang sedang melakukan kunjungan tak resmi ke Suruga, dan tampil gemilang sebagai penyelamat dengan membunuh ronin tersebut.Jasanya berbuah manis, Kansuke ditawari pekerjaan di Kai dan berhasil pamit baik-baik ke penguasa Suruga dengan dalih akan menjadi mata-mata bagi mereka di Kai. Dengan demikian dia memperoleh gaji dobel dari kedua provinsi.Boro-boro jadi mata-mata, Kansuke malah jatuh hati pada audisi pertamanya dengan Takeda Shingen, dan menjadi pengikut setianya mulai hari itu sampai kematiannya.Shingen, sang pengkudeta ayah kandung yang terbiasa diremehkan sejak kecil, rupanya mampu melihat karakter dan potensi istimewa Kansuke di balik ketaksempurnaan fisiknya, demikian juga sebaliknya.Karirnya di Kai pun meroket, karena analisa militernya yang cenderung melawan arus ternyata selalu tepat. Dan strateginya yang seringkali tak lazim selalu didengar oleh Shingen dalam rapat-rapat perang, dan ajaibnya selalu berhasil.Sesungguhnya Kansuke memang lebih sering mengarang, ketika menjelaskan karakter suatu provinsi. Termasuk karakter penduduk, pemimpin, jenderal maupun benteng-bentengnya. Padahal dia tidak pernah pergi ke manapun selain provinsi asalnya sendiri di Owari dan Suruga. Wawasannya yang luas hanya diperoleh melalui banyak membaca, ditambah imajinasinya sendiri yang sangat kuat.Sisi fiksi-drama novel ini ada pada kisah tentang ikatan batin yang aneh antara Kansuke dengan Shingen di satu pihak, dan mereka berdua dengan Putri Yuu, selir Shingen, di sisi yang lain. Relasi segitiga ini mewarnai separuh lebih isi novel, yang berakhir ketika Yuu mati dan Kansuke sendiri tewas dalam pertempuran melawan pasukan Uesugi Kenshin dari provinsi Echigo, musuh bebuyutan Kai.Dalam pertempuran ini sang ahli strategi akhirnya salah perhitungan, dan melakukan serangan bunuh diri bersama 200 pengikutnya untuk menebus kesalahan dan melindungi posisi Shingen di pusat komando.Catatan:Fu Rin Ka Zan adalah 4 kaligrafi Cina yang terdapat pada bendera / umbul-umbul perang Kai di jaman Takeda Shingen, yang artinya: Angin, Hutan, Api dan Gunung. Simbol ini dipinjam dari pemikiran ahli strategi Cina, Sun Tzu, tentang karakter ideal sebuah pasukan perang sbb:- Cepat seperti angin- Sabar seperti hutan- Ganas seperti api, dan- Tak tergoyahkan seperti gunung.

  • Azri Alipah
    2018-08-29 18:55

    Rating: 4Recommended for: People who want to read about real samurai.I've read about the big battles of the Warring States era before, but this is actually the first time I read about it from a first person perspective. And I loved it.It not only deconstructs the romantic notion that samurai put honour above everything else, it also shows the kind of political maneuvering and backstabbing (and front-stabbing) that took place in this chaotic era of Japanese history. The 'protagonist' Yamamoto Kansuke is a well known samurai, known for his strategic ability and loyalty to Takeda Shingen. However, in the book he strikes me as a samurai strategist Detective Colombo: obnoxious and unusual, and although many people disagree with him, in the end he's always right. I'm not sure I like it, but to be able to put a personality to a historical figure allowed me to immerse myself in the book better.I also like how the book treated the main antagonist, Nagao Kagetora, or Uesugi Kenshin. Despite being portrayed as Shingen's greatest opponent, he only talks to Shingen once, through a letter, and doesn't make a physical appearance until the end of the book. However, his presence and threat was obvious throughout the story. This made him sound more like a boogeyman than an enemy general, and this added to his mystique.(view spoiler)[What made Kenshin a great villain in this book is how the usually confident Kansuke finally realized the Takeda could lose everything fighting Kenshin. His discussion with Kosaka, who first planted the idea that the Takeda could be defeated by the Uesugi, was to me the best conversation in the book. In Kawanakajima, Kansuke's strategy to split in half backfired, which led him to attempt a suicide charge. It's not every story that ends with the protagonist being killed in battle, aware that he was outfoxed by his sworn enemy. (hide spoiler)]I'm not sure if it's because book was written more than 60 years ago, but the abrupt end of the story in the middle of the climax was disappointing. The epilogue, which contained historical facts, gave little satisfaction. Unless you already knew what was going to happen, I think casual readers will be disappointed by the ending.In fact, I think only people who have read enough about the Japanese Sengoku era, and especially the Takeda-Uesugi rivalry, would be able to truly enjoy this book. That said, I think anyone can appreciate the real-world story of this one samurai.

  • harri pratama
    2018-09-15 03:20

    saya lagi suka baca cerita-cerita bertema jepang. sebelum mulai membaca novel ini, saya baru saja selesai membaca "Samurai 1&2" karya Takashi Matsuoka (maunya sih baca Musashi+Taiko, cuma masih mahull, haha...). Furin Kazan sendiri pertamakali saya tahu dari rekomendasi yang ddiberikan om Hmd Haikal di Goodreads ini (tengkyu om :)).Ada beberapa hal yang menarik dari buku ini. pertama, Cover warna biru dan panji perang Klan takeda membuat sejuk mata saya :). kedua, temanya menarik. novel ini bercerita tentang ahli strategi perang klan Takeda bernama Yamamoto Kansuke. awalnya ia hanya seorang ronin kere dengan tubuh yang cacat; pincang dan matanya buta sebelah. ia dipekerjakan oleh klan takeda karena rencana licik yang dikarang-karang olehnya.Karirnya dengan cepat meelejit karena kemampuannya mengulik-ulik strategi perang dan mengacak-acak formasi perang musuh. bahkan, diumurnya yang sudah uzur, ia memutuskan utuk tetap ikut berperang, tapi menurut saya bukan lantaran pengabdiannya pada tuan besarnya, namun karena alasan yang lebihersifat pribadi.tapiiiiiiii, ada hal yang menjadi catatan saya untuk novel ini. penceritaannya terasa terlalu datar, karena mungkin kurang detail. suasana pertempuran, atau pun potret tokohnya tidak tergambar dengan jelas. sehingga tidak terlalu membekas dalam kepala saya. ini berbeda dengan gaya bercerita pada novel Samurai 1&2. Mungkin ada masalah pada terjemahan (asumsi), meskipun dalam keterangannya buku ini diterjemahkan langsung dari bahasa jepang.

  • Muhammad Irfan
    2018-08-30 02:53

    Furin Kazan adalah sebuah semboyan yang diterapkan oleh Daimyo Takeda Shingen untuk sebuah strategi perangnya yang secara harafiah berarti "Angin, Hutan, Api, Gunung". Dikutip dari wikipedia, maksud strategi perang ini adalah:1. Secepat angin: Saat melakukan pergerakan, pasukannya bergerak secepat angin.2. Setenang hutan: Saat mereka tinggal di suatu tempat, maka mereka akan menyembunyikan keberadaan setenang hutan.3. Seganas api: Saat menyerang, pasukannya akan mengganas bak api yang membara.4. Sekokoh gunung: Saat mereka mendapat serangan, maka mereka akan bertahan sekokoh gunung.Nah, Buku fiksi ini mencoba menjabarkan hal tsb lewat sudut pandang yang mempunyai taktik tersebut, yaitu Yamamoto Kansuke. Awalnya Kansuke adalah seorang samurai tanpa tuan. Namun berkat kelicikannya dia berhasil merebut hati seorang utusan dari Klan Takeda, Itagaki Nobukata. Dengan cara bengis dia memulai kariernya. Takeda Shingen sangat menghargai pendapatnya, meski Kansuke adalah tidak normal secara fisik.Dibalik kebengisannya, Kansuke memiliki perasaan lembut, terutama kepada dua selir muda yang daerahnya berhasil direbut dari Takeda. Ini adalah sepercik kisah Yamamoto Kansuke, yang namanya ada dalam buku sejarah Jepang sebagai ahli strategi.

  • Lambertus Hermawan
    2018-09-04 23:14

    Akhirnya menjadi buku keempat yang bisa saya selesaikan. Dengan menyelesaikan membaca buku ini, itu artinya saya sudah membaca semua buku yang saya beli pada bulan Mei kemarin. :DFurin Kazan. Buku ini mainly bercerita tentang seorang ahli strategi bernama Yamamoto Kansuke dalam kehidupannya yang penuh dengan peperangan. Kisah yang ada di dalam buku ini tidak hanya melulu perang, meskipun sebagian besar berkisah tentang itu. Kita akan ditunjukkan berbagai keputusan Kansuke untuk menjadikan kemungkinan-kemungkinan di masa depan mengarah pada sebuah keberhasilan. Kadang saya merasa Kansuke adalah sosok yang egois meskipun sebenarnya semua keputusannya didasarkan untuk kebaikan tuannya. Meskipun begitu, saya masih suka dengan karakter ini.Hal yang paling saya sukai dari buku ini adalah bagian endingnya. Tidak tahu kenapa, pada bab terakhir terasa sangat menegangkan dan saya membaca kata-katanya sangat lama. Endingnya jelas, tapi dihentikan sebelum sampai ke sana. Hal itu yang membuat saya geregetan (baca: excited).Di dalam buku ini banyak digunakan pendeskripsian latar sebagaimana keinginan penulis menggambarkan lokasi perang kepada pembaca. Saya perlu membaca sekali lagi untuk bisa memahami settingnya. Overall saya suka, tapi paling suka bagian endingnya.

  • Sean
    2018-09-11 23:07

    I reeeally wanted to love this book. The traditional story of the rise of Takeda Shingen and his relationships with his vassals (Yamamoto Kansuke) and enemies (Uesugi Kenshin) is basically taken from the Koyo Gunkan, the self-glorifying epic of the Takeda family. It's retold here in novel form. I love the Koyo Gunkan so much that all I did last summer was daydream about Shingen's profound witticisms all day--so what could go wrong? Throughout the novel, something was just slightly "off"--Yamamoto Kansuke was just not a completely believable protagonist, as his talent seemed to come from nowhere. I found myself scratching that itch instead of enjoying the book. Maybe a different mindset would have helped. Yet, when it comes to the end and the pained Kansuke throws himself into the enemy spears to atone for the strategic blunder that he believes will spell doom for his lord, I just wasn't as moved as I thought I should be.Still, it's a short and enjoyable read. If you have a soft spot for Japan's Sengoku period like I do, it's a no-brainer. Double points if you're a Takeda Shingen fan. But if you had to pick one of the two, I'd say Taiko has more literary value and it's simply better written.

  • Nick
    2018-08-31 22:52

    Another book I feel like I missed the boat on. I'll come clean and admit I only got a hair over a quarter through (page 50 out of slightly under 200 in the main text) before bailing. I'm not sure if the blame lies with the original author or the translator, but I suspect both. (Certainly not the reader! *cough*) The issue I'd lay at the feet of the author is the way that the book's main character is a brilliant swordfighter and strategist, but for seemingly no particular reason; He'll "just feel" the right strategy, or he'll just think he's leaping at a guy and swinging his sword when he's defeating seasoned master samurai. This, to put it mildly, does not generate a lot of tension or interest. As gravy, add on what seems like a very literal translation that makes the book read in "This happened, then this happened" style and I didn't feel like I was missing much by putting this one down early.

  • Nick
    2018-08-24 22:52

    I don't know if it's the original novel or the translation, but I found this to be very dry reading in spots, and had trouble empathizing with any of the characters. The historical parts were interesting, but when presented in the form of footnotes they interrupt the flow of the story.The basic story of this novel was an attempt to unify Japan, and a man behind the scenes who attempted to guide that unification. The success or failure of the attempt was not the point of the story, only the attempt itself, which was a radical attempt at using war to wage peace. This is worth reading if you're interested in Japanese culture and history, but still a bit dry.

  • Rose-Ellen
    2018-08-26 00:14

    I had read some about this era and "the 3 unifiers" Takeda Shingen, Iwagawa Yoshimoto and Hojo Ujiyasu. This was my first encounter with Yasushi Inoue's historical novels, and I was not disappointed. The Japanese characters on the battle banner, Furinkazan, meaning "Wind, Forest, Fire, Mountain", refer to passages of Sun Tzu's "The Art of War". Inoue ably fleshed out the events and characters in this gripping saga.

  • Nenangs
    2018-09-07 00:01

    got a mixed feelings about this book.i liked the flow, the story telling style, and even some of the characters.but i don't like the story of the wars, which was only to gain more power for the warlords, instead of for the benefit of the people. were those japanese warlords at that time really that power hungry? without a better cause whatsoever behind their actions? i doubt it, but i can't prove it.

  • DipaRaditya
    2018-09-10 23:14

    Buku spesial... Sebuah konstruksi identitas zaman feodal Jepang yang pernah mengalami perang antar klan. Taktik menaklukkan benteng, intrik politik, dan sebuah penghargaan atas loyalitas....

  • Merie
    2018-09-12 20:16

    i

  • 2018-08-24 02:12

    Cerita klasih jepang... Tentang Yamamoto Kansuke

  • Serdar
    2018-08-23 02:52

    Magnificent historical epic from Japan's master of same. http://www.genjipress.com/2006/09/the...

  • Janna
    2018-08-25 23:14

    Uh- I'm reading the English translation by Yoko Riley.

  • ijul (yuliyono)
    2018-08-29 20:18

    ---minjem mute

  • Brian
    2018-09-20 21:19

    The Samurai Banner of Furin Kazan by Yasushi Inoue (2005)

  • Adhitia Adrian
    2018-09-17 01:56

    cerita tentang ahli strategi Klan Takeda era Sengoku Jidaikeren abis gan, ane puas!! sayang endingnya sedih & gantung

  • Psyneko
    2018-09-12 01:13

    Whilst the sorry itself was quite intriguing, the translation made it kind if difficult to follow. Would most likely be much better in it's native language